Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 59


__ADS_3

Mikail berjalan melewati pintu Izmaylovskiy park, tempat di mana Chéri tinggal dengan Rafaél. Ia menjejak-jejakkan kakinya di atas karpet di depan pintu masuk untuk menepiskan butiran air dari sepatu dan celananya, sebelum memasuki lift. Lalu mengusap rambutnya.


Di depan pintu kamar, ia menurunkan koper di tangannya dan melucuti long coat-nya. Lalu mulai menekan bel dan menunggu.


Hening.


Tidak ada tanda-tanda Chéri akan membuka pintu.


Apa Chéri belum pulang? pikirnya.


Lalu ia memutuskan untuk menggunakan kunci cadangan yang pernah diberikan Rafaél, dan benar saja. Apartemen itu kosong.


Chéri belum pulang.


Dan Rafaél…


Menurut perkiraannya, Rafaél seharusnya sudah sampai di Moskow sejak tadi siang. Tapi tidak ada tanda-tanda kalau dia sudah kemari.


Apa dia tidak berniat untuk kembali ke sini?


Mikail melangkah ke dalam dan memeriksa setiap ruangan, mencoba memastikan keberadaan keduanya sekali lagi.


Ia mendesah pendek dan kembali ke pintu untuk memasukkan kopernya, dan menggantung long coat-nya di tempat penyimpanan jaket, membuka sepatunya dan mendorongnya ke sudut. Lalu bergegas ke meja telepon.


Begitu tangannya meraih pesawat telepon, Mikail tertegun dan berpikir keras. Mencoba menimang-nimang sebelum mengangkat pesawat telepon itu ke telinga.


Ia mendesah sekali lagi, memijat-mijat pangkal hidungnya dengan sikap tak berdaya. Tiba-tiba ia merasa tak enak hati.


Apa yang akan dilakukannya benar-benar jahat.


Chéri dan Rafaél mungkin akan membencinya jika mereka tahu.


Tapi Mikail tak banyak memiliki pilihan.


Dengan berat hati, ia mengangkat pesawat telepon itu, menekan beberapa nomor dan menunggu.


"Moscovich Corporation, ada yang bisa dibantu?" Suara wanita menyapanya dari line telepon.


Mikail berdeham dan menelan ludah, "Saya ingin bicara dengan Presdir Moscovich," katanya. "Tolong sampaikan kepada beliau, Mikail Volkov ingin membicarakan soal putranya, Rafaél."


.


.


.


"Kemarilah! Aku akan menceritakan alasan aku menghilang," Rafaél melepaskan pelukannya dan menuntun Chéri ke sebuah gereja yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Chéri mulai menggigil dan bersin-bersin.


"Are you okay?" Rafaél bertanya khawatir.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa," jawab Chéri cepat-cepat. "Kau sendiri juga basah kuyup."


Rafaél mempercepat langkahnya dan melepaskan long coat-nya begitu langkah mereka mencapai teras gereja, lalu membungkuskannya ke tubuh Chéri.


Chéri mengikuti langkah pria itu ke dalam ruang ibadah, melewati deretan bangku kayu di sepanjang ruangan.


"Aku sengaja membawamu ke sini karena di sini tidak akan ada orang yang mendengar pembicaraan kita," tutur Rafaél setelah memilih tempat duduk di barisan bangku paling depan. "Lagi pula kita bisa berteduh. Mendekatlah, supaya lebih hangat!"


Seketika wajah Chéri merona mendengar tawaran pria itu—sebenarnya lebih terdengar seperti perintah. Tapi Chéri menyukainya.


Rafaél mengulurkan tangannya pada Chéri dan menariknya mendekat. Chéri duduk rapat di sampingnya sementara pria itu memeluknya dengan erat.


Alangkah baiknya seandainya kita bisa terus seperti ini, pikir Chéri. Jantungnya berdebar-debar.


Rafaél memiringkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Chéri, lalu menempelkan pipi mereka.


Sekujur tubuh Chéri kembali menghangat. Ciuman lembut mereka di bawah guyuran hujan serentak terbayang di pelupuk mata, membuatnya kembali gemetar.


Rafaél menaikkan jemarinya ke sisi kepala Chéri dan menariknya lebih dekat, mengecup pelipisnya dan menyusupkan wajah gadis itu di ceruk lehernya. Lalu tiba-tiba diam.


"Kenapa diam?" tanya Chéri. "Aku jadi bingung," bisiknya lirih.


Rafaél mengusap-usap kepala gadis itu, "Bukan diam," jawabnya balas berbisik. "Aku sedang memikirkan cara untuk menyampaikan cerita ini padamu."


"Ceritakanlah apa adanya," desak Chéri lembut.


Rafaél mendesah pendek dan kembali mengusap kepala Chéri. "Dengan alasan ingin mencari materi untuk dramaku, aku mengunjungi semua kenalanku sewaktu aku masih sekolah di Washington. Itu adalah masa-masa yang tidak ada dalam ingatanku."


Chéri menelan ludah dan melirik pada Rafaél.


Chéri memekik tertahan dan membekap mulutnya.


Rafaél mengusap-usap kepalanya lagi. "Lalu aku menelusuri masa-masa aku berusia tiga belas tahun sampai aku berangkat ke Washington. Di sana… Aku menemukan kejanggalan."


"Kejanggalan?"


"Aku sama sekali tak ingat masa tiga bulan sebelum aku dikirim ke luar negeri, padahal seorang anak berusia tiga belas tahun yang dikirim ke luar negeri seorang diri seharusnya mengalami pergumulan batin dan merasakan berbagai macam hal. Tapi tidak satu pun kenangan yang yang bisa kuingat pada masa tiga bulan itu."


"Sama sekali tidak ada?" Chéri menarik wajahnya dari leher Rafaél dan menatap wajah pria itu dengan mata membulat.


Rafaél mengedikkan bahunya.


"Lalu?" Chéri makin penasaran.


"Lalu aku berusaha menyelidiki tiga bulan yang kosong itu sampai ke akar-akarnya. Dan…" Rafaél tiba-tiba mengernyit dan mengetatkan rahangnya.


Chéri tergagap dan bertanya cemas, "Are you ok?"


Rafaél mengatupkan matanya rapat-rapat, menghirup udara banyak-banyak dan mengembuskannya perlahan. Lalu membuka matanya lagi dan melanjutkan, "Aku menemukan sebuah artikel lama yang memuat…" Rafaél kembali mengernyit.


"Rafaél!" Chéri meraup wajah Rafaél dan mengguncangnya.

__ADS_1


Wajah pria itu memucat. Kelopak matanya bergetar dan melemas.


Apa yang terjadi? pikir Chéri cemas.


Rafaél mengerjap dan menggeleng-geleng, seperti mencoba membangunkan dirinya sendiri.


Chéri tergagap menatapnya.


Rafaél tersenyum tipis dan menyentuh punggung tangan Chéri yang tertangkup di wajahnya, lalu menariknya sedikit ke mulutnya dan menciumnya.


Raut kekhawatiran di wajah Chéri seketika lenyap.


Rafaél melanjutkan ceritanya. "Di hari ulang tahunku yang ke tiga belas, terjadi kebakaran, rumahku terbakar, dan seorang anak laki-laki tewas dalam kebakaran itu."


Chéri menelan ludah dan membuka mulutnya. Tapi tidak berani menyela.


"Anak itu sebaya denganku dan…" Rafaél menggantung kalimatnya sesaat sebelum melanjutkan, "wajahnya mirip denganku."


Mata Chéri spontan melebar.


Rafaél kembali mengernyit, kali ini sampai memijat kedua pelipisnya.


"Rafaél—"


"Namanya Valentin…" Rafaél menambahkan. "Tapi aku tidak mengenalnya," desisnya tersendat-sendat. "Aku pikir… dia pasti ada hubungannya denganku."


Chéri menyentuh lengan Rafaél dengan raut wajah cemas.


Wajah pria itu sekarang seperti terbakar, seperti menahan sakit. "Bisa saja waktu itu aku juga tewas terbakar seperti anak itu," desisnya semakin lemah. Suaranya timbul tenggelam seiring napasnya yang terengah-engah.


Chéri semakin kebingungan. Sebenarnya dia kenapa? pikirnya mulai kalut.


Kedua mata Rafaél terpejam sesaat. Lalu bergetar dan kembali membuka.


Chéri mengawasi wajah pria itu dengan bingung.


Rafaél mengerjap dan tersenyum tipis, lalu menciumnya lagi. "Aku pergi mengunjungi salah satu sesepuh keluargaku yang tidak pernah kujumpai selama sepuluh tahun terakhir," bisiknya di telinga Chéri seraya menopangkan dagunya di bahu gadis itu. "Meskipun wataknya keras, tapi dia sangat jujur. Aku yakin dia pasti sudah tahu aku sejak kecil, tapi saat dia melihatku dia secara terang-terangan menunjukkan muka tidak suka." Rafaél tersenyum getir seraya membelai pipi Chéri dengan buku jarinya.


Chéri mengerjap dan tersipu. Tapi tak bisa mengalihkan pandangannya dari Rafaél.


Pria itu kembali mengernyit, lalu menciumnya lagi, seolah-olah dengan cara itulah dia melawan---apa pun yang menyiksanya dari tadi. Membuat Chéri ingin merobeknya.


Chéri melingkarkan lengannya di leher Rafaél dan membalas ciumannya.


Rafaél melepaskan ciumannya perlahan dan kembali bercerita, "Dengan sorot mata seakan sedang melihat orang yang tidak dikenalnya, dia sampai berkata, untuk apa kau datang ke sini, ini bukan tempatmu," tuturnya sembari terkekeh tipis antara geli dan getir. "Setelah aku bersikeras menanyakan soal kebakaran itu, akhirnya dia mulai naik pitam, lalu menceritakan sesuatu yang sulit kupercaya. Singkatnya…"


Chéri mengerutkan dahinya.


Rafaél tiba-tiba terkulai dan kepalanya tersuruk di bahu Chéri.


Chéri tergagap dan menelan ludah.

__ADS_1


Hening.


Pria itu tidak bergerak lagi.


__ADS_2