Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 47


__ADS_3

"Bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan?" Chéri bertanya lirih.


Rafaél melirik gadis itu melalui sudut matanya.


"Kalau kau bisa mengetahui isi hati orang itu, apakah itu berarti… dia juga bisa mengetahui isi hatimu?"


Rafaél memicingkan matanya. Tapi tak segera menjawab pertanyaan Chéri. Tak yakin ke mana sebenarnya arah pembicaraan gadis itu.


"Dia pernah mengatakan bahwa… kau mencintaiku," lanjut Chéri sedikit tercekat. "Apa itu benar?"


Hanya itu saja yang ingin kutanyakan, pikir Chéri.


Pria itu diam saja.


Kumohon jawablah! Chéri membatin gelisah.


Tapi pria itu tetap bungkam. Lalu tiba-tiba tersentak. "Pertunjukannya—"


Chéri mengangkat wajahnya dan melengak.


Sejurus kemudian, Rafaél sudah menghambur keluar kamar dan bergegas ke arah lift.


Chéri mengikutinya seraya merapikan pakaiannya yang berantakan akibat ulah si kepribadian lain.


Tepuk tangan meriah menyambut mereka dari bangku penonton ketika Chéri dan Rafaél tiba di auditorium.


Tapi tentu saja tepuk tangan itu tidak ditujukan pada mereka. Tapi pertunjukan babak terakhir Si Cantik dan Si Buruk Rupa menuai sukses yang memuaskan para penonton.


Mereka berhasil, batin Chéri lega.


Rafaél bergegas ke belakang panggung, kemudian menyingkap tirai dan mengintip pertunjukan dengan ekspresi khidmat.


Saul baru saja melepas topengnya dan menarik Cyzarine berdiri.


"Bagian terakhir, turunkan bubuk emas sebanyak mungkin, kemudian lakukan fade out sepelan mungkin!" Mikail masih memandu pertunjukan menggantikan pengawas panggung yang telah kabur. "Pelan-pelan… ya, bagus! Pelan-pelan…"


"Buruk Rupa…" Cyzarine tersenyum di antara isak tangisnya, memandangi wajah Saul dengan mata berbinar-binar.


Saul balas menatapnya dengan binar mata yang sama.


"Tak peduli seberapa buruk dan tampannya dirimu, aku akan tetap berada di sisimu…" Cyzarine melanjutkan sisa dialognya. "Kau akan selalu menjadi Buruk Rupaku!"


Saul menarik Cyzarine mendekat dan memeluknya, menyusupkan wajahnya di bahu gadis itu, sementara gadis itu menyusupkan wajahnya di dada Saul.


Para penonton menahan napas dan mendesah bersamaan. Lalu tepuk tangan meriah kembali membahana.


"Chéri! Rafaél!" Beberapa staf memekik terkejut menyadari Chéri dan Rafaél sudah bergabung di belakang panggung.


Mikail tersentak dan menoleh ke arah mereka, kemudian menghambur keluar dan berhenti di belakang Chéri.


Seulas senyum samar tersungging di sudut bibir Rafaél yang berdiri murung di antara bias cahaya lampu spot light dari tirai yang tersingkap.


Chéri mengamatinya dari belakang dengan raut wajah getir. Apa dia benar-benar ingin menghentikan drama ini? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Padahal semua ini kan, hasil jerih payahnya.


.

__ADS_1


.


.


"MoscovArt Theatre, mulai hari ini dibubarkan!" Rafaél memutuskan.


Seketika ruang latihan mendadak hening setelah beberapa saat sangat gaduh seusai pertunjukan. Ekspresi kelegaan yang baru terpancar di setiap wajah berubah drastis menjadi kegelisahan dan kebingungan.


"Apa yang terjadi?" tanya Sesha tak bisa terima. "Sampai-sampai pementasan saja akan dihentikan… Rafaél, beri kami penjelasan!"


Chéri dan Mikail berdiri berdampingan di dekat pintu, tertunduk bungkam dengan raut wajah muram.


Rafaél berdiri di tengah-tengah semua orang dengan raut wajah tenang.


"Kau jangan bercanda untuk masalah seperti ini," protes Saul.


"Benar," Ibrahim menimpali. "Kau sudah terlalu sering berbuat sesuka hati. Tapi demi kesuksesan drama ini, kami mau saja mengikuti aturan mainmu yang tidak masuk akal. Sebenarnya kami ini kau anggap apa, sih? Kami selalu saja harus menuruti keegoisanmu!"


"Kita semua sudah mempertaruhkan segalanya demi drama ini," salah satu staf menyela. "Kenapa tiba-tiba kau menjadi aneh dan sekarang kau juga menghentikan drama ini? Kalau ini karena alasan pribadi kami tidak bisa menurutimu lagi!"


"Benar, semuanya karena alasan pribadi." Rafaél menjawab lugas. "Kondisiku saat ini sangat tidak memungkinkan untuk memimpin sebuah kelompok teater maupun bermain drama. Karena itu… aku mohon maaf kepada kalian semua."


"Aku tidak bisa terima," sergah Sesha masam. "Bukankah sudah merupakan kewajiban bagimu untuk setidaknya meneruskan pementasan sampai hari terakhir?"


Rafaél tidak menjawab.


"Bukan begitu, Mikail?" Sesha beralih ke arah Mikail.


"Aku…" Mikail memalingkan wajahnya dan tertunduk. "Aku ikut Rafaél," jawabnya sedikit tercekat.


Sesha tertunduk dengan raut wajah muram.


"Arrrrrgh!" Seseorang berteriak. "Sudahlah! Aku keluar saja dari teater ini!"


"Aku juga!" timpal yang lainnya. "Aku sudah tak tahan dengan sistem One Man Show sialan ini!"


Sesha, Chéri dan Mikail tersentak.


"Sekarang aku mengerti kenapa Demian keluar duluan!" Satu orang lagi berteriak. Diikuti beberapa orang lainnya. "Aku juga keluar!"


"Aku juga!"


"Aku juga!"


Ya, Tuhan! Chéri membekap mulutnya.


"Kalian—" Sesha tergagap dengan raut wajah gusar.


Lebih dari tiga puluh orang mengangkat tangannya dan berbalik meninggalkan ruang latihan.


Situasi berubah semakin gaduh. Semakin banyak saja orang berteriak dan mengumpat sebelum akhirnya mengajukan pengunduran diri.


Rafaél tetap tenang dan tampaknya tidak keberatan.


Tapi Chéri tiba-tiba menginterupsi. "Keterlaluan!" jeritnya. "Kalian semua sudah salah paham. Ini bukan salah Rafaél—"

__ADS_1


"Chéri—" Mikail menyergap pinggangnya dan menariknya ke sisi ruangan. "Tutup mulutmu sebelum kau keceplosan," bisiknya memperingatkan Chéri.


"Mereka semua sudah keterlaluan," Chéri bersikeras.


"Apanya yang keterlaluan?" bantah Evaline. "Oh, ya! Aku hampir lupa… dia juga kan, termasuk pihak yang mengacau!"


"Eve—" si pemeran kucing mencoba membungkam Evaline.


"JUST ENOUGH!!!" Teriakan Rafaél akhirnya menggelegar.


"Selalu saja begitu setiap kali seseorang menyinggung Chéri," rutuk gadis yang lainnya dengan tampang sebal.


"Ini tidak hubungannya dengan Chéri," sanggah Rafaél.


"Tidak ada hubungannya apa?" Evaline mendengus sinis. "Buktinya sudah berapa kali kau dan Chéri menghilang bersama. Kalau mau macam-macam lakukanlah setelah selesai pementasan!" hardiknya pada Rafaél. "Saat sedang kerja seharusnya jangan bawa-bawa masalah pribadi!"


"Ah, sudahlah!" Cyzarine menyela Evaline. "Tidak enak kalau sampai kedengaran orang lain."


Evaline melontarkan tatapan tajam ke arah Cyzarine.


Cyzarine balas menatapnya seraya tersenyum sinis. "Kau bicara begitu juga sebenarnya hanya iri karena tidak mendapat peran yang bagus, kan?" cemoohnya.


"Apa kau bilang?" Evaline menggeram dan menerjang ke arah Cyzarine.


Chéri memekik terkejut. Dia membelaku, pikirnya nyaris tak percaya.


"Tarik kembali kata-katamu tadi!" hardik Evaline seraya merenggut kerah baju Cyzarine.


Cyzarine meraup wajah Evaline dan mendorongnya.


Chéri mencelat ke arah mereka dan menengahinya.


Sesha terperangah dan membekap mulutnya.


Mikail bertukar pandang dengan Rafaél.


Evaline mengedikkan wajahnya ke sana kemari, berusaha membebaskan diri dari cengkeraman Cyzarine, sementara kedua tangannya masih mencengkeram kerah baju Cyzarine.


Cyzarine membenamkan telapak tangannya makin dalam ke wajah Evaline hingga gadis itu terengah-engah kehabisan napas.


"Cyzarine! Evaline! Cukup!" pekik Chéri sambil menyelinap ke tengah-tengah mereka.


Begitu keduanya berhasil dipisahkan, Evaline langsung menghambur keluar ruangan sembari menangis dan berteriak, "AKU KELUAR!"


Rafaél dan Mikail tetap bergeming.


Chéri dan Cyzarine menjatuhkan dirinya ke lantai sembari terengah-engah. Kemudian duduk berdampingan seraya memegangi perut masing-masing.


Rafaél dan Mikail melirik mereka sepintas, kemudian berbalik serempak dan berjalan beriringan meninggalkan ruangan.


Sesha melengak mengamati keduanya, kemudian menatap Chéri dan Cyzarine dengan alis bertautan.


Apa yang terjadi? pikirnya kebingungan.


Apa matahari terbit dari barat hari ini?

__ADS_1


__ADS_2