
"Karena naskahnya belum ada, nanti kalian hanya perlu membaca salah satu dialog yang ada di kertas yang sudah dibagikan. Peserta yang dipanggil nanti berdiri di sini. Baik, kita mulai dari nomor urut satu."
Paling tidak, aku datang ke tempat yang tepat, pikir Chéri. Sebagai orang terpenting di teater ini, Vladimir Valensky seharusnya berada di sini sebagai penguji.
Di mana dia? Chéri melayangkan pandang ke seberang ruangan, ke deretan bangku para juri.
Vladimir duduk membungkuk di bangku kedua, mencondongkan tubuhnya ke samping, berbicara pada seseorang sembari tertawa-tawa, sementara para peserta sedang berusaha membaca dialog dengan bersungguh-sungguh, berusaha sebaik mungkin.
Tapi pria itu malah asyik mengobrol tanpa mempedulikan mereka sama sekali. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia merasa telah membuang-buang waktu mendengarkan sesuatu yang tak layak untuk didengar.
Dia benar-benar tidak mempedulikan satu pun dari para peserta itu, pikir Chéri sinis.
Dan aku benci dirimu yang seperti itu, Vladimir Valensky!
Baiklah, kata Chéri dalam hatinya. Karena kau tidak menganggap penting audisi ini… maka aku tidak akan segan.
Lalu ketika panitia memanggil nomor urut yang ketiga belas, Chéri menerobos antrean dan melangkah ke depan tanpa mempedulikan sekitar.
"Hei—" seorang gadis berteriak marah. "Aku nomor tiga belas!" protesnya.
Chéri tidak menggubrisnya.
Begitu pun si penyelenggara acara, orang terpenting di teater ini, Vladimir Valensky.
Pria itu masih sibuk mengatakan omong kosong yang jelas terlihat hanya sekadar pengalihan dari… semua ini.
Seisi ruangan menatap Chéri dengan terbelalak, sementara gadis yang merasa tempatnya diserobot masih mencoba menerobos ke tengah ruangan. Dua panitia laki-laki menahannya seraya menatap gusar ke arah Vladimir.
Pria itu tidak menoleh, belum menyadari apa yang terjadi.
Si pemandu acara tergagap sesaat sebelum akhirnya berdeham dan melanjutkan, "Bacakan dialog B," instruksinya pada Chéri.
Chéri tidak menggubrisnya. Tetap bergeming dengan kedua tangan terlipat di belakang tubuhnya, menatap dingin ke arah Vladimir. Memangnya siapa yang sudi membaca dialog konyol dari naskah murahan si keparat Valensky? batinnya mencemooh.
Keheningan menyergap seisi ruangan.
Semua mata menatap tajam antara sinis dan merasa aneh.
"Dialog B," ulang si pemandu acara mulai tak sabar.
Chéri tidak bereaksi.
Hingga…
__ADS_1
Vladimir akhirnya yang bereaksi. Pria itu menoleh ke tengah ruangan, merasa aneh dengan situasi di sekelilingnya.
Akhirnya… sadar juga, pikir Chéri sinis.
Mata pria itu terbelalak di balik kacamatanya, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman lapar seekor binatang buas yang menemukan mangsanya. Serta-merta pria itu bangkit dari tempat duduknya dan menerjang ke tengah ruangan, membuat seisi ruangan memekik dan menahan napas.
"Boneka Rafaél," gumam Vladimir di antara senyumnya yang menjengkelkan. Dia berdiri di depan Chéri sembari bersedekap, mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata terpicing, bersikap seolah-olah gadis itu benda antik yang akan dibelinya.
Chéri mendelik tipis dan tersenyum sinis. Tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Apa kau sudah kehilangan kesabaranmu, Manis?" katanya mesra. Sekarang dia bersikap seolah-olah Chéri adalah kekasih rahasianya yang lama tak dijemput kencan.
Chéri tetap bergeming.
"Sayang sekali," Vladimir mendesah pendek. "Padahal tadinya aku ingin kau bekerja lebih lama lagi," bisiknya licik. "Minimal… sampai perencanaan MoscovArt benar-benar matang."
Chéri akhirnya bereaksi, tapi masih belum mengatakan apa-apa. Hanya mendongak menatap pria itu dengan mata dan mulut membulat.
"Tapi ya sudahlah," Vladimir menaruh telapak tangannya di bahu Chéri, memutar tubuh gadis itu dan merangkulkan sebelah lengannya. "Bagaimanapun juga nanti hasilnya sama saja."
Hasil apa? pikir Chéri curiga.
"Mari kuperkenalkan pada semuanya," Vladimir meninggikan suaranya. "Teman-teman, inilah pemeran utama wanita dalam pentas bulan Mei!" Ia mengumumkan.
Seisi ruangan tercengang dan terdengar mengerang seperti dengung lebah yang sedang gelisah.
"Chéri Dutchskova, mulai sekarang akan menjadi anggota Tsar Dramy!" Vladimir menyeringai pada Chéri. Lalu mengedar pandang ke sekeliling ruangan. "Di antara kalian semua pasti ada yang sudah pernah melihatnya, kan?"
Tentu saja, pikir Chéri sinis. Kalau ingatan mereka bagus, seharusnya mereka tidak melupakan insiden memalukan di akhir pentas Marionette beberapa waktu lalu.
"Dia pernah memainkan peran Si Cantik dalam drama 'Si Cantik dan Si Buruk Rupa' yang diselenggarakan oleh teater MoscovArt," Vladimir melanjutkan. "Lalu… mengenai drama yang akan kita pentaskan bulan Mei nanti…" Vladimir menggantung kalimatnya dan mengerling ke belakang bahu Chéri.
Chéri menelan ludah dan beringsut, menatap pria itu dengan curiga, dan sebelum gadis itu menyadari apa yang terjadi, pria itu sudah merenggut naskah yang tersembul dari dalam tas ranselnya.
"Aha!" seru Vladimir, dan dengan tidak tahu malunya pria itu kemudian mengacungkan naskah itu dan menjauhkannya dari jangkauan Chéri. "Ini dia," katanya.
"Apa yang kau lakukan?" protes Chéri seraya merenggut lengan baju pria itu, berusaha merebut naskah Rafaél yang berharga, tapi sia-sia.
"Inilah naskahnya!" Vladimir mengumumkan dengan bangga.
"Seenaknya saja mengambil dari ranselku," pekik Chéri geram. Lalu menerjang ke arah Vladimir.
"Di bulan Mei nanti, Tsar Dramy akan mementaskan drama 'Joan d'Arc' karya Rafaél Moscovich dengan Chéri Dutchskova sebagai Joan!"
__ADS_1
Bagai disambar petir, Chéri terkesiap dan memucat. Keringat dingin menggelinding di pelipisnya. Paru-parunya serasa meledak dan seketika dadanya terasa sesak. Lututnya terasa goyah.
Vladimir meliriknya sembari menyeringai. Senyumnya mencemooh dan raut wajahnya seolah mengatakan, "Dengan begini… kau takkan pernah bisa kembali ke MoscovArt Theatre!"
Dan Chéri benar-benar celaka!
Bahkan meski jika Rafaél kembali, ia tetap tidak bisa kembali ke MoscovArt Theatre.
Teman-teman mereka akan membencinya, membenci Chéri yang telah tega mengkhianati mereka.
Dia masih ingat bagaimana anggota MoscovArt meragukannya saat pertama kali dia datang. Sudah cukup buruk mereka menganggapnya sebagai makhluk aneh dengan label boneka Rafaél, dan dia sudah berusaha mati-matian untuk membuktikan pada mereka bahwa dia bukan sekedar anak emas.
Mereka sudah meragukannya sejak awal.
Sungguh!
Mereka tak akan sudi menerimanya untuk kedua kali.
Kau dan Rafaél takkan pernah bisa menciptakan drama bersama, Chéri! Chéri memperingatkan dirinya.
Kecuali jika Rafaél bersedia mencampakkan teman-temannya. Dan dia takkan melakukannya.
Tidak akan pernah!
Chéri beringsut mundur dengan raut wajah terguncang. Aku benar-benar tamat, pikirnya tertegun.
Inikah rencananya? batin Chéri frustrasi.
Inikah yang direncanakan Vladimir Valensky?
Aku benar-benar sedang menjemput ajalku!
Bagaimana bisa ia bermain-main dengan semua kekacauan ini dan merayu bencana seperti ini?
Chéri mengedar pandang dengan mata nyalang, berharap menemukan keajaiban di antara kerumunan, menemukan seseorang yang dapat menyelamatkannya dari situasi ini.
Lalu ia melihat Demian!
Seketika perkataan pria itu mendengking dalam benak Chéri.
"Panggung adalah semesta kecil yang telah disihir!"
Tapi bahkan Demian terlihat tak berdaya. Sama tak berdayanya dengan dirinya. Pria itu hanya menatapnya dengan sedih.
__ADS_1
Pertolongan tidak akan datang! Chéri menyadari.
Keajaiban takkan pernah terjadi.