
Tsar Dramy…
"Mulai hari ini, kita akan memulai latihan resmi!" Vladimir mengumumkan.
Para anggota duduk berderet di ruang latihan.
Chéri duduk di deretan bangku paling depan, berusaha memusatkan perhatiannya hanya pada pidato Vladimir. Tak ingin membebani dirinya dengan situasi sekitar yang rata-rata berisi tatapan permusuhan.
"Pementasan akan digelar selama tiga belas hari," lanjut Vladimir. "Dari tanggal sembilan sampai tanggal dua puluh satu Mei di gedung Bolshoi Theatre. Skenario oleh Rafaél Moscovich, sutradara Vladimir Valensky."
Seisi ruangan bertepuk tangan.
"Para pemain… Joan d'Arc, Chéri Dutchskova!" Vladimir mengumumkan.
Seisi ruangan bergeming.
Chéri tidak peduli.
"Putra mahkota Charles, Demian Ivanov!"
Chéri akhirnya mengangkat wajah dan menoleh. Demian juga duduk di barisan bangku paling depan, tiga bangku dari bangkunya.
Seolah bisa merasakan dirinya sedang diperhatikan, pria itu menoleh pada Chéri. Raut wajahnya terlihat datar.
Tak disangka akan bermain dengannya lagi, pikir Chéri.
"Penduduk Orleans…" suara Vladimir timbul-tenggelam dalam kesadaran Chéri, seiring dia melamun.
"Pemeran pengganti Joan, Leah Denova!"
Kesadaran Chéri kembali, dia menarik pandangannya dari Demian dan beralih pada Leah yang berdiri di sisi ruangan di ujung deretan bangku pertama.
Gadis itu balas meliriknya dan mengedipkan sebelah matanya.
Chéri menanggapinya dengan tersenyum simpul.
Pengikut Joan…" Vladimir melanjutkan.
Beberapa orang mulai berbisik-bisik. "Aneh," seorang gadis menggerutu di belakang Chéri. "Leah yang lebih layak dapat peran utama malah jadi pemain cadangan!"
"Bukankah sudah jelas," Vladimir menegur mereka.
Seisi ruangan membeku.
Chéri menelan ludah, terkejut mengetahui jangkauan pendengaran Vladimir di atas rata-rata.
"Jika pemeran utama terbukti tidak mampu bermain bagus, Leah sudah siap menggantikannya kapan saja," jelas Vladimir.
__ADS_1
Gadis-gadis itu mendesis tertawa sembari membekap mulutnya.
Chéri mendesah pendek, merasa tersengat oleh sindiran dalam tawa mereka. Tapi ia berusaha mengabaikan perasaannya.
Rafaél akan menyelamatkanmu!
Chéri menyemangati dirinya sendiri.
"Sekian pengumuman para pemain," lanjut Vladimir. "Baik, sekarang aku akan menjelaskan kedudukan Joan dalam sejarah. Tolong jangan ribut!"
Seisi ruangan kembali beku.
"Joan dilahirkan di desa Domremy sebagai putri seorang petani, pada saat perang perebutan tahta dan wilayah kekuasaan antara Inggris dan Prancis sedang berlangsung. Perang itu disebut perang seratus tahun."
Chéri menyimak penjelasan Vladimir dengan sedikit rasa takjub. Tidak mengira pria itu memiliki aura berkarisma saat bicara tanpa seringai konyolnya yang menjengkelkan.
"Pada suatu hari, Joan mendengar suara Tuhan… Joan, pergilah ke Orleans yang sedang dikepung musuh, selamatkan Prancis dan berikan tahta kerajaan kepada putra mahkota Charles. Begitulah suara itu terdengar berulang kali. Joan yang saat itu baru berumur enam belas tahun bertekad untuk mewujudkan kata-kata itu."
Chéri mencoba mengembangkan imajinasinya mengikuti cerita Vladimir.
"Joan yang mengenakan pakaian pria dan membawa pedang, terus dibimbing oleh suara Tuhan, dan ia berhasil memperoleh kepercayaan dari pangeran Charles. Dengan mengenakan baju besi berwarna putih, menunggangi kuda putih, Joan memimpin pasukannya dan beberapa kali membawa kemenangan bagi pasukan Prancis yang telah terperosok ke dalam situasi berbahaya seperti mukjizat."
Seisi ruangan masih bergeming.
"Namun, Joan yang saat itu dijuluki sebagai gadis ajaib dan pejuang suci, jatuh ke tangan Inggris. Joan yang ditawan oleh tentara Inggris diseret ke pengadilan agama dan dijatuhi hukuman mati atas tuduhan bahwa ia seorang penyihir yang telah mencemari nama Tuhan. Di dalam kobaran api, Joan tidak henti-hentinya menyebut nama Tuhan."
Chéri menelan ludah membayangkan dirinya berada di dalam kobaran api.
Seisi ruangan menoleh ke arah anak itu.
"Apa dia cantik?" Anak laki-laki itu bertanya.
Seisi ruangan tergelak.
"Menurutmu… apa dia cantik?" Vladimir balas bertanya sembari menunjuk Chéri.
"ya," jawab anak laki-laki itu.
"Bagaimana denganmu?" Vladimir menunjuk anak perempuan di deretan bangku ketiga.
"Sulit dipercaya," komentar anak perempuan itu. "Setengahnya hanya legenda."
"Gadis tomboi, kurasa dia keren dan gagah!" Komentar anak laki-laki lain sembari melirik penuh arti ke arah Leah.
Gadis itu tetap memasang wajah datar.
"Bukankah dia kerasukan roh?" Seorang anak perempuan lainnya mulai buka suara.
__ADS_1
"Bagian yang tidak kusukai hanya waktu dia dibakar hidup-hidup. Itu terlalu ekstrim," komentar anak lainnya lagi.
"Leah!" Vladimir akhirnya menunjuk Leah. "Bagaimana menurutmu?"
"Menurutku tidak ada yang lebih membahagiakan dari mengikuti jalan yang kita yakini," komentar Leah. "Kurasa Joan mati dengan rasa puas karena telah memenuhi kehendak Tuhan. Dia masih sangat muda dan memiliki hati yang suci. Meski mukjizat yang terjadi menyebabkan kematiannya, dia sama sekali takkan menyesal."
"Begitu, ya?" komentar beberapa orang.
"Namanya juga Leah," seseorang memujinya. "Pendapatnya selalu dalam."
"Joan, apa kau bahagia tunduk kepada Tuhan?" Vladimir tiba-tiba berpaling pada Chéri. "Apa kau betul-betul percaya pada suara Tuhan yang telah menempatkanmu di posisi seperti ini?"
Entah kenapa pertanyaan pria itu terasa seperti sindiran.
"Menurutku, Joan adalah gadis penurut yang rela melakukan apa saja selama itu perkataan Tuhan," komentar Chéri tanpa berpikir. "Karena dia mencintai Tuhan, dia percaya dan bahagia. Itu saja."
Seisi ruangan kembali beku.
Vladimir tertunduk ke arah gadis itu dengan intensitas tatapan yang membakar.
Chéri balas menatapnya setengah cemberut.
Beberapa anak mulai berbisik-bisik.
Salah satu dari mereka bahkan menggumam sinis, "Tadi rasanya seperti ada percikan api yang misterius di antara mereka berdua."
Terdengar cekikikan.
"Aku punya firasat buruk," bisik yang lainnya.
"Sepertinya agak berbahaya," sindir yang lainnya lagi.
Suasana di deretan bangku belakang mulai terdengar riuh.
"Ssssttt!" Demian menoleh ke belakang dan memelototi para penggosip itu sehingga mereka terdiam.
"Jawaban yang sangat sederhana," dengus Vladimir. "Jangan lupa, karena hal itu Joan mengalami hidup yang tragis," sindirnya. "Dan skenario Rafaél Moscovich ini… menggambarkan tragedi itu dengan tepat," tandasnya seraya menyeringai. "Joan menuruti kata-kata Tuhan, tapi pada akhirnya… Tuhan sendiri bahkan meninggalkannya."
Chéri menggemeretakkan giginya tanpa kentara.
"Meski Tuhan telah memerintahkan Joan untuk berperang dan merenggut kehidupannya yang bahagia, Tuhan tidak menyelematkan gadis itu dari hukuman bakar. Dengan kata lain, ini kisah menyedihkan tentang boneka yang dikendalikan Tuhan." Vladimir menandaskan. "Drama tragedi seorang marionette!"
Chéri mengatupkan mulutnya seraya bergeming dengan wajah dingin.
Leah dan Demian melirik pada Chéri dengan pandangan prihatin.
Chéri masih bergeming tanpa ekspresi, sementara Vladimir memutar tubuhnya membelakangi gadis itu dan kembali ke posisinya semula.
__ADS_1
"Semuanya berdiri!" Vladimir menginstruksikan seraya menepuk-nepukkan kedua tangannya. "Kosongkan tempat latihan. Kita mulai dari adegan Joan diterima putra mahkota untuk pertama kalinya."
Seisi ruangan berubah gaduh dalam sekejap.