
"Kau akan menghadap layar zanaves---tirai," jelas Rafaél—masih dalam rangka membina Chéri. "Kemudian, story plate, fade in gerakannya slow motion. Dari dalam cermin, bagaikan sebuah ilusi, lahirlah kepribadian Si Cantik yang lain. Lampu spot light akan mengikutimu. Lalu kedua sosok Si Cantik saling berhadapan dan saling bertukar pandang."
Beberapa staf menyimak penjelasannya seraya berpikir keras, membayangkan setting panggung dan pencahayaan.
"Pada adegan cermin, cahaya lampu datang dari arah samping dan depan panggung," pengawas panggung memberitahu beberapa staf.
"Kalau dilihat dari imej yang diinginkan Rafaél, sepertinya lampu dari depan panggung tidak diperlukan," Kyle mengemukakan pendapatnya.
Para staf itu kembali berpikir keras.
"Coba kau berdiri di depan Chéri!" Rafaél memanggil Cyzarine.
Gadis itu tergagap kebingungan, tak siap dengan perintah mendadak.
"Cepat!" Suara Rafaél mulai meninggi.
Cyzarine sontak melejit ke arah Chéri, antara refleks dan ketakutan.
.
.
.
Delapan jam kemudian…
"Ah… tidak bisa! Selain dialog, yang lainnya tak bisa masuk." Cyzarine mengerang lemas seraya menjatuhkan naskah di wajahnya, sementara tubuhnya berbaring terlentang di lantai.
Chéri duduk meringkuk memeluk kedua lututnya yang ditekuk di depan dada, tak jauh di sisi Cyzarine.
"Perubahan di babak 9 sudah oke," suara Rafaél terdengar samar di depan pintu. "Berikutnya babak 11…"
Mikail berlutut di depan Chéri, "Sejak pagi kau belum makan apa-apa, kan?" bujuknya penuh perhatian.
"Aku tidak mau makan," gumam Chéri tanpa mengangkat wajahnya yang sedang bertumpu pada lututnya. Kedua matanya bahkan enggan berkedip. Tatapannya kosong dan terlihat lelah.
"Kalau sekarang tidak makan, nanti tidak ada waktu lagi sampai akhir pementasan," sela Rafaél seraya melangkah ke dalam ruangan. "Kita akan mengulangnya dua kali lagi," tandasnya. Kemudian berhenti untuk menginstruksikan hal lain pada sekelompok anak laki-laki di dekat pintu masuk.
"Monster," gerutu Cyzarine tanpa mengangkat naskah dari wajahnya.
"Makanlah dulu!" Mikail masih membujuk Chéri. "Katakan saja, kau mau makan apa. Aku akan membawakannya ke sini!"
Keparat ini bahkan tidak menawariku, batin Cyzarine.
Hah!
Kedua gadis itu mengerang nyaris bersamaan.
"Jangan khawatir," kata Rafaél pada pemain lain yang juga sudah terkulai dan bergelimpangan di lantai. "Untuk pemain lain tidak ada perubahan. Kecuali dengan Si Cantik, Chéri tidak akan berbicara dengan pemain lain. Jadi, kalian boleh mengabaikannya."
Chéri dan Cyzarine tersentak bersamaan.
.
.
.
__ADS_1
Sesaat sebelum tirai dibuka…
"Satu peran Si Cantik dimainkan dua orang?" anggota staf yang baru datang mulai berkasak-kusuk.
"Berarti mereka berdua diadu, dong?" desis salah satu gadis sambil cengengesan.
Terdengar cekikikan.
"Bagaimanapun Cyzarine memang jauh lebih unggul. Dia sudah lebih menguasai perannya. Jadi wajar saja kalau dia menjadi Si Cantik sisi depan. Chéri Dutchskova kan, masih amatir!"
Masih amatir?
Chéri melengak.
Sementara Cyzarine terkekeh di sampingnya dengan ekspresi wajah puas. "Kau dengar itu? Keputusan untuk tidak berbicara dengan pemain lain selain Si Cantik itu artinya… kau telah gagal," ejeknya mulai memprovokasi.
Chéri terdiam. Menatap nanar bayangan dirinya di dalam cermin.
"Kau tidak mampu bermain dengan orang lain kecuali aku!" Cyzarine menambahkan seraya menekankan tisu di sudut bibirnya.
"Apa kau akan melakukannya lagi?" Chéri bertanya setengah menggumam, tanpa mengalihkan perhatiannya dari cermin.
"Lagi?" Cyzarine menoleh pada Chéri. "Apa maksudmu—lagi?"
Chéri balas menoleh. "Masalah rok kemarin…"
Cyzarine terkekeh. "Oh, itu! Aku memang payah kalau dalam hal ikat-mengikat," sanggahnya enteng. "Rokmu tidak terpasang dengan benar, ya?"
"Kalau berani melakukan hal yang seperti itu lagi, aku takkan memaafkanmu!" sembur Chéri seraya memelototinya.
"Tiga puluh menit lagi!" Suara pengumuman menggema dari pengeras suara. "Para penonton dipersilahkan masuk!"
Entah kenapa perutku rasanya sakit sekali, erang Chéri dalam hati.
Perasaanku tidak enak!
"Kau baik-baik saja?" Rafaél bertanya seraya mendekatinya.
"Aku hanya tegang saja, kok!" Chéri menjawab sembari tertunduk, tak berani menatap Rafaél.
Sejak mimpi itu… aku jadi merasa tak enak kalau berduaan dengannya, batin Chéri getir.
"Maaf tadi pagi aku menamparmu," kata Rafaél.
"Aku tidak apa-apa," jawab Chéri lemah dan parau. Kemudian memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Rafaél mengulurkan tangannya ke bahu gadis itu, tapi kemudian berhenti beberapa senti---tak sampai menyentuhnya. Lalu buru-buru menariknya lagi dan berlalu melewati Chéri.
Chéri menelan ludah dan mengawasi pria itu melalui ekor matanya.
"Mikail!" Rafaél berteriak setelah keluar dari ruang kostum. "Ada yang lihat Mikail?" Suaranya mulai menjauh.
Chéri mengatupkan kedua matanya dan melenguh.
Di depan ruang mixer, Rafaél akhirnya bertemu dengan Mikail sementara Chéri masih mengurung dirinya di ruang kostum.
"Berjanjilah kau akan mengurungku jika sekali saja dia muncul," kata Rafaél pada Mikail. "Langsung pukul saja, atau tendang—---terserah!"
__ADS_1
"Tentu saja," jawab Mikail."Aku akan melindungi Chéri," katanya datar.
Rafaél menelan ludah dan tertunduk. "Tadi malam juga sebenarnya dia muncul waktu aku di kamar," katanya.
Mikail sontak menoleh dengan mata terpicing.
"Dia meninggalkan pesan…" Rafaél menggantung kalimatnya sesaat. Kemudian melanjutkan, "Ah, tidak! Lebih tepatnya mencoba menantangku," ia menyimpulkan. "Kurasa dia menyukai Chéri!'
Mikail menelan ludah dan mengetatkan rahangnya. Tapi tak mengatakan apa-apa.
Sampai suara riuh di bangku penonton mengalihkan perhatian mereka, dan keduanya spontan berpencar.
Chéri masih belum keluar dari ruang kostum. Tampak gusar dan sedikit frustrasi.
Kok aku tegang lagi, sih? Ia mengerang dalam hatinya.
Ah, payah!
Hari ini sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Padahal tinggal beberapa menit lagi.
Dalam kegelisahan yang menyiksa itu, sesosok bayangan tinggi berkelebat di dalam cermin. Seorang pria dengan jubah dan topeng Si Buruk Rupa, berdiri di belakangnya.
Rafaél, pikir Chéri.
"Hai!" Sapaan pria itu membuat Chéri terbelalak ngeri.
Itu sama sekali bukan gaya Rafaél, katanya dalam hati.
Orang ini bukan Rafaél!
Mungkinkah…
Si kepribadian lain!
Bukankah Rafaél sudah memastikan dia takkan kembali?
Seharusnya dia tetap terkurung!
Kenapa dia bisa keluar secepat ini?
"Chéri?" Pria itu merunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Chéri.
Chéri menyentakkan tubuhnya dan memutar sekaligus. "Apa yang kau lakukan?" pekiknya. "Jangan mendekat!" Chéri mencelat menjauhi pria itu.
Pria itu tercekat di balik topengnya.
"Kenapa hanya pada saat-saat penting saja kau muncul?" Chéri berteriak seraya menudingkan telunjuknya ke arah pria itu. "Apa sebegitu menyenangkannya menyusahkanku? Kenapa kau terus menggangguku?"
"Hei! Kenapa kau berisik sekali dari tadi?" Cyzarine melongok di ambang pintu. "Dasar cerewet," gerutunya.
Lalu tiba-tiba seorang pria lain dengan kostum yang sama---mengenakan jubah dan topeng Si Buruk Rupa, menyeruak masuk melewati Cyzarine.
Chéri memekik dan terkesiap.
Cyzarine juga terperangah.
Rafaél ada dua!
__ADS_1