Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 21


__ADS_3

"Karakter Si Cantik dibuat untuk aku dan Rafaél," penggah Cyzarine.


Mikail menyeringai. "Apakah pemain Hamlet di pementasan perdananya empat ratus tahun yang lalu merupakan pemain terbaik?" 


Cyzarine terperangah.


"Asal kau tahu saja," sergah Mikail. "Banyak pemain Hamlet yang jauh lebih sukses meski makna dan ciri khas karakternya telah diubah tanpa mengubah dialog asli buatan Shakespeare empat ratus tahun yang lalu."


"Tapi itu, kan… tugas sutradara!" Cyzarine berkilah.


"Apa aneh kalau ada pemain yang mampu melakukan itu seorang diri?" Mikail menantangnya.


"Tidak mungkin," bantah Cyzarine. "Aku tidak bisa menggerakkan sesama pemain dan seluruh drama sendirian. Kalau ada pemain yang bisa melakukan hal seperti itu…" Cyzarine kehilangan kata-katanya. Dia menoleh ke tengah ruangan dan menatap Chéri dengan tergagap.


Mikail melirik Cyzarine seraya tersenyum tipis.


Si Cantik bukanlah gadis yang tidak mengenal penderitaan. Dia adalah putri seorang saudagar yang pernah mengalami jatuh bangun. Ia orang yang realistis.


Tunggu! Pikir Rafaél. Jadi karena itu dia tidak percaya dengan janji dan cerita ayahnya?


Kalau begitu…


Seluruh sifat setiap karakter harus diubah. Ayah menjadi ayah yang bermulut besar dan saudara-saudara yang mempercayai sang ayah walau mereka tahu ayahnya senang membual… mereka semua anak-anak yang baik.


"Tunggu, Chéri!" Rafaél seketika bangkit dan menghentikan Chéri. "Interpretasimu itu…"


Chéri tidak menggubrisnya. Ia tertunduk dan mendesah pendek---melanjutkan aktingnya. "Katanya ada bintang besar yang mengenakan baju dan bisa berbicara… katanya dia sedang menungguku untuk menyantapku…"


Rafaél membeku. 


Ekspresi Chéri seolah mengatakan, "Dia membuatku pergi ke sana kemari seorang diri!"


Walau sang ayah seburuk itu, namun Si Cantik tetap menyayanginya. Ia memiliki kebaikan hati yang membuatnya pura-pura percaya dengan cerita ayahnya.


Membuat semua orang mengasihani dirinya!


"Anak yang luar biasa," komentar seseorang di barisan penonton.


Demian melirik Rafaél sepintas.


Pria itu tak bereaksi.


Demian mendengus dan memasang topengnya. "Aku dari tadi berada di sini," hardiknya seraya menerjang ke tengah ruangan dan menyergap Chéri hingga gadis itu terjengkang dan terjerembab di lantai.


"DEMIAN!" Teriakan Rafaél meledak dan menggelegar. "Cara masuk seperti itu tidak ada dalam skenario!"


Demian menyeringai dan menoleh pada Rafaél. "Benar," katanya. "Cara masuk seperti itu memang tidak ada dalam skenario. Tapi itulah cara yang dipakai anak ini---asalkan dialognya sama, tidak apa-apa!" Demian menarik tubuhnya berdiri dan menghadap ke arah Rafaél. "Abaikan pemain yang lain! Abaikan sutradara!"


Rafaél menelan ludah dan mengetatkan rahangnya.


"Meski dia merugikan yang lainnya, kau tetap membiarkannya!" Demian menudingkan telunjuknya ke wajah Rafaél. "Drama yang sudah kita rencanakan mati-matian, jerih payah dan kalkulasi para pemain, semuanya sia-sia! Apa kami harus rela diinjak-injak di bawah telapak kaki anak ini yang disorot spot light?" 


Chéri membekap mulutnya dengan telapak tangan. Aktingku menginjak-injak mereka?


"Aku tidak mau main dengan dia!" Demian mengibas-ibaskan tangannya dengan sikap meremehkan.


"Tunggu," Chéri merenggut lengan Demian. "Aku tidak bermaksud seperti itu," jelasnya terbata-bata.


"Meski begitu kau tetap saja melakukannya, kan?" Demian menghardiknya seraya mengedikkan bahu dan menepiskan tangan Chéri. "Pokoknya aku tidak mau main dengan anak ini," ulangnya pada Rafaél. "Kalau anak ini tidak dikeluarkan dari drama ini, aku yang akan keluar!"

__ADS_1


Seisi ruangan sekarang memekik tertahan.


"Demian… Apa kau sampai sebegitu bencinya padaku?" Chéri bertanya parau.


Demian mendelik pada Chéri. "Dasar bodoh," dengusnya.


Rafaél mendekat ke arah mereka. "Ini dramaku," geramnya.


"Aku bersikap begini juga demi kepentingan dramamu!" Demian berkilah. "Anak ini sudah merusak skenariomu, di depan matamu sendiri!" Demian sekarang menudingkan telunjuknya ke wajah Chéri.


Rafaél membeku seketika.


Chéri tertunduk.


Seisi ruangan terbelalak.


Dalam kebekuan yang menyiksa itu, Kyle tiba-tiba membuka suara. "Menurutku aktingnya sangat menarik!"


Semua mata serentak berpaling pada pria itu.


Anak itu lagi, pikir Rafaél.


"Apanya yang salah?" Kyle bertanya seraya mengedar pandang.


Tidak ada yang menjawab.


"Kau juga sebenarnya suka, kan?" Kyle menunjuk seorang anak. Lalu menunjuk anak yang lainnya. "Kau juga, kan?"


"Sejujurnya aku juga merasa aktingnya sangat bagus," kata seseorang di sisi lain ruangan, berseberangan jauh dengan tempat Kyle berdiri. "Padahal katanya dia masih pemula!"


Semua mata sekarang berpindah menatap anak itu.


Seisi ruangan kembali gaduh. Masing-masing orang mengemukakan pendapat mereka.


Demian tertunduk dan mengepalkan tangan di balik jubahnya.


Rafaél memijat-mijat pangkal hidungnya untuk menutupi kelegaannya.


"Terima kasih," desis Chéri parau. "Aku tidak pernah mengira akan ada orang yang menyukai aktingku. Aku sangat bahagia mendengarnya."


"Jadi…" Cyzarine tiba-tiba menyela dan berjalan ke tengah ruangan. "Kau akan berhenti dengan perasaan puas," katanya dengan tatapan meremehkan.


Rafaél memicingkan matanya.


"Tidak," sergah Chéri seraya menaikkan rahangnya. "Aku masih akan mencoba cara akting yang lain."


Demian terkekeh. "Benar-benar lancang," dengusnya.


"Hei!" Rafaél menghardik Demian seraya mencengkeram bahunya. "Apa perlu kau sampai berbicara seperti itu?"


"Kau sendiri juga sering mengganggunya, kan?" Ejek Demian. "Apa kau tidak mengizinkan pria lain mengganggunya?"


"Kau—" Rafaél memelototinya.


Demian kembali terkekeh. "Lihat wajahmu," katanya sinis. "Itu persis seperti ekspresi anak kecil sedang jatuh cinta!"


Para gadis membekap mulutnya nyaris bersamaan. Anak laki-laki saling bertukar pandang.


Kyle melirik Chéri dengan ekspresi sedih.

__ADS_1


"Kalau begitu, biar kusarankan, untuk peran Si Buruk Rupa, sebaiknya kau buat double cast juga," kata Demian seraya menepuk bahu Rafaél. Kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan latihan. "Kau saja yang jadi lawan mainnya!"


Rafaél mengetatkan rahangnya dan menjegal kaki Demian.


BRUK!


Demian tersungkur dan jatuh tertelungkup di lantai.


Seisi ruangan berteriak gusar.


"Kau benar-benar kekanak-kanakan," geram Demian seraya menarik bangkit tubuhnya dan menerkam ke arah Rafaél.


Mikail serentak menerjang ke tengah ruangan. "Chéri! Tahan Rafaél!" 


Chéri tergagap kebingungan.


"Apa saja boleh," teriak Mikail seraya merenggut jubah Demian.


Apa saja? Tanpa pikir panjang Chéri pun akhirnya menyambar rambut Rafaél dan menariknya.


"Hei!" Rafaél mengerang kesakitan. "Lepaskan rambutku!" pekiknya seraya mencoba menyingkirkan tangan Chéri.


Chéri tidak menggubrisnya.


Demian menggeliat-geliut dalam cengkeraman Mikail.


Tapi dengan gesit, Mikail memutar tubuh Demian dan menampar wajahnya. Lalu menampar wajah Rafaél setelahnya.


Chéri terkesiap dan membekap mulutnya. Dia terlihat hebat, pikirnya.


Demian dan Rafaél tercengang seraya memegangi pipinya masing-masing.


"Latihan hari ini selesai," teriak Mikail pada yang lainnya. "Kalian semua bubar!"


Seisi ruangan serentak berpencar.


"Mikail…" Rafaél menggumam.


"Apa?" Mikail menghardiknya. "Minta ditampar lagi?"


Rafaél terperangah.


Beberapa anak menoleh pada mereka.


"Lihat apa?" bentak Mikail.


Anak-anak itu spontan melejit meninggalkan ruangan seraya membekap mulutnya.


Rafaél berdeham, sementara Demian memalingkan wajahnya dan tertunduk.


Chéri menelan ludah dan beradu pandang dengan Cyzarine.


Mikail menoleh pada Cyzarine. "Kenapa kau masih di sini?"


Cyzarine menggembungkan kedua pipinya seraya mendelik, lalu buru-buru pergi.


Demian pun bergegas mengikutinya.


Mikail mendesah pendek dan menatap Rafaél.

__ADS_1


__ADS_2