
"Akhirnya bisa dilanjutkan," seru Mikail gembira bercampur lega. "Sekarang dia mengurung dirinya karena kesal." Ia memberitahu Chéri. "Nanti dia hanya akan tampil di babak 18!"
Tidak ada jawaban.
Mikail membeku kehilangan kata-katanya.
Chéri sedang membungkuk di depan cermin, menopangkan kedua tangan pada tepi meja, menatap bayangan dirinya tanpa berkedip.
Aku adalah Si Cantik!
Aku adalah Si Cantik!
Chéri memusatkan konsentrasinya.
"Chéri, ganti baju!" Seorang staf dari bagian kostum menghambur ke dalam.
Mikail menahannya. "Tunggu," katanya. "Pelan-pelan… Jangan diganggu dulu! Apa pun yang terjadi, jangan buat dia terguncang."
Staf itu tergagap. Menatap Chéri dengan mata dan mulut membulat.
"Dia sedang berusaha mempertahankan jiwa Si Cantik." Mikail memberitahu.
Staf itu mengangguk-angguk mengerti.
.
.
.
Babak 16.
Di rumah Si Cantik…
"Hah! Si Cantik masih hidup?" Kakak-kakak perempuan Si Cantik berkasak-kusuk.
Si Cantik datang dengan gaun yang indah dan perhiasan yang dihadiahkan Si Buruk Rupa.
"Gaunnya indah sekali!" Kakak perempuan Spade---diperankan oleh Lila, terbelalak.
"Bikin kesal saja," dengus kakak perempuan Clover, diperankan oleh Evaline. "Bagaimana kalau kita ulur waktu supaya Si Cantik tinggal lebih lama?" Clover mulai bersiasat. "Dengan begitu, Si Buruk Rupa takkan memaafkannya karena Si Cantik mengingkari janjinya."
"Benar," kakak-kakak laki-laki Si Cantik bergabung dengan kakak-kakak perempuannya. "Masak kita memulangkan adik sendiri ke sarang monster?"
"Kenapa tidak kita habisi saja Si Buruk Rupa?" Kakak laki-laki yang lain memprovokasi. "Kita ambil hartanya!"
Kakak-kakak Si Cantik mulai membuat rencana.
.
.
.
Babak 17.
Ayah Si Cantik---diperankan oleh Ibrahim berbaring di tempat tidurnya.
Chéri berlutut di sisi tempat tidur seraya menangis, menyusupkan wajahnya di sisi kepala Ibrahim.
"Cantik…" Ibrahim memulai dialognya dengan suara berat orang tua sakit-sakitan. "Apakah keinginanmu untuk bertemu Si Buruk Rupa sebegitu besarnya?"
Chéri mengangkat wajahnya, menautkan jemarinya dan menopangkan dagu di buku jarinya. Wajahnya berurai air mata.
Ibrahim menelan ludah dan menatapnya dengan wajah berkerut-kerut. Terkejut mendapati totalitas akting Chéri.
"Sekarang aku baru mengerti…" Chéri berkata parau. "Aku mencintainya."
Ibrahim mengerjap.
"Tak peduli seberapa buruk penampilannya…" Chéri melanjutkan dialognya, terbata-bata oleh isak tangisnya. "Aku mencintainya."
Ibrahim tersenyum prihatin. Pria itu mengartikan lain kata-kata Chéri.
Tak peduli seberapa kasar dan arogan…
Aku rela menjadi boneka marionette Rafaél Moscovich!
__ADS_1
.
.
.
Babak 18.
Kakak-kakak Si Cantik menyerang puri Si Buruk Rupa.
Tapi karena satu sarung tangannya diberikan pada Si Cantik, kekuatan sihir Si Buruk Rupa melemah.
Si Cantik mengetahui keadaan Si Buruk Rupa melalui cermin ajaib---kaca bening biasa yang ditempatkan di tengah-tengah panggung yang membatasi blok Si Cantik dan pemain lain. Si Cantik berdiri di bagian depan. Para pemain lain berada di belakang cermin dengan sorotan spot light dari belakang, sehingga bayangan Si Cantik tidak tertangkap dalam pantulan kaca.
"Buruk Rupa!" Chéri berteriak seraya berlari di tempat.
Kaca ditarik ke sisi panggung bersamaan dengan para pemeran kakak-kakak Si Cantik.
Setelah kaca bergeser sepenuhnya, Chéri baru benar-benar berlari ke arah Rafaél yang terkapar di tengah panggung, kemudian tersungkur di sisi pria itu dan meraup kepalanya.
"Buruk Rupa! Bangunlah! Aku sudah kembali!" Chéri meratap.
Bunga-bunga mawar di latar belakang berubah cokelat dibantu pencahayaan.
"Bunga mawarnya layu," dialog Chéri pilu. "Mungkinkah…"
Penonton menahan napas.
"Padahal aku sudah menyadari kalau aku mencintaimu," isak Chéri.
Rafaél tiba-tiba mengalungkan kedua tangan ke leher Chéri. "Aku benci wanita yang berbohong," katanya di luar skenario.
Chéri menelan ludah. Keparat ini…
"Kau juga sebetulnya membenciku, kan?" Rafaél terkekeh. "Orang asing yang tiba-tiba muncul menunggangi tubuhnya."
Mikail mengawasi mereka melalui celah tirai di sudut belakang panggung. Dia sengaja mengajukan pertanyaan seperti itu untuk menekan Chéri, pikirnya.
Sesha dan beberapa pemain lain mengintip dan berdesakan di sudut lain.
"Apa kalian tidak merasa kalau Rafaél bersikap aneh dari tadi?" Sesha menggumam, tak habis pikir.
"Berhentilah berpura-pura menjadi orang asing," dengus Rafaél semakin melenceng dari skenario. "Katakan saja perasaanmu yang sebenarnya!"
"Aku…" Chéri tergagap. "Aku mencintaimu."
Rafaél meledak tertawa.
"Sulit dipercaya," erang Sesha. "Dari tadi dia terus-terusan melakukan kesalahan. Sepertinya yang dia pikirkan hanyalah menghancurkan drama ini."
Mikail menjauh dari sudut panggung, kemudian bergegas—kembali ke ruang kontrol.
"Tadi, kudengar Rafaél mencium Chéri dengan paksa," cerita si pemeran kucing pada pemain lain.
Para pemain itu terperangah bersamaan.
"Omong kosong," Sesha menghardiknya. "Rafaél tidak mungkin melakukannya!"
"Tapi dia sendiri yang…"
"Just enough!" Sesha memotong cepat-cepat. "Aku tak mau dengar."
"Dia benar!" Kyle tiba-tiba menyela mereka.
Semua pemain di sudut belakang panggung itu menoleh serempak.
"Aku juga mendengar sendiri Chéri mengatakannya pada Mikail," lanjut Kyle dengan wajah sedih.
Para pemain itu terdiam.
Suara tawa Rafaél menggelegar di tengah panggung.
Sesha mengerang kesal dan menggeleng-geleng.
Para pemain lain tercengang kebingungan.
"Aku sungguh-sungguh…" Chéri memekik tertahan. "Mencintaimu!"
__ADS_1
Rafaél masih terkekeh.
Para penonton tidak menyadari ada yang salah. Mereka semua menyimak adegan itu dengan ekspresi serius.
"Awalnya aku memang membencimu," lanjut Chéri. "Aku ketakutan," katanya jujur—di luar akting. "Aku dibawa ke sini karena janji ayahku kepadamu. Tapi sekarang aku mengerti, yang menakutkan dari dirimu hanyalah penampilan saja."
Kepribadian ini suka menggertak, kata Chéri dalam hati.
"Kepribadian ini sangat senang menyusahkan orang lain."
Perkataan Mikail melintas dalam benaknya.
"Dia suka sekali membuat orang lain bingung, terutama mereka yang tidak tahu apa-apa mengenai dirinya. Dia akan merasa sangat puas kalau orang lain kebingungan!"
"Kau sebenarnya baik," kata Chéri di luar konteks. "Kau orang yang tegar."
Kau sebenarnya sangat menderita, batin Chéri.
Pria di bawahnya terkesiap di balik topengnya.
"Saat situasi memburuk, dia akan menghilang dengan sendirinya."
Kata-kata Mikail kembali terngiang.
"Dia paling tak tahan kalau ditekan."
"Meski kau berwujud binatang, bagiku kau begitu indah dan berhati mulia." Chéri menambahkan—kembali mengikuti skenario, kemudian menarik kepala Rafaél dan menyusupkan wajahnya di bawah rahang pria itu. "Di mataku kau tetap Rafaél," bisiknya
Kau dan Rafaél adalah satu! Ia menambahkan dalam hati.
Rafaél mengetatkan rahangnya, kemudian mendorong bahu Chéri seraya menggeram.
Chéri terdorong ke samping dan tersungkur di sisi Rafaél. "Seandainya kau mati… aku juga akan mati," ratap Chéri di telinga pria itu.
"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!" Rafaél mengerang seraya merenggut topengnya dan melemparnya.
Chéri menelan ludah dan memekik, "Buruk Rupa!"
Pria itu memegangi kepalanya sembari mengernyit.
"Kumohon jangan mati!" Chéri merenggut lengan Rafaél.
Pria itu menyentakkan tangannya dan menghela tubuhnya berdiri.
Chéri terperangah dan menatapnya.
Pria itu mengedikkan kepalanya.
Chéri beringsut dan menarik duduk tubuhnya.
Rafaél tertunduk dan menatapnya.
Chéri tergagap mengawasi ngeri gerak-gerik pria itu. "Siapa kau?" Ia bertanya sesuai skenario apabila Si Buruk Rupa telah melepas topengnya.
Rafaél tergagap memelototinya.
"Kau bukan Si Buruk Rupa!" Chéri berteriak seraya beringsut menjauhinya. "Di mana Si Buruk Rupa?"
Rafaél mengerjap dan mengerutkan dahinya. Lalu tiba-tiba pria itu membungkuk seraya tersenyum tipis dan mengulurkan kedua tangannya. "Cantik," katanya. "Si Buruk Rupa yang kau kenal selama ini sudah tidak ada lagi. Cintamu dan air mata ketulusan telah melepaskanku dari kutukan."
Chéri menelan ludah dan tergagap.
Raut wajah itu…
Sepasang mata biru yang mengandung magnet…
"Aku telah kembali ke wujud asliku," jelas Rafaél seraya menarik Chéri hingga berdiri.
Chéri menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Mungkinkah…
Rafaél menarik dagu Chéri dengan buku jarinya, kemudian membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis itu. "Cantik… aku ingin mengatakan kalimat membosankan yang selama seribu malam kuucapkan kepadamu… sekali lagi. Maukah kau menjadi istriku?"
Rafaél telah kembali!
Chéri melompat dan melingkarkan kedua tangannya di belakang leher pria itu, "Buruk Rupa," tangisnya gembira.
__ADS_1
Rafaél melingkarkan kedua lengannya di pinggang Chéri dan menyusupkan wajahnya di bahu gadis itu.
Tepuk tangan meriah para penonton menggelegar dari seluruh penjuru ke seluruh tempat.