
"Siapa dia?" Seseorang berteriak.
Chéri mengangkat wajahnya. Kyle? Kenapa dia masih di sini?
Semua mata dalam ruangan tertuju pada Kyle dengan sorot permusuhan.
Dalam kebekuan yang menyiksa itu, Sesha tiba-tiba menyela. "Chéri benar, kita tak punya waktu lagi."
"Sesha!" Evaline berusaha memprotes.
"Teman-teman…" Sesha menepuk-nepukkan kedua tangannya, mengabaikan protes Evaline.
Perhatian semua orang kembali teralihkan.
"Mungkin sebaiknya kita beri kesempatan pada Chéri," usul Sesha. "Kalau Chéri mengecewakan kita, kalian boleh memprotesnya setelah pertunjukan."
"Benar," timpal Ibrahim. "Kita semua tahu insting Rafaél jarang meleset. Selama ini kalian tidak pernah meragukannya, kan? Jadi, kenapa sekarang kalian meragukannya?"
Seisi ruangan terdiam.
Chéri masih membungkuk.
Rafael dan Mikail kembali bertukar pandang.
"Kalian meragukan Chéri karena dia masih pemula atau karena perlakuan istimewa Rafaél pada Chéri hingga kalian merasa khawatir akan tersaingi?" Ibrahim mengedar pandang dan tersenyum sinis.
Beberapa orang terdengar gusar.
"Berdirilah, Chéri!" Ibrahim menghampiri Chéri dan menariknya.
"Ayo, semuanya!" Sesha menyemangati semua orang. "Suhu di sini sudah terlalu panas," katanya seraya tertawa gelisah. "Kau juga!" Ia menyikut Saul yang berdiri di sampingnya. "Tepuk tangan untuk aktris pendatang baru kita!"
Hening sesaat.
Kyle bertepuk tangan untuk memprovokasi semua orang. Beberapa orang mendukungnya, sedikit ragu. Lalu akhirnya semua orang mulai bertepuk tangan.
Mikail dan Rafaél menghela napas lega.
Chéri tersenyum sedih dan menatap Sesha. Kecemasan seketika menyergapnya. Apakah aku akan mengecewakan mereka?
Rafaél menyelinap ke dalam ruang administrasi. Mikail mengikutinya. Pintu tertutup di belakang mereka.
"Ayo, kumpulkan naskah yang berserak itu!" Sesha mengambil alih komando.
Semua orang mulai bergerak, sebagian membungkuk memunguti lembaran naskah, sebagian menyisih dan bersungut-sungut, sebagian lagi tetap bersikap profesional, kembali ke ruangannya masing-masing dan kembali fokus pada pekerjaannya, meninggalkan bunyi berdebuk dan berkeriut yang membahana memenuhi ruangan. Membuat seluruh ruangan seketika berubah gaduh. Menggambarkan kehidupan yang kembali normal.
"Wah, perubahannya sebesar ini?" Saul menggerutu seraya memeriksa lembaran naskah yang telah berhasil dikumpulkannya.
"Kau sebaiknya membersihkan diri," saran Ibrahim pada Chéri.
"Ah, terima kasih!" Chéri tertawa ringan dan menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, kemudian melirik Kyle.
Anak laki-laki itu mengacungkan ibu jarinya seraya mengedipkan sebelah matanya pada Chéri.
__ADS_1
"So… apa lagi yang kau khawatirkan sekarang?" Mikail menyeringai di balik pintu dalam ruang administrasi.
Rafaél terkekeh tipis dan menggeleng-geleng. "Sulit dipercaya," katanya. "Anak itu baru saja menyelamatkanku!"
"Betul-betul marionette yang bagus," goda Mikail. "Dia terlihat hebat tadi. Aku sampai terpesona melihatnya."
"Diam kau!" sergah Rafaél.
Mikail tergelak menanggapinya. Kemudian berjalan ke mejanya. "Apa kau tak sadar, bukan hanya Chéri, tapi semua anggota teater ini merupakan marionette yang dapat kau kendalikan sesuka hatimu?"
"Apa itu salah?" Rafaél menatapnya. "Ini adalah dunia ciptaanku," ia berkilah. "Sudah seharusnya mereka patuh padaku. Kalau tidak, karyaku tidak bisa terwujud."
Mikail mengedikkan bahunya dengan sikap pasrah.
"Omong-omong, siapa anak laki-laki yang membela Chéri?" Rafaél menoleh pada Mikail. "Dia bukan anggota kita, kan?"
"Hanya anak SMU," jawab Mikail seraya menyelinap ke mejanya, kemudian duduk dan bersedekap. "Anggap saja malaikat bumi yang dikirim Tuhan untuk melindungi Chéri. Lagi pula dia juga menyelamatkanmu!"
Pintu ruang administrasi tiba-tiba berderak membuka.
Demian menyeruak masuk dan memprotes. "Apa-apaan ini?"
Mikail dan Rafaél serentak menoleh.
"Kenapa adeganku banyak yang dipotong?" Demian mengacung-acungkan lembaran naskah ke wajah Rafaél.
Rafaél mengerang dan mendesah pendek. "Yang penting kau tetap dapat peran utama, kan?"
"Tapi ini benar-benar keterlaluan," geram Demian. "Kenapa hanya ada dialog Si Cantik?"
"Ah, aku hanya mencoba menggambarkan perempuan dengan lebih baik," sanggah Rafaél datar.
"Jadi dialognya kau sesuaikan dengan anak itu?" Demian menggumam dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.
Si Cantik itu… gadis seperti apa, ya?
Si Cantik memiliki dua orang kakak perempuan dan tiga orang kakak laki-laki.
Dia menyukai bunga mawar dan seorang pekerja keras.
Seorang gadis yang bersedia mati demi ayahnya.
Dia bisa melihat kebaikan hati si Buruk Rupa tanpa disesatkan oleh keburukan parasnya.
Chéri membolak-balik halaman naskah dengan gelisah.
Malam semakin larut ketika ia masih masih mencoba memahami perannya, sementara jendela kamarnya masih terbuka.
Angin berembus mengempaskan tirai putih tipis yang masih tersibak, kemudian menyapu wajahnya yang berkerut-kerut khawatir sepanjang malam.
Sudah lebih dari delapan jam ia berkutat di meja tulisnya, membaca naskah itu berulang kali. Tapi tak satu pun membuatnya mengerti.
Ah! Chéri mengerang frustrasi.
__ADS_1
Masih lebih mudah baginya memahami karakter binatang.
Karakter manusia begitu rumit, pikirnya.
Keesokan harinya, di ruang latihan…
"Buruk Rupa! Jangan mati! Aku sudah kembali… aku merindukanmu." Chéri menghambur ke arah Demian yang terbaring di lantai dan meraupnya, menarik pria itu ke dalam pelukannya.
"Aku senang mendengar kata-katamu itu…" Demian berkata lemah. "Tapi sudah terlambat," katanya terengah-engah.
"Tidak, Buruk Rupa! Bangunlah!" Chéri berteriak dan mengguncang tubuh Demian, berusaha menghayati perannya, memasang ekspresi sedih tapi tak mampu menangkap perasaan rindunya. "Saat aku berpisah denganmu… aku sangat merindukanmu," katanya hampa.
Rafaél menyimak dialog itu sambil cemberut.
"Tanpa kusadari, aku… telah mencintaimu." Chéri melanjutkan.
"Tak ada harapan lagi bagiku," Demian mengulurkan tangannya ke wajah Chéri. "Yang aku inginkan hanyalah… melihat wajahmu sekali lagi…" tangan Demian terkulai. Tubuhnya seketika melemas dan tidak bergerak lagi.
"Buruk Rupa…"
BRUAK!
Rafaél menggebrak mejanya.
Chéri dan Demian mengerang bersamaan.
Lagi? Demian menggerutu dalam hatinya. Aku harus menunggu lagi!
Rafaél menyelinap keluar dari mejanya kemudian menghambur ke tengah ruangan, menghampiri Chéri.
"Maaf," kata Chéri. "Di tengah-tengah tadi, aku tiba-tiba kehilangan konsentrasiku." Chéri berusaha menjelaskan. "Aku akan mencobanya sekali lagi."
"Bangun!" Rafaél menggeram seraya merenggut bahu gadis itu dan menariknya.
"Baik, aku akan bangun!"
"Hah!" Cyzarine terkekeh di barisan penonton. "Dasar amatir. Tampaknya double cast ini tidak berguna sama sekali. Aku masih saja harus berkerja keras."
"Aku sebetulnya tidak malu melakukan adegan percintaan, tapi… entah kenapa aku tak bisa merasakan Si Cantik secara alami!" Chéri berusaha membela diri. "Tunggu sebentar…"
"Dasar bodoh," Cyzarine mencemooh. "Bukan pemain yang memperlihatkan hal itu!"
"Coba ulangi!" Perintah Rafaél.
"Saat aku berpisah denganmu… aku sangat merindukanmu," desis Chéri. "Tanpa kusadari, aku… telah jatuh cinta padamu." Chéri menatap Rafaél dengan tatapan sendu.
Rafaél mengulurkan tangannya ke wajah Chéri, menirukan adegan Si Buruk Rupa yang diperankan oleh Demian. "Tak ada harapan lagi bagiku, yang aku inginkan hanyalah… melihat wajahmu sekali lagi."
"Buruk Rupa!" Chéri menghambur ke pelukan Rafaél dan menangis.
Seisi ruangan terkesiap dan menahan napas.
Benar-benar alami!
__ADS_1
Akhirnya, pikir Chéri. Aku bisa menangkap perasaan Si Cantik.
"Itu sudah bagus," bisik Rafaél. Kemudian melepaskan pelukannya perlahan.