Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 56


__ADS_3

Dengan sisa-sisa semangat dan keberanian—lebih tepatnya kemarahan dan kebencian, Chéri berjalan di koridor teater Tsar Dramy, menggenggam gulungan surat kabar yang dibawanya dari MoscovArt Theatre, menghela napas berat, menegakkan tubuhnya dan menaikkan rahangnya sedikit, menguatkan dirinya untuk menemui pimpinan teater itu.


Gadis itu menerobos masuk ke ruangan sutradara yang paling dibencinya itu tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


Pria itu memutar kursinya yang semula menghadap jendela, membelakangi meja. Ia menautkan jemarinya di depan wajahnya dengan kedua siku bertumpu di lengan kursi. Pria itu sama sekali tidak menegurnya. Alih-alih, dia tersenyum simpul seolah kelancangan gadis itu merupakan pertanda bagus.


Tidak mengetuk pintu sebelum masuk, bagi Vladimir terasa seperti tidak menganggapnya sebagai orang lain.


Chéri mengetatkan rahangnya seraya mengempaskan surat kabar di tangannya ke meja Vladimir.


Vladimir melirik surat kabar itu sekilas, dan kembali menatap Chéri.


"Artikel apa ini?" tanya Chéri setengah menggeram.


Pria itu menarik bangkit tubuhnya dari kursi dan menyelinap keluar. Lalu berjalan memutari mejanya, kemudian berhenti di sisi lain meja itu tak jauh di depan Chéri.


Chéri mengatupkan mulutnya. Mata indahnya membulat menatap pria itu dengan intensitas tatapan yang membakar.


Tapi pria itu tetap berkepala dingin. "Aku yang menyiapkan bahan ceritanya," ujarnya setengah tersenyum. "Lalu meminta Moskovskij Komsomolets untuk memuat artikelnya."


Chéri mengetatkan rahangnya lagi.


"Supaya 'JOAN' menjadi topik pembicaraan…" Vladimir mengembangkan telapak tangannya di sisi tubuhnya. "Kau mengerti?"


"Topik pembicaraan?" ulang Chéri dengan alis tertaut. "Kau membuat artikel ini hanya supaya 'JOAN' jadi topik pembicaraan?"


Vladimir maju selangkah ke arah Chéri, kemudian meletakkan tangannya di bahu gadis itu. Lalu membungkuk seraya berbisik. "Hari ini juga di ruang latihan sudah ada wartawan."


Chéri menelan ludah dengan susah payah, kemudian mengedikkan bahunya dan beringsut menjauhi Vladimir.


"Pergilah ke sana dan sedapat mungkin perlihatkan suasana latihan yang akrab," perintah Vladimir setengah berdesis. Lebih terdengar seperti ancaman daripada perintah.


Dan sebelum Chéri mampu menolaknya, pria itu sudah menangkap pinggangnya dan menyeretnya keluar ruangan, mendesaknya dengan lembut namun penuh penekanan, menggelandang gadis itu menuju ruang latihan.


"Jadi," Chéri mendesis seraya melirik sinis pada pria itu. "Sebetulnya kau ingin menjual drama ini sampai orang-orang menyukainya… atau membencinya?"

__ADS_1


Vladimir tetap tersenyum.


"Apa kau tak malu menjual dramamu dengan skandal?" Chéri menambahkan.


"Tidak juga," jawab Vladimir tanpa beban sedikit pun. "Justru sebaliknya." Lalu dengan tiba-tiba dan tanpa peringatan, pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh pada Chéri. "Aku bisa mengalahkan Rafaél."


Jantung Chéri serasa meletup. Kemarahan meledak dalam kepalanya.


Vladimir mengetatkan rangkulannya dan menghelanya untuk kembali berjalan.


Chéri benar-benar tak berdaya.


"Suatu karya, kalau tidak menarik perhatian publik, tak peduli seberapa briliannya karya tersebut, tetap saja tidak ada bedanya dengan sampah. Tapi beberapa keparat egois yang menganggap dirinya idealis seperti Penulis Keparat tidak menyadari hal itu," cerocos Vladimir menyindir Penulis.


"Kau bicara seperti itu karena kau iri pada bakat yang dimiliki Rafaél," gerutu Chéri, membela Penulis.


"Memang!" Vladimir ternyata bukan tipe pria munafik yang peduli pada pencitraan—Penulis suka gaya Lo!


Dia tipe pria apa adanya meski menyebalkan. Sangat percaya diri. Itu ciri pria idaman para wanita. Sayangnya dia dapat peran antagonis.


Chéri mengatupkan mulutnya, sudah kehabisan akal, apalagi kata-kata.


Vladimir menghentikan langkah mereka di dasar tangga, di depan pintu ruang latihan, di ruang bawah tanah gedung teater itu.


Detik berikutnya, Vladimir menyibak pintu itu dan seketika ruang latihan berubah gaduh. Semua mata dalam ruangan serentak menatap ke arah pintu bersama kilatan blitz dari kamera yang diarahkan pada mereka, disusul tepuk tangan yang sangat meriah.


Chéri berharap bumi akan terbelah dan menelan dirinya saat itu juga. Lebih berharap lagi, bumi akan terbelah dan menelan semua orang di Tsar Dramy kecuali dirinya.


"Jadi ini gadis yang Anda maksud," seorang wartawan berusia sekitar dua puluh lima tahun menghampiri dan menyalami mereka dengan antusias. "Anak emas Tuan Valensky yang baru," katanya seraya tersenyum penuh arti saat pria itu menyalami Chéri.


"Maaf," seorang fotografer menginterupsi dari belakang si wartawan tadi. Seorang pria tampan lainnya. Ia kelihatan dua atau tiga tahun lebih muda dibandingkan wartawan tadi dan lebih tampan. "Kami akan memotret kalian beberapa kali lagi," katanya seraya tersenyum dan secara diam-diam mengedipkan sebelah matanya pada Chéri.


Sementara itu, para anggota teater di sana-sini berkasak-kusuk dan menatap Chéri dari sekeliling ruangan. Sebagian menatapnya tanpa berkedip, sebagian terbelalak terpesona, sebagian lagi menatap sinis. Tapi tentu saja yang sinis jumlahnya lebih banyak dibanding yang terpesona.


Itu sudah tradisi!

__ADS_1


Di belahan mana pun di dunia ini, bahkan di dunia maya sekali pun, kau takkan terhindar dari pandangan sinis semua orang yang membencimu tanpa alasan. Lebih kejam saat mereka iri.


Peduli setan dengan semua itu!


"Ayo senyum!" perintah Vladimir pada Chéri di antara senyum palsunya.


"Tidak akan!" geram Chéri tanpa kentara. Aku tidak akan bekerja sama dalam skandal ini, tekadnya, keras kepala.


Fotografer tampan di depannya tersenyum gelisah ketika ia melihat ekspresi Chéri. "Nona," tegurnya dengan gaya mempesona. "Bisakah Anda berpose seperti ketika latihan?"


Chéri tetap merengut.


Vladimir tersenyum lebar. "Tenang," katanya dengan penuh percaya diri. "Akan kubuktikan pada kalian semua, rekan wartawan, bahwa pada hari pementasan aku sudah berhasil menjinakkannya."


Chéri tetap bergeming.


Pria itu mengerling pada Chéri dan menariknya semakin dekat, merapatkan tubuh mereka seraya berbisik, "Melalui dramaku, aku akan membuatmu, Boneka Rafaél mekar bagai bunga. Akan kubuktikan padamu bahwa aku bisa mengembangkan bakatmu, lebih dari yang bisa dilakukan oleh Rafaél."


"Ah, ayo lebih dekat lagi!" Fotografer tadi berseru gembira.


Vladimir menarik Chéri ke dadanya dan mengangkat dagu gadis itu dengan buku jarinya, lalu menatap ke dalam mata Chéri. "Apa yang menarik dari karya Rafaél?"


"Pose yang bagus!" Fotografer tadi mengambil gambarnya.


"Kalau artikel ini jatuh ke tangan Rafaél yang sedang bersembunyi, darahnya pasti akan mendidih," bisik Vladimir seraya mengedipkan sebelah matanya pada Chéri.


"Jadi kau sudah memperhitungkan semuanya sampai foto yang akan dilihat Rafaél?" Chéri tergagap dengan wajah t o l o l.


"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan membuatnya mengakui bahwa aku lebih unggul?"


Chéri hampir tak bisa menahan diri untuk tidak menangis saat itu juga. Ia memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan menyentakkan dirinya dari rengkuhan Vladimir.


"Jangan coba-coba lari," ancam pria itu di telinganya seraya menangkap kembali pinggang Chéri dan memeluknya lagi. Lalu mengangkat tangan lainnya, meletakkan telapak tangannya di bagian belakang kepala Chéri. "Kau tidak berharap aku membocorkan rahasia Rafaél kan?"


Chéri spontan membeku. Mengerikan, pikirnya getir. Semakin lama, aku semakin terperosok ke dalam cengkeraman Vladimir.

__ADS_1


"Rekan wartawan," kata Vladimir sembari menyeringai. "Silahkan mengambil foto kami sebanyak kalian suka dan buatlah artikel paling sensasional."


__ADS_2