Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 60


__ADS_3

"Rafaél! Kau kenapa?" Chéri mengguncang bahu Rafaél.


Pria itu tidak bereaksi.


"Rafaél!" Chéri menaikkan suaranya, dan mengguncang pria itu lebih keras.


Rafaél akhirnya bergerak, mengangkat wajahnya sedikit, seolah beban di kepalanya teramat berat. "Dia datang," bisiknya lirih.


Chéri menelan ludah dan terkesiap. Siapa yang datang?


"Kuatkan dirimu, Chéri!" Rafaél mengusap kepala Chéri dan terpuruk dalam pelukan gadis itu.


"Rafaél!" Chéri mendorong bahu Rafaél, tapi tubuh pria itu mendadak terasa berat.


Rafaél benar-benar telah sepenuhnya kehilangan kesadaran.


Dan Chéri mulai mengerti apa artinya.


Ini…


Ini adalah tanda-tanda mereka akan bertukar tempat, pikirnya ketakutan. Tubuh Chéri spontan gemetar dan matanya mulai berkaca-kaca.


Tidak, katanya dalam hati. Tidak ada waktu untuk menangis. Kumohon, jangan menangis!


Chéri berusaha menguatkan dirinya.


Saat Rafaél membuka matanya…


Dia sudah menjadi…


Valentin!


Lalu pria itu mengangkat wajahnya.


Chéri tersentak dan beringsut mundur menjauhi pria itu.


Pria itu menyeringai. Lalu terkekeh.


Chéri menelan ludah dan mengetatkan rahangnya. "Apa yang lucu?" hardiknya tak senang.


"Kenapa wajahmu begitu…"


"Begitu apa?" Chéri melotot tak sabar.


"Begitu menggoda," jawab pria itu sembari mendekat.


Chéri kembali beringsut. "Mau apa kau?"


"Aku akan meneruskan ceritanya," kata pria itu seraya terus mendekat hingga Chéri akhirnya tersudut ke dinding. "Kau masih penasaran, kan?"


Chéri sekarang terjebak, pria itu mengungkungnya.


"Singkatnya, kakek tua itu berkata begini… yang tewas dalam kebakaran itu adalah Rafaél Moscovich yang asli, dan kau seorang penipu!"


Chéri menelan ludah dengan susah payah dan menggeleng.


Pria itu menekankan tubuhnya ke dinding. "Katanya, kau Valentin yang berpura-pura menjadi Rafaél. Kalian serupa karena kalian adalah anak kembar. Kau hanya mengira dirimu Rafaél. Yang selamat dari kebakaran itu adalah Valentin bukan Rafaél!"


Chéri menggeliat-geliut dalam rengkuhan pria itu, berusaha melepaskan diri.


"Apa kau mengerti apa artinya itu?" Valentin menyeringai. "Akulah pemilik sah tubuh ini!"


"Bohong!" sergah Chéri. "Aku tak percaya padamu!"


Pria itu tiba-tiba melepaskannya. Sikapnya berubah dengan cepat. Tatapannya berubah dingin dan raut wajahnya berubah datar. "Rafaél sudah mati," katanya tanpa ekspresi.


Chéri terhenyak.


Pria itu menatapnya dengan raut wajah tetap datar.

__ADS_1


Dia bohong, kata Chéri dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Tapi satu kata yang bolak-balik dalam kepalanya adalah, benarkah? Benarkah?


Rafaél sudah meninggal?


Tidak! Chéri membatin gusar.


"Kau tidak percaya, ya kan?" terka Valentin. Raut wajahnya masih tetap datar. Tatapan dinginnya tidak beralih dari gadis itu.


Chéri menelan ludah dengan susah payah dan menggeleng. "Kau berbohong!" desisnya tercekat.


"Bohong, ya?" Valentin melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum. "Buktinya dia menarik dari," katanya penuh percaya diri. "Aku menang!"


"Omong kosong," desis Chéri lemah, kedua bahunya mulai gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak percaya padamu. Kau hanya ingin menggangguku saja."


Valentin menatapnya dalam diam.


Sikap diam si kepribadian lain itu membuat keyakinan Chéri mulai goyah. Benarkah yang dikatakannya?


Ini bohong, kan?


Rafaél…


Hati Chéri serasa teriris. Bagaimanapun kerasnya dia mencoba menyangkal pernyataan itu, kenyataan bahwa salah satu dari mereka tewas itu sudah jelas. Dan kedua-duanya hidup dalam satu tubuh yang sama. Satu tubuh yang dikaguminya. Siapa pun dia, seharusnya Chéri tidak keberatan.


Tapi pria yang ditemuinya di balai kota Olympus Palace di St Petersburg adalah Rafaél.


Rafaél-lah yang telah menemukan bakatnya.


Rafaél yang membawanya ke Moscow.


Rafaél yang memperkenalkan dirinya pada teater.


Rafaél-lah yang telah mempesona dirinya.


Pria ini sangat berbeda dengan Rafaél. Chéri tidak mengenalnya. Dan ia berharap pria inilah yang mati.


Ya, kenapa harus Rafaél yang diharapkannya masih hidup?


Apa salah Valentin pada Chéri?


Valentin juga mencintai Chéri, lebih baik dibanding Rafaél yang harus dikejarnya. Valentin tidak jual mahal seperti Rafaél.


Memangnya kenapa kalau Rafaél yang mati?


Bukankan tidak ada bedanya ketika Rafaél menyentuhnya atau Valentin yang menyentuhnya, tangannya tetap sama. Ketika pria itu menciumnya, bibirnya tetap sama.


Mereka memang kembar ketika salah satu dari mereka belum tewas. Sekarang mereka kembar di dalam satu tubuh.


Ah, kalau author jadi Chéri. Author sih oke aja, asal dia masih cowok gondrong!


Tapi begitulah cinta…


Dipenuhi rahasia yang tak logis.


Banyak orang mengatakan bahwa cinta itu buta.


Seperti itulah…


Chéri tidak melihat Rafaél dari penampilan saja, tapi terpukau oleh bakatnya. Lagi pula Rafaél tidak lancang seperti Valentin.


Tapi jika Valentin bisa lebih lembut, sedikit saja, barangkali Chéri tidak bisa membedakannya.


Itulah yang dipikirkan Valentin. Jadi dia berusaha bersikap sedikit lebih tenang seperti Rafaél.


Dan dia berhasil.


Chéri hampir tak beringsut ketika pria itu mendekat dan mengulurkan tangannya, menarik perlahan gadis itu ke dalam pelukannya.


Chéri meledak menangis, menyusupkan wajahnya di dada pria itu.

__ADS_1


Tapi Valentin tetap saja Valentin!


Dia memang tidak bisa disamakan dengan Rafaél. Otak mesumnya seketika kambuh, "Janjimu waktu itu," katanya tak bisa menahan diri. "Masih berlaku, lho!"


Chéri tersentak dan memberontak.


"Kau sudah berjanji akan menjadi milikku!" Pria itu menyeringai, kemudian merenggut long coat yang dikenakan Rafaél pada gadis itu, dan merenggut juga kerah baju Chéri, melucuti pakaiannya dengan paksa.


Chéri mencoba untuk melawan dan menghindarinya. Tapi kekuatan pria itu bukan tandingannya.


Hanya dalam hitungan detik, pria itu sudah berhasil memojokkan Chéri dan menjatuhkan gadis itu di lantai podium. Dia bahkan tak peduli bahwa tempat itu diyakini Rumah Tuhan.


"Lepaskan!" pekik Chéri seraya menyentakkan tangannya dari cengkeraman pria itu.


Pria itu menanggapinya dengan seringai menjengkelkan.


"Rafaél—"


"Aku Valentin!" sergah pria itu dingin.


"Rafaél… Kembalilah!" Chéri mendorong dada Valentin ketika tangan pria itu mulai merayapi bagian tubuhnya yang paling sensitif.


"Rafaél tidak bisa kembali," sergah Valentin. "Sudahlah, menyerah saja."


"Lepaskan—" pekik Chéri tersengal.


Pria itu sekarang menindihnya, bersiap membenamkan mulutnya di leher gadis itu.


Tapi tiba-tiba halilintar menggelegar di luar gereja.


Barangkali teguran dari Tuhan!


Valentin membeku, menatap salib di atas kepalanya, terbentang kokoh di dinding ruangan.


Chéri memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong Valentin dan mencelat melepaskan diri.


Valentin melompat untuk menyergapnya lagi.


Chéri merenggut batang menorah yang terdapat di sudut ruangan, mengangkatnya di sisi kepalanya, berusaha mengancam Valentin.


Pria itu terkekeh. "Kau ingin memukulku dengan benda itu?" ejeknya.


"Jangan mendekat," gertak Chéri.


"Coba pukul!" Valentin menantangnya. "Aku ingin lihat bagaimana kau memukul kekasihmu sendiri. Jangan lupa kalau di dalam tubuhku ini juga ada Rafaél. Kau mencintainya, kan?"


Chéri mengetatkan rahangnya dan mengangkat kaki dian di tangannya lebih tinggi.


Valentin tetap mendekat. "Tubuh ini lebih penting dari dirimu sendiri. Apa aku benar?"


Chéri mengerjap dan beringsut.


"Ayo, pukul!" Valentin mendesaknya.


Beruntung seseorang muncul dan menghardik mereka. "Apa-apaan ini?" Rupanya seorang pastor. "Apa yang kalian lakukan di Rumah Tuhan?"


Chéri tidak punya waktu untuk mendengarkan khotbah. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri dan menghambur keluar gereja.


Valentin terperangah dan membeku.


Sementara pastor tadi mulai mengoceh menginjili Valentin.


Valentin memperhatikan punggung Chéri yang sedang berlari. Sayang sekali, pikirnya. Tidak menggubris ocehan sang pastor.


Ah, tapi sudahlah!


Bagaimanapun juga tubuh ini sudah menjadi milikku, pikirnya puas. Chéri sudah berada dalam genggamanku.


Aku masih punya banyak waktu untuk mendapatkannya—kapan saja aku suka.

__ADS_1


__ADS_2