
"Saat tirai dibuka, pelaksanaan selanjutnya menjadi tugas pengawas panggung." Rafaél mengumumkan sebelum turun dari panggung. "Tolong, ya!" Katanya pada pengawas panggung seraya menepuk bahunya.
"Serahkan saja padaku!" Pengawas panggung mengacungkan ibu jarinya pada Rafaél seraya tersenyum lebar. "Ok, para pemain dan staf… semuanya bersiap di tempatnya masing-masing!"
Chéri masih membeku di tempatnya seraya mendekap papan klip, sementara staf yang lain sudah berpencar meninggalkan panggung bersama para pemain.
"Oi! Pengawas panggung! Aku minta petunjuk pencahayaan!" Seseorang berteriak dari ujung koridor di belakang panggung.
"Chéri!" Pengawas panggung menyodorkan map cokelat ke arahnya. "Tolong berikan ini pada bagian penata lampu!"
"Baik!" Chéri menjawab sedikit terlalu antusias, kemudian bergegas meninggalkan panggung.
Aktivitas di seluruh penjuru tempat membuat Chéri makin bersemangat. Hari ini bukan gilirannya, tapi ia merasa bahwa situasi itu tidak ada bedanya.
Tak jauh di belakang panggung, ia melihat Cyzarine sedang bersiap bersama para pemain lain. Tapi gadis itu tiba-tiba terhuyung dan jatuh tersungkur di kaki panggung.
"TIDAK!" Chéri menjerit seraya menghambur ke arah Cyzarine. "Cyzarine! Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja? CYZARINE!!!"
"Tenang, Chéri!" Pemeran kakak perempuan Si Cantik terkekeh. "Itu hanya ritualnya supaya tidak gugup," ia menjelaskan.
Chéri terperangah dan menatap Cyzarine dengan mata membulat.
Gadis itu beranjak perlahan dari lantai seraya mendesah. "Kau enak, ya… baru akan tampil besok," desisnya seraya menggerak-gerakkan kepala ke kiri dan ke kanan untuk meregangkan otot lehernya. "Tapi aktingku pasti akan jauh lebih bagus," tandasnya sinis. Kemudian bangkit berdiri dan berbalik meninggalkan Chéri.
"Ayo! Mulai pemanasan!" Terdengar teriakan dari sisi lain panggung.
Chéri beranjak dari lantai dan bergegas ke ruang ke bagian penata lampu.
"Setting panggung sudah siap?" Gerombolan Kyle juga terlihat bersemangat.
Whoa—Semuanya sibuk, pikir Chéri bersemangat. Kemudian menyeruak ke arah pintu dan mendorongnya, tapi pintu itu terbanting terlalu keras hingga ia terlempar ke dalam sampai tersungkur di lantai.
"Chéri!" Seseorang berteriak panik di atas kepala.
Chéri mengangkat wajahnya seraya mengerjap-ngerjap. "Rafaél," katanya terbata-bata. Kemudian menyodorkan map cokelat di tangannya seraya mengurut kepala dengan tangan lainnya. "I---ini untuk penata lampu dari pengawas panggung."
Rafaél terkekeh seraya merenggut map itu. Tapi kemudian membungkuk untuk membantu Chéri berdiri.
Chéri mengamati wajah pria itu dengan alis bertautan.
Wajah Rafaél terlihat pucat dari jarak dekat.
"Kau kenapa?" Chéri bertanya khawatir.
"Hah?" Rafaél melengak.
"Kau kelihatan lelah," kata Chéri.
"Ah, tidak! Aku baik-baik saja," serga Rafaél cepat-cepat. "Hanya saja… sutradara tidak punya pekerjaan kalau pertunjukan sudah dimulai."
Chéri masih mengamatinya. Tak yakin dengan jawaban Rafaél.
Rafaél mendesah singkat. "Setelah mengerahkan seluruh tenagaku, sekarang aku merasa seolah-olah sedang berada di posisi terdakwa yang menunggu keputusan hakim," tuturnya sedikit muram.
"Rafaél tidak pernah tahan berada di belakang panggung karena harus memikirkan dramanya akan sukses atau tidak!" Penata lampu menyela mereka.
"Aaaargh, cerewet!" Rafaél membungkuk seraya memegangi perutnya. "Perutku sakit sekali," erangnya.
__ADS_1
Chéri terkekeh seraya membekap mulutnya.
Rafaél memelototinya.
"Maaf!" Chéri berhenti tertawa. "Tadi aku sempat khawatir kau kenapa-napa," katanya mulai serius. "Kemarin malam kau tidak ada di kamar, kau pasti bekerja semalam suntuk. Aku sampai tidak bisa tidur karena baru pertama tidur sendirian di rumah yang kosong."
Penata lampu terbelalak mendengar penuturannya.
"Chéri—" Rafaél memekik seraya menutup pintu.
Chéri terperangah terkejut.
"Jangan bicara begitu di depan orang yang tidak mengerti posisi kita," Rafaél memberitahu. "Mereka bisa salah mengerti!"
"Maaf!" Chéri membekap mulutnya lagi.
"Ah, sudahlah!" Rafaél mengerang lagi seraya membungkuk. "Perutku sakit lagi."
Chéri menahan senyumnya. Rafaél yang seperti ini benar-benar menggemaskan, batinnya geli---merasa tergelitik.
"PERTUNJUKAN AKAN DIMULAI 30 MENIT LAGI, PARA PENONTON DIPERSEMBAHKAN MASUK!" Pengumuman membahana dari pengeras suara.
Chéri menghambur ke koridor sambil berteriak-teriak penuh semangat, "30 menit lagi! Ayo, semuanya siap-siap! Makeup! Kostum! Kamar rias semuanya beres?"
"Siapa itu?" Seseorang sampai bertanya di ruang kostum saking lantangnya suara Chéri.
"Chéri Dutchskova," jawab Sesha sembari tertawa.
"Kostumku robek!" Seorang anak laki-laki berteriak pada Chéri. "Aku perlu benang dan jarum!"
Suasana seperti ini ternyata asyik, ya? pikir Chéri senang. Rasanya benar-benar hidup.
Setelah memastikan ruang kostum sudah aman, Chéri bergegas ke bagian konsumsi untuk mengontrol persediaan air minum para pemain.
Di tangga darurat, gadis itu berpapasan dengan Demian.
"Dari mana saja kau?" Chéri menegurnya. "Kau harus stand by di…" Chéri menggantung kalimatnya.
Pria itu melewatinya tanpa menoleh sedikit pun.
"Demian—" Chéri memekik tertahan.
Pria itu sedang bergegas ke pintu darurat.
Apa yang dia lakukan? pikir Chéri.
Demian membuka pintu itu dan menoleh sepintas. "Katakan pada Rafaél, aku ada sedikit urusan. Jangan menggangguku!"
Chéri tergagap. "Uh-oh! Apa yang kau lakukan? Tidak! Demian, tunggu!" Chéri menerjang ke arah pria itu dan menahannya.
Demian akhirnya berbalik dan memandang Chéri. Kemudian merunduk seraya berbisik, "Mainkanlah peran Si Cantik sesuka hatimu!"
Chéri menelan ludah dan tercengang.
Apa maksudnya?
"Bye!" Demian melambaikan tangannya sekilas, kemudian memutar tubuhnya, membuka pintu dan menghilang.
__ADS_1
"Demian!" Chéri berusaha mengejarnya. Tapi pintu itu dikunci dari arah luar.
Tidak, batinnya gusar. Dia meninggalkan pementasan!
Aku harus memberitahu Rafaél dan Mikail.
Chéri berbalik ke koridor kemudian berlari sekencang-kencangnya. "Rafaél! Mikail! Siapa saja—" Teriakannya sekuat tenaga. Tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokan.
Bayang-bayang peristiwa di Coffee Shop seketika berkelebat dalam benaknya.
Vladimir!
Demian kemarin bersama Vladimir!
Mungkinkah…
Semuanya sudah diatur oleh Vladimir?
"MIKAIL!" Seseorang berteriak gusar seraya menerobos ruang administrasi.
"Maaf, tiket kursi hari ini sudah habis," Mikail menghentikan pembicaraannya di telepon, kemudian menoleh ke arah pintu dengan mata terpicing.
"Gawat!" Anak laki-laki yang menerobos itu tergagap-gagap. "Ada yang aneh di kursi penonton. Cepat lihat!"
Mikail mencampakkan pesawat telepon dan menghambur keluar ruangan, kemudian berlari ke auditorium dan tercengang.
Kursi penonton hampir seluruhnya kosong!
Hanya dua-tiga orang dengan wajah bingung di bangku penonton.
Padahal tirai dibuka sepuluh menit lagi!
Apa yang terjadi?
Tiket duduk hari ini sudah terjual habis!
Kenapa yang datang hanya segini?
Pada saat yang sama, Tania Deanlova juga menghambur ke arahnya nyaris menangis. "Mikail! Penonton yang tadi mengantri tiket berdiri juga tidak ada!" Ia melaporkan.
"Ada orang yang memborong tiket supaya mereka tidak masuk!" Beberapa orang mulai berasumsi sembari berteriak berang.
Detik berikutnya, Chéri muncul terengah-engah menyampaikan kepergian Demian.
Situasi mendadak gaduh. Semua orang beraksi panik mendengar semua itu.
Mikail membeku dengan wajah frustrasi. Chéri menangis di dadanya.
Saul dan Ibrahim menghambur ke arah mereka.
Sesha menyusul di belakangnya.
"Apa yang terjadi?" Mereka bertanya nyaris bersamaan.
Rafaél mencelat dari ruang mixer, kemudian bergegas ke arah mereka dengan wajah gusar.
Mikail mengusap wajahnya dengan tangan pucat. Rafaél bisa gila mengetahui hal ini, pikirnya.
__ADS_1