
"Lepaskan!" Pria itu berteriak, tapi tidak sedikit pun berusaha memberontak.
"Diam!" Bisik Chéri setengah menggeram, kemudian mendekatkan mulutnya ke mulut pria itu dan memagutnya.
Pria itu tergagap.
Chéri melingkarkan kedua tangannya di leher Rafaél dan merapatkan tubuh mereka.
Pria itu tetap diam. Tidak memberontak, tapi juga tidak membalasnya meski ia menginginkannya. Hanya menikmati dengan diam-diam setiap sentuhan Chéri, dan tercengang sendiri. Terkejut oleh perasaan asing yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Kenapa rasanya aku ingin menangis? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Chéri mengetatkan rangkulannya dan membenamkan mulutnya semakin dalam. Dada pria itu terasa bergemuruh di dadanya.
"Tidak---lepaskan!" Pria itu tiba-tiba mendorongnya. Lalu mengerang seraya menyentakkan tubuhnya, menarik diri dan memegangi kepalanya.
Chéri menarik duduk tubuhnya dan mengawasi pria itu dengan alis bertautan.
"Kalian benar-benar keterlaluan!" Pria itu menggeram seraya menekankan kedua tangan pada pelipisnya. "Tidak! Aku belum—" nada bicaranya kemudian berubah gugup dalam sekejap.
Apa yang terjadi? Pikir Chéri.
Dia terdengar seperti Cyzarine saat merebut dialognya. Seperti mengucapkan dialog dua orang sekaligus dengan kecepatan luar biasa.
Lalu tiba-tiba pria itu tersentak menatap cermin dan terbelalak mengamati bayangannya sendiri.
Chéri mengikuti arah pandangnya dan terkesiap.
Ekspresi wajah dalam cermin melotot tak sabar sementara ekspresi wajah di sampingnya melotot terkejut.
"Arrrrrgh!" Pria itu mengerang seraya memegangi kepalanya lagi. Tapi bayangannya dalam cermin malah bersedekap dan memelototinya.
Chéri memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan telapak tangan.
Pria itu tiba-tiba menerjang ke arah cermin dan berteriak marah. Kemudian mendorong bayangannya sendiri. Kini kedua telapak tangan mereka beradu di permukaan cermin. Yang satunya mendorong dengan tangan terjulur lurus, sementara yang lainnya mendorong dengan tangan tertekuk.
Chéri mengamati pria itu dan bayangannya secara bergantian.
Cahaya mata keduanya sangat berlawanan meski sama-sama terpicing.
Ah, aku tahu! Pikir Chéri. Ini adalah tanda-tanda mereka akan bertukar!
Sejurus kemudian, pria itu terpental dari cermin dan terjerembab di lantai.
Chéri menghampirinya dengan tergopoh-gopoh, kemudian berjongkok di sampingnya.
"Rafaél!" Chéri mengguncang tubuh pria itu.
Pria itu membuka matanya dan mengerjap menatap Chéri.
Chéri menelan ludah dan tergagap. "Rafaél…"
__ADS_1
Pria itu mengerang dan memegangi kepalanya lagi, kemudian menarik bangkit tubuhnya perlahan.
Chéri memperhatikan pria itu dengan raut wajah waswas.
Apa dia Rafaél?
Atau si kepribadian lain?
Pria itu mendesah dan membungkuk, mengulurkan kedua tangannya pada Chéri. "Maafkan aku," katanya lembut. "Aku sudah membuatmu ketakutan."
"Rafaél!" Chéri menghambur ke dalam pelukan pria itu, menyusupkan wajahnya dan menangis sejadi-jadinya. "Kau sudah kembali," katanya tersengak-sengak.
Rafaél mengusap kepala Chéri dan merangkul pinggangnya. "Aku takkan membiarkanmu mengalami hal yang seperti ini lagi," janjinya.
Chéri menarik wajahnya dan mendongak.
Rafaél menatapnya dan menyeka air mata gadis itu. "Supaya dia tidak bisa menyakitimu lagi, kau sebaiknya pergi jauh."
Chéri memicingkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Pulanglah ke St Petersburg, Chéri! Menjauhlah dariku!"
Chéri menelan ludah, kemudian tercekat di tenggorokannya.
Rafaél memutar tubuhnya membelakangi Chéri.
Rafaél menoleh dan menatapnya.
"Pementasannya…"
"Pementasan akan kuhentikan," potong Rafaél. "Aku akan membubarkan MoscovArt Theatre."
Chéri tersentak dan seketika ia kehilangan kendali. "Mana mungkin kau menghentikan pementasan dan membubarkan MoscovArt Theatre? Ini terlalu mendadak, Rafaél! Apa kau ingin menyia-nyiakan kerja kerasmu selama ini? Kau tidak bersungguh-sungguh, kan?" semburnya setengah meratap.
Rafaél memalingkan wajahnya dan tertunduk, lalu mendesah dan memijat-mijat pangkal hidungnya.
"Aku—" Chéri tersengak dan mengusap cuping hidungnya dengan buku jarinya, menahan cairan bening yang merebak bersama air matanya. "Aku tidak ingin pulang," desisnya lirih.
Rafaél tidak menoleh, tetap tertunduk dengan mulut terkatup.
"Aku tidak ingin meninggalkan drama ini," rengek Chéri. "Aku ingin memainkan dramamu, berada di sampingmu. Tolong jangan menyuruhku pulang!"
"Chéri!" Singkat, padat, jelas, ketus. Rafaél memutar tubuhnya menghadap ke arah Chéri. "Waktu dia mengambil alih tubuhku, aku terus mengawasinya. Dia sangat berbahaya!"
"Tapi—"
"Dia memang tidak bisa menahan tekadku, tapi dia jelas bukan lawan yang setengah-setengah. Dia sangat kuat. Baik tekad maupun nafsunya benar-benar kuat dan sangat mengerikan."
Giliran Chéri sekarang yang terdiam sementara Rafaél mulai bicara panjang lebar dan menggebu-gebu seperti dirinya tadi.
__ADS_1
"Dia tidak akan menghilang dengan mudah seperti dalam drama itu, Chéri!"
Chéri menelan ludah.
"Tapi sebaliknya, dia akan menjadi semakin kuat dan semakin besar. Semakin besar keinginannya untuk keluar, semakin besar risiko yang harus kita tanggung ke depannya!"
"Tapi—"
"Selama ini targetnya memang hanya ingin membuatku menderita, tapi sekarang…" Rafaél menggantung kalimatnya.
Sekarang apa? Chéri bertanya dalam hatinya.
"Kaulah targetnya sekarang!" Rafaél menandaskan.
Chéri membeku dengan mata membulat.
"Dia menginginkanmu, Chéri! Dia mencintaimu!"
Cinta? Chéri tak bisa percaya. "Tidak mungkin!" sergahnya cepat-cepat. "Aku memang belum begitu mengerti apa itu cinta. Tapi, aku tahu pasti yang tadi itu bukan cinta."
Sekelebat bayangan peristiwa saat pria itu mengungkungnya seketika membuat Chéri kehilangan kata-katanya.
"Dia hanya tak pandai mengekspresikan perasaannya. Dia tak bisa membedakan cinta dengan obsesi, hasrat dengan ambisi. Baginya, semua hal itu hanya dapat disimpulkan dengan satu kata: Keinginan!"
Chéri kembali membeku.
"Jujur saja, sebenarnya kau juga merasakan perubahannya, kan?" Rafaél tersenyum getir. "Itu sebabnya kau membalasnya!"
"Apa aku salah?" Chéri berkilah. "Yang aku pikirkan saat itu hanyalah bagaimana caranya membawamu kembali!"
"Sifat orang itu sangat keras dan frontal. Dia sama seperti anak kecil yang takkan tumbuh dewasa. Terus terang dan blak-blakan. Tidak ada yang dia tutup-tutupi. Kalau sampai dia tahu kau tidak mencintainya, dia akan sangat gelisah melebihi perkiraan kita. Dia akan sadar bahwa tidak ada seorang pun yang mencintainya. Itu sebabnya dia sangat berbahaya. Keputusasaannya akan berubah menjadi amarah, dan kemungkinan besar… dia akan melampiaskan emosinya hanya padamu seorang!"
Chéri memalingkan wajahnya dan tertunduk.
"Sekarang kau sudah mengerti, kan?" Rafaél menegaskan. "Jadi, pulanglah!"
Air mata Chéri seketika merebak di pelupuk matanya. Kesedihan dan keterasingan menyergap dirinya.
Pulang? batinnya patah hati. Ke tempat aku tak bisa bertemu Rafaél lagi?
"Aku tak mungkin menempatkanmu dalam situasi yang berbahaya!" Rafaél menambahkan.
"Aku mengerti," desis Chéri lemah dan gemetar—putus asa.
Rafaél menatapnya dengan perasaan terluka. Perlahan ia mengangkat sebelah tangannya dan mengulurkannya ke kepala Chéri, tapi kemudian berhenti. Hati kecilnya ingin menyentuhnya, tapi ia mengurungkannya dan buru-buru menurunkan tangannya kembali, menyelipkan keduanya ke dalam saku celana dan memutar tubuhnya lagi membelakangi Chéri.
Gadis itu masih tertunduk seraya membekap mulutnya dengan sebelah tangan. Berusaha keras menyembunyikan tangisnya. Tapi ia gagal.
Rafaél mengatupkan kedua matanya seraya mengetatkan rahang. Mengerang frustrasi hanya dalam benaknya. Keputusan ini terasa sulit diterima hati kecilnya. Tapi ia tak bisa berbuat banyak.
__ADS_1