Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 39


__ADS_3

"Kau terkejut melihatku keluar, bukan? Aku juga terkejut!" Chéri melanjutkan dialognya dengan ekspresi licik yang alami. "Itu karena sepanjang waktu aku selalu berpikir ingin keluar. Ingin keluar! Dan ini membuktikan bahwa kekuatanku semakin bertambah besar. Semakin kau mendesakku, aku justru semakin kuat," sindirnya.


Cyzarine tetap bungkam karena belum gilirannya mengucapkan dialog.


"Jangan kira tubuh itu hanya milikmu seorang diri," lanjut Chéri lagi. "Sekali-kali dengarkan kata-kataku! Aku takkan menjerumuskanmu!"


"Habis aku tidak tahu kau ini sebenarnya apa," sergah Cyzarine juga dengan nada menyindir.


Sekarang mereka bisa seenaknya menggunakan akting untuk melampiaskan amarahnya masing-masing.


Ah, tidak lama lagi! Chéri mengingatkan dirinya.


Adegan meninggalkan panggung!


Lalu keduanya berbalik ke sisi panggung dengan arah berlawanan dan Chéri berhasil mengikuti persis gerakan Cyzarine.


Tepuk tangan menggelegar dari bangku penonton.


"Aku mengerti! Aku mengerti!" Beberapa dari mereka masih membahasnya.


"Tampaknya para penonton mengira adegan tadi sudah direncanakan," komentar Sesha seraya menghambur ke arah Chéri. "Apalagi waktu kau bertemu Cyzarine waktunya tepat sekali."


Tampaknya semua orang sudah melupakan bahwa kekacauan tadi adalah kesalahan Chéri. Tidak satu pun dari para pemain di belakang panggung bertanya kenapa Chéri keluar dari zanaves.


Rafaél menatap Chéri dari depan ruang kontrol.


Dia akan memarahiku, pikir Chéri.


"Rafaél memanggilmu!" Mikail memberitahu Cyzarine.


"Semuanya sudah berjalan lancar sampai Chéri seenaknya muncul," protes Cyzarine pada Mikail.


"Cyzarine!" Rafaél meneriaki gadis itu.


Gawat, pikir Chéri.


Rafaél pernah bilang kalau ada kesalahan, tak peduli siapa yang bersalah, ia akan menampar dua-duanya.


Apakah dia akan menampar kami? Chéri bertanya-tanya dalam hatinya.


Tapi pemandangan di seberang koridor membuat hatinya kembali tersengat.


Rafaél merunduk mendekatkan wajahnya ke telinga Cyzarine dan membisikkan sesuatu. Lalu keduanya terkekeh dan melirik pada Chéri dengan sikap mencemooh.


Chéri mengerutkan dahi. Apa yang mereka bicarakan?


Rafaél berjalan menyeberangi koridor dan mendekat pada Chéri. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Pria itu bahkan tidak meliriknya.


"Rafaél—" Chéri tergagap dan kehilangan kata-katanya begitu menyadari pria itu hanya melewatinya.


Dia tidak mengatakan apapun, pikir Chéri tak mengerti. Padahal aku sudah lancang melakukan hal seperti tadi.

__ADS_1


Dia pasti kesal!


Aku harus minta maaf, Chéri memutuskan, kemudian menyusulnya.


"Rafaél! Tunggu!" Chéri merenggut lengan baju pria itu.


Tapi Rafaél mengedikkan bahunya dan melepaskan diri, kemudian mempercepat langkahnya dan berhenti di depan Mikail. "Tolong beritahu bagian penata lampu, bagian ini takkan bisa berjalan lancar," perintahnya pada Mikail seraya menyodorkan naskah dan menunjuk bagian tertentu pada halaman yang terbuka.


Chéri menelan ludah dan mengerjap dengan ekspresi terluka.


Mikail menerima naskah dari tangan Rafaél seraya melirik pada Chéri dengan raut wajah prihatin.


Dia mengabaikan aku, batin Chéri sedih.


Rafaél memang galak, tapi biasanya dia selalu memperhatikan Chéri.


Chéri tidak keberatan jika ia dimarahi. Tapi jika diabaikan seperti ini, gadis itu merasa disergap keterasingan yang sama seperti ketika pertama kali ia datang ke Moskow.


Membuat Chéri merindukan rumahnya!


Aku semakin tidak mengerti sebaiknya aku harus berakting seperti apa, batin Chéri putus asa.


Memasuki babak selanjutnya, Chéri berusaha mengikuti skenario dengan patuh.


Tapi lagi-lagi Cyzarine menutupinya. Kali ini, dia bahkan merebut seluruh dialog Chéri.


"Buruk Rupa yang malang… siapa yang mengira kalau di balik wajahnya yang mengerikan ia memiliki hati yang mulia?" Dialog Cyzarine.


"Tapi entah kenapa aku merasa takut?" Dialog ini seharusnya menjadi bagian Chéri. Tapi bagian ini sekarang diambil Cyzarine.


Mikail mengerutkan dahi.


"Apa yang dia pikirkan saat dia sendirian di puri sebesar ini?" tutur Cyzarine.


"Dia pasti belum bisa mempercayaiku!" Bagian ini juga seharusnya milik Chéri. Tapi lagi-lagi diambil alih Cyzarine.


Dia mengucapkan dialog dua orang dengan kecepatan luar biasa, pikir Mikail. "Ternyata Cyzarine memang sengaja menutupi Chéri," ia memberitahu Rafaél. "Kalau kau tidak melakukan sesuatu—"


"Biarkan saja," potong Rafaél dengan nada datar. Kemudian meninggalkan ruang kontrol dengan sikap tak peduli.


Mikail dan pengawas panggung bertukar pandang.


Chéri mulai kehabisan kesabarannya. Dengan nekat, ia kembali keluar dari balik layar. "Aku adalah bayanganmu," katanya setengah menghardik. "Jangan abaikan aku!"


Cyzarine berbalik ke arah Chéri dan mendengus. "Kasihan sekali," cemoohnya. "Walaupun kau memaksa keluar, tidak akan ada yang menyadarinya sebab hanya aku yang bisa melihatmu. Tidak ada orang lain yang bisa melihatmu. Tidak ada yang mengakui keberadaanmu. Kau sama saja dengan tak ada!"


PLAK!


Chéri menampar keras wajah Cyzarine. "Seharusnya tidak sakit, kan? Sebab kau ditampar oleh sesuatu yang tidak ada!"


PLAK!

__ADS_1


Cyzarine balas menamparnya. "Seharusnya tidak sakit, kan? Sebab kau hanya bayangan!"


"Hei—" pengawas panggung memekik. "Mereka benar-benar sedang berkelahi," katanya pada Mikail.


"Rafaél!" Mikail berteriak seraya menghambur keluar ruangan.


Cyzarine merenggut kerah baju Chéri dan mendekatkan wajahnya ke telinga Chéri. "Mau tahu apa yang dikatakan Rafaél padaku," bisiknya. "Katanya, pancing Chéri sampai menangis!"


Chéri mengerjap dan menelan ludah.


"Selamat tinggal Bayangan!" Ejek Cyzarine seraya mendorong Chéri sekuat tenaga. "Kau tak perlu muncul lagi!"


BRUK!


Chéri jatuh terjengkang ke sisi panggung.


"Luar biasa!" Para penonton berseru-seru. "Apa ini drama sungguhan?"


Chéri merayap keluar panggung dan nyaris bertabrakan dengan Rafaél.


Rafaél tersenyum tipis. "Tampaknya Cyzarine Pedrova bergerak sesuai instruksiku," katanya pada Chéri. "Tapi dia terlalu berlebihan!"


Chéri membeku menatap wajah pria itu dengan raut wajah tak percaya.


Dia bukan Rafaél, Chéri menyimpulkan.


"Jangan lupa topeng dan rambut palsunya," teriak Rafaél pada Saul.


Chéri menoleh ke arah Saul.


Pria itu menatapnya sepintas sebelum ia memasang topengnya.


Rafaél juga memasang topengnya dan bergegas ke atas panggung.


Bersamaan dengan itu, Mikail menerjang ke arah Chéri dengan terengah-engah. "Kau baik-baik saja?" Ia bertanya seraya membungkuk memegangi perutnya.


Chéri belum berkedip mengamati punggung Rafaél. "Dia bukan Rafaél," katanya setengah menggumam.


Mikail mengikuti arah pandangnya.


Rafaél berjalan teratur ke arah Cyzarine, mengucapkan dialognya dengan sungguh-sungguh.


"Dia Rafaél!" Mikail menyimpulkan. "Coba perhatikan," katanya.


Chéri mengamati akting pria itu beberapa saat. Dia berakting bagus, batinnya mengakui. Tapi entah kenapa aku tetap merasa ada yang salah pada tingkah lakunya tadi.


Mungkinkah dia punya rencana lain pada penyutradaraan drama ini?


"Kenapa kau begitu yakin kalau dia bukan kepribadian lain?" Chéri bertanya pada Mikail.


"Kepribadian lain tidak akan berakting meskipun Cyzarine memberi petunjuk," jelas Mikail. "Yang ada di kepalanya hanyalah bagaimana caranya mengacaukan drama ini!"

__ADS_1


"Tapi mungkin saja dia punya rencana lain," sergah Chéri.


"Kau terlalu khawatir!" Mikail merenggut kedua tangan Chéri dan merentangkannya di sisi tubuhnya, kemudian menggerak-gerakkannya ke atas dan ke bawah seperti sepasang sayap. "Ayo, semangat!" katanya. "Sebentar lagi kau harus naik ke panggung. Saat Si Buruk Rupa meninggalkan panggung, kau masuk menggantikannya!"


__ADS_2