Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 74


__ADS_3

"Sial!" Vladimir tidak berhenti mengumpat sepanjang malam itu.


Botol-botol minuman beralkohol yang telah kosong berserak di meja bersama gelas kristal dan sebuket es batu, juga botol lain yang masih terisi sebagian, sebagian lagi belum dibuka.


Suasana ruang sutradara di Tsar Dramy telah berubah menjadi bar sejak beberapa jam lalu. Bisa dikatakan setengah pesta pora. Tapi Vladimir tak kunjung merasa senang.


Hati dan kepalanya serasa terbakar.


"Gara-gara dia!" racaunya di antara kesadarannya yang mulai timbul tenggelam. Itu juga tak mampu melenyapkan kegundahan hatinya. "Semuanya gara-gara dia, si kepribadian ganda sialan!"


"Membicarakan aku, ya?"


Suara seseorang di belakangnya menyentakkan Vladimir, menarik kesadarannya yang sedang lepas landas.


Vladimir membeku di tempat duduknya di atas sofa di seberang meja kerjanya.


Seseorang tahu-tahu sudah bertengger di kepala sofa, duduk dengan santai memeluk sebelah lututnya.


Entah sudah berapa lama orang itu berada di sana.


Vladimir tak yakin.


Dia bahkan tak yakin orang itu benar-benar ada.


"Aku bisa mengerti kenapa kau ingin minum-minum," pria tinggi berambut sepinggang di belakangnya menepuk-nepuk bahu Vladimir.


"Diam kau!" hardik Vladimir. "Semuanya gara-gara kau!"


Pria di belakangnya---yang tak lain adalah Valentin melompat ke sisi Vladimir. "Maaf," katanya sembari menyeringai. "Tadi aku terlalu bersemangat. Tapi bukan begitu caranya menangani wanita. Terutama Chéri."


"Oh, shut up!" Vladimir mengerang muak.


"Aku sudah dengar ceritanya," tukas Valentin tak peduli. "Dengan kaburnya Chéri, tipis kemungkinan mendapatkan sponsor untuk pementasan Joan."


Vladimir menggemeretakkan giginya.


"Menyebalkan bukan?" sindir Valentin. "Digertak oleh anak kaya yang manja, dikalahkan oleh Rafaél?"


Vladimir kehabisan kesabarannya, dengan geram direnggutnya gelas berisi minuman bercampur es batu, kemudian menyiramkannya ke wajah Valentin.


Valentin hanya menyeringai sembari menaikkan sebelah tangannya untuk melindungi wajahnya. Es batu dan minuman itu membasahi bahu long coat dan kerah bajunya.


Vladimir merenggut kerah bajunya dengan ekspresi murka.


Tapi Valentin tetap menanggapinya dengan menyeringai. "Aku akan memberimu kesempatan untuk membalikkan keadaan," ia menawarkan. "Bergabunglah denganku, Vladimir. Hanya itu satu-satunya cara untuk menang."


"Omong kosong!" Vladimir melepaskan cengkeramannya dan menuang minuman lagi ke dalam gelasnya. Lalu meneguknya dalam sekali tenggak tanpa es batu. "Kau hanya menjadi bahan tertawaan," katanya mencemooh. "Memangnya apa yang bisa dilakukan kepribadian ganda? Bergabung denganmu? Hah! Benar-benar konyol!"


Giliran Valentin sekarang yang menyambar kerah baju Vladimir, merenggutnya dengan kuat dan menarik wajah pria itu mendekat. "Dengar," katanya. Lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Vladimir dan membisikkan sesuatu.

__ADS_1


Vladimir menelan ludah. Sebelah alis tebalnya terangkat tinggi. "Kau serius?" tanyanya tak yakin. "Mungkinkah…"


Valentin melepaskan cengkeramannya dan menyeringai.


Vladimir terkekeh. "Tidak," katanya sembari menggeleng-geleng. "Kau tidak akan bisa!"


"Hanya aku yang bisa!" Valentin menimpali.


Vladimir langsung terdiam. Mencoba menimang-nimang dan berpikir keras.


"Kalau kau membantuku…" Valentin menunduk menepiskan butiran es batu di pundak long coat-nya. "Kita berdua…" ia mengangkat wajahnya lagi dan menatap ke dalam mata Vladimir. "Kau dan aku… bisa mengalahkan Rafaél."


Vladimir menelan ludah sekali lagi. "Dimulai dari mana?" ia bertanya sedikit tergagap. Tak yakin apakah pria ini bisa dipercaya.


"Iya, ya!" Valentin tersenyum miring. Lalu bersedekap dengan sebelah tangan mengusap dagunya. "Pertama-tama MoscovArt Theatre," usulnya kemudian. "Lalu, kita akan maju sedikit demi sedikit. Terakhir…"


Vladimir menaikkan alisnya menuntut jawaban.


Chéri Dutchskova! batin Valentin. Ia tidak berniat untuk mengatakan yang satu ini pada Vladimir. Khusus untuk yang satu ini hanya untuk dirinya sendiri.


Bersamaan dengan itu…


Chéri tersentak di tempat tidurnya, terbangun dengan gusar dan berdebar-debar. Gadis itu terengah-engah dan mengedar pandang ke seluruh ruangan. Keringat menggelinding di pelipisnya.


Lampu di kamarnya tidak sepenuhnya gelap, dia tidak suka tidur dalam keadaan gelap total. Lampu meja di sisi tempat tidurnya menyala remang-remang.


Chéri melayangkan pandang ke sudut ruangan, menatap pesawat telepon yang membeku di tempatnya seperti benda rusak.


Dia baru saja mengalami mimpi buruk, tapi ia tak dapat mengingat isi mimpinya.


Apa yang terjadi? pikirnya gelisah.


Dadaku bergemuruh hebat!


Sisa malam itu ia habiskan dengan membolak-balikkan tubuhnya dengan pikiran berkecamuk yang tak menentu. Dia tak bisa terlelap, tak bisa berpikir.


Beberapa jam kemudian ia jatuh tertidur tanpa mimpi, lalu terbangun dengan letih.


Mikail telah menyiapkan sarapan dengan penampilan bugar seperti biasanya. Pria itu sepertinya tidak pernah jatuh sakit meski pola tidurnya nyaris tidak teratur.


Apa rahasianya? Chéri bertanya-tanya dalam hati.


Selesai sarapan, Mikail mengantarnya ke MoscovArt Theatre.


Gadis itu terlihat semakin gelisah sesampainya di depan pintu ruang latihan.


Ia tidak segera masuk. Hanya membungkuk sembari menyilangkan kedua tangannya di belakang tubuhnya. "Aku agak takut menghadapi wajah teman-teman MoscovArt Theatre," gumamnya tak percaya diri. "Mereka pasti masih mengira aku mengkhianati mereka karena pindah ke Tsar Dramy. Masuk tidak, ya?"


Mikail tersenyum maklum, lalu menyemangati gadis itu dengan menepuk-nepuk bahunya. "Masuklah, Chéri! Ini mimpimu. Sekarang sudah terwujud."

__ADS_1


"Apa yang pertama harus aku katakan? Kalau… aku pulang! Kedengarannya aneh. Bagaimana kalau… saudara-saudara MoscovArt Theatre sekalian, Chéri Dutchskova sudah kembali…"


Mikail tersenyum geli. "Kalau kau mau begitu, silahkan!" katanya setengah terkekeh.


"Buat apa kasak-kusuk di sini?" Suara seseorang mengejutkan keduanya.


Chéri dan Mikail serentak menoleh ke belakang dan mendapati Sesha sedang mengawasi mereka sembari bersedekap.


Sesha menyelinap ke tengah-tengah mereka dan menguak pintu. "Teman-teman!" Sesha berteriak lantang sembari menepuk-nepukkan kedua tangannya. "Dengarkan sebentar!"


Seisi ruangan menoleh pada Sesha.


"Mulai hari ini," Sesha mengumumkan, "Chéri Dutchskova—"


"Hei—coba lihat ini!" Teriakan anak lain dari lantai atas mengalihkan perhatian semua orang. "Ada sesuatu yang sangat mengejutkan!"


Seisi ruangan berubah gaduh.


Chéri dan Mikail bertukar pandang.


Sesha menghambur ke arah tangga, diikuti semua anak lainnya.


Chéri dan Mikail bergabung bersama mereka.


Anak perempuan yang berteriak menunjuk ke layar kaca. "Lihat itu!" katanya.


Semua orang serentak mengerang.


"Apa sih? Ini kan baru jam tujuh—acara ibu-ibu!" protes beberapa orang.


"Itu kan, Vladimir Valensky!" yang lain menggerutu. "Aku tidak mau lihat!"


"Ssssttt! Bukan dianya! Tapi yang di sebelahnya!" kata anak perempuan tadi.


Untuk sesaat suasana berubah hening. Semua mata tertuju pada layar kaca tanpa berani berkedip.


Tapi kamera sialan di seberang sana tidak segera bergeser.


Seisi ruangan mulai tak sabar.


Detik berikutnya, sorotan kamera akhirnya bergeser. Seketika seisi ruangan kembali gaduh.


"Rafaél? Kenapa dia bisa bersama Vladimir?" teriakan seseorang menarik perhatian Chéri.


"Mana lihat!" Gadis itu menghambur menyeruak kerumunan.


Wajah tampan Rafaél terpampang di layar kaca.


Udara di paru-paru Chéri berdesing keluar.

__ADS_1


Ya, Tuhan!


Itu memang dia.


__ADS_2