Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 64


__ADS_3

"Kau salah," kata Chéri. "Ini berbeda dengan sebelumnya. Menurutku, kalau Rafaél sudah menelepon ke kantor MoscovArt Theatre, artinya ada harapan."


"Huh! Apaan?" Cyzarine mendengus. "Ini sih artinya sama sekali tidak ada perubahan. Kalau dia bisa menelepon, kenapa dia tidak bisa memperlihatkan dirinya?"


"Dia pasti sudah menyusun rencana yang menguntungkan dirinya, apalagi dia juga mengatakan akan menyelamatkanku. Dia pasti sudah melihat peluang untuk menang."


Cyzarine melengak menanggapi keyakinan Chéri. "Jangan lupa soal masih ada kepribadian lain itu," ia mengingatkan Chéri. "Kita hanya bisa mempercayainya lima puluh persen."


Chéri langsung terdiam.


"Kau yakin masih ingin memerankan Joan di teater Vladimir?" tanya Cyzarine.


"Kalau Rafaél yang meminta, aku akan melakukannya."


"Naif sekali," kata Cyzarine. "Itu kan cuma suara di telepon. Bisa saja yang menelepon si kepribadian lain."


"Dari suaranya saja, aku sudah tahu kalau itu Rafaél." Chéri bersikeras.


Cyzarine meledak tertawa. "Kau benar-benar seperti Joan yang mendengar suara Tuhan," katanya.


Dan sebelum Chéri sempat bereaksi, suasana di sekitar mereka tiba-tiba berubah gaduh. Gadis-gadis di seputar meja di sebelah mereka mendadak ribut dan cekikikan.


Chéri dan Cyzarine mengikuti arah pandang mereka ke arah pintu masuk.


Seorang pria tinggi memasuki Coffee Shop itu dengan tampang cemberut dan setengah dari para pengunjung wanita dibuat terkesiap.


Chéri mengerang seraya memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.


Mikail menyeruak melintasi ruangan dan bergegas ke meja mereka.


Cyzarine beranjak dan memundurkan kursinya. "Aku harus pergi," katanya cepat-cepat.


"Hei—" Chéri tergagap dan membeku tak berdaya.


Mikail sudah sampai di meja mereka.


"Aku ada janji kencan," kata Cyzarine sembari membenahi barang-barangnya dan menjejalkan semuanya ke dalam tas. Lalu membungkuk ke arah Chéri. "Aku takut tergoda kalau terlalu lama berada di sini," bisiknya sembari mengerling ke arah Mikail.


Pria itu tetap memasang wajah cemberut.


Chéri tertunduk dengan raut wajah kikuk, tak berani menatap Mikail.


"Ayo pulang!" Mikail menyambar pergelangan tangan Chéri dan menariknya hingga berdiri.


Para gadis yang sejak tadi memelototinya mengerang kecewa.


"Dia sudah punya istri," kata mereka.


Chéri menelan ludah dan mengedar pandang.


Gadis-gadis itu memalingkan wajahnya cepat-cepat.


Mikail mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan meletakkannya di meja, lalu menyeretnya pergi.


"Jelaskan padaku mengenai telepon dari Rafaél itu," desak Mikail setelah mereka sampai di apartemen lima menit kemudian.


Chéri tersentak dan memeriksa seluruh pakaian yang dikenakannya. Lalu menemukan mikrofon kecil dalam kantong long coat-nya.

__ADS_1


"Kau menguping pembicaraanku dengan Cyzarine?" Chéri melotot tak sabar, merasa sedikit jengkel.


"Tugasku adalah melindungimu, Chéri!" sergah Mikail setengah menggeram.


"Tapi ini sedikit… keterlaluan," dengus Chéri seraya mengacungkan perangkat mikrofon di depan wajah Mikail. Lalu melemparkan mikrofon itu ke meja telepon.


Mikail melirik mikrofon itu sekilas dan kembali menatap Chéri.


Chéri memalingkan wajahnya dan mengambil sikap meninggalkannya. Merenggut kerah long coat-nya dan melucutinya, lalu melemparkannya ke tempat penyimpanan jaket.


"Chéri—" Mikail berusaha menahan Chéri ketika gadis itu bergegas menuju kamarnya.


Chéri berhenti dan memelototinya.


"Aku menyesal soal… mikrofon itu," sesal Mikail. "Tapi—"


Chéri mengerang dan membeliak sebal. 


"Kenapa kau harus menyelinap keluar diam-diam?" tanya Mikail. "Kenapa kau tidak memberitahu aku soal telepon itu? Apa yang salah denganmu? Kau tak pernah merahasiakan apa pun dariku sebelumnya!"


Chéri tidak menjawab.


"Kau sudah tidak membutuhkan aku?" Mikail bertanya lagi dengan ekspresi terluka.


Tiba-tiba Chéri merasa bersalah. 


"Sorry," desis Chéri. "Aku sebetulnya tidak begitu yakin apakah dia benar-benar Rafaél. Seharusnya sekarang dia Valentin, kan?"


"Seharusnya?" Mikail menaikkan alisnya.


"Aku hanya tak yakin," tukas Chéri. "Itu saja."


Chéri menelan ludah dan tertunduk.


Mikail meletakkan kedua tangannya di bahu Chéri dengan sangat hati-hati. "Chéri," bisiknya lembut.


Chéri mengangkat wajahnya dan mendongak, menatap wajah Mikail yang berada cukup tinggi di atas kepalanya.


Dan seketika pria itu berubah pikiran. "Tidurlah," katanya seraya mengusap-usap bahu gadis itu. "Aku akan tidur di kamar Rafaél," katanya. "Jangan sungkan untuk membangunkanku jika terjadi sesuatu."


Chéri kembali tertunduk dalam kebisuan yang membingungkan.


Mikail meninggalkannya tanpa menoleh lagi.


Chéri masih mematung di depan perapian, menatap kosong keluar jendela.


Chéri menghabiskan sepanjang malam itu dengan membolak-balikkan tubuhnya.


Dan ketika pagi tiba, dia terbangun dalam keadaan letih.


Pintu kamarnya terbuka dan Mikail muncul membawa nampan sarapan sembari tersenyum lebar. Tampak segar sehabis mandi.


"Aku harus ke Tsar Dramy," Chéri memberitahu pria itu setelah mereka selesai sarapan.


Mikail melirik arloji di pergelangan tangannya. "Mari kuantar dengan mobilku," ia menawarkan.


"Tidak, terima kasih!" Chéri menolak cepat-cepat.

__ADS_1


Pria itu memicingkan matanya dengan terkejut.


Chéri membungkuk di depan lemari tempat penyimpanan jaket dan sepatu, meraih sepatu selututnya dan memakainya.


Mikail memperhatikan gadis itu sembari bersedekap. Raut wajahnya terlihat dingin. "Chéri," tegurnya agak tajam.


Chéri mendongak dengan mata dan mulut membulat, terkejut oleh perubahan wajah Mikail.


"Apa Rafaél menanamkan sesuatu dalam pikiran Valentin?"


Pertanyaan Mikail membuat Chéri tergagap.


.


.


.


Ibis Moscow Kievskaya…


Valentin mengerjap dan mengernyit, memegangi kepalanya. Ia menarik bangkit tubuhnya dan berjalan terhuyung ke arah jendela. Membuka tirai sembari menggerutu.


Cahaya matahari yang menyelinap masuk terasa menyiksanya.


Ia duduk membungkuk di tepi tempat tidur ketika seorang Front Office masuk mengantarkan bon tagihan untuk chek out.


"Arrrrrgh," geram Valentin. "Letakkan saja di sana!"


"Apa Anda baik-baik saja?" Front office itu bertanya dengan sopan. 


"Berisik!" Valentin menghardiknya.


Pria itu mendesah pendek dan bergegas keluar.


"Hei!" Valentin meneriakinya.


Pria itu tersentak dan berbalik.


"Apa tadi ada segerombol orang yang menanyakan aku?" tanya Valentin.


"Ya," jawab pelayan itu sedikit gugup. Tatapan tajam Valentin membuatnya agak takut. "Tadi sepertinya ada di lobi, dan… ada juga yang menelepon menanyakan Anda, tapi dia tidak mau memberitahukan namanya."


Valentin mendesah kasar. "Benar-benar merepotkan," gerutunya tak sabar.  "Mereka mengikutiku ke mana-mana." Padahal aku sudah susah payah merebut tubuh ini dari Rafaél, batinnya. Kalau begini terus mana bisa bergerak. Aku harus melakukan sesuatu! 


Ia mengernyit lagi seraya memegangi kepalanya. Apa-apaan ini? pikirnya jengkel. Kenapa setiap pagi kepalaku sakit?


Setelah yakin tak ada yang ditanyakan lagi, front office tadi memohon diri.


"Hei!" Valentin berteriak lagi seraya mengacungkan kertas tagihan.


Pria muda tadi kembali berbalik dengan syok.


"Tagihan telepon apa ini? Aku tidak ingat pernah memakai telepon," cerocos Valentin setengah menghardik. Lalu menjejalkan kertas tagihan di tangannya ke tangan si front office. "Hapus!"


"Tapi, Tuan—"


"Kubilang hapus!" Valentin tidak mau tahu.

__ADS_1


"Ba---baik!" Front office itu bergegas meninggalkan kamar Valentin dengan wajah frustrasi. "Mana bisa dihapus," gerutunya setelah mencapai koridor. "Datanya sudah ada di arsip."


__ADS_2