Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 53


__ADS_3

Meninggalkan ruang administrasi, semua orang tampak bersemangat—kecuali Chéri.


Kyle meliriknya di ambang pintu, sesaat sebelum ia keluar.


Chéri tidak menyadarinya.


"Bersemangatlah, Chéri!" Kyle menegurnya.


Gadis itu terperangah.


Kyle memutar tubuhnya menghadap Chéri dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku suka wajahmu yang sedang tertawa," katanya. "Lalu setelah itu… baru wajahmu yang sedang marah!"


Chéri menautkan alisnya.


Kyle membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Chéri, kemudian berbisik. "Lebih suka lagi melihat wajahmu dengan leluasa!" Ia menambahkan. "Sekarang aku bebas memandangmu tanpa gangguan si arogan!"


"Heh—" Chéri sontak menggerutu dan memelototinya.


"Nah!" Kyle menudingkan telunjuknya ke wajah Chéri. "Wajah itu yang kumaksud," serunya gembira. "Kau mulai bersemangat, kan?" Kyle berlanting dan mencelat keluar ruangan seraya melambaikan tangannya. "Bye!"


Chéri tersenyum geli. "Dasar Kyle!" gumamnya seraya menggeleng-geleng.


Padahal anggota MoscovArt Theatre semuanya baik, kenang Chéri sedih. Tapi aku malah mengkhianati mereka demi melindungi rahasia besar Rafaél.


Entah bagaimana nantinya reaksi mereka ketika tiba saatnya aku diambil oleh Vladimir dan dibawa ke Tsar Dramy di depan mata mereka.


Mungkin akan lebih tidak menyenangkan dibanding saat pertama kali aku datang sebagai amatir.


Ah… Chéri menghela napas berat dan mengembuskannya tak kalah berat.


Rafaél…


Aku harus bagaimana?


Memasuki kamar pria itu, perasaan Chéri semakin bertambah hancur.


Lalu tiba-tiba pesawat telepon di meja kerjanya berdering.


Rafaél? harapnya. Lalu buru-buru mengangkatnya.


"Halo!" sapa orang di seberang telepon.


Bukan Rafaél! batin Chéri. "Siapa ini?" Ia bertanya sedikit menghardik.


"Uh, oh—baru beberapa hari sudah melupakanku!" gerutu pria di seberang telepon. "Apa kau tidak merindukanku barang sedikit?"


"Mikail!" Chéri menyadari. Kukira Vladimir Valensky, pikirnya. "Kenapa baru menghubungiku? Apa yang terjadi? Di mana kau sekarang? Apa kau sudah bertemu Rafaél? Apa kau mendapatkan petunjuk tentang keberadaannya?"


"Hei—jangan memberondongku dengan pertanyaan sebanyak itu!" Mikail memprotes. "Waktu kita masih panjang. Bisakah kau tenang sedikit? Aku baru saja bangun!" Terdengar suara menguap.


Baru bangun tidur? Chéri melirik jam dinding di dekat pintu kamar Rafaél.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11.16.


Mikail bukan tipe orang yang suka bangun kesiangan meski tidur lebih malam.

__ADS_1


"Di mana kau sebenarnya?" Chéri bertanya lagi. "Pukul berapa di sana?"


"Aku di Washington, perbedaan waktu di sini dengan Moskow terpaut tujuh jam."


Pantas saja, pikir Chéri.


"Di sini masih terlalu pagi," gumam Mikail seraya menguap lagi. "Tapi siang ini aku harus ke Harvard University, katanya tiga hari yang lalu, Rafaél berada di sini."


"Tiga hari yang lalu?" Chéri menyela tak sabar. "Berarti sekarang—"


"Aku butuh sandwich dan segelas susu," goda Mikail.


Chéri sontak menggerutu.


Mikail hanya terkekeh menanggapinya.


"Apa mungkin si kepribadian lain muncul, lalu dia lari begitu saja?" Chéri bertanya lagi.


"Menurutku sekarang Rafaél lebih dominan," Mikail menyimpulkan. "Aku bisa pastikan itu. Kalau dilihat dari setiap tempat yang dikunjunginya, aku bisa menebak tujuan perjalanannya kali ini untuk menelusuri masa lalunya."


"Menelusuri masa lalunya?"


"Waktu dia kembali ke Moskow, usianya 17 tahun. Waktu mulai mengenal dunia teater, usianya 16 tahun. Waktu ia masuk Harvard, usianya 15 tahun. Aku menduga, sekarang dia sedang menelusuri masa ketika dia berusia 14 tahun."


"Tapi untuk apa?"


"Sebetulnya ini hanya dugaanku saja!" Mikail berkilah. "Kurasa Rafaél menyadari adanya sesuatu atau peristiwa di masa lalu yang menjadi pemicu munculnya kepribadian ganda, itulah yang sedang dia cari sekarang!"


Chéri menautkan alisnya.


Benar! Kalau kita mengetahui kapan sesuatu dimulai, kita akan tahu penyebab utamanya! Chéri membatin setuju.


"Peristiwa yang menjadi pemicu munculnya kepribadian lain, itu saja!" Mikail menambahkan. "Tapi—" pria itu menggantung kalimatnya.


"Tapi apa?" Chéri penasaran.


"Akankah dia mengetahui seberapa mengerikannya kenyataan itu?"


"Kenyataan yang mengerikan?" Chéri menggumam.


"Maafkan aku, Chéri! Aku selalu saja memberimu kabar yang mengkhawatirkan!"


Chéri tergagap.


"Tapi tekadmu takkan berubah, kan?"


"Tidak!" Chéri menjawab cepat-cepat. "Aku baik-baik saja! Lanjutkan saja pencarianmu. Temukan Rafaél! Aku hanya khawatir terjadi sesuatu padanya. Jangan lupa kabari aku lagi!"


Setelah panggilan berakhir, Chéri pun meringkuk di tempat tidurnya, menatap nyalang kekosongan yang menyiksanya.


Apa cukup hanya dengan menunggunya? pikir Chéri getir.


Jaga dirimu, Rafaél! Chéri berdesis lirih di dalam hatinya.


Aku bisa gila kalau terus mengurung diri, pikirnya. Aku tidak bisa begini terus. Aku harus melakukan sesuatu.

__ADS_1


Mungkin sebaiknya aku menemui Vladimir!


Entah kenapa semakin lama menunggu, aku merasa masalah ini akan semakin sulit untuk diselesaikan.


Vladimir tak mungkin menyuruhku menunggu tanpa alasan!


Mari kita lihat bagaimana reaksi Vladimir jika aku datang lebih cepat!


Chéri beranjak dari tempat tidurnya, bersiap dan bergegas keluar ruangan.


Berbekal alamat yang didapat dari buku telepon di ruangan Mikail, gadis itu akhirnya sampai di Tsar Dramy beberapa menit kemudian dan tercengang.


Whoa—besar sekali, batinnya takjub. Apa seluruh bagian gedung ini milik Tsar Dramy?


Bangunan itu terdiri dari dua puluh lantai dan luasnya hampir setara dengan mall.


Punya gedung seluas ini tapi lebih memilih pentas di Bolshoi Theatre? Chéri tak habis pikir. Keuangan mereka pasti lumayan bagus!


Chéri melangkah ke dalam dan mengedar pandang, sekali lagi gadis itu berdecak kagum. Benar-benar luas, pikirnya. Di mana letak kantornya?


"Hei—kau! Cepat sedikit!" Seseorang berteriak dari dasar tangga.


Chéri tersentak dan terkesiap. Apa dia memanggilku?


Seorang anak laki-laki—mungkin seusia dirinya—setidaknya begitulah perkiraan Chéri, menatapnya seraya berkacak pinggang. Postur tubuh, bentuk wajah, juga potongan rambutnya mengingatkan Chéri pada Kyle. Hanya saja raut wajahnya tidak terlihat ramah.


Apa dia salah satu anggota Tsar Dramy? Chéri bertanya-tanya dalam hati.


"Ah—aku… Chéri Dutchskova!" Chéri memperkenalkan diri dan bermaksud menanyakan di mana kantor Tsar Dramy dan bagaimana dia dapat menemui Vladimir Valensky. "Aku datang ke sini untuk—"


"Untuk ikut audisi?" Anak itu memotong perkataan Chéri. "Studio lantai 2!" Anak itu memberitahu.


Chéri memaksakan senyum dan terpaksa mengikuti instruksinya.


"Cepat sedikit! Lambat sekali!" Anak itu menghardiknya.


Chéri mengerang seraya memutar-mutar bola matanya dengan tampang sebal. Apa-apaan dia? gerutunya dalam hati. Masak tidak bisa membedakan?


Di lantai 2, di depan pintu ruangan bertulisan: Studio A, Chéri melihat antrian panjang dan banyak sekali orang bersedak-desakkan.


Jadi di sini studionya? pikir Chéri.


"Halo! Ada yang tahu di mana Vladimir?" Chéri bertanya pada beberapa orang. Tapi rata-rata hanya menjawabnya dengan alis bertautan.


"Mohon berbaris sesuai nomor urut masing-masing!" Seorang anak laki-laki memberi instruksi di dekat pintu masuk.


Itu pasti anggota Tsar Dramy! Chéri menyimpulkan.


Chéri berniat untuk menanyakan keberadaan Vladimir pada anak itu. Tapi beberapa orang mendorongnya dari belakang.


"Hei! Cepat sedikit!" Seseorang berteriak tak sabar.


Chéri terseret arus kerumunan hingga ke dalam studio.


"Kepada seluruh peserta audisi pemeran figuran untuk pementasan bulan Mei, diharapkan untuk secepatnya memasuki ruangan karena acara akan segera di mulai!" Seorang anak laki-laki lain mengumumkan dari tengah ruangan melalui pengeras suara.

__ADS_1


Apa? Chéri membatin takjub. Untuk audisi pemain figuran saja pesertanya sampai sebanyak ini?


__ADS_2