
"Benar-benar bikin kacau," gerutu pengawas panggung seraya mengurut pelipisnya. "Seharusnya dia tahu kalau ada cahaya dari depan, sosok yang berada di balik layar zanaves tidak bisa kelihatan dari bangku penonton!"
"Tapi kalau memang dia tidak tahu, apa boleh buat?" Mikail menimpali.
"Cantik! Kau tak perlu datang ke puri Si Buruk Rupa," Ibrahim Solomonov mengucapkan dialognya sebagai sang saudagar, ayah Si Cantik.
"Tapi…" Cyzarine bersikeras.
"Sudahlah, Ayah! Tidak perlu menahannya," Evaline menyela mereka.
"Benar," Lila menimpali. "Kalau dia bilang pergi, maka dia akan pergi!"
"Kalian ini bagaimana, sih?" Ibrahim menghardik kedua kakak perempuan Si Cantik. "Adik kalian akan pergi dan tak jelas apakah dia bisa kembali."
"Hentikan, Ayah!" Cyzarine meninggikan suaranya. "Kakak-kakak memang sengaja mengatakan hal-hal yang tak penting dan tidak menyenangkan."
Lila dan Evaline menggeram bersamaan, kemudian mengatupkan mulutnya dengan wajah cemberut.
"Hah!" Chéri mendengus di balik layar zanaves. "Lihat itu," cemoohnya. "Dengan mengatakan hal seperti itu, sekali lagi kau telah menjadikan dirimu sebagai satu-satunya anak yang baik."
Cyzarine menaikkan rahangnya dan berjalan pelan ke depan layar zanaves.
Chéri bergeser sedikit ke samping. "Setiap kali kau begitu, kau membuat kakak-kakakmu terlihat buruk!" Ia melanjutkan. "Dari hari ke hari… kau semakin membuat mereka menjadi orang jahat.
Cyzarine ikut bergeser dan berhenti tepat di depan Chéri.
Chéri menelan ludah. Dia melakukannya lagi, pikirnya. Kalau aku ke kiri, dia bergerak ke kiri. Kalau aku ke kanan, dia juga bergerak ke kanan.
Dia tidak sengaja melakukannya, kan?
"Cyzarine! Posisi berdirimu selalu menutupi aku," Chéri berbisik mengingatkan Cyzarine.
Cyzarine mendengus dan melirik pada Chéri. "Aku tahu," jawabnya balas berbisik. "Aku sengaja melakukannya," katanya tanpa beban sedikit pun. Lalu kembali menatap lurus ke bangku penonton.
Sengaja? Chéri melengak tak habis pikir.
"Apa kau berniat mengacaukan drama ini?" Chéri berdesis tajam pada Cyzarine.
Cyzarine menyeringai dan meliriknya lagi. "Siapa yang bilang?" dengusnya. "Drama ini akan tetap berjalan meskipun kau tak pernah ada. Peranmu ini hanyalah peran yang akan menghilang di akhir cerita. Peran yang sebetulnya kalau tidak ada pun tidak apa-apa. Jadi aku memutuskan untuk tidak tanggung-tanggung menutupimu sekalian sampai para penonton benar-benar tidak menyadari keberadaanmu."
Apa?
Chéri membeku dengan perasaan terluka.
"Singkatnya, kau hanya berperan sebagai pengganti monologku." Cyzarine menambahkan. "Kalau kau bisa menutupi kesalahanku saja sudah cukup," tandasnya.
Chéri mengerjap. Bergeming tanpa daya. Sebuah pukulan keras menghantam telak di ulu hatinya.
Kenapa? Batinnya getir.
Kenapa dia sanggup berbuat seenaknya seperti ini?
Beberapa jam yang lalu dia hampir mengoyak skenario ini.
Siapa yang memberinya keberanian untuk melakukan semua ini?
Bukankah sebuah drama tidak dikerjakan seorang diri?
Peran yang tidak diperlukan?
Apa maksudnya?
Kenapa Rafaél harus membuat tokoh semacam ini?
Apa yang kulakukan di sini…
Sama sekali tidak berarti!
__ADS_1
Apa yang dia pikirkan sampai-sampai memberiku peran tidak berguna ini?
Kenapa hanya aku yang dikurung di balik layar ini?
"Demi bisa bermain denganmu, Rafaél sampai-sampai membuat taktik berbelit-belit seperti ini," kata Cyzarine beberapa jam yang lalu.
Benarkah ini taktik Rafaél supaya dia bisa bermain denganku?
Tidak! Chéri menyadari.
Rafaél membuat taktik ini bukan demi bisa bermain denganku!
Tapi supaya aku tetap bermain tanpa merugikan semua orang!
Dia mengelabuiku!
Vladimir Valensky mungkin benar, kenang Chéri pahit.
Boneka mainan Rafaél!
Aku tidak lebih dari mainan!
Memasuki adegan pertemuan Si Cantik dan Si Buruk Rupa…
Chéri merasa hatinya dicabik.
Si Buruk Rupa yang dimainkan Rafaél, pikirnya sedih. Menatap nanar adegan mesra pria yang dikaguminya dengan gadis lain di depan matanya.
"Cantik…" Rafaél berbisik lirih di telinga Cyzarine seraya memeluknya. "Aku tidak bermaksud untuk menyantapmu. Kalau kau bersedia tinggal di puri ini saja sudah cukup bagiku."
Tidak, pekik Chéri dalam hati.
Rafaél menarik lembut kepala Cyzarine ke dadanya.
Jangan memeluk orang lain semesra itu di depanku!
Chéri meratap dalam hatinya.
Tanpa sadar air mata merebak di pelupuk matanya, kemudian jatuh bergulir di pipinya yang halus.
Lututnya gemetar tak terkendali. Tubuhnya ambruk tanpa disadari, jatuh terpuruk sembari menangis.
Pengawas panggung dan Mikail serentak menoleh pada Chéri.
"Buruk Rupa!"
Teriakan Cyzarine menyadarkan Chéri.
Tentu tidak apa-apa, kan? Pikirnya sinis. Aku tidak terlihat dari bangku penonton. Aku hanya pengganti monolog Cyzarine. Kalau aku bisa menutupi kesalahannya saja sudah cukup.
"Betapa malangnya…" Cyzarine mengucapkan dialognya sedikit sinis, seolah coba mencemooh kekalahan Chéri. "Wajahnya benar-benar mengerikan," desisnya.
Arrrrrgh!
Chéri menggeram dalam hatinya. Mengepalkan kedua tangannya, kemudian bangkit dan keluar dari layar zanaves.
Para penonton terdengar memekik.
Para pemain di belakang panggung seketika mendadak gaduh.
"Chéri keluar dari zanaves!" Seseorang memekik panik.
"Chéri—" Mikail mendesis di ruang kontrol.
Rafaél terbelalak di sampingnya. Ia baru saja bergabung di ruang kontrol ketika Chéri memutuskan untuk memberontak dari ketidakadilan yang mengalahkannya.
Aku tidak akan kalah! Chéri memutuskan.
__ADS_1
"Bukankah kalau begini dia tidak jadi bayangan Si Cantik lagi?" Ibrahim menggerutu di samping Saul.
"Apa dia lakukan?" Saul menimpalinya.
"Kenapa dia keluar dari balik layar?" Yang lainnya mulai ikut-ikutan.
"Apa yang ingin dilakukannya?"
"Bukankah dia sudah ditetapkan sebagai hati Si Cantik? Jadi kenapa dia sekarang malah keluar?"
Heh! Chéri mendengus sinis.
Cyzarine memberengut kesal.
Aku adalah sisi jahat, kata Chéri dalam hati. Menghancurkan Si Cantik adalah misiku!
Tapi keputusan ini mungkin akan merusak imej Bayangan Si Cantik dan mengacaukan drama.
Hanya aku sendiri yang bisa menentukan nasibku!
Cyzarine takkan mengikutiku!
Gadis itu memalingkan wajahnya dan menyisi.
Dia meninggalkan panggung!
Apa dia mau melarikan diri dari adegan ini?
Tidak, pikir Chéri. Cyzarine bukan tipe orang yang bisa melakukan hal seperti itu dengan tenangnya.
Chéri berbalik ke arah sebaliknya dan ikut menyisi.
"Lho? Mereka meninggalkan panggung!" Seseorang berkomentar di bangku penonton. "Jadi, tadi itu adegan apa?"
"Apa maksudnya?" Penonton lainnya bertanya-tanya.
Para penonton sudah mulai ribut, pikir Chéri. Tapi dia tidak khawatir. Ia sudah terbiasa menghadapi kecelakaan panggung seperti ini.
Tidak disangka kesalahan-kesalahan di masa lalu justru melatihku jauh lebih baik dibanding Rafaél, pikirnya sinis.
Aku akan memancing semua orang dengan cara langsung mengikuti gerakan Cyzarine, katanya dalam hati. Sekarang Cyzarine pasti akan berhenti dan menoleh ke belakang.
Chéri berhenti dan menoleh ke belakang, menatap lurus pada Cyzarine.
Dugaannya tidak meleset!
Gerakan mereka benar-benar persis.
Chéri menyeringai tipis, sementara Cyzarine melengak bingung. Tapi keduanya sama-sama menautkan alis.
Ini baru yang namanya akting kita diadu, Cyzarine! Chéri membatin puas.
Cyzarine memutar tubuhnya dan Chéri mengikutinya juga.
Cyzarine menempelkan ujung jarinya pada bibirnya, tapi hal itu juga bahkan mampu ditebak oleh Chéri.
Cyzarine tipe orang yang pikirannya mudah ditebak, pikir Chéri. Apalagi kalau pantomim sama sekali bukan masalah bagiku.
"Apa yang mereka lakukan?" Beberapa orang penonton kembali gaduh. "Kalau yang satu ke kiri yang satunya ke kanan."
"Tampaknya mereka melakukan gerakan yang sama," komentar penonton yang lainnya.
"Aku mengerti!" Seseorang berseru antusias. "Mereka memerankan sisi depan dan belakang!"
Bagus, batin Chéri. Para penonton sudah sadar kalau aku bermain sebagai cermin.
Cyzarine juga menyadarinya!
__ADS_1
"Kenapa, Cantik?" Chéri bertanya sinis pada Cyzarine. "Kau terkejut?"