Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 50


__ADS_3

"Waktu aku naik pesawat tujuan St. Petersburg, aku mendengar namamu dipanggil. Aku kaget juga! Ah—ternyata… di sini Rafaél menemukan boneka kesayangannya, pikirku. Jadi, iseng-iseng aku mengikutimu!" Pria itu menyeringai.


Chéri mengatupkan mulutnya seraya menautkan alis.


"Omong-omong… aku sudah menonton Si Cantik dan Si Buruk Rupa!" Pria itu menambahkan. "Menurutku aktingmu di situ sangat bagus, tapi kenapa MoscovArt Theatre malah dibubarkan?"


Chéri mengetatkan rahang dan mendongak memelototi pria itu.


"Sepertinya Rafaél tidak dapat bangkit untuk sementara, ya?" Pria itu menyeringai tipis. "Tapi kau harus tetap menjadi seorang aktris!" Ia menandaskan. "Ikutlah denganku ke Tsar Dramy!" Pria itu kemudian mengulurkan sebelah tangannya pada Chéri.


Kau sungguh tidak tahu malu, Vladimir Valensky! Chéri menggeram dalam hatinya.


Kau telah merebut pemeran utama pria, memborong tiket dengan uangmu, merampas penonton pada hari pertama pementasan, kenang Chéri getir.


Dan karena hal itu…


Kepribadian lain Rafaél bisa sampai muncul mengambil alih tubuhnya.


Pria inilah yang telah membuat Rafaél membuang semua mimpinya, dramanya, teman-temannya… semuanya!


Dialah yang menyebabkan Rafaél menghilang!


Dialah yang penyebab utama semua masalah ini!


PLAK!


Chéri mendaratkan tamparan keras di pipi Vladimir. "Sungguh menjijikkan!" hardiknya. "Gara-gara jebakanmu, Rafaél jadi sangat menderita. Dan sekarang dia juga menghilang! Kau pikir siapa yang mau bekerja di teatermu?!"


"Menghilang?" Vladimir mengerjap dan terbelalak. "Rafaél? Menghilang? Apa itu benar?"


"Menjauh dariku!" bentak Chéri seraya menepiskan tangan Vladimir dan bergegas meninggalkan pria itu.


"Ah—ya!" Pria itu mengacungkan telunjuknya ke wajah Chéri. "Waktu itu, keadaannya memang sedikit aneh!"


Chéri menghentikan langkahnya dan menoleh dengan mata terpicing.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Vladimir menaikkan sebelah alisnya dan kembali menyeringai.


Chéri mencebik dan memalingkan wajahnya lagi. Lalu buru-buru pergi.


Aku harus kembali ke Moskow secepatnya, tekad Chéri.


Di sana aku akan menunggu Rafaél!


.


.


.

__ADS_1


Moskow, 25 Maret 2023.


Chéri mendongak menatap bangunan yang terasa asing sekaligus sangat dikenalnya seraya termenung.


MoscovArt Theatre…


Menjulang angkuh di depan matanya. Begitu dekat.. namun terasa jauh.


Memasuki kamar Rafaél…


Gadis itu kembali termenung.


Kamar itu tampak terbengkalai. Meja tulisnya terlihat hampa dan bangkunya terlihat kesepian.


Tempat tidur kecilnya tertata rapi namun dipenuhi debu.


Hanya beberapa hari, pikir Chéri. Tapi tempat ini sudah sama buruknya dengan pemakaman!


"Rafaél…" rintihannya seraya bersimpuh dan menyusupkan wajahnya di tepi tempat tidur pria itu, persis seperti seorang istri yang meratapi jasad suaminya di tepi brankar. "Sebenarnya kau di mana? Apa kau baik-baik saja? Di mana kau sekarang? Apa yang sedang kau lakukan? Jawablah!"


Sesuatu yang lembut menyentuh kakinya. Lalu seseorang menyentuh bahunya.


Chéri terperangah dan melongok ke bawah lalu mengangkat wajahnya. "Mikail," desisnya parau.


"Kau kembali?" Pria itu menatapnya dengan raut wajah prihatin.


"Aku akan tinggal di sini," bisik Chéri seraya menyeka pipinya dengan telapak tangan. "Aku ingin menunggunya. Apa aku boleh tinggal di sini?"


Kucing hitam! Chéri memaksakan senyum, kemudian mengelus bulu kucing itu.


Mikail membungkuk, meraup kucing hitam itu dan memangkunya. Lalu duduk di tepi tempat tidur Rafaél seraya menatap Chéri. "Karena kau sudah memutuskan untuk menunggunya di sini… aku tidak bisa bilang apa-apa lagi," katanya seraya tersenyum tipis. "Tapi berjanjilah kau akan melanjutkan sekolah sampai dia kembali!"


"Tidak," sergah Chéri muram. "Aku akan berhenti dari SMU dan juga sekolah balet. Kalau aku diizinkan tinggal di sini, aku akan mencari pekerjaan paruh waktu."


"Tidak boleh! Kau harus tetap pergi ke sekolah!" Mikail bersikeras. "Selama Rafaél belum kembali, kau akan menjadi tanggung jawabku."


"Tapi itu memerlukan uang," protes Chéri. "Teater kita juga sudah bubar!"


Mikail mendesah pendek seraya mengelus kucing dalam pangkuannya. "Well---yeah, urusan pementasan ini memang cukup merepotkan. Teater kita mengalami kerugian. Tapi tidak apa-apa. Keluarga Rafaél tidak pernah sayang buang-buang uang untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Rafaél!"


"Tapi—" Chéri berusaha menyela.


"Rafaél tidak akan keberatan!" potong Mikail.


"Bukan itu maksudku!"


"Biaya sekolahmu ditanggung perusahaan---itu beasiswa, apa kau lupa?"


Chéri mendesah pendek dan tertunduk. Tak kuasa lagi mendebat Mikail.

__ADS_1


"Oh, ya! Satu hal lagi," Mikail menambahkan seraya menurunkan kucing dari pangkuannya dan menaruhnya di tempat tidur Rafaél, kemudian bangkit berdiri. "Aku sudah menemukan tempat yang kuduga sebagai tempat persinggahan Rafaél. Sekarang aku mau kesana."


"Aku ikut!" pekik Chéri sembari melompat berdiri dan merenggut lengan jas Mikail.


"Jangan…" erang Mikail.


"Kenapa?" Chéri balas mengerang.


"Kau kira kenapa dia menyembunyikan diri? Itu karena dia merasa kalau ada di dekatmu, dia khawatir akan membahayakan dirimu, kan?"


Chéri mengatupkan mulutnya dengan raut wajah merajuk.


"Bersabarlah, Cantik!" Mikail membujuknya seraya melingkarkan sebelah lengan di bahu gadis itu. "Serahkan saja semuanya padaku," ia menepuk-nepuk dadanya, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Chéri. "Lagi pula aku tidak mungkin merebut Si Buruk Rupamu, kan?" bisiknya menggoda Chéri.


"Baiklah," gumam Chéri tak berdaya. "Kalau begitu… aku akan mengumpulkan anggota teater yang tersisa!"


Mikail menautkan alisnya.


Chéri mengembangkan senyum dan menoleh pada pria itu setengah mendongak. "Yeah, walaupun tinggal sedikit, asalkan bisa membentuk sebuah grup teater, kita takkan kalah dari Tsar Dramy."


Mikail mengerjap sekarang.


"Saat Rafaél kembali nanti… kita bisa langsung memulai aktivitas kita dan akhirnya kita bisa mengalahkan Vladimir Valensky!"


"Hmmm…" Mikail menggumam seraya mengusap dagunya, sementara tangan lainnya masih melingkar di bahu gadis itu. "Sebenarnya aku sempat sedikit khawatir tadi… tapi kelihatannya kau akan baik-baik saja!"


Chéri mengangkat dagunya seraya berpaling. "Aku sudah sudah dewasa sekarang!" Ia berkilah.


Mikail terkekeh dan menggeleng-geleng, kemudian mengusap-usap bahu gadis itu memberikan semangat.


Chéri menyadarkan kepalanya di dada Mikail seraya tersenyum lega.


Siapa yang bilang kalau dia sudah dewasa? Pria itu mengelus rambutnya dan berpamitan.


"Jaga dirimu!" pesan Chéri.


"You too!" balas Mikail seraya mengedipkan sebelah matanya pada gadis itu. "Ruang administrasi tidak dikunci, by the way! Daftar kontak semua anggota tidak pernah jauh dari pesawat telepon." Pria itu menambahkan, sebelum akhirnya memutar gagang pintu dan menyelinap keluar. Lalu menghilang tanpa menoleh lagi.


Chéri menghela napas dan mengepalkan sebelah tangannya dengan antusias, "Semangat!" katanya pada diri sendiri, kemudian bergegas menuju ruang administrasi.


Aku akan menghubungi semua anggota, baik yang masih bertahan maupun yang sudah memutuskan untuk keluar. Siapa yang tahu beberapa dari mereka berubah pikiran!


"Sudah kuduga Tuhan tidak berencana untuk memisahkan kau dan aku," cerocos Kyle pada Chéri beberapa jam kemudian.


Anak laki-laki itu datang ke gedung MoscovArt Theatre bersama tiga teman barunya dari tim kreatif.


Sesha dan Ibrahim menyusul mereka tidak lama kemudian.


Cyzarine datang sendirian, dan dia tidak langsung masuk. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada seraya menyandarkan sebelah bahunya pada bingkai pintu. "Jangan bilang kalau kau juga merebut posisi sutradara sekarang!" cemoohnya pada Chéri sembari menyeringai.

__ADS_1


"Permisi! Siapa yang memesan pizza?" Si pemeran kucing melongok di belakang Cyzarine sembari mengacungkan beberapa kotak pizza di tangannya.


Seisi ruangan memekik gembira dan bertepuk tangan.


__ADS_2