
Mikail bergegas ke bangku penonton setelah Kyle mengatakan bahwa mungkin sebaiknya ia melihat sendiri apa yang gawat menurut Kyle. "Bangku kedua deretan paling belakang di sebelah kiri!" Kyle memberitahu.
Dan…
Seringai lebar seorang pria menyambutnya begitu ia sampai di sana.
Keparat Valensky, Mikail membatin geram.
"Apa kau Mikail Volkov?" Pria itu bertanya dengan keramahan yang dibuat-buat. "Aku baru menontonnya di tengah-tengah," katanya berbasa-basi.
"Aku tak percaya kau masih berani memperlihatkan wajahmu," Mikail tersenyum sinis.
Sejumlah pria bertampang seram seketika meliriknya dari deretan bangku di depan Vladimir.
Mikail mengawasi mereka melalui sudut matanya.
"Duduklah!" Vladimir menawarkan seraya menepuk-nepuk bangku di sebelahnya, seolah-olah dialah tuan rumahnya. "Hanya tinggal di sini yang kosong," katanya seraya melirik barisan pria bertampang seram tadi. "Jangan paksa mereka menggunakan kekerasan," ia memperingatkan. "Waktu masuk saja sudah dipersulit tadi!"
"Apa maumu sebenarnya?" Mikail bertanya terus terang.
Vladimir tersenyum tipis dan mengalihkan perhatiannya ke depan. Kemudian bersedekap. "Rafaél bermain bagus," katanya setengah menggumam. "Apa karena anak itu?"
Mikail tetap berdiri. Tapi pandangannya mengikuti Vladimir.
Rafaél tengah mengendap-endap di belakang Chéri, menghirup aroma rambut gadis itu secara diam-diam. Dan ketika gadis itu tiba-tiba berbalik, pria itu tergagap. Lalu keduanya bertukar pandang.
"Ini pertama kalinya aku melihat Rafaél yang begitu rapuh dan mempesona," komentar Vladimir tanpa mengalihkan perhatiannya dari panggung.
Mikail meliriknya sepintas, lalu kembali mengamati pertunjukan.
"Buruk Rupa… aku sedang menunggumu," Chéri berkata terbata-bata.
Rafaél beringsut mundur dan menatapnya, terbelalak di balik topengnya. Sensasi rasa aneh tiba-tiba menyengatnya.
"Ah, itu pasti karena aku tidak punya teman!" Chéri berkilah cepat-cepat seraya memalingkan wajah.
Rafaél mendekat dengan langkah ragu. "Cantik… itu saja sudah cukup," katanya. "Aku senang mendengarnya."
Chéri mengangkat wajahnya dengan mata dan mulut membulat.
"Hmmh!" Vladimir mendengus tipis dan menyeringai. "Cinta," katanya. "Aku tak tahu yang mana yang cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi hal itu tergambar jelas dari sorot matanya. Apa mungkin karena peran mereka saja."
Mikail mengerjap dan menelan ludah. Tapi perhatiannya tak bisa berpaling dari Chéri dan Rafaél.
Rumpun mawar merekah di belakang mereka, menyala dibantu pencahayaan berwarna merah membara.
"Buruk Rupa," pekik Chéri seraya mengedar pandang ke sekeliling rumpun bunga di kiri kanannya. "Mawar-mawar ini… membara," katanya seraya menempelkan ujung jari pada bibirnya. "Apa ini karena sihirmu?" Chéri bertanya seraya berbalik menghadap Rafaél.
Rafaél tertunduk menatap Chéri, kemudian berpaling ke sembarang arah dan menerawang ke arah rumpun mawar di belakang Chéri. "Mawar-mawar itu adalah bagian dari diriku," katanya. "Mereka mencerminkan jiwaku. Jika hatiku sedang gundah, mawar-mawar itu juga akan layu."
Chéri mendongak mengamati wajah pria itu dengan penghayatan yang intens.
"Sekarang hatiku sedang membara," Rafaél menoleh pada Chéri. "Jadi mawar-mawar itu juga membara."
__ADS_1
Box light bunga mawar itu berkeredap.
"Buruk Rupa…" Chéri memekik lagi.
Rafaél terperangah di balik topengnya.
Keredap cahaya itu tidak ada dalam skenario.
Apa yang terjadi? pikir Chéri.
"Bukankah itu box light bunga mawar?" Salah satu staf bagian pencahayaan mulai khawatir.
"Habis… kondisinya memang sudah tidak memungkinkan," rekannya beralasan. "Mudah-mudahan tidak apa-apa."
"Sejak remaja, Rafaél sudah menjadi sosok aktor yang luar biasa dengan segudang bakat." Vladimir bercerita. "Itulah sebabnya kenapa aku begitu menyukainya dan memakainya."
Mikail tetap bergeming. Perhatiannya belum berpaling dari Chéri dan Rafaél.
"Ada kalanya keindahan paras itu terlihat angkuh," lanjut Vladimir seraya menatap Rafaél di kejauhan. "Mungkin karena ia masih belia." Pria itu mendesah pendek. "Seandainya ia menunjukkan sisi rapuhnya sedikit saja…" Vladimir bergumam. "Dia pasti tak tersaingi."
Mikail melirik Vladimir melalui sudut matanya.
Vladimir balas meliriknya. "Jika kau terlalu sempurna, orang lain tak akan sanggup mengikutimu," katanya seraya tersenyum tipis. "Jadi… lebih baik memperlihatkan kelemahanmu sedikit," pria itu mengedipkan sebelah matanya pada Mikail.
Mikail mendengus. "Dengan kata-kata itukah kau memperdaya Demian?" Ia bertanya sinis. "Rafaél terlalu sempurna. Kau takkan sanggup mengikutimu. Kalau kau ingin berkembang, tinggalkan dia---khianati Rafaél?"
Vladimir terkekeh.
"Apa lagi yang kau katakan padanya?" Mikail melanjutkan.
Mikail mengetatkan rahangnya. "Ternyata memang kau yang melakukannya?" Mikail menyimpulkan.
"Buruk Rupa, lihat!" Chéri berseru seraya membungkuk di depan kolam buatan di antara rumpun mawar. "Airnya segar," katanya. "Cobalah!" Chéri menyodorkan air dengan kedua tangannya.
Rafaél memelototinya seraya beringsut mundur.
"Ah, aku akan mengambil cangkir!" Chéri tergagap dan buru-buru berbalik.
Rafaél menyergap bahunya. "Tidak apa-apa begitu saja! Itu memang pantas untuk binatang sepertiku," katanya setengah menggeram, kemudian membungkuk, merenggut kedua tangan gadis itu dan menyusupkan mulutnya.
Chéri tercekat.
Box light bunga mawar kembali berkeredap. Lebih jelas dari sebelumnya hingga menarik perhatian Mikail.
"Ah! Box light itu lagi!" Para penata lampu memekik bersamaan.
Rafaél menarik bangkit tubuhnya.
"Buruk Rupa—" Chéri tergagap.
Pria itu menatapnya tanpa berkata-kata.
"Rafaél!" Chéri berdesis memberi isyarat pada pria itu. "Dialog selanjutnya!"
__ADS_1
Pria itu tetap bungkam.
Para pemain yang mengintip pertunjukan di belakang panggung mengerutkan dahi.
"Dia melupakan dialognya," gumam Sesha panik.
Secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, Rafaél memutar tubuhnya dan menghambur meninggalkan panggung.
"Rafaél!" Chéri terperangah.
"Aduh!" Pengawas panggung mengerang jengkel seraya mengusap wajahnya.
Mikail tercekat di tempatnya.
"Lampu, fade out!" Pengawas panggung menginstruksikan. "Loncat ke babak 7!"
"Apa-apaan ini?" Vladimir tergelak dan terbahak-bahak. "Masak dia lupa dialognya?"
Mikail menggeram pada pria itu seraya merenggut kerah bajunya. Kemudian meninju wajahnya dan menghambur dari tempat itu.
Antek-antek Vladimir beranjak serempak.
Tapi Mikail sudah menghilang di balik pintu masuk penonton ketika mereka mencoba menyusulnya.
"Just enough," sergah Vladimir. "Kita pulang!"
Pria-pria bertampang sangar itu serentak mengikutinya.
Mikail sudah berbelok di ujung selasar ketika Vladimir dan anak buahnya keluar dari auditorium.
Suasana di belakang panggung terdengar gaduh.
Semua orang berteriak ribut di depan ruang kostum, sementara Rafaél mengurung dirinya.
"Rafaél! Buka pintunya!" Beberapa staf berteriak gusar sembari menggedor-gedor pintu.
Drama ini hancur total, pikir Chéri getir seraya mengawasi kegaduhan di depan ruang kostum.
Beberapa staf memandanginya dengan ekspresi memohon.
Chéri bergegas ke arah mereka dan menguak kerumunan. Kemudian menggedor pintu itu. "Rafaél! Ini aku—Chéri. Buka pintunya!"
Pintu itu serentak membuka. Serta-merta Rafaél merenggut lengan Chéri dan menghela gadis itu ke dalam. Kemudian menutup kembali pintunya dan menguncinya.
Chéri terperanjat. "Kenapa pintunya dikunci?"
Rafaél tidak menggubrisnya. Ia menghela tubuh Chéri dan memeluknya.
Chéri memekik terkejut dan menyentakkan tubuhnya, berusaha melepaskan diri.
Tapi pria itu menyeringai seraya mengetatkan rangkulannya.
Apa yang terjadi? pikir Chéri. Diamatinya wajah pria itu dengan alis bertautan.
__ADS_1
Ada yang aneh dengan Rafaél!
Raut wajah pria itu tak seperti biasanya.