
"Mungkin kita bisa memanggilnya," Chéri tiba-tiba menggumam seraya merenggut lengan sweater Mikail.
"Memanggilnya?" Mikail mengerutkan dahi. "Memanggil Rafaél kembali?" Ulangnya sedikit tak yakin.
Chéri mengangguk cepat. Lalu kembali melirik cermin.
Wajah itu, katanya dalam hati. Wajah dalam cermin itu…
Aku yakin itu wajah Rafaél!
Dia melihat ke arahku, batinnya. Seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kita?" Mikail bertanya lagi seraya menggerak-gerakkan sebelah tangannya ke arah Chéri dan dirinya secara bergiliran.
Chéri mengangguk lagi.
"Bagaimana caranya? Aku benar-benar tidak bisa memahamimu," katanya masih terlihat ragu.
"Lihat itu!" Chéri menunjuk ke arah cermin di samping Rafaél yang sedang berbicara dengan pengawas panggung.
Mikail mengikuti arah pandangnya dan melengak tak mengerti.
"Lihat wajahnya! Wajah di dalam cermin itu!" Chéri berlanting sembari mengetatkan cengkeramannya pada lengan sweater Mikail.
Mikail meringis kesakitan.
"Ma—maaf!" Chéri buru-buru melepaskannya.
Rafaél seketika menoleh dan menatapnya dengan curiga.
Chéri balas menoleh dan menelan ludah.
Pria itu menyeringai tipis ke arah Chéri dan Mikail.
"Ayo!" Chéri berbalik cepat-cepat seraya menuntun Mikail. "Kalau tidak dirawat sekarang, nanti bisa tambah parah," katanya beralasan.
Mikail melirik ke arah Rafaél sekali lagi.
Pria itu mengedipkan sebelah matanya.
"Hei—apa kau mendengarku?" Pengawas panggung menegur pria itu dengan raut wajah kesal.
"Ah! Luar biasa!" Rafaél menjawab spontan. "Lanjutkan," katanya sekenanya. Kemudian meninggalkannya.
Pengawas panggung mengerutkan dahinya.
Chéri dan Mikail menyembunyikan diri di ruang kesehatan.
"Selama ini, kau begitu yakin bahwa Rafaél sama sekali tak ingat apa-apa, kan?" Chéri bertanya pada Mikail. "Saat kepribadian lain muncul ke permukaan, Rafaél tidak menyadarinya?"
"Well—yeah! Keadaannya seperti sedang tidur!" Mikail menjelaskan.
"Apakah menurutmu ada kemungkinan keadaan itu bisa berbalik?" Chéri bertanya lagi.
"Maksudmu kemungkinan Rafaél yang seharusnya tertidur di dalam kepribadian itu sekarang mulai tersadar?"
Chéri mengangguk. "Tadi aku melihat wajah Rafaél dalam cermin yang seharusnya memantulkan wajah si kepribadian lain yang sedang tertunduk. Tapi wajah dalam cermin menoleh ke arahku. Aku tidak mungkin salah lihat. Itu pasti wajah Rafaél. Sejak pertunjukan dimulai, dia bukan kepribadian lain yang berpura-pura menjadi Rafaél. Tapi dia memang memakai wajah Rafaél yang asli!"
"Aku tidak mengerti!" Mikail mengaku.
__ADS_1
"Dia menyadari keberadaanku," cerita Chéri. "Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu!"
Mikail menautkan alisnya. "Jadi maksudmu Rafaél sadar di dalam orang itu?"
"Sekarang babak 12, kakak laki-laki Si Cantik stand by!" Teriakan nyaring pengawas panggung membahana di depan ruang kontrol.
Cyzarine tidak berhenti mengeluh sepanjang waktu istirahat itu. "Panas sekali," erangnya. "Aku tak tahan lagi!"
"Bertahanlah, Cyzarine! Tinggal sebentar lagi," salah satu staf berusaha membujuknya.
"Di mana Chéri?" Seorang staf lainnya berteriak di pintu ruang kostum.
"Aku tidak tahu," jawab seorang pemain. "Terakhir aku melihatnya pergi bersama Mikail!"
"Aduh! Bisa gawat nih, kalau dia belum siap di sisi panggung!" Staf tadi menggerutu seraya bergegas entah ke mana.
Cyzarine mengikutinya.
"Hei—" staf yang tadi menemaninya berusaha menahan Cyzarine.
"Aku butuh air!" Cyzarine menghardiknya. "Aku benar-benar kepanasan!'
Pada saat yang sama, Cyzarine melihat Rafaél melintas di depan ruang kostum wanita. Gadis itu bergegas menghampirinya. "Rafaél! Aku mau ambil minum dulu," katanya meminta izin. "Aku janji tak akan lama!"
Rafaél menyeringai. "Tidak perlu buru-buru," katanya mesra.
Cyzarine menanggapinya dengan senyum manis. Lalu tiba-tiba melengak dan mengerutkan dahi.
Tidak perlu buru-buru katanya?
Kok, rasanya tidak seperti Rafaél yang biasanya?
Ah, sudahlah! Pikirnya. Lalu buru-buru pergi.
Di depan ruang kesehatan, Cyzarine memergoki Chéri sedang berduaan dengan Mikail seraya berbisik-bisik dengan pintu setengah tertutup. Berdiri rapat di sisi meja dengan kedua tangan saling menyentuh.
Dasar wanita penggoda! Ternyata Rafaél saja belum cukup! Cyzarine menggerutu dalam hatinya, kemudian mengendap-endap mendekati pintu.
"Lalu kepribadian yang lain itu mengatakan kalau Rafaél tidak akan muncul lagi," bisik Chéri. "Kurasa si kepribadian lain itu tidak menyadari Rafaél tersadar dalam dirinya. Keadaan dia sekarang, sama seperti keadaan Rafaél waktu itu."
Mikail memegangi dahinya. "Tunggu sebentar," katanya. Kemudian berpikir keras. "Ah, begitu rupanya!"
Cyzarine mengerutkan dahinya. Apa yang sedang mereka bicarakan sebenarnya? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.
"Selama ini, setiap kali orang itu muncul, Rafaél tertidur dalam diri orang itu, sementara dia sendiri tetap sadar saat Rafaél muncul dan terus-menerus mengawasi Rafaél. Begitulah keadaannya sampai sekarang. Itu sebabnya si kepribadian lain itu merasa berada di atas angin." Mikail mulai bicara banyak.
Cyzarine makin penasaran.
"Nah! Karena Rafaél sudah terbangun dari tidurnya, kita mungkin bisa melakukan sesuatu untuk membantu supaya Rafaél muncul kembali!" Chéri menimpali Mikail dengan antusias.
"Tapi—" Mikail kembali ragu.
"Rafaél bukan tipe orang yang bisa berdiam diri menyaksikan tubuhnya ditunggangi sisi belakang dari kepribadian gandanya!" Chéri meyakinkannya.
Kepribadian ganda? Cyzarine memekik tertahan.
Lalu teriakan nyaring seorang staf menyentakkan mereka.
"Chéri! Cyzarine! Sekarang giliran kalian!"
__ADS_1
Chéri dan Mikail menoleh serentak ke arah pintu.
Cyzarine? Chéri membatin gusar. Kemudian menyeruak keluar dan mendapati gadis itu tengah membeku di dekat pintu. Sudah berapa lama dia berada di situ?
Cyzarine mengerjap dan menelan ludah, lalu memalingkan wajahnya ke sembarang arah seraya bergegas meninggalkan Chéri.
"Cyzarine---tunggu!" Chéri berusaha menahannya.
Tapi Cyzarine tidak menggubrisnya.
"Tolong jangan katakan kepada siapa pun!" Chéri memohon setengah tergagap.
"Chéri!" Mikail menegurnya. "Kita belum tahu apakah Cyzarine benar-benar percaya dengan apa yang kita bicarakan. Lagi pula aku selalu memikirkan kemungkinan terbaik dan kemungkinan terburuk. Dan kemungkinan terburuknya, Rafaél takkan kembali!"
GLEK!
Chéri membeku seketika.
"Coba pikir," lanjut Mikail. "Selama ini, kepribadian lain itu jarang muncul ke permukaan. Dia selalu mengawasi Rafaél dari posisinya sebagai kepribadian kedua. Tapi sekarang sebaliknya. Sekarang Rafaél-lah yang berada di posisi itu. Dengan kata lain, mereka sekarang sudah benar-benar bertukar tempat!"
Wajah Chéri mulai memucat.
"CHÉRIIIII!!!" Pengawas panggung berteriak tak sabar.
"I'm coming!" Chéri melanting secepat kilat.
Mikail mengerang tak puas. "Keparat!" Geramnya seraya menggebrak bingkai pintu dengan kepalan tangannya. "Apa yang sebaiknya kulakukan?"
"Si Cantik, keluarlah!" Pengawas panggung menginstruksikan. "Bayangan Si Cantik dan Si Buruk Rupa bersiap di balik zanaves!"
Chéri melirik gelisah ke arah Rafaél. Pria itu balas meliriknya seraya tersenyum tipis.
Benarkah Rafaél tak bisa kembali? Chéri bertanya-tanya di dalam hatinya.
Tidak, bantahnya. Kemarin juga dia bisa kembali. Kali ini juga pasti bisa!
"Chéri! Sini!" Staf penata panggung memberitahu.
.
.
.
Babak 21:
Kakak-kakak Si Cantik menyerang puri Si Buruk Rupa dan menjarah seluruh isinya.
"Cari ruangan yang berisi barang-barang berharga?" Kakak laki-laki yang pertama menginstruksikan. "Cari Si Buruk Rupa sampai dapat kemudian habisi dia!"
"Dia pasti bersembunyi di suatu tempat," timpal kakak laki-laki yang satunya lagi.
Hanya bayangan Si Cantik yang menyaksikan ketika Si Buruk Rupa sedang sekarat.
"Cantik! Cepat kembali! Aku merasa tersiksa karena tak bisa menolongnya. Aku yang hanya bayangan ini bahkan tidak bisa menyentuhnya. Hanya bisa melihatnya!"
Kembalilah, Rafaél!
"Cepatlah kembali! Kalau tidak Si Buruk Rupa akan mati!"
__ADS_1