Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 76


__ADS_3

"Valentin itu… seperti yang kita duga, dia benar-benar cerdik!" Mikail berkata sembari melepas sepatunya setelah mereka tiba di apartemen. "Sampai sejauh ini, dia tidak pernah setengah-setengah. Dia lawan yang sangat berbahaya!"


Chéri tidak bereaksi, gadis tercenung di ambang pintu, memandang udara kosong di tengah ruangan.


Mikail spontan menoleh dengan dahi yang berkerut-kerut kebingungan.


"Tidak ada telepon dari Rafaél," gumam Chéri sembari membungkuk untuk membuka sepatunya.


Mikail mendesah pendek.


Padahal aku sudah menunggu dari kemarin.


"Sebentar lagi Valentin pasti akan tidur," Mikail menyemangatinya. "Kalau ada kesempatan, Rafaél pasti segera menghubungimu."


Chéri mendorong kedua sepatunya ke sudut, lalu melepas mantelnya.


"Jaga kesehatanmu, Chéri." Mikail menepuk puncak kepalanya. "Mulai besok, kita akan melancarkan serangan balasan."


Chéri menatap kedua mata Mikail.


Pria itu hanya tersenyum tipis seperti biasa, lalu mendesaknya dengan lembut, "Tidurlah," katanya.


Chéri membalas senyumnya dan bergegas ke kamarnya.


Beberapa menit kemudian, gadis itu jatuh tertidur tanpa sempat berganti pakaian.


Dan entah pukul berapa, panggilan telepon akhirnya masuk membangunkan gadis itu setelah larut malam.


"Chéri—"


"Rafaél!" Chéri berseru gembira, rasa kantuknya seketika lenyap.


Rafaél tersenyum hangat di seberang telepon. Dia sedang menunggu, Rafaél menyimpulkan. Lalu berdeham, "Hm, Chéri… Valentin sudah membuat kacau semua rencana. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa melihat apa yang dia lakukan, dan aku tak yakin…"


"Pasti ada kesempatan untuk serangan balasan, kan?" Chéri memotong ucapan Rafaél.


"Ah, entahlah. Tapi aku akan memikirkan caranya."


Hening.


Chéri bisa merasakan pria itu telah kehilangan kepercayaan dirinya. "Rafaél…"


"Ya."


"Suaramu… lemah. Apa yang terjadi?"


"Ah—aku baik-baik saja."


Tidak, pikir Chéri khawatir. Suaranya…


Apa benar dia baik-baik saja?


"Rafaél, aku… aku ingin bertemu." Akhirnya Chéri berhasil mengutarakannya. "Aku akan ke sana! Sekarang kau di mana?

__ADS_1


"Ah—sebaiknya jangan!" Rafaél menjawab cepat-cepat. "Butuh waktu satu setengah jam dari sana. Sekarang aku sedang berada Oblast Moskwa. Kalau memakan waktu sampai dua jam, bisa-bisa Valentin sudah bangun."


"Aku bisa sampai lebih cepat," sergah Chéri. "Aku berangkat sekarang!" Lalu tanpa menunggu persetujuan, gadis itu menutup sambungan secara sepihak.


Rafaél mendesah tak berdaya.


Gadis ini benar-benar keras kepala dan tidak sabaran, pikirnya.


Chéri tidak bisa membiarkan pria itu kehilangan semangatnya. Entah kenapa dia bisa lebih tenang daripada Chéri. Hal itu semakin meresahkan Chéri. Kalau Rafaél kehilangan semangatnya untuk melawan, kemungkinan pria itu tidak bisa menang. Kalau dia sampai kalah, tubuh itu selamanya akan menjadi milik Valentin.


Tidak, pikir Chéri. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!


Tak sampai satu jam, gadis itu benar-benar sudah sampai di tempat Rafaél.


"Tunggu di sini," pinta Chéri pada supir taksi. "Aku tidak akan lama. Aku janji!" katanya meyakinkan pria itu.


Rafaél sudah menunggu di sebuah taman di pekarangan hotel tempat dia menginap.


Chéri menghambur ke arah pria itu dengan cahaya mata yang berbinar-binar, jantungnya berdegup kencang dan hatinya berbunga-bunga.


Rafaél terpaku menatap wajah gadis itu dengan perasaan bergemuruh. Segala sesuatu dalam dirinya ingin menangkap gadis itu dan tidak pernah melepasnya lagi. Kesedihan menyergapnya secara tiba-tiba.


"Rafaél---akhirnya…" Chéri berhenti satu langkah di depannya, mendongak menatap wajah pria itu dengan senyuman seorang kekasih.


Seorang kekasih yang dirindukan pria itu.


Ya, pikir Rafaél hampir tak yakin. Dia kekasihku sekarang!


Sanggupkah ia melepasnya? Melupakannya? Merelakannya bersama orang lain?


Ah!


"Taksinya masih menunggu," suara gadis itu menyadarkan Rafaél dari lamunannya.


"Ah—ya… ehm..." Rafaél mendadak salah tingkah dan sedikit… kecewa. Bahkan waktu tidak memihak padaku, katanya dalam hati. Tapi ia berusaha memaksakan senyum seraya menambahkan, "Baguslah," katanya. "Dengan begitu, kau bisa langsung pergi sebelum aku membahayakanmu."


Chéri menggigit bibir bawahnya setengah meringis. Lalu tiba-tiba menubruknya dan menenggelamkan diri ke dalam pelukan Rafaél. Menyusupkan wajahnya ke dada pria itu. "Kumohon jangan berpikir seperti itu," desisnya mulai menangis. "Kau harus melawannya. Kalahkan dia! Kau pasti menang."


Untuk sesaat, Rafaél tidak tahu bagaimana ia harus bereaksi.


"Kumohon jangan menyerah," ratap Chéri. "Padahal aku begini mencintaimu."


Hati Rafaél seketika mencelus, dan secara otomatis membuat keduanya tangannya bergerak naik dan melingkar di pundak Chéri, mengecup puncak kepala gadis itu, kemudian mengangkat wajahnya.


Chéri mengerjap untuk menyingkirkan butiran air mata yang menghalangi pandangannya.


"Aku akan menang, pasti." Rafaél berbisik seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Chéri, "Dan…" wajahnya semakin dekat. "Kau akan jadi milikku." Rafaél mendaratkan mulutnya di mulut Chéri dan memagutnya dengan penuh kerinduan.


Aku tak akan sanggup melepasnya, Rafaél menyadari. Lalu bertekad untuk mempertahankan gadis itu dan juga tubuhnya.


Demikian pada akhirnya, pertemuan itu berlangsung singkat tanpa pembicaraan lagi. Keduanya memutuskan untuk saling mencurahkan perasaannya melalui ciuman dalam yang panjang, melepaskan kerinduannya masing-masing. Saling memeluk, saling mencium lagi. Hampir tak rela untuk saling melepaskan diri.


Tak peduli bagaimana caranya, Chéri harus tetap menjadi milikku, pikir Rafaél.

__ADS_1


Rafael sebetulnya tidak terlalu peduli dengan tubuhnya—pada mulanya. Jika memang tubuh ini bukan milikku, lalu untuk apa aku harus mempertahankannya lagi. Lagi pula ia tidak memiliki keberatan apa pun mengenai ahli waris. Ia juga tidak terlalu menginginkan posisi itu.


Tapi kehadiran Chéri malam itu seolah membuka mata hatinya. Menyadari gadis itu berada di dalam pelukannya, merasakan bibir manis gadis itu di bibirnya seolah menyadarkan Rafaél bahwa ia masih memiliki urusan di dunia ini. Jadi, dia memutuskan untuk tidak menyerah. Meski jika mereka harus berebut tubuh untuk selama-lamanya. Ia tak peduli.


Setidaknya, dia hanya akan menjaga dan menemui Chéri. Selebihnya terserah Valentin. Rafaél akan memberikan semuanya pada Valentin.


Asal bukan Chéri!


.


.


.


Pagi datang begitu cepat.


Pertemuan Chéri dengan Rafaél tadi malam, terasa seperti mimpi. Ia bahkan tak ingat bagaimana dia pulang. Sepanjang perjalanannya menuju apartemen, dipenuhi oleh bayang-bayang kemesraan Rafaél yang tidak terduga. Pria itu benar-benar telah berani menunjukkan perasaannya secara terang-terangan.


Sekarang, Chéri mestinya sudah bisa tenang.


Tapi ingatan tentang ciuman itu tak mau hilang dari benaknya.


Ketika akhirnya mobil Mikail meluncur di jalan raya, Chéri mendadak cemas bahwa ia akan berhadapan dengan pria lain yang bukan Rafaél.


Bagaimana aku akan menghadapinya setelah ciuman mereka tadi malam. Bagaimanapun tubuh itulah yang digunakan Rafaél untuk mencium dan memeluknya.


Ah! Chéri mengembuskan napas berat berkali-kali.


Mikail meliriknya dengan ekspresi bertanya dan sedikit cemas.


"Menurutmu, bagaimana caranya mengimbangi Vladimir dan Valentin?" Chéri bertanya setengah menggumam. "Aku benar-benar takut," akunya. "Apalagi rasa percaya diri Rafaél juga sudah hilang."


Mikail tersenyum simpul. "Tenanglah, Chéri. Mereka pasti saling bermusuhan."


Chéri akhirnya menoleh pada Mikail.


Mikail balas menatapnya dengan intensitas tatapan yang menguatkan. "Buktinya mulai hari ini Valentin memutuskan untuk memindahkan latihan ke balai kota. Vladimir betul-betul murka."


"Benar juga," timpal Chéri. "Sejak awal, mereka sama tidak mau kalah."


"Pasti tidak akan berjalan lancar," Mikail sependapat. "Disitulah kesempatan kita."


"Baguslah kalau begitu," Chéri mendesah lega.


"Kita sudah sampai," Mikail memberitahu.


Chéri menatap keluar dan tercenung.


"Dulu, untuk mengurus persiapan pementasan, aku harus berkeliling," cerita Mikail. Ia menyelinap keluar dan memutar. Lalu membukakan pintu untuk Chéri.


Chéri melangkah turun dan mendongak menatap gedung balai kota di depannya dengan khawatir.


Sebuah bangunan megah bergaya klasik era abad pertengahan, menjulang angkuh di depannya. Terasa dingin dan arogan, menginginkan Chéri pada Vladimir dan Valentin.

__ADS_1


Chéri menghela napas dalam-dalam, mencoba menguatkan diri untuk menghadapi apa pun yang menunggunya di dalam.


"Pulangnya nanti kujemput." Mikail menutup pintu mobil dan menepuk bahu gadis itu untuk memberikan dukungan.


__ADS_2