Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 34


__ADS_3

"Dasar bodoh!" Chéri berteriak meluapkan ganjalan dalam hatinya begitu ia keluar dari lift di lantai tujuh. "Kepribadian ganda! Kepribadian ganda apaan? Memangnya kenapa kalau punya kepribadian ganda?" Chéri mendengus.


Ia berjalan menyusuri lorong sepi menuju kamarnya sembari menggerutu. "Dia pikir siapa memangnya yang sudah mengajariku akting? Kenapa malah dia sendiri yang melarikan diri?  Dasar pengecut!" 


Chéri mempercepatnya langkahnya dengan terengah-engah. Tersengal oleh gejolak emosinya. Tenggelam dalam kesesakan dalam dadanya.


"Aku betul-betul salah menilaimu, Rafaél Moscovich!" Chéri mengumpat seraya menendang pintu kamarnya.


"AUW!" 


Pekikan seseorang menyentakkan Chéri.


Rafaél Moscovich membungkuk di ambang pintu seraya memegangi bingkai pintu dengan sebelah tangannya, sementara tangan lainnya mengusap-usap tulang kering kakinya sembari mengernyit.


Chéri memekik tertahan dan membekap mulutnya dengan kedua tangan.


Rafaél meluruskan tubuhnya dan menaikkan tali ransel yang melorot di bahunya. "Kau bilang aku pengecut?" Ia bertanya dengan nada datar. Raut wajahnya tak kalah datar seperti biasa.


Chéri tercekat.


"Kau bilang aku bodoh, dan kau salah menilaiku?" Rafaél bertanya lagi. Sepasang mata birunya menatap ke dalam mata Chéri tanpa berkedip. 


Chéri tertunduk dengan raut wajah menyesal khas kanak-kanak. "Iya, aku memang bilang begitu." Ia mengaku. "Habis… percuma kau lari darinya. Dia ada di dalam dirimu."


Rafaél mendesah berat dan mendekat pada Chéri.


Chéri menelan ludah dan mendongak, memberanikan diri untuk memandang wajah Rafaél.


Rafaél menatapnya dengan ekspresi wajah yang tetap datar.


"Kau tak bisa melarikan diri dari diri sendiri," sergah Chéri cepat-cepat. "Tak ada tempat untuk kau sembunyi. Kau tak punya cara lain kecuali menghadapinya. Bukankah banyak orang bilang musuh terbesar di dunia adalah diri sendiri? Kau tidak sendirian, Rafaél!"


Rafaél merenggut dagu Chéri dan membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. "Aku paling benci seseorang yang mengguruiku," desisnya.


Chéri mengatupkan mulutnya.


"Tapi kau benar," Rafaél menambahkan.


Chéri mengerjap dan berdebar-debar.


Pria itu semakin mendekatkan wajahnya. 


Chéri melihat mulut pria itu menuju mulutnya dan tahu apa yang akan dilakukannya. Kelopak matanya seketika meredup. Tapi kemudian terbelalak ketika seseorang tiba-tiba berdeham mengejutkan mereka.


Chéri dan Rafaél menoleh serentak ke arah sumber suara dan spontan saling menjauhkan diri.


Mikail tahu-tahu sudah berdiri tak jauh di belakang Chéri dengan kedua tangan terselip di saku celananya.


Dia suka sekali menyelinap, gerutu Chéri dalam hatinya.


Rafaél menutupi mulutnya dengan kepalan tangan dan berdebam. "Aku tak jadi menginap di tempatmu," katanya. Kemudian berbalik ke arah pintu.


Mikail mengerutkan dahinya.


"Oh, ya!" Rafaél berhenti di ambang pintu dan menoleh pada Mikail. "Mulai besok aku akan memerankan Si Buruk Rupa," katanya. "Tolong, beritahu yang lain!" Ia menambahkan seraya memalingkan wajahnya kembali ke depan.

__ADS_1


Chéri terkesiap dengan mata membulat.


"Tidak! Tunggu—" Mikail bergegas menghampirinya. "Apa kau serius?" Ia bertanya seraya menahan bahu Rafaél.


Rafaél memutar tubuhnya menghadap Mikail. "Aku memutuskan untuk menghadapinya," ia menandaskan.


Wajah Chéri sontak berbinar-binar senang.


"Tapi—" Mikail tergagap.


"Akan kuperlihatkan padanya bahwa dengan kemauanku yang keras, aku bisa menekannya." Rafaél menyela cepat.


"Tapi—"


"Hari ini tekanan yang kurasakan terlalu banyak, makanya dia bisa muncul setelah satu tahun tidak keluar. Tapi lain kali akan kupastikan dia takkan muncul lagi untuk selamanya. Sampai saat ini saja dia hanya muncul beberapa kali dalam sepuluh tahun terakhir."


"Tapi—"


"Ah, sudahlah!" Chéri menyeruak di antara keduanya dan menyikut perut Mikail. "Kau selalu saja cemas," katanya sembari menyeringai. "Kalau dia sudah bertekad semuanya pasti akan berjalan lancar."


Mikail mengerang tak berdaya. Mereka berdua memang sama keras kepalanya, batinnya jengkel. 


Benar-benar pasangan yang serasi!


Mikail mengangkat kedua bahunya dengan sikap pasrah, kemudian berbalik ke arah lift dan meninggalkan Chéri dan Rafaél tanpa berkata-kata lagi.


Chéri mengamati pria itu sampai ia menghilang di pintu lift, sementara Rafaél kembali ke kamarnya.


Ia melemparkan ranselnya di sofa dekat pintu, kemudian berjalan ke arah meja dekat jendela. Meraih sebatang spidol dan menulis pada kaca jendela. Lalu mengerjap dan mengedikkan kepalanya seperti coba menyadarkan diri.


Rafaél terbelalak. Diamatinya tangan yang memegangi spidol dengan wajah bingung, kemudian tercekat mendapati tulisan pada kaca jendela: Aku sudah mencium Chéri-mu. Dalam waktu dekat ini, aku akan kembali menemui lagi Chéri-mu yang cantik.


Rafaél menelan ludah dan beringsut ke belakang. Masih belum berkedip mengamati tulisan pada kaca.


Aku?


Sudah mencium Chéri?


Oh, s h i t!


Rafaél mengernyit seraya memijat-mijat pangkal hidungnya. Aku baru mau menciumnya tadi, kenangnya getir.


Ah! 


Entah kenapa jantungku rasanya masih berdebar-debar?


Chéri menghela napas pendek dan menjatuhkan dirinya ke tempat tidur setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Menyadari Rafaél tidak jadi pergi dan berada di kamar sebelah, hatinya seketika merasa tenteram sekaligus gelisah.


Mengingat pria itu tadi hampir menciumnya, membuat jantung Chéri kembali berdebar-debar. Bagaimanapun pria itu sudah pernah menciumnya. Tentu saja itu orang yang berbeda, dan Rafaél sama sekali tidak menyadarinya. Tapi tetap saja tubuhnya tubuh Rafaél. Dan Chéri… mendambakan ciuman itu lagi.


.


.


.

__ADS_1


"Chéri…"


Chéri tersentak dan membalik tubuhnya yang tengah meringkuk.


Seseorang menyentuh bahunya dan menariknya berbalik. 


Chéri terperangah menatap wajah di atas kepala.


Rafaél duduk membungkuk di sisi tempat tidurnya, mendekatkan mulutnya ke mulut Chéri dan memagutnya.


Tidak!


Chéri menarik duduk tubuhnya dan beringsut menjauhi pria itu.


Apa dia si kepribadian lain? Chéri bertanya-tanya dalam hatinya.


Pria itu menatapnya dengan sepasang mata teduh yang mengandung magnet. Tenang, dingin dan menghanyutkan.


Dia Rafaél, pikir Chéri.


Pria itu kembali merunduk dan memagut bibirnya dengan lembut.


Benar-benar lembut…


Dia Rafaél yang asli!


Chéri menyimpulkan.


Lalu pria itu melepaskan ciumannya dan menatap Chéri sekali lagi, "Chéri," bisiknya. "Ini aku."


Aku tahu! Chéri sontak memeluknya dan menggelayut di lehernya. Ingin rasanya tetap seperti ini untuk selamanya, batin Chéri berbunga-bunga.


"Chéri!" Pria itu memanggilnya lagi. Lebih keras dari sebelumnya.


Chéri mengerutkan keningnya seraya menarik wajahnya menjauh dari dada pria itu dan mendongak. Kemudian terperanjat, lalu buru-buru melepaskan pelukannya. "Mikail!" Ia memekik tertahan. "Kenapa kau bisa ada di sini?"


Pria itu balas terperanjat. Tapi tak segera menjawab. Sepasang matanya mengerjap dan terbelalak.


Chéri sontak tertunduk mengikuti arah pandang pria itu dan menjerit seraya merenggut kerah baju tidurnya yang terbelalak di bagian dada. Beberapa kancing bajunya terlepas.


Kelihatan!


Kelihatan!


Dadaku kelihatan, erang Chéri dalam hatinya.


"Maaf, ya. Karena harus membangunkanmu sebelum matahari terbit," ungkap Mikail setelah mereka berada di dalam lift seraya menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak terasa gatal. Tak berani menatap Chéri.


Chéri berdiri membungkuk di sisi lainnya dengan kedua tangan bersilangan di depan dada, memeluk dirinya sendiri. Juga tak berani menatap Mikail.


"Aku sudah membunyikan bel tadi," jelas Mikail. "Tapi tidak ada jawaban. Jadi aku langsung masuk dengan kunci yang diberikan Rafaél."


Kau memang betul-betul memiliki kebiasaan buruk, batin Chéri.


Suka sekali menyelinap!

__ADS_1


__ADS_2