Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 63


__ADS_3

"Chéri!" Mikail meraup tubuh Chéri dan menyelimuti gadis itu dengan long coat-nya. "Kau baik-baik saja, kan?" Ia bertanya khawatir.


Chéri tidak menjawab. Sepasang matanya terbelalak menatap para bodyguard yang mengeroyok Valentin. Mereka memukuli pria itu seperti menindas penjahat.


Tidak, batin Chéri terguncang. Penanganan seperti ini…


"Tega sekali," desis Chéri pada Mikail. "Apa perlu melakukan itu? Itu kan tubuh Rafaél."


"Ingat, Chéri. Tujuan kita adalah menangkapnya," tegas Mikail.


"Tapi—" Chéri tergagap, tidak melanjutkan perkataannya ketika tubuh Valentin tersungkur di lantai dalam keadaan pingsan.


"Putar mobil ke bawah gedung, lalu cepat bawa tandu dan obat tidur!" Mikail berteriak menginstruksikan pada seseorang di line teleponnya.


Chéri mengatupkan matanya rapat-rapat. Meringis dalam penyesalan yang teramat dalam. Cara penanganan seperti ini betul-betul salah, katanya dalam hati.


Lalu dengan tanpa pikir panjang dan penuh risiko, Chéri menghambur ke arah Valentin dan menguak kerumunan para bodyguard.


"Chéri!" Mikail tersentak dan menyergap bahu gadis itu.


Tapi pada saat yang sama, Valentin tiba-tiba bangkit menyambar tubuh Chéri dan menariknya sebagai sandera.


Mikail dan para bodyguard-nya tergagap.


Valentin mengalungkan sebilah belati di leher gadis itu. Lalu menyeretnya keluar kamar dan membawa gadis itu menuju lift.


Mikail mengerang dan memukulkan tinjunya ke meja.


Sesampainya di dalam lift, Valentin menurunkan pisau tadi dari leher Chéri. "Jangan lupakan apa yang kukatakan tadi," bisiknya. "Berhati-hatilah pada Mikail. Dia mata-mata keluarga Moscovich."


Chéri tergagap dan menelan ludah. Lalu menoleh ke belakang dan mendongak. Menatap ke dalam mata Valentin, mencari kepastian.


"Aku datang untuk mengatakan ini," kata Valentin. Raut wajahnya terlihat datar dan tatapannya terasa lembut.


Chéri tertegun dalam pandangan prihatin ketika pria itu mengernyit memegangi perutnya. "Sial," gerutunya. "Rasanya sakit sekali," erangnya.


Ketika lift terbuka, Valentin sudah memutar tubuh Chéri ke posisi semula dan mengalungkan lagi pisaunya di leher gadis itu.


Para bodyguard keluarga Moscovich sudah menunggunya di depan lift di lantai dasar.


Mikail muncul dari tangga tak lama kemudian, diikuti tiga bodyguard yang tadi berjaga di sekitar kamar Chéri.


Valentin mendorong gadis itu ke arah Mikail.


Pria itu menangkap Chéri.


Bersamaan dengan itu, dia juga melesat ke arah pintu keluar dan berhasil kabur.


Chéri membeku dalam dekapan Mikail, menatap kosong pintu keluar dengan perasaan tak menentu.


Apa maksudnya harus hati-hati pada Mikail?


Dan…


Mata-mata keluarga Moscovich…


Sebenarnya yang mana yang benar?


Siapa yang harus kupercayai?


Mikail adalah tangan kanan Rafaél. Dan dia tidak pernah mengecewakan Chéri.

__ADS_1


Apanya yang perlu diwaspadai?


Apa pun yang dilakukan pria itu selama ini, semuanya demi melindungi Chéri. Mikail tidak mungkin mencelakainya.


Tapi cara penanganan yang seperti tadi…


"Chéri, are you okay?" Mikail bertanya khawatir.


Dia sangat mengkhawatirkanku, pikir Chéri.


Lalu pria itu memeluknya dan membawa gadis itu kembali ke kamarnya.


"Apa kau terluka?" Mikail mendudukkan Chéri di sofa dekat perapian, kemudian berjongkok di depannya dan mendongak menatap gadis itu dengan ekspresi cemas.


Chéri menggeleng dengan ekspresi wajah masih terguncang.


Mikail memeluknya dan mengusap-usap kepala gadis itu. "Maafkan aku," katanya. "Aku janji tidak akan membiarkanmu berada dalam bahaya lagi."


Chéri masih bergeming dalam kebimbangan yang sulit dimengerti.


Segala sesuatu dalam dirinya merasa aman dalam dekapan Mikail. Tapi hati kecilnya tergoda untuk mencari tahu kebenaran tentang pria ini.


Kalau dipikir-pikir, aku tidak terlalu mengenalnya selain sebagai tangan kanan Rafaél.


Rafaél telah mempercayainya sepenuh hati. Tapi benarkah pria ini bisa dipercaya?


Chéri tiba-tiba ingat Mikail pernah bercerita mengenai dirinya yang diselamatkan oleh keluarga Moscovich. Lalu orang tua Rafaél menempatkannya di sisi Rafaél.


Barangkali kesetiaan Mikail selama ini bukan pada Rafaél. Tapi pada orang tua Rafaél.


Perkataan Valentin mungkin ada benarnya.


Dan jika itu benar, artinya Mikail mungkin tak akan segan mengkhianati Rafaél demi Moscovich Corporation.


Dia tetap berjaga sepanjang malam, sementara sebagian bodyguard memburu Valentin. Beberapa di antaranya tetap berjaga di luar gedung.


Chéri mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur.


Tapi suara panggilan telepon membuatnya bergegas ke meja telepon.


"Chéri—"


Suara ini…


Chéri tertegun dengan jantung berdebar-debar.


Pria di line telepon itu adalah Rafaél, mungkin juga Valentin. Tapi, ah, sama saja.


Bagaimanapun pria itu menggunakan tubuh yang sama. Sosok tinggi yang dikagumi Chéri.


"Chéri, kau mendengarku?" Suara di line telepon itu terdengar tenang seperti kepribadian Rafaél.


"Ah, ya!" Chéri menjawab terbata-bata.


"Dengar," kata suara di line telepon itu. "Aku akan menolongmu."


Chéri menautkan alisnya. "Rafaél?"


"Ya," jawab pria itu.


"Kau benar-benar Rafaél?"

__ADS_1


"Ya."


Senyum Chéri menghangat.


"Tetaplah berlatih Joan di Tsar Dramy. Bisa, kan?" pinta pria itu di luar dugaan Chéri.


Chéri mendadak ragu. Jika dia benar-benar Rafaél, lalu kenapa dia malah menyuruhnya bertahan di Tsar Dramy?


Itu sarang musuhnya!


"Tunggu aku dan percayalah padaku," kata pria itu lagi, lebih terdengar seperti peringatan daripada permintaan.


"Tapi—"


Panggilan sudah terputus.


Chéri membeku dalam kebimbangan baru yang makin menghimpitnya.


Tapi kemudian panggilan lain masuk setelah dia meletakkan pesawat teleponnya.


"Rafaél," Chéri segera menjawabnya, sedikit terlalu bersemangat.


"Aku Cyzarine," kata suara di seberang mematahkan hati Chéri.


"Oh, hai—" senyum Chéri seketika lenyap.


"Bisa ke MoscovArt Theatre sekarang?" tanya Cyzarine.


"MoscovArt Theatre?" Chéri tergagap lagi, tersengat perasaan khawatir.


"Ini penting," katanya.


"Tapi—"


"Ah, ya. Aku lupa kau sudah hengkang." Cyzarine memotong cepat-cepat. "Kalau begitu temui aku di Coffee Shop dekat MoscovArt Theatre. Kau tahu tempatnya?"


"Ya," jawab Chéri.


"Baiklah, kita bertemu di sana sepuluh menit lagi."


Sebelas menit kemudian…


"Kau terlambat," sambut Cyzarine sembari menyeringai. Gadis itu duduk di meja sudut dengan secangkir kopi yang sudah tersaji di depan matanya.


"Maaf," ungkap Chéri. Dia harus menunggu Mikail lengah dulu sebelum menyelinap keluar.


Cyzarine menyalakan sebatang rokok dan menjentikkan jari ke arah pramusaji untuk memesan minuman lain. "Kau mau kopi?" Ia menawarkan setelah pelayan menghampiri mereka.


"Aku pesan teh saja," kata Chéri pada pelayan itu.


"Sesha mengabariku, katanya kemarin malam di kantor MoscovArt Theatre ada telepon dari Rafaél," cerita Cyzarine setelah pelayan meninggalkan meja mereka. "Katanya, mulailah latihan Joan, aku yakin MoscovArt Theatre akan menang meskipun harus bersaing dengan Tsar Dramy, karena aku akan kembali dan mengambil alih pimpinan."


Mata Chéri spontan melebar. "Benarkah?"


"Ya," jawab Cyzarine sembari mengembuskan asap rokok dari mulutnya. "Itulah sebabnya Sesha memintaku untuk kembali ke MoscovArt Theatre. Dan… yah, kalau itu benar, aku mau kembali ke sana."


Jadi telepon tadi juga…


Chéri berdebar-debar.


"Dia juga meneleponku dan mengatakan hal yang sama, katanya tetaplah berlatih Joan di Tsar Dramy karena aku pasti akan menyelamatkanmu," cerita Chéri bersemangat.

__ADS_1


"Ternyata dia masih menghilang," komentar Cyzarine sembari memutar-mutar bola matanya. "Buktinya kepribadian gandanya masih belum sembuh," Cyzarine menambahkan.


__ADS_2