
"Chéri," Mikail berbisik lembut seraya menyantuh kedua bahu Chéri. "Valentin hanya menakutimu," bisiknya lirih membujuk. "Kalau aku tidak berhenti mengikutimu, kalau aku tidak menceritakan masa laluku padamu, kau akan selamanya salah paham. Tapi aku tak berharap kau bernasib sama seperti kakakku. Aku berusaha menangkap Valentin karena ingin melindungimu."
"Aku tahu," bisik Chéri. "Tapi kumohon…"
Mikail menaikkan alisnya.
"Jangan menangkapnya!" Akhirnya Chéri mengutarakan permohonan itu.
Mikail mendesah pendek dan menurunkan tangannya dari bahu gadis itu.
Chéri menelan ludah dan tergagap. "Dengar," katanya cepat-cepat, berusaha menahan Mikail ketika pria itu berbalik. "Aku sangat mengagumi dirimu, Mikail. Sejak dulu dan sampai sekarang… tidak ada yang berubah."
Mikail tidak peduli. Dia bergegas ke arah pintu dan tidak menoleh lagi.
Chéri mengejarnya, "Rafaél sedang merencanakan kesuksesan dramanya," tutur Chéri nyaris berteriak. "Dia yakin akan menang. Sama yakinnya seperti Vladimir dan juga Valentin. Percayalah!"
Mikail tidak menoleh. Pintu terbanting menutup di belakang pria itu.
"Kumohon beri dia kesempatan, Mikail!" Chéri berteriak dari balik pintu.
Mikail berhenti di depan pintu. Mengatupkan kedua matanya seraya mengernyit. Lalu mendesah dan beranjak pergi.
.
.
.
"Sialan!" Valentin mengumpat-ngumpat di tempat tidurnya, merangkak sembari memegangi kepalanya. "Setiap pagi selalu saja begini. Apa sih penyebab sakit kepala ini?"
Dering telepon membuatnya menggeram dan menghela paksa duduk tubuhnya. Dia mengangkat telepon itu sembari mengerang.
"Rafaél," suara diseberang membuat Valentin merasa jengkel.
Dengan kasar dan masih sembari mengerang, dia meletakkan pesawat telepon itu tanpa menutupnya, membiarkannya tergeletak di begitu saja. Lalu menjatuhkan dirinya kembali ke tempat tidur.
"Halo!" Suara di line telepon masih terdengar. "Ini Rafaél, kan?"
"Salah sambung, cerewet!" geram Valentin di tempat tidurnya.
"Ah, aku tahu itu suaramu!" Pria di line telepon itu ternyata mendengarnya. "Ini aku, Ibrahim dari MoscovArt Theatre."
Valentin mengerutkan dahinya.
"Syukurlah," kata Ibrahim. "Aku sudah mencarimu dari tadi. Habisnya kau tidak memberitahu tempat tinggalmu sekarang. Aku sedang menangani fax yang kau kirim dari hotel tadi malam."
Fax? Valentin menaikkan sebelah alisnya, lalu bangkit dan meraih pesawat telepon itu dan menempelkannya kembali di telinga. "Apa kau bilang? Fax?"
"Ya," jawab Ibrahim tanpa curiga sedikit pun. "Soal rencana penyutradaraan Joan. Sayangnya mesin fax MoscovArt Theatre agak rusak, jadi… tulisannya sulit dibaca. Bisakah kau mengirimnya sekali lagi?"
Valentin mengetatkan rahangnya dan menutup panggilan secara sepihak.
Fax, pikirnya geram. Tagihan telepon, sakit kepala setiap pagi…
Rupanya kau!
Saat aku sedang tidur dan tidak sadarkan diri, Rafaél muncul ke permukaan!
.
__ADS_1
.
.
"Stand by!" Vladimir memberi instruksi.
Chéri bersiap di tengah ruangan, pedang mainan berbahan plastik berlapis alumunium foil, terhunus di tangannya. Para pemain lain berbaris di belakangnya dengan pedang mainan yang sama.
"Maju!" Teriakan Chéri menggelegar memenuhi ruangan.
"Anak panah terbang ke arah Joan," instruksi Vladimir lagi.
"Joan!" Seorang pemain di sampingnya berteriak.
Chéri mengernyit memegangi bahunya, "Sialan," erangnya sembari terhuyung. "Jangan pedulikan aku," kata Chéri terengah-engah. "Maju terus! Jangan mundur…"
Vladimir tiba-tiba tergelak dan terbahak-bahak.
Chéri melengak dan menoleh pada pria itu.
Vladimir bangkit dari bangkunya, lalu berjalan mendekati Chéri. Ia berhenti satu langkah di depan Chéri dan bersedekap. "Seseorang, siapa saja, coba tirukan aktingnya tadi!" perintah Vladimir pada seluruh anggota.
Lalu salah satu anak laki-laki yang tidak sedang bermain menirukan akting Chéri dengan tampang mencemooh.
"Oh, sialan! Aduh! Maju! Jangan mundur!"
Seisi ruangan tergelak.
Lalu anak perempuan mulai ikut-ikutan menirukan akting Chéri dengan gerakan yang konyol.
Semua orang sekarang terbahak-bahak.
"Ini adalah adegan penting saat Joan mengantarkan pasukan Prancis menuju kemenangan," kata Vladimir. "Sampai saat itu, Joan terombang-ambing di antara para prajurit. Mereka menganggap Joan hanya sebagai gadis kecil biasa. Tapi dengan semangatnya, Joan mendesak para tentara yang liar itu."
Seisi ruangan menyimak penjelasan Vladimir sembari menatap Chéri. Mencoba menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
Chéri merasa terintimidasi oleh tatapan mereka, tak bisa berpikir jernih.
"Peristiwa Joan mencabut anak panah dari tubuhnya sendiri adalah sebuah peristiwa nyata yang bersejarah!" Vladimir menambahkan.
"Jadi, sebaiknya aku bagaimana?" Chéri bertanya terus terang.
Vladimir tidak menggubrisnya, hanya melirik sekilas pada gadis itu dan menoleh pada Leah. "Berikutnya, Leah!"
"Baik," sahut Leah tak berdaya.
Leah lagi? pikir Chéri merasa tak dianggap.
Leah bersiap di posisinya, menghunus pedang seraya menahan napas.
Dia menghentikan napasnya? Chéri terkesiap dalam kekaguman.
"Maju!" Dialog Leah menggetarkan semua orang.
Chéri terperangah semakin kagum. Suaranya lantang sekali, suara yang berasal dari getaran di dasar perut. Suara yang sudah terlatih wajar dan membuat semua penonton merasa tergetar.
Leah menghentikan napasnya sekali lagi.
Chéri memperhatikannya dengan sengatan rasa iri.
__ADS_1
Pada saat adegan anak panah melesat ke arah Joan, Leah memperlihatkan sekali lagi keajaiban Joan. Dia mengatupkan matanya dengan intensitas helaan napas yang membuat semua orang yang melihatnya ikut meringis dan menahan napas bersamanya.
Leah menguasai pernapasan semua orang, pikir Chéri takjub.
Bahkan ketika Leah mengembuskan napasnya perlahan, semua orang turut mengembuskan napas bersamaan.
Hebat!
Benar-benar hebat!
"Leah!" Vladimir memanggil Leah. "Coba yang tadi sebentar."
Semua orang melirik ke arah Chéri dengan ekspresi mencemooh.
"Nah," kata Vladimir. "Di tengah pertunjukan, pemeran tokoh utama akan diganti."
Seisi ruangan bergumam.
Chéri tergagap antara tak puas dan merasa tertantang.
"Ok, berikutnya!" Vladimir menepuk-nepukkan kedua tangannya. "Prajurit masuk!"
"Tunggu!" Chéri menginterupsi. "Bolehkah aku memainkannya sekali lagi?"
Seisi ruangan mencibir.
"Tentu, Chéri!" Vladimir mengizinkan.
"Terserah mau sebagus apa teknik yang dimiliki Chéri Dutchskova itu, di tengah pertunjukan, dia tetap saja akan diganti oleh Leah." seseorang menggumam sinis.
Chéri berusaha mengabaikan komentar itu meski hatinya mulai khawatir.
Apa aku akan kalah?
Selesai latihan, Chéri dikejutkan oleh kemunculan Mikail di depan gedung itu.
Pria itu menunggunya di teras, memasang wajah datar seperti biasa, tapi kilatan di matanya dipenuhi kehangatan yang sama seperti ketika pertama kali Chéri mengenalnya.
Chéri tersenyum ragu dan sedikit kikuk, seolah itu adalah pertemuan pertama mereka.
Mikail mengulurkan sebelah tangannya pada gadis itu dan tersenyum tipis, mengisyaratkan tawaran bersahabat dan undangan yang segera disambutnya dengan senang hati.
Singkatnya…
Mereka berbaikan!
Dan ketika mobil Mikail meluncur di pusat kota, Chéri merasa seperti kembali pada masa ia pertama kali dibawa ke Moscow, padahal itu dilakukan mereka setiap hari.
Bisa dikatakan, Mikail nyaris tak pernah libur—mengantar-menjemput gadis itu.
Tapi entah kenapa hari ini semuanya terasa berbeda.
Dan Chéri merasa hal itu sebagai pertanda baik. Berkali-kali ia melirik Mikail dengan tatapan senang seorang anak kecil.
Mikail bisa merasakannya. Dan dia hanya tersenyum simpul. Lalu membelokkan mobilnya ke arah yang berbeda dari biasanya.
Chéri spontan tergagap dengan mata dan mulut membulat.
Itu bukan arah ke apartemennya!
__ADS_1