
Sembilan tahun yang lalu…
Awalnya, ini adalah sebuah kebetulan. Semuanya dimulai sejak Rafaél mengetahui kalau dia memiliki adik kembar bernama Valentin.
Pada saat itu, usia Rafaél menjelang lima belas tahun. Tidak lama lagi, dia akan menanggung beban yang sangat berat sebagai anak tunggal. Karena Rafaél merupakan pewaris kelompok finansial terkemuka di Rusia.
Ayahnya jatuh sakit…
Sementara ibunya sudah lama meninggal, sejak dia berusia tiga tahun.
Mendekati hari ulang tahunnya yang kelima belas, Rafaél dihantui perasaan putus asa dan kegelisahan, karena memikirkan satu-satunya saudara kandung yang belum pernah dilihatnya, saudara kembarnya yang disingkirkan hanya karena masalah pertikaian ahli waris.
Rafaél tak tahan lagi, ingin bertemu saudara kandungnya.
Berbekal sedikit informasi mengenai tempat tinggal saudara kembarnya, Rafaél melarikan diri dari rumah dan memutuskan untuk mencari sendiri saudara kandungnya.
Memasuki pemukiman kumuh di pinggiran kota kecil di luar Moscow…
Kejanggalan mulai terjadi.
Banyak orang mengira Rafaél adalah Valentin. Setiap orang yang dilewatinya menyapa Rafaél dengan macam-macam cara dengan banyak julukan satire.
Dari penampilan mereka, Rafaél akhirnya tahu bahwa saudara kembarnya menjalani kehidupan liar.
Lalu ketika ia melintas di depan supermarket, dua orang pramuniaga dan polisi datang menyergap Rafaél.
"Dia pencuri yang suka menyulut kebakaran!" Pramuniaga itu memberitahu polisi.
Rafaél tergagap kebingungan.
Bahkan ketika polisi menggelandang dirinya ke kantor polisi, Rafaél tidak berdaya, bahkan untuk sekadar membela diri.
Beberapa jam kemudian, seorang pria paruh baya datang ke kantor polisi dengan wajah murka. Kemudian menghampiri dan memukulinya.
Jika saat itu polisi tidak menahannya, entah apa yang akan terjadi pada Rafaél.
Rafaél menangis setelah mengetahui bagaimana saudara kandungnya dibesarkan.
Tapi tiba-tiba seorang anak laki-laki muncul di kantor polisi itu dan terbahak-bahak.
Semua orang serentak menoleh ke arah pintu dan tercengang.
Rafaél juga terkesiap.
Anak laki-laki itu memiliki wajah yang sama persis dengan Rafaél.
Dia saudara kembarku, Rafaél menyadari.
"Kalian semua bodoh," selorohnya sambil cengengesan.
Ayah angkatnya terbelalak menatap keduanya secara bergantian.
Para polisi juga mengamati mereka dengan alis bertautan.
__ADS_1
Anak laki-laki itu berhenti tertawa, kemudian melangkah ke dalam ruangan. "Akulah Valentin!" Ia memberitahu para polisi. Kemudian tertunduk mengawasi wajah Rafaél yang terduduk di lantai.
Rafaél balas menatapnya, dan… pada saat itu juga, Rafaél dapat melihat sorot mata cerdas saudaranya.
Muncullah satu gagasan dalam benak Rafaél.
Kau dan aku berasal dari satu sel, katanya dalam hati. Ditakdirkan terpisah menjadi dua. Apakah tidak bisa mempersatukan kembali kehidupan dua orang terpisah?
Rafaél pun mulai menyusun rencana.
Di hari ulang tahunnya yang kelima belas, akan diadakan pesta pada malam harinya.
Malam itu adalah malam yang akan menentukan nasib mereka.
Valentin menyelinap masuk lewat pintu gerbang. Ekspresi wajahnya lebih dingin dari biasanya.
"Tidak ada yang melihatmu, kan?" tanya Rafaél.
Valentin hanya menggeleng.
"Cepat pakai baju itu!" Rafaél menginstruksikan sembari menunjuk pakaian baru yang telah disiapkannya untuk Valentin.
Valentin melirik pakaian itu tanpa minat.
"Maaf," kata Rafaél. "Karena malam ini ada pesta, jadi harus memakai baju formal."
Valentin pun akhirnya menerima pakaian itu dan mengganti pakaiannya dengan pakaian baru.
Rafaél memakai bajunya. "Itu bajuku!" protesnya.
"Kau tahu cerita Pangeran dan Pengemis?" Rafaél bertanya seraya tersenyum simpul. Lalu berbalik sembari berusaha mengancingkan kemeja kumal Valentin.
Valentin mengerutkan dahinya dengan wajah cemberut.
"Saat mereka menyadari wajah mereka begitu mirip, di sebuah pesta mewah, pangeran dan pemuda miskin itu bertukar pakaian dan bertukar tempat," jelas Rafaél.
Valentin merenggut kerah Rafaél dan menyingkap ujung kemejanya. "Apa-apaan ini?" geramnya sembari menatap tanda di pinggang Rafaél. "Kau bahkan membuat tanda lahir yang sama denganku! Apa sebenarnya yang kau rencanakan?"
"Kita akan bertukar tempat," jawab Rafaél.
"Tidak!" Valentin memprotes. "Apa kau tahu gara-gara ini, ayahku jadi tahu kalau aku sebenarnya anak orang kaya! Hari ini dia akan datang untuk memeras keluargamu!"
Rafael spontan tergagap.
Lalu tiba-tiba Valentin mengerang sembari menekuk perutnya.
"Kau kenapa?" Rafaél bertanya cemas.
"Aku tadi habis bertengkar dengan ayahku," jawabnya sembari mengernyit. "Katanya… aku tidak boleh serakah."
Rafaél menarik Valentin ke sofa untuk mendudukkannya. Tapi Valent memberontak dan mendorongnya hingga Rafaél terjengkang dan terlentang di lantai.
Lalu entah bagaimana, tahu-tahu Valentin sudah menyulut api di ujung gulungan kertas yang didapatkannya secara sembarang dan menyodorkannya ke wajah Rafaél. "Kau anak orang kaya, apa enaknya bertukar tempat denganku?" tanyanya dengan tatapan curiga.
__ADS_1
"Aku—" Rafaél tergagap memandangi api di depannya. "Aku hanya merasa bersalah padamu, Val…" jelasnya terbata-bata. Tatapannya tidak bisa lepas dari kobaran api yang makin membesar di depan wajahnya. "Kau menderita hanya karena waktu kelahiranmu berbeda beberapa saat dariku."
Valentin mendengus menanggapi penjelasan Rafaél. Lalu mengayun-ayunkan api di tangannya dengan sikap mengancam. "Kau ingin aku yang bernasib buruk ini menjadi anak kepala perusahaan karena kau ingin menebus dosamu?" Valentin menyeringai dengan ekspresi mencela. "Jangan bercanda! Lagi pula bagian itu tidak ada dalam cerita Pangeran dan Pengemis!"
Api di tangannya padam.
Lalu Valentin membuat gulungan baru dari buku tulis Rafaél, lebih tebal dari sebelumnya, kemudian membakarnya lagi.
Rafaél mengawasinya dengan ekspresi tak berdaya.
"Kau pikir kau tidak akan ketahuan? Hah?" Valentin menggeram seraya menodongkan apinya lagi ke wajah Rafaél.
"Ketahuan juga aku tak peduli!" tukas Rafaél. "Walaupun aku mati sebagai Valentin, walaupun mereka tak suka, keluarga Moscovich akan menerimamu sebagai Rafaél Moscovich!"
Valentin spontan membeku. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
"Aku memberikan diriku padamu, Val!" jelas Rafaél.
Valentin tidak bereaksi.
"Sebagai Rafaél Moscovich, sedikit pun aku tidak pernah menderita," tutur Rafaél. "Tidak lama lagi, ayah mungkin meninggal. Suatu hari, aku akan menerima seluruh warisannya dan aku terpaksa hidup sebagai boneka yang dikendalikan perusahaan besar. Tapi kau… walaupun menjadi ahli waris, kau tidak bisa dikendalikan oleh mereka. Karena kau jauh lebih kuat."
Valentin menelan ludah dan beringsut mundur beberapa langkah. "Dasar bodoh! Apa yang kau bicarakan!"
"Aku ingin kau bahagia, Val. Sejak awal, seharusnya kita memang tidak boleh dipisahkan!" Rafaél bersikeras.
"Berhenti membicarakan omong kosong! Mana ada orang yang…" Valentin seketika memucat, lalu meringis dan memekik kesakitan. Api jatuh dari tangannya, kemudian terlempar dan membakar karpet beludru di tengah ruangan.
"Val—" Rafaél menghambur ke arah Valentin dan menangkap tubuhnya ketika Valentin terhuyung dan ambruk. "Apa yang terjadi?"
Valentin memegangi perutnya dan terengah-engah. "Sialan," erangnya. "Perutku sakit setelah ditendang oleh ayahku…"
"Val…" Rafaél mengguncang tubuh saudaranya dengan ketakutan.
Valentin bergetar dan kian memucat.
Sementara itu api telah menjalar ke seluruh ruangan dan mulai mengepung mereka.
"Bangunlah!" pekik Rafaél. "Api sudah mengepung kita!"
"Aku… tidak bisa," bisik Valentin semakin lemah.
"Aku akan membawamu keluar," kata Rafaél.
"Jangan!" Valentin menahan tangannya. "Mungkin kalau aku bergerak, aku akan mati."
"Tapi apinya—"
"Memang sejak lahir… aku sudah bernasib buruk."
"Val!"
Valentin mengejang dan bergetar hebat, lalu berhenti bergerak.
__ADS_1