Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 62


__ADS_3

"Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan, Valentin memiliki catatan kejahatan," jelas Mikail pada Chéri. "Di usia tiga belas tahun, dia terlibat perampokan dan… pembunuhan di usia lima belas tahun."


Chéri menyimaknya dengan ekspresi syok.


"Dan menurut perhitunganku, dalam beberapa hari ini, kemungkinan Valentin akan mencarimu lagi." Mikail menambahkan.


Chéri menggeleng tipis dengan mulut terkatup.


"Aku berencana untuk menyodorkan umpan," ungkap Mikail. "Yaitu kau."


Chéri membelalakkan matanya. "Tapi—"


"Tidak ada cara lain, Chéri!" Mikail berusaha meyakinkan Chéri. "Pria ini sangat berbahaya."


Chéri melemas di tempat duduknya.


"Kau harus menggiringnya ke tempat sepi," Mikail menginstruksikan. "Aku akan meminta bantuan pada keluarganya supaya mereka mengirimkan beberapa orang bodyguard."


Pada saat Mikail menjelaskan rencananya, Chéri belum bisa membayangkan penanganan seperti apa yang akan dilakukannya. Tapi dia mulai mengerti bahwa Valentin memang layak untuk dikurung. Jadi Chéri memutuskan untuk bekerja sama dalam rencananya.


"Kali ini kita tak boleh gagal," gumam Mikail. "Sekali saja kita gagal menangkapnya, maka selamanya kita mungkin tak bisa mengejarnya. Valentin akan bertindak lebih waspada."


Tak sampai dua puluh empat jam, bantuan dari keluarga Moscovich pun mulai berdatangan.


Sebagian besar dari mereka berbadan besar seperti tentara. Pria-pria berbadan kekar itu ditempatkan di sekitar apartemen Chéri di tempat tersembunyi. Beberapa di antaranya mengawasi Chéri juga dari tempat tersembunyi.


Selain itu, Mikail juga memasang mikrofon kecil di pakaian Chéri untuk berkomunikasi.


Untuk sesaat Chéri merasa sedikit tenang berada dalam pengawalan para bodyguard itu. Itu membuatnya merasa aman di tempat Vladimir Valensky. Tapi sebagian dari dirinya merasa risih karena mereka mengikutinya ke mana-mana, bahkan ketika ia memasuki kamarnya. Para bodyguard itu berjaga di luar, sementara Mikail terus memonitor dirinya melalui mikrofon.


Chéri melepaskan mikrofon kecil dari kerah bajunya dan menaruhnya di meja tulis. Ia melucuti pakaiannya dan bergegas ke kamar mandi. Tapi ketika tubuhnya yang sudah telanjang bulat mulai tenggelam di bak mandi, suara musik terdengar dari kamarnya.


Chéri mengerutkan keningnya dan menyimak. Mungkin Mikail, pikirnya.


Tapi Mikail bahkan tidak bergerak di tempat duduknya di ruang perapian. Pria itu tersentak seraya menjauhkan mikrofon dari telinganya, terkejut karena suara musik itu terdengar begitu keras di mikrofonnya.


"Ada sesuatu?" Salah satu bodyguard bertanya pada Mikail.


"Tidak," jawab Mikail cepat-cepat. "Hanya musik."


"Musik?"


"Sepertinya Chéri sedang mendengarkan musik," jelas Mikail.

__ADS_1


"Apa perlu kita masuk untuk berjaga-jaga?" Bodyguard lainnya ikut bicara.


"Chéri sedang mandi," jawab Mikail. "Kita tunggu sebentar lagi."


Para pengawal itu mematuhinya.


Tanpa mereka sadari, bayangan tinggi seseorang berkelebat di jendela kamar Chéri.


Langkahnya ringan dan luwes. Tidak terlihat mencurigakan seperti seseorang yang sedang mengendap-endap.


Chéri mendengar suara berderit pelan ketika tiba-tiba pintu kamar mandinya terkuak. Gadis itu menyentakkan kepalanya ke samping dan memekik.


Valentin muncul sembari menyeringai. Pintu tertutup di belakangnya.


"Mikail!" Chéri spontan berteriak memanggil bantuan.


"Tidak ada gunanya berteriak," kata Valentin. "Pria cantik itu hanya akan mendengarkan musik dari mikrofonnya."


Chéri menelan ludah dan tertunduk dengan wajah pucat. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.


Valentin menyandarkan sebelah bahunya ke dinding, tak jauh dari bak mandi, menatap Chéri dengan ekspresi lapar binatang buas yang menemukan mangsanya.


Chéri beringsut merapatkan kedua kakinya dan bergelung dalam air.


Valentin menyeringai sekali lagi. "Di tempat ini, aku akan selalu bersamamu," katanya penuh percaya diri. "Para pengacau yang mondar-mandir itu hanya merusak pemandangan saja."


"Aksi pengintaian ini hanya tindakan sia-sia," cemooh Valentin. "Buktinya aku bisa masuk dengan mudah ke kamar ini tiga jam yang lalu."


Tiga jam yang lalu? Chéri menelan ludah. Jadi, dia memang sudah tahu kalau dia sedang diikuti.


"Sebagai pemiliknya, kalau menyangkut kamar ini, tidak ada yang lebih teliti daripada aku."


Chéri beringsut semakin ke sudut. Dia mengedar pandang dengan gelisah melalui sudut matanya, mencoba mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya. Handuk dan jubah mandinya tergantung agak tinggi dan ia perlu berdiri untuk meraihnya.


Oh, Tuhan. Bagaimana ini? pikir Chéri merasa terjebak.


"Sekarang, di sini hanya ada kita berdua," desis Valentin sembari merunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Chéri. "Ayo, serahkan saja dirimu dengan patuh!"


Chéri berusaha berpikir keras untuk membebaskan diri. Tapi dia tahu pria ini bisa menangkapnya dengan mudah. Posisinya benar-benar tersudut.


Pria itu mengulurkan tangannya ke wajah Chéri dan mengusap lembut pipinya dengan buku jarinya. "Wajahmu yang muram sungguh menggemaskan," katanya.


Chéri memercikkan air ke wajah pria itu.

__ADS_1


Pria itu mengerjap dan terlihat jengkel. Tindakan gadis itu hanya memancingnya untuk bertindak lebih jauh. Dengan kasar, Valentin menarik gadis itu dari air dan memeluknya.


Chéri menjerit sekuat tenaga, memanggil Mikail. Tapi semua usahanya sia-sia belaka.


Pria itu sudah mendapatkan dirinya sepenuhnya.


Memberontak dan menggeliat-geliut dalam rengkuhan pria itu hanya membuatnya semakin bergairah.


Valentin membenamkan mulutnya di leher Chéri. Tubuh polos gadis itu membuatnya menggila. Sebelah tangannya mulai menjalar ke sana kemari, menjamah seluruh bagian tubuh Chéri dengan leluasa.


"Lepaskan aku!" pekik Chéri seraya mendorong bahu Valentin.


Percuma.


Pria itu hanya perlu menurunkan sedikit celananya dan dia sudah bisa menggagahinya. Tapi Valentin bukan tipe orang yang suka terburu-buru. Dia melakukan semuanya secara bertahap. Lembut namun cekatan. Keras namun membujuk.


Chéri hampir tergoda untuk menyerah. Tapi kemudian dia mengingatkan dirinya bahwa pria itu bukan Rafaél. "Jangan berbuat semaunya, ini bukan tubuhmu." Chéri berusaha membuat pengalihan. Dan itu sepertinya berhasil.


Valentin spontan berhenti dan memelototinya. "Tubuh ini milikku," geramnya.


"Aku tidak percaya kalau tubuh ini milikmu," Chéri bersikeras. "Tunjukkan buktinya. Tunjukkan kalau tubuh ini milik Valentin."


Valentin melepaskan rengkuhannya.


Chéri memanfaatkan kesempatan itu untuk meraih jubah mandi yang tergantung pada kapstok di dekat bak mandi, sementara pria itu sedang berusaha melucuti kemejanya.


Chéri sudah berhasil membungkus tubuhnya ketika pria itu menunjukkan sebuah tanda yang cukup mencolok di pinggangnya.


Sebuah bercak berwarna cokelat seukuran koin berbentuk abstrak.


"Sudah puas sekarang?" Valentin menghardiknya.


"Ya," jawab Chéri seraya mengikatkan tali di pinggangnya. "Tidak salah lagi, tubuh ini memang milikmu," katanya seraya beringsut menjauhi Valentin, lalu mencelat ke arah pintu.


Valentin terkekeh dan menyusulnya. Lalu menyergap pinggang gadis itu dengan mudah dan melemparnya ke tempat tidur. Kemudian menindihnya.


"Tolooooong!" Chéri berteriak ke arah mikrofon di meja tulisnya.


Valentin membungkuk dan mengarahkan wajahnya ke leher Chéri, tapi kali ini bukan untuk memagutnya, dia membisikkan sesuatu di telinga Chéri. "Jangan percaya pada Mikail," Valentin memperingatkan.


Apa maksudnya? Chéri membeku.


Bersamaan dengan itu, pintu kamar Chéri berhasil didobrak. Mikail dan para bodyguard Moscovich menyeruak ke dalam dan membekuk Valentin.

__ADS_1


Chéri tergagap menatap wajah pria itu dengan ekspresi bimbang.


Pria itu mengedipkan sebelah matanya pada Chéri ketika para bodyguard memeganginya di sana-sini.


__ADS_2