
Babak terakhir drama Joan sudah mulai berjalan.
Para tentara Inggris berkerumun di atas panggung, bersiap untuk menyaksikan eksekusi.
Joan digiring ke tengah-tengah tentara musuh, diapit dua algojo berbadan besar.
Baju zirah Joan telah dilucuti!
Gadis ajaib yang mendengar suara Tuhan itu tampil sebagai gadis biasa dalam bungkusan pakaian berkabung.
"Ternyata tak sulit untuk menangkapnya," dialog salah satu tentara.
"Benarkah gadis Prancis kecil ini biang keladi yang telah menyusahkan kita?" dialog tokoh lainnya.
"Katanya dia dijuluki sebagai utusan Tuhan!" dialog tokoh yang lainnya lagi.
"Angkat kepalamu!" suara bariton seorang perwira memecah suasana.
Salah satu algojo mengangkat paksa wajah Joan menghadap perwira dan para petinggi kerajaan Inggris.
Para penonton menahan napas. Menatap Chéri tanpa berkedip.
"Cantik sekali," komentar beberapa orang.
Wajah Chéri tidak dirias untuk mendapatkan kesan pucat seorang tawanan.
"Whoaaaaa!" Pangeran kerajaan Inggris berseru. "Ternyata masih muda sekali!" Pangeran itu berdecak dan menyeringai. "Jadi… dengan wajah yang lugu ini kau memperdaya pasukan Prancis untuk melakukan perang suci?" cemooh sang pangeran. "Dasar penyihir!" dengusnya dengan sikap mencela.
"Aku bukan penyihir!" sergah Chéri dengan teknik suara getaran dari dasar perut.
"Bakar penyihir itu!" Sang pangeran memprovokasi.
"Bakar penyihir itu!"
"BAKAR PENYIHIR ITU!"
Para tentara itu berteriak-teriak bersahut-sahutan.
"Aku bukan penyihir!" Chéri berteriak di antara gaduhnya teriakan-teriakan nyalang para tentara.
Para penonton menegang.
"Kau utusan iblis!" Suara tokoh perwira Inggris menggelegar ke seluruh ruangan.
Membuat semua orang menahan napas.
"Kau telah menodai keagungan Tuhan!"
"Tidak," pekik Chéri tak berdaya. Gadis itu menggeliat-geliut dalam cengkeraman para algojo. Kemudian diseret ke dalam penjara. "Aku bukan penyihir!"
BRUK!
Tubuh mungil gadis itu terlempar dan mendarat di dalam jeruji besi.
Para penonton membekap mulutnya. Terenyuh.
Chéri duduk bersimpuh dengan ekspresi putus asa.
Keputusan hukum belum ditentukan.
Joan jatuh sakit karena persidangan agama dan masa tahanan yang panjang.
"Joan," seorang pendeta kerajaan Inggris menghampiri bilik tahanan.
Keputusan pengadilan sudah ditentukan.
"Besok pagi kau akan dihukum bakar," kata pendeta itu. "Apakah kau tidak ingin diselamatkan?"
Chéri tergagap dengan wajah frustrasi.
__ADS_1
Konsentrasiku buyar, katanya dalam hati. Suaraku tak sampai ke bangku penonton.
Tempat ini terlalu luas…
Lebih dari itu, konflik batin yang berkecamuk di dalam benaknya bukan lagi tentang perannya sebagai Joan.
Bukan lagi tentang memilih Tuhan atau hukuman bakar.
Apakah aku benar-benar masih mencintainya?
Chéri bertanya-tanya dalam hatinya.
Meskipun aku tahu Rafaél seorang pembunuh…
Apakah aku masih tetap mencintainya?
Rafaél bukan seorang pembunuh, kan?
Dia tidak melakukannya, kan?
Tidak!
Rafaél bukan pembunuh!
Surat keterangan dokter itu tidak membuktikan bahwa Rafaél adalah pelakunya.
Chéri mendesah berat dan meringis. Dadanya terasa sesak. Napasnya seperti tercekat di tenggorokan.
Semangatnya sirna seketika.
Mengingat sikap kasar Rafaél sewaktu pertama ia menginjakkan kaki di MoscovArt Theatre, pria itu kelihatannya tidak segan-segan membunuh seseorang.
Masihkah dia mencintai Rafaél?
"Sudah berapa kali kukatakan, aku hanya patuh pada Tuhan." Chéri memulai dialognya. Tapi suaranya terdengar lemah. Sepertinya aku kekurangan darah lagi, pikirnya.
"Tuhan? Tuhan macam apa yang kau maksud?" pendeta itu mendesak Joan. "Jika kau benar pengikut setia Tuhan, lalu kenapa Tuhan tidak menyelamatkanmu?"
"Sebetulnya ada di mana Tuhan yang kamu cintai itu?" pendeta kerajaan Inggris terus memprovokasi. "Apa kau benar-benar mencintai Tuhan yang memperlakukanmu seperti ini?"
Apa kau benar-benar mencintai Rafaél?
Chéri membeku dalam kebimbangan yang mencekiknya.
Kebimbangan Joan…
Kebimbangannya.
"Joan, aku bisa menyelamatkanmu," kata pendeta kerajaan Inggris. Lalu pria itu mengulurkan selembar kertas bersama sebatang pena melalui jeruji besi, melambai-lambaikannya ke arah Joan. "Kalau kau mau bersaksi bahwa suara Tuhan yang kau dengar hanyalah kebohongan belaka… kau akan dibebaskan."
Joan mengerjap dan mendongakkan wajahnya, menatap nanar pendeta itu.
Pandangan Chéri kembali memburam. Kepalanya terasa ringan sekaligus berat dalam waktu bersamaan.
"Hanya dengan menandatangani surat pengakuan ini…" pendeta itu melemparkan kertas dan pena di tangannya ke lantai penjara, tepat di hadapan Joan.
Chéri tertunduk mengamati kertas itu dengan wajah pucat. Tak bisa berkonsentrasi pada drama. Pusing dan mual menderanya.
"Kuberi kau waktu satu malam untuk mempertimbangkannya," pungkas pendeta itu, lalu berbalik dan bergegas pergi.
Chéri meraih kertas dan pena di depannya, kemudian berpikir keras, mencoba menimang-nimang. Tapi kepala kembali merayang.
Chéri mencampakkan kembali kertas dan pena itu, lalu memijat-mijat pelipisnya sembari mengernyit.
Para penonton menelan ludah.
Valentin dan Mikail mengawasi gadis itu dari sisi panggung.
Mikail melirik Valentin, mengamati wajah pria itu dari samping, mencoba menebak-nebak apa yang dipikirkan kepribadian lain Rafaél itu.
__ADS_1
Chéri menjatuhkan kepalanya ke lantai, membaringkan dirinya.
Detik-detik membosankan menyiksa para penonton.
Chéri hampir tak sanggup menarik bangkit tubuhnya. Sekujur tubuhnya benar-benar lemas.
Joan merangkak perlahan dan menarik kembali kertas pengakuan itu, lalu mengambil penanya. Bersiap menandatangani pengakuan itu…
Tapi kemudian melemparnya lagi. Lalu tertawa terbahak-bahak.
Suaranya bergema ke bangku penonton.
Para penonton terkesiap.
"Apakah akhirnya dia jadi gila karena ketakutannya?" Seorang penonton berkomentar.
Mikail mengawasi gadis itu dengan raut wajah prihatin. Entah kenapa rasanya ia bisa merasakan penderita Joan.
"Tuhan…" ratap Chéri. "Cabut saja nyawaku!"
Valentin membeku dengan tatapan sedih. Membayangkan jika itu keinginan Chéri…
Bagaimana jika dia yang menyerah?
Lalu memilih meninggalkan mereka berdua?
"Kuserahkan jiwaku hanya ke dalam tanganmu," desis Joan dalam ketidakberdayaannya. "Tidak ada penyesalan."
Aku tetap mencintaimu, Rafaél! Chéri membatin sedih.
"Aku tidak mengharapkan imbalan apa pun," Chéri melanjutkan dialognya. "Jika ini memang kehendak Tuhan, aku akan mati dengan bahagia!"
"Kini yang dapat kulihat hanya sosok Tuhan!"
Karena itu, kembalilah…
Rafaél, kembalilah!
Babak terakhir memasuki adegan puncak.
Tiang hukuman bakar terpampang di depan mata para penonton.
Chéri sudah terikat di atas tiang itu sebagai tervonis mati.
Api dinyalakan di bawah panggung.
Chéri terikat dengan rantai besi.
"Hebat," seru penonton.
"Itu api sungguhan, ya?"
"Bagaimana caranya, ya?"
"Luar biasa! Baru kali ini aku melihat pertunjukan yang seperti ini!"
Mikail dan Valentin menatap cemas adegan puncak itu.
Sebagian diri Valentin mulai khawatir drama ini akhirnya gagal, atau lebih tepatnya gagal mempesona Chéri. Sebagian dari dirinya yang lain mengkhawatirkan kondisi kesehatan Chéri.
Bagaimana kalau dia pingsan di atas sana?
Mikail sudah merasa kalah dan mengakui pementasan itu sukses besar.
Valentin telah membuktikan dirinya sebagai sutradara handal. Lebih handal dari Rafaél.
Bahkan Vladimir dibuatnya tak berkutik.
Rafaél kalah telak, pikir Mikail.
__ADS_1
Apakah dia melihat ini?
Akankah dia muncul untuk terakhir kali?