Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 30


__ADS_3

"Rafaél…" Chéri menelan ludah. "Semua orang di luar menunggumu," katanya agak tercekat dan sedikit gemetar.


Tatapan Rafaél menusuk tajam ke dalam matanya.


Chéri mengerjap dan tergagap. "Panggungnya…"


Rafaél kembali menyeringai. Seringai aneh yang tak pernah dilihat Chéri.


Chéri berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia hanya salah menafsirkan. Rafaél sedang terguncang, katanya pada diri sendiri. Seseorang bisa bertindak di luar dugaan saat mereka terguncang. Bagaimanapun juga, Rafaél hanya manusia biasa.


Tapi tindakan pria itu selanjutnya membuat Chéri menggigil ngeri.


Pria itu tiba-tiba menciumnya. Keras, panas dan lapar.


Tidak!


Lepaskan!


Chéri mendorong dada pria itu sekuat tenaga dan berusaha melepaskan diri.


Tapi pria itu memangut mulutnya sedikit terlalu kuat.


Chéri tak bisa menyangkal perasaan kagumnya pada pria itu. Setiap kali mereka beradu pandang, Chéri kerap berharap mereka bisa lebih dekat lagi. Mungkin sedikit ciuman dengan ungkapan perasaan---itu adalah angan-angan Chéri.


Tapi ciuman ini membuatnya ketakutan setengah mati.


Chéri memukulkan tinjunya di dada pria itu.


Pria itu mendesaknya ke dinding.


Semua orang di luar kembali menggedor pintu dan memanggil mereka.


"Chéri! Rafaél! Buka pintunya!"


Rafaél melepaskan pagutannya dan mendengus.


Chéri memanfaatkan kesempatan itu untuk membujuknya. "Pokoknya kita harus keluar sekarang! Kalau tidak dramamu akan hancur total!"


Rafaél terkekeh. Terdengar dingin dan sedikit sinis. "Hah!" dengusnya. "Apa itu drama? Kalau sudah hancur biarkan saja hancur," katanya seraya membenamkan mulutnya lagi di mulut Chéri. "Mainan anak kecil seperti itu sangat membosankan."


Membosankan?


Rafaél mengatakan dramanya membosankan?


Kedengarannya seperti bukan Rafaél!


Seketika bulu kuduk Chéri meremang. Bukan Rafaél, batinnya ngeri. Dia bukan Rafaél!


Rafaél tidak mungkin mengatakan dramanya membosankan.


Chéri menyentakkan tubuhnya dan berhasil melepaskan diri.


Tapi dengan cepat Rafaél menyambar pinggangnya lagi. "Lebih baik kita lakukan hal yang lebih menyenangkan. Sesuatu yang biasa dilakukan orang dewasa."


"Tidak lepaskan!" Chéri memekik seraya mendorong dada Rafaél. Berusaha meneliti pria itu dengan seksama.


Wajahnya, rambutnya, tubuhnya…


Tidak ada yang salah dengan penampilan pria itu!


Sepasang mata birunya milik Rafaél. Garis wajah yang menakjubkan, hidung mancung mendongak, bentuk bibir yang sempurna—semuanya, secara utuh adalah Rafaél.


Apa yang salah?


Sepasang mata itu…

__ADS_1


Tatapan yang mengandung magnet… sekarang mengandung api dan berkilat-kilat.


Tidak! Chéri membatin ngeri. Orang ini bukan Rafaél!


Mungkinkah kembarannya?


"Chéri! Rafaél! Buka pintunya!" Pintu kembali digedor. Lebih keras dari sebelumnya. "Ini aku Mikail!"


Chéri menyentakkan tubuhnya sekali lagi. Di luar dugaan, Rafaél melepaskannya.


Pria itu bersedekap seraya menyandarkan punggungnya pada dinding, kemudian mengawasi Chéri seraya tersenyum sinis ketika gadis itu mencelat ke arah pintu dan membuka kuncinya.


Mikail menerobos ke dalam ruangan begitu pintu terbuka.


Chéri menerjang ke arahnya dan memeluknya dengan gemetar. "Dia aneh," katanya hampir menangis. "Dia bilang drama itu mainan anak kecil yang membosankan. Katanya biarkan saja hancur. Apa mungkin Rafaél berkata seperti itu?"


Mikail menautkan kedua alisnya dan menatap Rafaél.


Pria itu menyeringai pada Mikail.


Chéri meliriknya lagi. Dia benar-benar berbeda, katanya dalam hati. "Dia bukan Rafaél," bisiknya pada Mikail.


Mikail melingkarkan sebelah lengannya di seputar bahu Chéri. Tapi pandangannya tak lepas dari Rafaél.


"Hai, Cantik!" Rafaél mendesis pada Mikail.


Mikail mengetatkan rahangnya dan mengedar pandang. "Di mana Saul?" Ia bertanya pada semua orang.


Semua orang di sekelilingnya mulai berisik.


"Kondisi Rafaél sedang tidak baik," Mikail memberitahu. "Suruh Saul menggantikannya!"


Semua orang terdengar mengerang. "Kenapa baru sekarang, sih?" protes beberapa orang nyaris bersamaan.


Drama Rafaél? Chéri terkesiap.


Ternyata benar, dia bukan Rafaél!


Rafaél merenggut jubah dan topengnya dari meja rias, kemudian melangkah keluar ruangan.


"Tidak, dia bukan Rafaél!" Chéri memekik spontan. "Jangan biarkan dia tampil!"


Semua orang menatapnya dengan ekspresi bingung.


Rafaél melewatinya seraya mengedipkan sebelah matanya pada Chéri.


Beberapa orang staf menyongsong Rafaél dan membimbingnya ke arah panggung.


Chéri memekik gusar. "Mikail! Hentikan dia!"


Kenapa tidak ada yang menyadarinya?


"Dia bukan Rafaél," ulang Chéri seraya menerjang ke arah Rafaél.


Mikail menyergapnya dan membopongnya, kemudian melarikannya ke tempat lain.


"Aku tidak bohong, sungguh! Dia bukan Rafaél!" Chéri meronta-ronta. "Tadi dia menciumku dengan paksa! Rafaél tidak mungkin melakukannya!"


Bersamaan dengan itu, Kyle berpapasan dengan mereka di depan pintu ruang konsumsi.


Kyle baru saja keluar dengan senampan air mineral botol dari ruang konsumsi ketika Mikail melesat di koridor, membawa lari tubuh Chéri yang berteriak-teriak. Mendengar teriakkan gadis itu, dua botol air mineral tergelincir dari nampannya.


Mencium paksa? pikirnya geram. Keterlaluan sekali si Rafaél Moscovich itu!


Kyle masih mematung di depan pintu ruang konsumsi seraya menatap nanar punggung Mikail, ketika pria itu menghilang ke dalam ruang administrasi.

__ADS_1


Pintu terbanting menutup di belakang Mikail.


Mikail menurunkan Chéri di sofa dekat pintu masuk.


Gadis itu masih berteriak-teriak histeris, sampai Mikail membekap mulutnya.


"Diam!" katanya. "Aku akan menjelaskannya, singkat saja. Jadi tolong dengarkan ini baik-baik!"


Chéri mengangguk cepat-cepat.


Mikail menurunkan tangannya dari mulut gadis itu. "Seperti katamu, dia memang bukan Rafaél!"


"Apa dia kembarannya?" Chéri penasaran.


"Bukan," jawab Mikail murung. "Itu kepribadiannya yang lain."


Chéri mengerutkan keningnya. "Kepribadiannya yang lain?"


"Ya, dia berkepribadian ganda."


Kepribadian ganda?


Rafaél berkepribadian ganda?


Chéri tergagap dalam waktu yang lama. Antara terkejut dan tak yakin dengan apa yang didengarnya.


"Setahun yang lalu juga di tengah-tengah pertunjukan drama Si Cantik dan Si Buruk Rupa, hal yang terjadi," cerita Mikail. "Hanya aku yang menyadarinya seperti kau tadi."


Chéri masih bergeming. Kebenaran itu masih terlalu sulit diterima akal sehatnya.


"Kepribadian ini bertolak belakang dengan Rafaél. Dia pemalas dan suka wanita,"


Bayang-bayang peristiwa ketika Rafaél memojokkannya di ruang kostum melintas di benak Chéri.


"Berbanding jauh dengan Rafaél yang cerdas, kepribadian ini sangat senang menyusahkan orang lain. Dia suka sekali membuat orang lain bingung, terutama mereka yang tidak tahu apa-apa mengenai dirinya. Dia akan merasa sangat puas kalau orang lain kebingungan!"


Chéri mengerjap dan menelan ludah. "Lalu bagaimana dengan Rafaél? Apa yang terjadi padanya saat kepribadian ini muncul?"


"Rafaél sama sekali tidak ingat apa saja yang dilakukan kepribadian ini. Tapi sebaliknya, kepribadian ini tahu semua hal yang dilakukan Rafaél."


Chéri tercenung dengan raut wajah prihatin. "Apa Rafaél juga tidak tahu mengenai keberadaannya?"


Mikail mendesah pendek. "Ya, dia tahu."


Chéri menatap ke dalam mata Mikail.


"Keluarganya juga tahu!" Mikail menambahkan seraya balas menatap mata Chéri.


Chéri mengerjap dan membuang pandangan ke sembarang arah.


"Pikirmu kenapa keluarganya membiarkan Rafaél yang lulusan Harvard terjun ke dunia teater?" Mikail masih menatap kedua mata Chéri. "Bukankah lebih baik baginya untuk melanjutkan sekolah kekaisaran dan meniti karirnya sebagai pengusaha?"


Chéri tak mampu berkata-kata.


"Drama ini harus dihentikan," gumam Mikail.


Dihentikan?


Tanpa sepengetahuan Rafaél?


"Tidak!" Chéri tak bisa terima.


Rafaél sudah melewati banyak hal demi menyukseskan drama ini. Apakah dia harus dikalahkan dengan cara seperti ini?


Dikalahkan oleh dirinya sendiri!

__ADS_1


__ADS_2