Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 48


__ADS_3

"Mikail sedang membujuknya sekarang," Saul memberitahu semua orang dalam ruangan.


"Apa dia akan berhasil, ya?" Sesha menggumam tak yakin.


"Ah, percuma!" Cyzarine menimpali. "Anggota yang tersisa juga tinggal segini!"


Sesha mengedar pandang memandangi wajah-wajah anggota yang masih tersisa.


Sisa delapan orang pemain, dua orang staf penata lampu dan lima orang dari tim kreatif.


"Aku sih, tenang-tenang saja!" kata Sesha, "Meski dia bersikeras untuk membubarkan teater ini, aku akan tetap menunggu hari teater ini dibentuk kembali!"


"Kalau aku sih, mau kembali saja ke kehidupan kampus yang santai. Tapi hanya sampai aku menemukan grup teater yang lebih menarik dari grup teater ini!" kata Cyzarine.


Kalau aku… Chéri menggumam dalam hatinya. Aku tidak tahu!


Apa yang sebaiknya kulakukan?


"Ah, itu dia!" Ibrahim memberitahu semua orang seraya menunjuk ke arah pintu dengan dagunya.


Chéri serentak menoleh mengikuti arah pandang semua orang.


Mikail bergegas ke tengah ruangan dengan tampang masam. "Sepertinya perasaan Rafaél tidak berubah," katanya pesimis.


Seisi ruangan mengerang.


Chéri mendesah berat dan tertunduk.


Mikail kemudian berjongkok di depannya, "Chéri, katanya tadi ibumu menelepon," bisiknya. "Dia ingin kau segera pulang. Begitu juga Rafaél. Aku sudah memesan tiket pesawat untuk besok!"


Sesha tiba-tiba beranjak dan bergegas keluar seraya membekap mulutnya dan menangis tersedu-sedu.


"Sesha! Are you okay?" Cyzarine menyusulnya.


"Sesha yang biasanya tegar sampai menangis tersedu-sedu begitu," desis Lila prihatin.


Lalu perlahan semua beranjak dari tempatnya masing-masing, kemudian melangkah keluar ruangan dengan langkah-langkah berat. Beberapa orang saling menyemangati dan mengucapkan selamat tinggal di depan pintu ruang latihan.


Mikail kemudian bergabung bersama mereka dan memberikan semangat kepada semua orang untuk terakhir kalinya.


Sesha memeluknya sembari sesegukan.


Chéri masih bertahan di dalam ruang latihan memeluk lututnya.


Cyzarine meliriknya sekilas, kemudian menepuk pundak Mikail dan berlalu dari tempat itu tanpa menoleh lagi.


Sesha melangkah terseok-seok didampingi Lila dan Ibrahim.


Kyle melangkah ragu di belakang Chéri. Lalu berhenti dan tertunduk lesu. Tapi kemudian memutar tubuhnya dan berlalu. Aku masih punya harapan bertemu Chéri di sekolah, pikirnya. Apa yang perlu aku khawatirkan?


"Nona! Lampunya akan dimatikan!" Seorang staf penata lampu berteriak pada Chéri.


"Oh, ya! Silahkan!" jawab Chéri cepat-cepat. Tapi tak segera bangkit dari tempatnya.


Tak lama kemudian, kegelapan total menyelimuti seluruh tempat.


Semuanya hilang, batin Chéri getir.


Lalu tiba-tiba suara langkah kaki di belakangnya mengejutkan Chéri.


"Chéri…" seseorang memanggilnya dengan lembut.

__ADS_1


Itu suara Rafaél! Chéri menyimpulkan. Lalu menoleh ke sumber suara dan memicingkan mata. Menunggu sampai matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan.


"Aku belum menjawab pertanyaanmu," kata Rafaél.


Jantung Chéri seketika berdegup kencang.


"Dia bilang aku mencintaimu, kan? Sebetulnya… dia berbohong!"


Deg!


Jantung Chéri sekarang seperti berhenti berdegup.


"Dia selalu berbohong!" Rafaél menambahkan.


Air mata merebak di pelupuk mata gadis itu. Tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


"Chéri, kupastikan kau akan segera lupa kalau kau pernah berada di sini. Kau akan segera melupakanku!"


Tubuh Chéri berguncang menahan isak-tangisnya.


"Lupakanlah semuanya, Chéri! Kembalilah menjadi Chéri yang tergila-gila pada balet. Mulailah meniti karirmu sebagai balerina!"


Chéri tetap bergeming. Tapi hati kecilnya semakin menjerit. Kupikir aku cukup berarti, batinnya.


"Jaga dirimu!" tandas Rafaél tanpa beban sedikit pun. Tak lama kemudian langkah kakinya terdengar menjauh.


"Tidak—" pekik Chéri. "Jangan pergi!"


Tidak ada jawaban!


"Rafaél! Aku mencintaimu! AKU MENCINTAIMU!" Chéri meratap seraya merangkak, meraba-raba di dalam kegelapan.


Dia benar-benar pergi, pikir Chéri sedih.


Hening!


"Rafaél! Jawab aku! Gelap sekali di sini, aku tak bisa melihatmu. Kau masih di sini, kan?"


Tidak ada jawaban.


"Rafaél! Jangan pergi---kumohon!" ulang Chéri mulai putus asa. "Aku tak rela kalau tak bisa bertemu denganmu lagi," desisnya makin pelan. Lalu berhenti melangkah dan menangis sejadi-jadinya. Lututnya mulai gemetar tak terkendali.


Dia benar-benar pergi, ratapnya dalam hati. Dia sama sekali tidak peduli!


Chéri melangkah limbung dan hampir tersungkur sebelum sepasang tangan menangkap pinggangnya dan seseorang mendekapnya.


Semuanya terjadi begitu cepat dan tak terlihat, menjadikan semuanya terasa seperti bukan dalam kenyataan.


"Sudahlah, Chéri!" Bisikan lembut dan sedikit gemetar itu seketika menenangkan Chéri.


"Aku mencintaimu," bisik Chéri di antara isak-tangisnya. "Aku tak peduli meskipun kau tidak memiliki perasaan apa-apa. Aku tetap mencintaimu!"


"Maafkan aku, Chéri. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Kedua tangan dan bahuku sudah dipenuhi beban urusanku sendiri. Bagaimana aku bisa mengatasi urusan yang lain jika urusanku sendiri bahkan dikacaukan oleh diri sendiri?"


Chéri menangis semakin menjadi.


"Selama aku masih dikalahkan oleh diriku sendiri, aku sama saja dengan mati!"


Chéri mengetatkan rangkulannya dan menyusupkan wajahnya semakin dalam ke dada Rafaél.


"Selama aku belum bisa mengatasi diriku sendiri, aku akan mencampakkan semuanya—-teman, drama dan juga dirimu!" Rafaél mengelus punggung gadis itu dan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Sekarang benar-benar sudah berakhir, batin Chéri tak berdaya. Lalu menyerah dan tidak berusaha mengejarnya lagi, ketika pria itu benar-benar berbalik dan berlalu meninggalkan tempat itu, meninggalkan Chéri sendirian.


Sekarang apa yang akan kulakukan? pikir Chéri.


Rafaél memintaku kembali pada kehidupanku yang dulu…


Apa dia tidak sadar dia telah banyak mengubahku?


Kupu-kupu tidak pernah kembali menjadi kepompong!


Kuncup bunga yang sudah mekar tidak pernah kembali kuncup, kecuali… menunggu kelopaknya berguguran.


Hanya tinggal menunggu mati!


Dia bilang, selama dirinya masih dikalahkan oleh dirinya sendiri… dia sama dengan mati.


Lalu apa bedanya dengan aku sekarang?


Chéri benar-benar kehilangan arah dan keseimbangan!


Rafaél tidak hanya menorehkan luka yang membekas di hatinya. Tapi juga membawa pergi separuh jiwanya.


Tapi apa yang bisa Chéri lakukan sekarang?


Rafaél sudah memutuskan untuk mencampakkan semuanya. Tidak seorang pun bisa mempengaruhi pria itu. Tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.


B a j i n g a n keras kepala!


"Kau tahu kan, dia sangat berbahaya?"


"Jadi, pulanglah!"


"Aku tak mungkin menempatkanmu dalam situasi berbahaya bagi"


Dengan segenap kekalahan…


Chéri terpaksa pulang ke St. Petersburg!


"PENERBANGAN 593 DARI MOSKOW MENUJU ST PETERSBURG AKAN TIBA DI ST PETERSBURG PADA PUKUL 13:00!" Pengumuman menggema di terminal bandar udara Domodedovo.


Chéri duduk membeku di dalam pesawat, menatap nanar keluar jendela dengan mata sembab.


"PANGGILAN KEPADA NONA CHÉRI DUTCHSKOVA, PENUMPANG DARI MOSKOW…" Seorang pramugari mengumumkan dari pengeras suara. "ADA TELEPON UNTUK ANDA DARI TUAN MIKAIL VOLKOV!"


Mikail? Chéri terperanjat dan beranjak dari tempat duduknya.


Seorang pramugari kemudian membimbingnya ke sebuah ruangan khusus dalam pesawat itu.


Seorang pria di bangku penumpang melirik Chéri dari balik Moskovskij Komsomolets yang sedang dibacanya seraya tersenyum tipis.


Chéri tidak menyadarinya!


"Rafaél menghilang!" Demikian kabar yang disampaikan Mikail setelah Chéri terhubung dengan pria itu melalui telepon customer service.


"Apa maksudnya menghilang?" Chéri bertanya tak yakin.


"Mulanya aku mengira dia hanya bepergian biasa," Mikail menjelaskan. "Tapi ternyata dia membawa seluruh barang pribadinya, bahkan kartu ATM dan juga pasport!"


"Pasport? Apa mungkin dia pergi ke luar negeri?" Chéri bertanya nyaris berteriak.


"Aku sama sekali tidak khawatir jika dia pergi ke luar negeri," sanggah Mikail setengah terkekeh. "Yang aku takutkan kepribadian lain itu muncul, dan sekarang menuju St Petersburg untuk mengejarmu."

__ADS_1


Chéri menelan ludah dan tergagap.


"Berhati-hatilah, Chéri!" Mikail berpesan sebelum mengakhiri panggilannya.


__ADS_2