Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 77


__ADS_3

Memasuki pintu auditorium, Chéri disergap perasaan gugup.


Penggabungan anggota teater Tsar Dramy dan MoscovArt Theatre terlihat spektakuler. Ruang besar itu terlihat seperti aula singgasana dalam kerajaan di abad pertengahan.


Masing-masing anggota grup teater belum sepenuhnya berbaur, masih terpisah-pisah dan hanya berkerumun dengan sesama anggota grup teaternya masing-masing.


Hanya para staf penata panggung yang sudah mulai berinteraksi.


Chéri berjalan kikuk melewati barisan bangku-bangku.


Beberapa anggota MoscovArt Theatre duduk di deretan bangku paling dekat dengan pintu masuk bersama Sesha Montrosecova, berkasak-kusuk sembari menunggu instruksi.


"Mereka benar-benar menyewa tempat ini hanya untuk latihan," Ibrahim menggumam sembari mengedar pandang. "Gila!"


"Memang beda ya, kalau sponsornya besar!" Seorang gadis berkomentar, tak bisa menyembunyikan perasaan takjubnya.


"Sesha, kalau semuanya digabung, bagaimana pembagian perannya?" Gadis pemeran kucing dalam drama Si Cantik dan Si Buruk Rupa bertanya.


"Itu ditentukan oleh Rafaél," jawab Sesha.


"Tapi, bagaimana kalau Tsar Dramy mendapatkan lebih banyak peran bagus dibanding kita?"


"Sudahlah," sergah Sesha, mencoba untuk menenangkan gadis itu. "Tidak apa-apa. Kita serahkan saja semuanya pada Rafaél."


Chéri mendesah pendek dan membeliak. Dia bukan Rafaél, batinnya getir.


Di barisan bangku paling depan, beberapa anggota teater Tsar Dramy juga sedang berkasak-kusuk sembari terus melirik ke arah Valentin.


"Rafaél Moscovich menimbulkan kesan yang berbeda pada panggung," komentar salah satu dari mereka.


Chéri mengikuti arah pandang mereka dan menemukan Valentin di dekat tangga panggung.


Chéri menghentikan langkahnya di depan panggung, menimang-nimang apakah ia akan menghampirinya.


Tapi pria itu keburu menoleh dan melihatnya.


Chéri tergagap dan mengerjap.


Pria itu menyeringai sembari mengedipkan sebelah matanya pada Chéri.


Chéri memalingkan wajahnya cepat-cepat dan buru-buru menjauh.


Pasti dia takkan setengah-setengah dalam menghancurkan Joan, pikir Chéri ketika pria itu melangkah ke panggung dan menepuk-nepukkan kedua tangannya meminta perhatian semua orang.


"Kalian semua, dengarkan baik-baik!" Valentin menginstruksikan.


Semua orang dari kedua grup teater mendekat ke arah panggung.


"Aku telah mengubah urutan pemain sesuai kemampuan masing-masing," Valentin mengumumkan. "Peran utama tetap dipegang Chéri Dutchskova."


Semua mata sekarang tertuju pada Chéri.


"Sedangkan untuk Leah Denova, aku telah membuat peran baru." Valentin melanjutkan. "Lalu, Demian Ivanov, dari raja Charles perannya diubah menjadi pangeran Alanson."

__ADS_1


"What the—" Demian berteriak menginterupsi. Lalu menerjang ke depan. "Kenapa peranku diganti? Sebaiknya kau punya alasan yang bagus," dengusnya jengkel. "Atau kau melakukannya hanya untuk membalas dendam?"


Valentin menyeringai. "Aku tidak sepicik otak kecilmu, Paman Ivanov!"


Chéri memekik tertahan seraya membekap mulutnya.


Demian mengetatkan rahangnya dan melangkah ke tangga. "Aku sudah menguasai peran itu. Aku sudah menghayatinya. Apa kau keberatan kalau aku jadi pangeran Charles?"


"Sangat… keberatan." Valentin menjawab dingin.


Demian langsung terdiam.


"Chéri, kemari!" Valentin mengundang Chéri untuk naik ke panggung.


Demian mengawasi wajah Valentin dengan alis bertautan.


Setelah Chéri berada di panggung, Valentin mengisyaratkan Demian untuk mendekat. "Peluk dia," perintahnya.


Demian memeluk gadis itu dan bertukar pandang dengan Chéri. Sorot mata keduanya mengisyaratkan tanda tanya yang sama.


"Sekarang coba tampar dia!" Valentin memerintahkan.


Demian membeku ragu, "Maaf, ya…" katanya pada Chéri. Lalu menaikkan tangannya dan meringis. Dia tidak bisa melakukannya.


"Tidak bisa, kan?" Valentin menyela.


Demian menurunkan tangannya, mengakui kekalahannya.


Semua orang menggumam membenarkan keputusan Rafaél.


Chéri dan Demian saling melirik dengan ekspresi tak berdaya.


"Dia itu sok tahu," gerutu Vladimir ketika Chéri dan Demian melangkah turun dari panggung. "Seenaknya saja memindahkan tempat latihan dari Tsar Dramy!"


Chéri mendengus dan mendelik pada pria itu. "Bukankah ini adalah idemu? Kau sendiri yang menjadikan dia sutradara!"


"Itu hanya kedok saja," tukas Vladimir dengan ekspresi meremehkan. "Aku tahu dia tidak mungkin bisa menyutradarai sebuah drama," cemoohnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Chéri dan berbisik, "Dia bukan Rafaél."


Chéri melirik sekilas pada Demian.


Pria itu mengambil sikap tak acuh. Dia mengedikkan bahunya sekilas dan berlalu menjauh.


"Kalau latihan sudah dimulai, semua orang akan tahu kalau dia tidak bisa apa-apa," Vladimir melanjutkan. "Pada saat itu, panggung akan segera kuambil alih."


"Baik, kita mulai!" Rafaél menginstruksikan melalui pengeras suara. Pria itu sudah duduk di bawah panggung di depan bangku penonton menghadap ke arah panggung. Sebuah meja ditaruh di depannya dipenuhi tumpukan naskah. "Semua pemain naik ke panggung! Kita mulai dari pembukaan."


Semua pemain dari kedua grup menaiki panggung dan berkerumun menunggu instruksi selanjutnya. Dan seketika panggung terlihat spektakuler.


Beberapa orang yang tidak kebagian peran yang duduk di bangku penonton tercengang takjub.


Valentin memasang headset di telinganya. "Semua pemain berbaris menghadap ke depan!" perintahnya. "Joan berdiri di depan menghadap ke belakang!"


Vladimir menyeringai dan bersedekap di sisinya dengan ekspresi meremehkan. Tunjukkan kebolehanmu, ejeknya dalam hati.

__ADS_1


"And… action!" Valentin menginstruksikan.


"Keputusan pengadilan!" Narator mengambil alih audio. "Perempuan yang memberikan hatinya kepada iblis… akan diberi hukuman mati!"


Sound effect bergaung.


Chéri menoleh ke belakang, bertepatan dengan suara si narator…


"Joan d'Arc!"


Sound effect bergemuruh.


"Besarkan cahaya lampu merah!" Vladimir menginstruksikan. "Aku ingin ada kesan kobaran api. Joan! Tunjukkan ekspresi wajah yang sangat menderita!"


"Tunggu dulu!" Valentin menginterupsi.


Suasana berubah hening.


"Pembukaan ini… sangat tidak menarik!" Valentin memundurkan kursinya dan berjalan ke panggung. "Ada yang kurang," katanya. Lalu menyeruak melewati kerumunan para pemain dan bergegas ke belakang panggung. Ia memanggil beberapa kru dan menanyakan apakah bagian properti memiliki cukup persediaan kain putih.


Para staf bagian properti pun bergegas ke gudang.


"Dan aku juga membutuhkan satu kain hitam!" Valentin menambahkan.


"Hanya ada kain penutup kursi di sini," kata salah satu staf pada Valentin. "Perpindahan tempat latihan ini terlalu mendadak. Kami hanya membawa beberapa properti yang sudah pasti terpakai saja. Tidak terpikirkan untuk—"


"Bawa penutup kursi itu!" Valentin memerintahkan.


Staf itu kembali ke gudang.


Semua orang menunggu dengan kebingungan.


Vladimir mendengus jengkel.


Beberapa saat kemudian, para staf sudah kembali membawa setumpuk kain penutup kursi.


Salah satu dari mereka menyerahkan kain hitam ke tangan Valentin. "Kau beruntung," katanya.


"Semuanya!" Valentin kembali ke tengah panggung. "Ambil penutup kursi!"


Para pemain mematuhinya.


"Chéri kemari!" Perintah Valentin. "Selubungi tubuh kalian dengan penutup kursi itu!" teriaknya pada pemain lain. "Semuanya ambil posisi tidur!"


"Tunggu dulu!" Chéri merenggut bahu Valentin.


Pria itu menyelimuti Chéri dengan kain hitam. Raut wajahnya terlihat sangat serius.


Membuat Chéri kebingungan. "Valentin," bisiknya.


"Ya, Manis!"


Chéri sontak mendelik mendengar jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2