Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 40


__ADS_3

"Semangat! Semangat! Satu-dua! Satu-dua!" Mikail mengepak-ngepakkan kedua lengan Chéri.


Dramanya berjalan lancar, pikir Chéri ketika Rafaél bergegas meninggalkan panggung.


Tapi aku tetap merasa ada sesuatu yang berbeda.


Ah, sudahlah! Ia menyemangati dirinya. Yang penting dramanya bisa berjalan lancar, katanya pada diri sendiri. Apa pun yang terjadi, aku tak boleh patah semangat!


Begitu Rafaél turun dari panggung dan berpapasan dengannya, Chéri mengembangkan senyumnya pada pria itu dengan sikap tenang.


Rafaél terbelalak di balik topengnya.


Mikail menghadang Rafaél setelah Chéri naik ke panggung. "Bisa bicara sebentar?" Ia bertanya pada Rafaél.


Lalu keduanya menghilang di ujung koridor.


Chéri sudah berdiri cukup lama di belakang layar zanaves.


Cyzarine terus menerus merebut dialog yang seharusnya menjadi bagian Chéri. "Aku tak dapat memahami diriku…"


Aku tak suka dikurung di balik layar. Aku akan keluar! Chéri memutuskan. Kalau dia mendorongku, aku akan balas mendorongnya. Kalau dia tidak mempedulikan dialogku, aku akan berteriak sekuat tenaga. Tentu tidak apa-apa, kan? Sebab peran kami memang bertentangan.


"Dari hari ke hari, kalau aku tidak mendengar suara Si Buruk Rupa yang berat itu, kalau aku tidak melihat sosoknya yang mengerikan itu, aku merasa sangat kesepian. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta."


"Itu bukan cinta!" Chéri melangkah keluar. "Kau tidak bisa mencintai, Cantik!"


Whoa! Cyzarine terkesiap. Kukira takkan berani muncul lagi, katanya dalam hati. Aku sedikit salut padamu, Chéri Dutchskova!


"Kau sangat membenciku," lanjut Chéri.


"Ya, aku sangat membencimu!"


"Aku adalah hatimu, keyakinanmu. Seseorang yang tidak bisa mencintai dirinya sendiri tidak akan bisa mencintai orang lain!"


Cyzarine menelan ludah.


"Kau tak pernah jujur pada diri sendiri. Itu sebabnya tidak ada benda berharga yang kau inginkan dan tidak ada hal menarik yang ingin kau lakukan. Kau mengatakan ingin bunga mawar hanya karena ingin disenangi oleh ayahmu, padahal sedikit pun kau tidak menginginkan bunga mawar. Kau merasa kesepian karena Si Buruk Rupa selalu melayanimu dan memenuhi kebutuhanmu. Padahal dalam hatimu tak pernah ada perasaan cinta. Kau mengatakannya karena kau tahu Si Buruk Rupa bisa melihat isi hatimu."


"Tunggu sebentar!" Cyzarine menyela.


Aku takkan membiarkanmu memotong dialogku lagi, tekad Chéri. "Kau selalu saja begitu! Berpura-pura baik hati, menjadi anak yang baik…"


Aku menikmati dialog ini, pikir Chéri puas.


Aku suka Bayangan Si Cantik!


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" Cyzarine berteriak.


BRUK!


Chéri mendorong Cyzarine. "Tidak masalah kalau kau tak ingin mengakui dirimu sendiri, tapi kau akan kehilangan Si Buruk Rupa, karena aku bisa dengan leluasa mengambil alih tubuh ini sesuka hati!"


Cyzarine tidak membalas. Hanya membeku dengan hati tercubit. Dia takkan menyerah, pikirnya. Semakin ditekan, dia semakin memberontak!

__ADS_1


Sementara itu…


Di depan gudang bawah tanah, Mikail berhenti dan menoleh pada Rafaél. "Aku ingin minta maaf sebelumnya. Sebenarnya ini tidak terlalu penting," katanya. Kemudian memasukkan kunci, memutarnya dan membuka pintu gudang.


Rafaél mengerutkan dahi dan mengekor di belakang Mikail. "Apa ini soal Chéri?" Ia bertanya setelah mereka berada dalam gudang.


"Ya," jawab Mikail seraya menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Apa yang dia katakan?" Rafaél penasaran.


"Dia bilang…" Mikail menggantung kalimatnya dan tertunduk.


Rafaél mengawasinya dengan mata terpicing.


"Katanya kau bukan Rafaél," lanjut Mikail, kemudian berbalik, bergegas ke arah pintu, dan menoleh pada Rafaél. "Menurutku juga begitu," tandasnya seraya merenggut pegangan pintu.


Rafaél tergelak. "Kau ingin mengurungku?" Ia bertanya dengan raut wajah menantang.


Mikail mencelat keluar dan menarik pintu.


Tapi Rafaél menerjang ke arahnya dan menyelipkan sebelah kakinya sebelum pintu berhasil ditutup, kemudian merenggut bahu Mikail dan menariknya kembali ke dalam. Lalu meninjunya.


BRUK!


Mikail mendaratkan tinju di perut Rafaél pada saat bersamaan.


Rafaél terhuyung dan membungkuk memegangi perutnya.


"Maaf, sebetulnya aku tak ingin melukaimu karena itu tubuh Rafaél!" Mikail berbalik ke arah pintu, tapi Rafaél berhasil menjegal kakinya.


BRUK!


Mikail memekik tertahan dan menatapnya.


"Tapi asal kau tahu, semua ini bukan salahku. Rafaél sendiri yang sudah tidak punya keinginan untuk keluar."


"Ti---dak—" Mikail tergagap-gagap.


Rafaél mengetatkan cengkeramannya. "Ini dia orang yang selalu menghalangiku," geramnya sembari menyeringai. "Akhirnya aku mendapatkanmu, mendapatkan tubuhku, mendapatkan semua milik Rafaél."


Mikail mulai kehabisan napasnya sekarang.


"Dan yang paling penting, aku juga mendapatkan Chéri!" Rafaél menandaskan.


Mikail menyentakkan tangan Rafaél dari lehernya. Tapi tenaganya semakin menipis seiring kesadarannya yang mulai tenggelam.


Beberapa detik kemudian, Mikail terkulai lemas, tak bergerak lagi.


"Mimpi indah ya, Cantik!" Rafaél menyeringai seraya menyisihkan tubuh Mikail dan beranjak dari lantai.


"Angkut perlengkapan untuk babak 16," suara gaduh pengawas panggung menggema di koridor. "Keluarga Si Cantik stand by!"


"Mikail mana? Mikail!" Chéri bergegas ke sana kemari dengan sikap gelisah. "Ada yang lihat Mikail?"

__ADS_1


Rafaél melintas dan melewatinya tanpa menoleh.


"Kau lihat Mikail?" Chéri bertanya pada Rafaél.


Pria itu tidak menanggapinya.


Masih marah, ya? Pikir Chéri sembari mendesah.


Mikail ke mana, sih?


"Chéri! Kau naik ke pijakan layar zanaves bersama Rafaél!" Pengawas panggung meneriakinya.


Chéri menoleh sekali lagi ke ujung koridor untuk mencari sosok Mikail.


"Chéri sebelah sini!" Staf penata panggung memberitahu.


Rafaél sudah bertengger di papan gantung di belakang layar zanaves. Berdiam diri dengan raut wajah serius.


Chéri merangkak perlahan dan duduk di sampingnya.


Pria itu tetap bergeming.


Chéri meliriknya sekilas dengan sikap serba salah. Kalau dia memang Rafaél, aku bisa mengerti kenapa dia mengabaikanku, pikir Chéri. Tapi tetap saja aku merasa ada yang ganjil.


Apa dia benar-benar Rafaél?


Hanya ada satu cara untuk membuktikannya, pikir Chéri.


"Rafaél, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" Chéri bertanya hati-hati.


Rafaél menoleh.


"Soal peranku… kenapa kau tiba-tiba membuat dua peran Si Cantik?"


Kalau dia tidak bisa menjawab, berarti orang ini…


Rafaél mengalihkan pandangannya kembali ke depan. "Tadi malam aku terus berpikir, kenapa kepribadian lain itu selalu muncul."


Chéri mengawasi wajah Rafaél dengan teliti. Tidak ada yang salah, katanya dalam hati.


Tetap datar dan dingin seperti biasa!


Meski pria itu mengenakan topeng, Chéri bisa menggambarkan ekspresi wajahnya di balik topeng itu.


"Selama ini aku terus mengelak," tutur Rafaél dengan nada serius. "Tapi akhirnya aku mulai sadar, kalau aku ingin mengetahui tentang dirinya, aku harus menempatkan diriku di posisinya."


Chéri tertunduk. Dia memang Rafaél, pikirnya.


"Setiap manusia memiliki sisi depan dan sisi belakang. Sisi baik dan sisi buruk. Seseorang yang menganggap dirinya tidak memiliki sisi belakang adalah orang bodoh yang tidak mau mengakui keburukan diri sendiri."


Hah! Chéri menyentakkan kepalanya ke samping, menatap Rafaél dengan mata dan mulut membulat, hingga tak sadar tubuhnya nyaris terjengkang.


Rafaél spontan menyergap bahunya dan menahannya. "Hati-hati," katanya. "Pijakan ini tidak ada pegangannya. Kalau sampai jatuh kau bisa mati!"

__ADS_1


Bukan Rafaél! Chéri menyadari.


__ADS_2