
"Mereka menyukainya!" beberapa staf berseru gembira mendapati reaksi para penonton. "Rafaél! Mereka menyukainya!"
Mikail menoleh ke arah Valentin.
Pria itu tidak memalingkan pandangannya dari sosok Chéri. "Tentu saja," katanya. "Aku memang merancang pertunjukan ini supaya disukai penonton."
Mikail mengerjap dan membeku.
Valentin meliriknya, "Sekarang… tidak ada yang bisa mengalahkan aku," desisnya pada Mikail.
Mikail menelan ludah dan tertunduk. Chéri, Valentin kini sangat kuat, katanya dalam hati. Andai saja Rafaél memiliki kekuatan itu…
"Tuhan…" suara Chéri melengking dari atas tiang. "Kini… aku akan pergi ke sisi-Mu!"
"Besarkan apinya!" perintah pemimpin staf. "Nyalakan semua lampu!"
Para staf mulai sibuk di belakang dan bagian bawah panggung.
Kyle mengawasi setiap bagian panggung dengan begitu teliti. Lalu ketika ia mendongak, memeriksa lampu spot light di atas kepala Chéri, ia terhenyak dan terbelalak.
Lampu di atas kepala Chéri terlepas dari ikatannya, kemudian meluncur ke bawah tanpa disadari oleh siapa pun kecuali dirinya.
"Tidak," pekik Kyle panik. "Lampunya—"
BRUAK!
Lampu besar itu mendarat di atas half mirror dan seketika half mirror itu pecah berkeping-keping, menciptakan lubang besar di bawah tiang. Api menjalar keluar melalui lubang itu dan merayap naik ke tiang dan mengepung Chéri.
Seisi gedung berubah kisruh.
Valentin dan Mikail memekik nyaris bersamaan, lalu menghambur ke arah tiang tempat di mana Chéri berada sekarang.
Gadis itu terikat di ketinggian tanpa bisa dijangkau oleh siapa pun. Api telah menggilas seluruh dekorasi panggung. Sementara orang-orang di bawahnya berpencaran ke sana kemari tanpa memikirkan siapa pun kecuali keselamatan dirinya masing-masing.
"Chéri!" Valentin berteriak nyalang.
Chéri mencoba membuka rantai yang meliliti tubuhnya, tapi kemudian ia baru ingat rantai itu disematkan pada tiang dengan gembok. Rantainya tidak bisa dilepas.
Aku benar-benar terjebak, pikir Chéri.
"Hebat!" pekik penonton yang belum mengerti situasi sebenarnya. "Apakah ini sudah direncanakan?"
"Matikan burner-nya!" Pemimpin staf berteriak gusar.
"Sudah tidak bisa!" teriak beberapa staf. "Apinya sudah menjalar ke mana-mana."
Mikail menyeruak ke tengah-tengah para staf itu dengan napas tersengal. "Bagaimana dengan Chéri?"
"Dia sudah dikepung api!" Jerit Sesha sembari menunjuk ke arah tiang. "Tidak ada yang bisa mendekatinya!"
"PARA PENONTON YANG TERHORMAT," terdengar pengumuman dari pengeras suara. "KAMI MOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA, KARENA TELAH TERJADI KEBAKARAN, MOHON PARA PENONTON UNTUK SEGERA MENINGGALKAN GEDUNG DENGAN TERTIB MELALUI PINTU DARURAT. GEDUNG INI DIRANCANG DENGAN ARSITEKTUR JENIS BARU SEHINGGA API TIDAK AKAN MENCAPAI SELURUH GEDUNG, MESKIPUN TERJADI KEBANYAKAN, KOBARAN API BISA DITEKAN SEMINIMAL MUNGKIN."
Para penonton berhasil dievakuasi dengan tertib.
__ADS_1
Para pemain perlahan diamankan.
"Tolong…!" Suara Chéri tenggelam dalam kegaduhan.
Mikail bersama Kyle dan Sesha bergerak cepat ke arah gadis itu.
Tapi seseorang telah mendahului mereka.
Ya, siapa lagi kalau bukan…
"Valentin!" Chéri memekik terkejut. Pria itu membuka gembok dan melepaskan rantai dari tubuh Chéri, kemudian menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Tidak apa-apa," bisik Valentin menenangkannya. "Ada aku di sini."
Chéri menyusupkan wajahnya ke dada pria itu dan menangis sejadi-jadinya.
"Tenang, bodoh!" gerutu Valentin memarahi Chéri. "Memangnya siapa yang akan membiarkanmu mati. Jangan takut! Peluk aku!"
Pria itu membawanya turun dari tiang, sementara tiang itu roboh tak lama kemudian.
Valentin menurunkan gadis itu perlahan, kemudian meraup wajahnya, "Apa kau terluka?" tanyanya khawatir.
Chéri tergagap dan menelan ludah. Tak tahu bagaimana ia harus bereaksi begitu menyadari pria itu bukan Rafaél. "Aku tidak apa-apa," jawabnya kikuk. "Terima kasih."
Aku ini bagaimana, sih? Chéri membatin getir. Aku juga menyukai Valentin!
Api sudah mengepung mereka berdua. Valentin mengedar pandang. Tidak ada celah untuk mereka bisa keluar.
Valentin merenggut pinggang Chéri, kemudian melarikan gadis itu keluar dari kobaran api. Tapi tiba-tiba dia kembali ke tengah kepungan api.
"Val—" Chéri memekik kebingungan. "Apa yang kau lakukan?"
Kenapa dia pergi ke arah panggung?
"Val! Jangan ke sana! Panggung sudah menjadi lautan api! Valentin! Kembali!" Chéri berteriak panik sembari menghambur menyusul Valentin.
"Semua penonton sudah berhasil dievakuasi," petugas pemadam kebakaran mengumumkan. "Semuanya selamat. Tapi ada beberapa staf yang mengalami luka bakar. Kami tegaskan sekali lagi, semua orang sudah dievakuasi keluar gedung. Kami akan berusaha memadamkan api."
"Tunggu! Chéri dan Rafaél kembali lagi ke dalam kobaran api!" Sesha menjerit ketika para petugas pemadam kebakaran berusaha menariknya keluar gedung.
Kyle dan Mikail tersentak dan menoleh pada Sesha.
Gadis itu menunjuk-nunjuk ke arah kobaran api dengan panik. "Kembali ke dalam! Cepat! Selamatkan mereka berdua!"
Petugas pemadam kebakaran di kiri-kanannya bergegas ke dalam.
Kyle dan Mikail mengikuti mereka.
"Valentin!" Chéri berlari sekuat tenaga, menoleh ke sana kemari dengan sikap gusar, mencari-cari sosok Valentin di tengah kepungan api.
Valentin masuk ke dalam api…
Seolah-olah ada yang membimbingnya!
__ADS_1
Pria itu membeku di tepi lubang half mirror yang hancur dan menyemburkan api ke atas.
Chéri memekik dan menyergapnya dari belakang. "Apa yang kau lakukan disini?" jeritnya seraya melingkarkan tangannya di pinggang Valentin, lalu menariknya menjauh dari lubang api.
Valentin tidak bergerak. Tatapannya menerawang ke dalam kobaran api seolah-olah sesuatu tengah menunggunya di dalam sana.
"Val!" Chéri mengetatkan rangkulannya dan menarik pria itu sekali lagi.
"Kebakaran," desis Valentin parau.
Chéri mengerutkan keningnya dan mendongak menatap wajah Valentin.
"Kenangan saat kebakaran… yang sama sekali tak dapat kuingat," tutur Valentin dengan raut wajah datar. "Sekarang muncul kembali, sedikit demi sedikit… aku bisa mengingatnya lagi."
"Untuk apa mengingat kembali kenangan buruk yang seperti itu," sergah Chéri. "Ayo pergi! Lupakanlah masa lalu. Berhentilah membenci Rafaél. Hentikan pertengkaran kalian."
Valentin menyentuh punggung tangan Chéri, kemudian menarik tangan gadis itu ke mulutnya, lalu mengecupnya dengan lembut. "Apa kau masih begitu mencintai Rafaél?"
Chéri membeku dalam tangisan tanpa suara.
"Aku ingin tahu semuanya," bisik Valentin melemah.
Chéri meledak menangis.
Tubuh pria itu ambruk di lantai, terkulai tanpa daya dan tak sadarkan diri. Tapi sekelebat bayangan melesat keluar dari tubuhnya, kemudian menyeruak ke dalam cermin retak di depan mereka di seberang lubang api.
Apa itu? Chéri terkesiap.
Tadi dalam sekejap…
Dia kelihatan seolah-olah melesak ke dalam cermin.
Chéri menatap ke dalam cermin itu dengan mata terbelalak dan mulut membulat.
Sesuatu yang tidak masuk akal terjadi!
Cermin itu menampilkan dua sosok anak laki-laki kembar berusia lima belas tahun.
Apa mereka Valentin dan Rafaél? Chéri melengak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Apakah mereka berdua bertemu di dalam cermin?
Ini mustahil, pikirnya.
Ini tak nyata!
Apa aku sekarat dalam kobaran api sehingga aku mengalami halusinasi?
"Akhirnya kau datang, Val…" terdengar suara samar anak laki-laki.
Chéri membekap mulutnya lagi. Matanya terbelalak lebar.
"Ayo, Val… pergilah bersamaku!"
__ADS_1