
Rafaél tidak pernah mengumpat!
Benarkah orang ini Rafaél yang asli?
Chéri memberanikan diri menatap wajahnya. Tapi wajah pria itu sangat dekat dengan wajahnya hingga ia perlu menarik kepalanya sedikit menjauh. "Rafaél…"
"Ya?" Rafaél mendekatkan wajahnya lagi.
Chéri menelan ludah. "Apa maksudmu waktu itu?"
Pria itu menautkan alisnya.
"Apa maksud perkataanmu pada Cyzarine?" ulang Chéri.
"Kata-kataku?" Rafaél bertanya dengan nada datarnya yang khas. Tapi gerak-geriknya terasa sedikit janggal. Ia mengusap punggung Chéri sembari tersenyum tipis.
Apa hanya perasaanku saja, pikir Chéri. "Well---yeah, katanya kau menyuruh Cyzarine untuk memancingku sampai menangis…"
"Oh---itu!" Rafaél menaikkan tangannya ke belakang kepala Chéri dan mengusapnya dengan lembut. Terlalu lembut hingga Chéri menyadari kalau itu bukan Rafaél. "Yeah---habis kalau tidak begitu jadinya tidak seru, kan?" Pria itu menjawab enteng seraya menyergap tubuh Chéri dan mengungkungnya.
"Lepaskan aku!" Chéri memekik dan mendorong dada pria itu.
Pria itu terkekeh. "Lepaskan?" Ejeknya, lalu melepaskan rangkulannya secara mendadak hingga tubuh Chéri terhuyung ke belakang dan nyaris tergelincir dari papan pijakan.
Chéri merenggut jubah pria itu dengan spontan.
Pria itu terkekeh lagi. "Masih butuh pelukanku?" Ia bertanya mencomooh. Kemudian menarik kembali tubuh Chéri dan mendekapnya.
Chéri mengatupkan kedua matanya dengan ekspresi getir. Kalau dia melepaskanku, aku benar-benar akan jatuh!
Pria itu menyeringai puas. Kemudian membenamkan mulutnya di leher Chéri.
"Bagaimana kau bisa keluar?" Chéri berdesis gamang dalam dekapan erat pria itu dan mengedikkan bahunya untuk menyingkirkan pagutan pria itu di lehernya.
"Kalau kau tidak tutup mulut penonton akan tahu yang sebenarnya," pria itu memperingatkan. Lalu membenamkan mulutnya lagi di leher Chéri.
Chéri mengernyit dan menelan ludah dengan susah payah.
"Menggemaskan sekali," ejek Rafaél. "Wajahmu yang menderita membuatku bergairah," katanya. Kemudian membaringkan Chéri di papan pijakan dan mencumbunya tanpa peduli sekitar. "Melihat orang lain menderita bagiku adalah kenikmatan yang tiada tara," desisnya terengah-engah. "Terutama jika orang itu perempuan yang kusukai."
"Aku membencimu!" Sergah Chéri. "Aku sangat membencimu!"
"Bagus… bagus… sebetulnya aku keluar untuk menguji kebenaran itu. Aku sungguh ingin tahu seberapa besar kau membenciku, tapi sepertinya hari ini aku sudah berhasil membuat semua orang percaya kalau aku Rafaél Moscovich. Bahkan dirimu!" Pria itu menarik wajahnya dan menyeringai. "Aku berhasil mempesona dirimu!"
"Jangan bercanda!" Bantah Chéri.
Pria itu mendesah pendek dan melepaskannya. Lalu beranjak dari papan pijak, kemudian turun melalui tangga lipat.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Chéri memekik terkejut.
"Aku mau pergi melepaskan kostum konyol ini," jawab pria itu tanpa beban sedikit pun. "Aku berakting hanya untuk menipumu. Nah, karena sekarang aku sudah ketahuan, maka aku sudah tidak ada urusan lagi di panggung ini!"
"Tidak—---tunggu!" Chéri berusaha mencegahnya.
"Kau minta dicium lagi?" Pria itu mengejeknya.
"Lupakan saja!" Chéri mendengus dan memalingkan wajah. "Memangnya aku bodoh? Sudah pergi saja! Kami masih punya pemain cadangan, kok!"
Pria itu terkekeh. "Maksudmu Saul? Cukup dengan satu-dua pukulan dia takkan bisa main lagi seperti Mikail!"
Mikail? Chéri terperanjat. "Apa yang sudah kau lakukan pada Mikail?"
"Bye!" Pria itu mendaratkan kedua kakinya di permukaan lantai.
"Tunggu!" Chéri menahannya. "Kalau kau mau memerankan Si Buruk Rupa sampai selesai, aku akan melakukan apa saja yang kau inginkan," janjinya pada pria itu.
Pria itu mendongak dan menyeringai. "Begitu, ya? Baiklah!" Katanya seraya kembali menaiki tangga. "Aku ingin kau jadi milikku!"
Chéri menelan ludah. "Apa maksudnya jadi milikmu?"
"Tentu saja maksudku kau tidur denganku!"
Chéri mengernyit dan mengatupkan kedua matanya.
Rafaél menoleh sebentar pada pria itu kemudian menatap Chéri. "Bagaimana?"
Chéri membuka matanya dan mengedar pandang.
Semua staf berteriak gusar memperingatkan Rafaél. "Cepat naik! Cepat naik!"
"Baiklah!" Chéri terpaksa menyetujuinya.
"Kalau begitu jangan coba-coba menundanya," pria itu akhirnya naik kembali ke pijakan. "Pokoknya langsung setelah pementasan ini."
Chéri diam saja.
Pria itu meringkuk di pijakan dan menempatkan kepalanya di pangkal paha Chéri. "Rafaél akan menderita kalau dia dengar ini," desisnya disertai senyum puas.
Jadi dia sudah memperhitungkan sampai ke reaksi Rafaél? Chéri membatin getir.
"Action!" Pengawas panggung mengisyaratkan pada Chéri.
Chéri menghela napas dan memekik, "Cantik! Kau mendengarku? Aku bayanganmu! Kau bisa melihatku? Lihat kami! Lihatlah Si Buruk Rupa! Dia sekarat karena kehilangan dirimu!" Chéri meratap sedih. Benar-benar sedih membayangkan reaksi Rafaél jika pria itu tahu bagaimana Chéri menjual dirinya demi drama ini.
Apa yang kupikirkan? Sesal Chéri.
__ADS_1
"Tolong!" Jerit Chéri memilukan. "Tolong kami, Cantik! Aku yang hanya bayangan tidak bisa menolongnya seorang diri! Kembalilah, Cantik! Kita tolong dia sama-sama!"
Kembalilah, Rafaél! Chéri meratap dalam hatinya. Siapa saja, tolong aku!
"Ratapanmu benar-benar merdu," bisik pria dalam pangkuannya. "Aku harap nanti malam kau meratap dalam pelukanku."
Chéri diam saja.
Selepas adegan itu, Mikail menyongsongnya di bawah tangga dan menariknya menjauhi panggung dengan napas tersengal.
"Mikail?" Beberapa orang memekik terkejut. "Apa yang terjadi?"
Wajah tampan pria itu terlihat babak belur.
"Luka itu…" Chéri tergagap. "Apa si kepribadian lain yang melakukannya?"
Mikail tidak menjawab.
"Hei—" pengawas panggung meneriaki Chéri dan Mikail.
"Aku pinjam Chéri sebentar!" Mikail balas berteriak pada pria itu.
"Sebentar lagi gilirannya!" Pengawas panggung memprotesnya.
"Aku tahu," bantah Mikail. "Aku takkan lama!"
Apa-apaan ini? Pengawas panggung mengerang dalam hatinya. Kenapa pria-pria pembenci perempuan ini jadi gemar berduaan dengan aktris akhir-akhir ini? Batinnya tak habis pikir.
Rafaél mengamati Chéri dan Mikail dari sisi panggung sembari menyeringai. "Kalian bisa apa, sih?" Bisiknya licik.
Pengawas panggung menghampiri Rafaél dan menjelaskan sesuatu. Pria itu menyimaknya dengan sungguh-sungguh.
Chéri meliriknya sepintas melalui ekor matanya. Aktingnya benar-benar meyakinkan, katanya dalam hati. Pengawas panggung tidak mencurigainya sama sekali.
"Pokoknya dia harus dikurung!" Suara Mikail menyentakkan Chéri dari lamunannya.
"Tapi sepertinya dia bukan orang yang mudah ditangkap," bisik Chéri setengah menyindir.
Mikail membeliak sebal. "Aku tahu," akunya setengah hati. "Aku sudah meremehkan dia. Padahal Rafaél sudah memperingatkanku."
Chéri melirik ke arah pria itu sekali lagi, kemudian terbelalak.
Pria itu berdiri tepat di depan cermin besar di belakang panggung dengan kepala sedikit merunduk, memperhatikan tumpukan kertas yang disodorkan oleh pengawas panggung. Tapi bayangannya dalam cermin menatap Chéri dengan cara diam-diam.
Ini pasti hanya halusinasi, pikir Chéri. Diawasinya bayangan Rafaél dalam cermin itu dalam waktu yang lama, dan selama itu pula bayangan pria itu menatapnya.
Tapi posisi tubuh asli pria itu tidak berubah. Masih tertunduk mengamati kertas di tangannya.
__ADS_1
Bagaimana bisa bayangan seseorang menoleh sementara tubuh aslinya tidak bergerak sedikit pun?