
Tidak!
Aku tidak mau drama ini gagal!
Drama ini tidak boleh gagal!
Tidak, tidak, kata Chéri dalam hati. Aku masih bisa membalikkan keadaan!
Aku harus melanjutkannya…
Dengan posisi seperti ini!
Aku akan berusaha membuat semua orang berpikir bahwa ini bukan kesalahan…
Tapi sudah direncanakan.
"Are you ok?" Rafaél berbisik cemas.
"Bu---Buruk Rupa…" Chéri tergagap. "Se—selamat siang!"
Para penonton mengerutkan dahi nyaris bersamaan.
"Aku… aku datang menggantikan ayahku!" Chéri melanjutkan dialog.
Rafaél mulai mengerti.
Sesha dan para pemain lain masih tercengang.
"Jadi, itu tadi sengaja?" Lila melengak takjub.
Mikail menghambur ke sisi panggung dan mengintip.
Rafaél menarik tubuh Chéri perlahan dan meluruskannya. Kemudian merunduk mendekatkan wajahnya ke leher Chéri, berusaha menyempurnakan adegan mereka supaya tidak terlihat janggal.
Chéri menelan ludah. "Si—silahkan! Lakukan sesukamu!" Katanya seraya menelengkan kepalanya, memberi celah untuk Rafaél menancapkan taringnya, mencabiknya dan menghabisinya.
Chéri benar-benar pasrah!
Rafaél sudah berhasil menegakkan tubuh Chéri tanpa kentara. "Cantik," katanya. "Aku tidak berniat menyantapmu. Kalau kau mau tinggal di puri ini saja sudah cukup bagiku."
"Oh! Ternyata sudah direncanakan, ya?" Penonton mulai mengerti. "Tadi kukira dia terpeleset!"
"Aktingnya benar-benar total!" Komentar penonton yang lainnya.
Mikail menyembunyikan senyumnya. Dia mengerti apa yang terjadi.
"Tapi aku punya satu permintaan," kata Rafaél seraya menurunkan tangannya perlahan dari tubuh Chéri, kemudian memalingkan wajahnya. "Kau tak boleh melihat wajahku, sebab wajahku sangat memuakkan!"
Chéri terhenyak seraya membekap mulutnya.
Rafaél menutupi wajah monsternya dengan telapak tangan seraya berbalik memunggungi Chéri, kemudian menghambur meninggalkan panggung.
"Buruk Rupa!" Chéri berteriak tak rela. Jangan pergi dulu, katanya dalam hati.
Apa yang terjadi? pikirnya tak mengerti. Kenapa hatiku ikut bermain?
Semua orang menahan napas dan mendesah bersamaan—terbawa perasaan.
Lampu panggung dimatikan!
Tepuk tangan spektakuler menggelegar dari bangku penonton.
Hah! Rafaél menghambur ke ruang kostum seraya terengah-engah, kemudian membungkuk memegangi perutnya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya berpegangan pada tepi meja.
Mikail menyusulnya ke dalam ruangan dengan wajah cemas. "Are you ok?"
Rafaél menoleh pada Mikail dengan seringai lebar. "Luar biasa," katanya puas, kemudian memalingkan kembali wajahnya seraya tercenung. "Main dengan anak itu membuat kesan karakterku semakin mendalam."
Mikail menatap Rafaél dengan mata terpicing.
Rafaél tersenyum tipis, sorot matanya seperti menerawang ruang dan waktu yang sulit digambar. "Yang kupikirkan hanyalah, apakah akan aneh jadinya kalau aku begini atau begitu. Aku melupakan penonton. Tepuk tangan semeriah ini baru pertama kali aku alami!"
__ADS_1
"Hebat!" Para pemain dan sejumlah staf menyerbu Chéri dan mengerumuninya di belakang panggung.
"Luar biasa," puji Kyle dengan wajah berbinar-binar. "Dengan kondisi ini, para pemain lain bisa kembali bersemangat!"
Chéri tersenyum lebar dengan wajah semringah. Aku pasti tak akan bisa melupakan momen ini, katanya dalam hati.
Ah, batinnya. Teater memang sungguh menarik!
"Hei, apa yang tadi itu kecelakaan atau disengaja?" Sesha dan Lila masih penasaran.
Chéri hanya tertawa-tawa saja menanggapinya. Rahasia, katanya dalam hati. Kemudian menghambur ke ruang kostum dan melarikan diri.
Jantungku masih berdebar-debar, pikir Chéri seraya menenggelamkan dirinya ke dalam kesunyian, menyembunyikan dirinya di ruang kostum.
Rafaél memandanginya dari depan pintu.
Chéri menoleh padanya dan beradu pandang.
Rafaél tersenyum samar namun binar di matanya menyiratkan kekaguman.
Mikail kemudian muncul di sebelahnya dan keduanya spontan bergegas entah ke mana.
Chéri mengamati punggung keduanya dengan perasaan hangat yang meluap-luap.
Terima kasih, Rafaél!
Waktu itu…
Hanya dengan melihat ke dalam mataku, dia langsung mengerti kalau aku ingin main dengannya.
Apalagi…
Dia langsung membuat kesan Si Buruk Rupa yang mengharukan.
Tadi…
Ketika Si Buruk Rupa meninggalkan panggung, tanpa sadar rasanya aku ingin mengejarnya.
Aku berharap dia berada di sisiku lebih lama lagi.
Lalu secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, Rafaél memalingkan wajahnya ke belakang dan menatap Chéri.
Chéri mengerjap, tak bisa mengalihkan perhatiannya lagi.
Pria itu sekarang tersenyum pada Chéri secara terang-terangan.
Chéri terperangah.
Perasaan apa ini? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Kenapa tiba-tiba aku ingin menangis?
Rafaél membuka jubahnya, kemudian melanjutkan langkah. Mikail terus mengekor di belakangnya.
Beberapa anak perempuan memasuki ruang kostum.
Chéri buru-buru memalingkan wajahnya menyembunyikan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Lila dan Evaline melucuti kostumnya.
Bersamaan dengan itu, Kyle tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruangan seraya berteriak-teriak. "Gawat! Gawat!" katanya. "Di mana Rafaél."
Lila dan Evaline serentak meradang dan melemparinya. "Ini kamar ganti cewek, T o l o l! Dasar mental playboy!"
Kyle terkekeh sembari mencelat keluar. Dan kembali berteriak-teriak.
Di depan ruang kostum pria di ujung koridor, Kyle akhirnya menemukan Rafaél. Kyle menghambur ke arahnya. "Rafaél! Ini ga—"
Mikail spontan menyergap Kyle dan membungkam mulutnya. Kemudian berbisik di telinga Kyle. "Hari ini jangan mengganggunya. Kalau ada masalah katakan saja padaku."
Kyle mengangguk cepat-cepat.
__ADS_1
Rafaél melangkah ke dalam ruang kostum dan mengurung dirinya sekali lagi.
Aku tidak apa-apa, katanya pada diri sendiri.
Chéri anak yang kuat!
Dia pasti bisa membimbingku sampai ke mana pun.
.
.
.
Babak 5.
Kuntum-kuntum mawar merekah dan bermekaran…
Sebatang menorah bertengger sakral di tengah meja.
Untuk menyenangkan hati Si Cantik…
Si Buruk Rupa memberinya banyak hadiah setiap malam.
Gaun-gaun indah…
Intan permata dan seekor kucing putih…
Dan…
Masih banyak lagi!
Dengan kekuatan sihir…
Ia menghadiahkan segalanya!
Selama seribu malam…
Ia mengulang permintaan yang sama…
"Cantik… maukah kau menjadi istriku?"
Rafaél membungkuk di belakang Chéri dengan kedua tangan bertumpu pada meja.
Chéri duduk depannya seraya tertunduk. "Apa ini sebagai ganti atas semua hadiah yang kau berikan padaku setiap hari?"
Rafaél terdiam.
Chéri menaikkan rahangnya dengan ekspresi menguatkan diri, kemudian memberanikan dirinya untuk menatap wajah Rafaél yang memakai topeng.
Rafaél memalingkan wajahnya seraya menggeram.
"Buruk Rupa! Lihat aku!" Chéri balas menggeram pada pria itu.
"Sudah kubilang jangan melihat wajahku! Aku mengerikan! Aku monster yang dungu!" Rafaél meradang beringsang terlalu gelisah.
Chéri menarik bangkit tubuhnya, kemudian berbalik menghadapi Rafaél. "Orang bodoh tidak pernah menyadari kalau dirinya bodoh," sergahnya seraya menyentuh lengan Rafaél. "Meski kau buruk rupa, kalau aku melihatmu setiap hari, aku akan terbiasa!"
Pria itu menyentakkan tangannya dan beringsut menjauh.
Chéri menyelinap keluar dari bangkunya kemudian mendekat pada Rafaél.
Pria itu menghindarinya.
"Aku sungguh tidak mengerti, jika kau benar-benar menginginkanku kenapa kau tidak berani menghadapiku?" Chéri meninggikan suaranya dan melotot pada Rafaél.
Pria itu membeku. Terpaku pada wajah di depannya, dan tak bisa berpaling lagi.
Para penonton melenguh terenyuh.
"Cantik…" Rafaél menatap ke dalam mata Chéri di balik topengnya. "Mungkinkah kau… mencintaiku?"
__ADS_1
Chéri tersenyum sedih dan menelan ludah. "Akhirnya… kau mulai mengerti!"