
"Belum ada siapa-siapa. Dia tak akan curiga." Mikail berkata pada seseorang di line teleponnya. "Baik, Pak!"
Lalu tiba-tiba pintu kamar apartemen itu berderak membuka.
Mikail tersentak dan menutup panggilan itu secepat kilat secara diam-diam.
Chéri muncul dengan rambut kusut dan wajah basah kuyup oleh air mata yang bercampur hujan. Pakaiannya berantakan dengan beberapa kancing yang terlepas.
Mikail memekik tanpa suara.
Gadis itu menghambur ke dalam pelukannya sembari menangis.
"Chéri—kau kenapa?" Mikail bertanya cemas.
Chéri mengetatkan pelukannya di pinggang Mikail.
Pria itu menaikkan sebelah tangannya ke kepala Chéri dengan hati-hati. "Kau—"
"Aku bertemu Rafaél tadi," cerita Chéri terisak-isak.
Dada Mikail bergemuruh.
"Waktu dia sedang menceritakan soal penelusuran masa lalunya, kepribadian lain tiba-tiba muncul!"
"Apa yang dia lakukan padamu?" Mikail mengguncang kedua bahu Chéri.
Chéri menelan ludah dan menggeleng. "Aku tidak apa-apa," katanya cepat-cepat.
Mikail menatapnya dengan mata terpicing, lalu menelisik gadis itu dari atas hingga ke bawah, lalu kembali ke atas—ke wajahnya.
"Dia—" Chéri tergagap sembari merenggut bagian depan kemejanya, menutupi bagian yang terbelalak.
Mikail memalingkan pandangannya cepat-cepat.
"Dia bilang Rafaél sudah tewas," lanjut Chéri setengah meratap. "Dia bohong, kan?"
Mikail terdiam dan memucat.
"Mikail!" Chéri mendesaknya.
"Akan kuceritakan nanti," kata Mikail akhirnya. "Setelah kau berganti pakaian." Ia mengerling ke arah kemeja Chéri.
"Ceritakan sekarang," Chéri tak mau mengerti.
"Kau basah kuyup," sergah Mikail. "Nanti kau bisa sakit."
"Tidak apa-apa," bantah Chéri bersikeras. "Aku ingin ingin mendengarnya sekarang. Ceritakan semuanya, Mikail. Ceritakan semua yang kau ketahui."
Mikail menghela napas berat, "Akan aku ceritakan," geramnya. Matanya menatap lurus ke dalam mata Chéri. "Makanya ganti bajumu," tandasnya.
Chéri kalah telak.
Pria cantik itu mengerikan kalau sudah keluar sifat tegasnya, pikirnya. Lalu buru-buru ganti baju.
Begitu Chéri kembali ke ruang duduk, Mikail sudah menyiapkan secangkir minuman panas.
__ADS_1
"Kau seperti ibu-ibu," komentarnya dengan ekspresi khas anak-anaknya.
"Tidak perlu menggerutu," protes Mikail. "Aku pasti akan menceritakan semuanya. Sekarang duduklah."
Chéri menempatkan dirinya di sofa di sisi Mikail, menghadap ke arah perapian.
Mikail menghela napas pelan. "Ini menyedihkan," katanya memulai ceritanya. "Seperti drama tragedi."
Chéri menyesap cokelat panas di cangkirnya seraya melirik pada pria itu. Penasaran.
Raut wajah pria itu tampak datar, tapi cahaya matanya seolah meredup. "Rafaél Moscovich sebetulnya pewaris sah Moscovich Corporation. Tapi… meski demikian, di dalam keluarga besar Moscovich, Rafaél menjadi semacam tabu."
Chéri menaikkan sebelah alisnya.
Mikail meliriknya dan tersenyum masam. "Waktu aku menanyakan tentang dia… tak ada yang mau menjawab. Tidak seorang pun berani berhubungan dengan dia. Mereka hanya memberi uang dan membiarkannya berkecimpung di dalam dunia teater yang disukainya."
"Kenapa?" Chéri menyela tak sabar.
"Karena alasan tradisi," Mikail menjawab singkat.
Chéri mengerutkan keningnya.
"Dua puluh dua tahun lalu… Grigory Moscovich dikaruniai anak kembar," cerita Mikail. "Mereka adalah… Rafaél dan Valentin."
"Jadi cerita tentang banak kembar itu benar?"
"Ya!"
Chéri spontan terdiam.
Chéri menelan ludah, mendadak merasa cemas.
"Rafaél yang lahir lebih dulu menjadi ahli waris, sementara Valentin yang lahir belakangan tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya."
Chéri mendesah perlahan, tiba-tiba merasakan sesak di dalam dadanya.
"Seharusnya hal itu terus berjalan sesuai rencana," gumam Mikail seraya menjatuhkan pandangannya ke lantai. "Tapi… pada hari kebakaran sembilan tahun lalu yang kebetulan bertepatan dengan hari ulang tahun mereka yang ketiga belas, segala sesuatunya berubah."
Chéri menatap Mikail dengan mata dan mulut membulat. Tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Pada hari itu, tidak seorang pun mengerti kenapa Valentin yang seharusnya sama sekali tidak tahu identitas aslinya yang dirahasiakan, bisa datang ke kediaman Moscovich dan terjadilah kebakaran itu."
"Lalu?"
"Salah satu dari anak itu tewas terbakar, sementara yang satunya lagi berhasil diselamatkan, tapi… kehilangan kesadaran."
"Jadi siapa sebenarnya yang selamat?" Chéri bertanya langsung kepada intinya.
"Ada tanda lahir di tubuh anak yang selamat."
"Dan apa artinya itu?"
"Anak yang memiliki tanda lahir itu adalah… Valentin."
Chéri spontan menggeleng.
__ADS_1
"Yang selamat dalam kebakaran itu adalah Valentin," Mikail menegaskan.
Bohong!
Chéri tak mau percaya.
"Tapi beberapa hari kemudian…" Mikail menambahkan. "Anak itu sadar dari koma dan… dia mengaku dirinya adalah Rafaél."
Chéri membekap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Saat itulah fenomena kepribadian ganda itu dimulai."
Chéri menggeleng-geleng.
Mikail menghela napas berat. "Dan… tampaknya, dia kehilangan ingatan tentang peristiwa kebakaran itu dan juga ingatannya sebagai Valentin. Keluarga besar Moscovich khawatir terjadi skandal dan mereka berusaha menggelapkan peristiwa itu dan menerima Valentin sebagai Rafaél."
"Bohong," desis Chéri bersikeras. "Yang selamat pasti Rafaél, kan?"
Mikail tersenyum getir dan mengedikkan bahunya sedikit dengan sikap tak berdaya. "Demi menyembunyikan Valentin dari sorotan publik, mereka mengirimnya sekolah ke luar negeri. Cerita setelah itu… kau sendiri pasti sudah tahu."
Chéri kembali menggeleng. "Maaf," desisnya. "Aku tidak bisa mempercayainya."
Waktu itu dan sampai saat ini… Rafaél adalah Rafaél.
Mikail menatap Chéri dengan prihatin. "Sebetulnya sampai saat ini, mereka masih berusaha menjaga supaya Rafaél tetap tak tahu apa-apa."
Chéri menurunkan tangannya dari wajahnya dan menoleh pada Mikail. "Kau juga percaya kalau dia bukan Rafaél?"
Mikail mengangkat bahu. "Kalau dilihat dari semua data yang berhasil dikumpulkan selama ini, dia memang Valentin."
Chéri menggeleng cepat-cepat. "Tidak," bantahnya. "Aku tidak percaya."
Mikail tersenyum maklum.
"Aku yakin kalau yang selamat adalah Rafaél," kata Chéri bersikukuh. "Aku tahu ini tidak beralasan, tapi nanti aku pasti akan menemukan buktinya dan membawa Rafaél kembali."
Mikail mendesah berat dan beranjak dari sofa, kemudian berjalan pelan menyeberangi ruangan dan berhenti di dekat jendela, berdiri membelakangi Chéri.
Apa dia marah? pikir Chéri.
Mikail menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan tercenung cukup lama.
"Maafkan aku," sesal Chéri. "Aku sadar selama ini aku selalu mengandalkanmu dan mempercayaimu. Tapi tidak untuk yang satu ini. Meski bukti-bukti sudah lengkap, aku tetap percaya bahwa Rafaél adalah Rafaél yang asli."
Mikail akhirnya menoleh pada Chéri. Lalu menyeringai tipis. "Aku bisa mengerti," katanya setengah terkekeh. "Bagimu itu sangat wajar."
Chéri menaikkan alisnya, merasa agak tersinggung.
"Tapi ketahuilah, Chéri!" Mikail memutar tubuhnya, menghadap ke arah Chéri, dan menatap ke dalam matanya. "Pria ini berbahaya."
Chéri menelan ludah dengan susah payah dan menggeleng.
"Pria ini harus disekap," Mikail menambahkan.
"Kau akan menangkapnya?" Chéri bertanya terkejut.
__ADS_1
"Menurutmu?" Mikail balas bertanya dengan ekspresi berubah dingin.