Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 6


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?" Rafaél berteriak seraya menghambur ke dalam kamar, tempat di mana Chéri beristirahat. Kemudian menerjang ke arah jendela.


"Jangan mendekat!" Chéri menjerit di luar jendela.


Chéri sebetulnya sedang berpikir untuk melarikan diri, tapi selain jendela kamar itu, tidak ada jalan lain untuk keluar dari kamar. Jadi dia melompat keluar jendela.


Tapi kamar itu berada di lantai tujuh.


Sekarang, Chéri berdiri kaku pada balkon selebar dua jengkal tanpa pengaman. Tergelincir sedikit saja bisa berakibat fatal.


"Kakiku membeku," kata Chéri parau. "Kalau kau mengejutkanku, aku bisa tergelincir."


Rafaél membeku menatap Chéri dengan ekspresi ngeri. Tak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Sebetulnya… aku ingin melarikan diri," Chéri mengaku. "Aku tidak tahu kalau aku berada di lantai atas."


Rafaél membungkuk ke luar jendela dengan hati-hati.


"Aku…" Chéri mulai menggigil. "Aku mau pulang…"


Rafaél mengulurkan kedua tangannya pelan-pelan. Chéri belum menyadarinya. Dan ketika ia menyadarinya, Rafaél sudah berhasil melingkarkan sebelah lengannya di pinggang gadis itu, sementara tangan yang lainnya menahan tangan Chéri.


Chéri menjerit ketakutan ketika tubuhnya mulai terangkat dan kakinya mengambang di udara.


Rafaél berhasil menariknya, membawanya kembali masuk ke dalam kamar dan memeluknya. "Gadis bodoh," desahnya lega, kemudian membenamkan wajah gadis itu ke dadanya. "Apa kau ingin menyusul ayahmu?"


Tangisan Chéri pun meledak.


Mikail masuk tak lama kemudian seraya terengah-engah. Rafaél berlari seperti orang kesetanan tadi. Ia tidak dapat menyusulnya. Begitu ia melihat Chéri baik-baik saja, ia mendesah lega. Kemudian menyandarkan bahunya pada bingkai pintu untuk menenangkan napasnya.


"Baiklah, aku mengerti." Rafaél bergumam lemah seraya mengelus-ngelus kepala gadis itu. "Mikail," panggilnya, tanpa menoleh. Masih mendekap Chéri yang masih menangis.


Mikail menghampirinya.


"Batalkan apartemen dan sekolahnya," perintah Rafaél. "Aku akan mengembalikannya."


Chéri berhenti menangis dan menarik wajahnya menjauh dari dada pria itu. Lalu mendongak menatap wajahnya.


Rafaél balas menatapnya. "Malam ini kau tidur saja di sini," katanya. Lalu melepaskan pelukannya dan menyerahkan gadis itu pada Mikail.


Mikail menangkap kedua bahunya. Lalu menatap Rafaél.


"Aku takkan mengganggumu. Jadi, jangan khawatir." Rafaél berbalik dan bergegas ke arah pintu.


"Tapi, Rafaél…" Chéri memanggilnya.


Rafaél menghentikan langkahnya dan menoleh. Kenapa? Dia berubah pikiran? pikirnya geli. "Kosongkan hatimu dan jangan memikirkan apa pun," katanya pada Chéri. Lalu kembali berjalan meninggalkan kamar.


Chéri menoleh pada Mikail.


"Kalau aku jadi kau, aku akan menyerahkan nasibku pada Tuhan." Mikail menepuk bahu gadis itu dan meninggalkannya juga.


Kosongkan hati?


Menyerahkan nasib pada Tuhan?


Chéri tergagap, mengamati punggung kedua pria itu dengan mata dan mulut membulat.


.


.

__ADS_1


.


Keesokan harinya…


Salju turun ketika Chéri keluar dari teater. Rafaél menemaninya sampai ke pekarangan, sementara Mikail sudah pergi sejak pagi untuk memesan tiket.


"Kenapa dia belum kembali?" Rafaél mengeluh seraya melayangkan pandang ke seberang pekarangan. "Apa mobilnya terhalang salju?"


Chéri tercenung di depan teras mengamati butiran salju yang melayang turun. Setelah kupikir-pikir, tempat ini tidak terlalu buruk, pikirnya mulai labil. Keraguan tiba-tiba menyergap dirinya. Apa aku benar-benar ingin pulang?


"Chéri!" Suara Rafaél mengejutkannya.


"Ya," sahutnya sedikit tergagap.


"Aku tidak bisa mengantarkan ke bandara," kata Rafaél seraya mendekat pada Chéri dan berdiri tiga langkah di depannya. "Aku masih punya banyak urusan, dan…"


Chéri memalingkan wajahnya dan tertunduk menghindari tatapan pria itu.


"Maafkan aku," ungkap pria itu, memperlembut suaranya. "Aku sudah banyak menyusahkanmu."


"Ah, tidak juga…" Chéri menggantung kalimatnya dan mengangkat wajah, menatap wajah Rafaél dan mengerjap, lalu kembali memalingkan wajahnya.


Apa yang terjadi? Pikirnya. Mungkin karena ini pertama kalinya seseorang mengatakan hal sekeras itu, aku jadi tak nyaman berada di tengah-tengah orang baru yang masih asing.


Tapi…


Mendapati sikap Rafaél yang seperti ini, Chéri seketika lupa bahwa pria itulah yang menjadi alasan Chéri untuk meninggalkan Moskow dan melupakan mimpinya.


Kenapa perasaanku berubah… penasaran?


"Kabar buruk!" Teriakan seseorang menarik perhatian mereka.


Chéri dan Rafaél menoleh bersamaan ke arah datangnya suara.


Tidak ada penerbangan?


Seharian?


Chéri membeku seraya mengatupkan mulutnya.


"Kalau aku jadi kau, aku akan menyerahkan nasibku pada Tuhan…" kata-kata Mikail Volkov seketika terngiang.


"Bagaimana dengan kereta?" Rafaél bertanya seraya berpikir keras.


Menyerahkan nasib pada Tuhan? batin Chéri, mengulangi perkataan Mikail dalam kepalanya. "A—aku…" ia menyela.


Mikail dan Rafaél menoleh pada Chéri.


Chéri berdeham. "Tidak apa-apa kalau aku tidak bisa pulang hari ini. Atau…"


Mikail bertukar pandang dengan Rafaél.


"Besok," Chéri menambahkan. "Atau seminggu lagi, atau sebulan lagi." Ia tertunduk tak berani menatap kedua pria di depannya. "Aku tidak keberatan kalau memang harus tinggal sampai… pementasan marionette."


Mikail dan Rafaél mengamatinya dengan alis tertaut.


Tapi gadis itu langsung berbalik dan kembali ke dalam gedung teater.


Mikail dan Rafaél saling melirik.


Gadis itu berhenti di ambang pintu dan menoleh pada mereka. "Tapi aku tetap akan masuk sekolah balet," katanya lagi. Setelah itu Chéri menghambur ke dalam gedung dan kembali ke lantai tujuh. Pintu tertutup di belakangnya.

__ADS_1


Mikail terkekeh tipis. "Dia benar-benar boneka marionette," katanya geli. "Kau bisa mengendalikannya sesuka hati."


Rafaél mendesah pendek. "Pesawat yang tidak bisa terbang itu… sebetulnya hanya karanganmu saja, kan?" desisnya sambil melirik Mikail.


Mikail menyeringai. "Tentu saja," katanya. "Apa sih, yang tidak aku lakukan untukmu?"


Rafaél terkekeh seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. "Kalau begitu aku tak jadi mengirimmu ke hutan Amazon," katanya.


Mikail mendelik seraya meninggalkannya.


Hah!


Akhirnya…


Chéri menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dalam posisi menelungkup dengan kedua tangan terentang di sisi tubuhnya seperti sayap pesawat terbang begitu sampai di kamar.


Aku tak percaya aku memutuskan untuk tetap tinggal, katanya dalam hati. Orang aneh itu membuatku penasaran!


Tanpa disadari, Chéri sebetulnya sudah terpesona sejak pertama kali bertemu Rafaél di balai kota. Tapi ekspektasinya terlalu sempurna hingga ia tak siap menerima sisi buruknya.


.


.


.


Keesokan harinya lagi…


Suasana ruang latihan terasa seperti konferensi pers. Gadis-gadis mulai ribut berkasak-kusuk.


Sementara itu, Chéri terus-menerus melakukan stretching di sisi ruangan, tak jauh dari gadis-gadis yang sedang bergosip itu.


"Eh, tahu tidak? Katanya anak cewek berusia delapan belas tahun dari St Petersburg itu disekolahkan oleh Rafaél di Balet Academy termahal di Moscow," cerita gadis pertama.


"Dengar-dengar, dia juga tinggal bersama Rafaél," timpal gadis yang lainnya.


"Apa?" Gadis yang lainnya lagi menanggapi dengan antusias. "Coba ceritakan!"


"Sulit dipercaya," gumam gadis yang pertama. "Katanya Rafaél pembenci perempuan?"


"Jangan-jangan dia Lolita Complex!"


Terdengar cekikikan.


Chéri menarik tubuhnya dari lantai, kemudian berjalan ke arah mereka.


Gadis-gadis itu serentak tercekat.


"Boleh pakai palang itu?" Chéri bertanya seraya menunjuk railing besi di belakang mereka yang sepintas terlihat seperti barre---tiang khusus latihan balet.


Gadis-gadis tadi langsung berpencar menjauhi railing tanpa berkata-kata lagi.


Chéri mengabaikan mereka dan kembali melakukan stretching.


Gadis-gadis itu memperhatikannya dengan terkesiap.


.


.


.

__ADS_1


Note: Lolita Complex artinya penggila anak di bawah umur.


__ADS_2