Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 79


__ADS_3

"Padahal watak Rafaél sendiri belum matang, sudah mau jadi ayah? Yang benar saja!" Valentin masih mengoceh sementara Chéri berpura-pura tidak mendengarnya.


Gadis itu tetap sibuk merapikan kamar Rafaél.


Valentin memperhatikan gadis itu dari tempatnya sembari bersedekap. "Selamanya dia akan tetap menjadi anak kecil," katanya seraya menurunkan tangannya dan berjalan perlahan mendekati Chéri.


Chéri menyusun tumpukan naskah dan buku-buku Rafaél di meja.


"Kau sendiri sebetulnya bisa merasakannya, kan?" Valentin bertanya pada Chéri.


Chéri tidak menggubrisnya. Meski ia sedikit membenarkan pendapat Valentin. Hatinya serasa tercubit.


"Kerapuhan dan ketidakwajarannya…"


"Aku mencintai Rafaél yang seperti itu!" sergah Chéri memotong perkataan Valentin.


"Hei, jangan bicara sembarangan," tukas Valentin santai. "Kau kan tidak tahu apa-apa tentang kami berdua."


"Aku tahu segalanya tentang Rafaél! Karakteristiknya, cara berpikirnya, apa yang dia sukai, apa yang dia benci, apa yang dia lihat, apa yang dia rasakan. Aku tahu semuanya!" Chéri bersikeras. Lalu berbalik dan bergegas ke arah pintu.


Valentin menghadangnya. "Aku berada di dalam dirinya!" sergahnya tak mau kalah. "Padahal dulu ini adalah tubuhku. Tapi selama sembilan tahun, aku terkurung di dalam dirinya. Dan aku terus melihat apa yang dia perbuat. Apa kau tahu bagaimana rasanya itu? Hanya bisa melihat. Tidak bisa melakukan!"


"Aku—" Chéri tergagap. "Bisa membayangkan…"


"Nah, sekarang dia yang berada di dalam dan merasakan penderitaanku. Itu wajar saja, kan?" Valentin mendesak Chéri ke dinding.


Chéri mengkerut.


"Dia telah mengambil alih tubuhku selama sembilan tahun," ulang Valentin. Wajahnya dipenuhi kepahitan. "Semakin dia menderita semakin baik," geramnya pada Chéri, seolah semua itu adalah kesalahan Chéri.


"Sayang sekali," desis Chéri. "Padahal kalian kan saudara kembar."


"Makanya aku sakit hati," tukas Valentin. "Hanya karena perbedaan beberapa menit, keadaan kami bisa menjadi begitu jauh berbeda bagaikan langit dan bumi. Dia menjadi tuan muda di dalam keluarga kaya, aku menjadi anak pungut di dalam keluarga miskin dan hidup sengsara. Ibu angkatku mati muda karena sakit. Ayah angkatku hanya seorang pekerja serabutan. Selama aku dibesarkan, aku sering dipukuli oleh ayah angkatku. Mana ada saudara kembar yang berat sebelah seperti itu?"


Chéri spontan terdiam.


Valentin menyeringai. "Tapi… sekarang aku sudah punya cara untuk mengambil alih kembali tubuhku," katanya dengan raut wajah penuh kemenangan. "Berkat aku terkurung lama dalam dirinya, aku jadi paham caranya berpura-pura menjadi dia. Aku bahkan bisa menjadi sutradara yang setaraf, bahkan lebih. Bukan begitu?"


Chéri mengakuinya dalam hati.


"Mulai sekarang, aku akan hidup sebagai Rafaél Moscovich. Dan…" Valentin mencondongkan tubuhnya ke arah Chéri, mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis itu sembari menyeringai tentunya. "Keberadaannya akan benar-benar hilang."


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," tantang Chéri. Lalu mendorong dada pria itu dan menampar wajahnya.

__ADS_1


Di luar dugaannya, pria itu tidak melawan. Ia bahkan tidak segera mengangkat wajahnya. "Pukul saja," bisiknya tanpa menoleh. "Itu takkan mengubah apa-apa. Aku akan tetap menang. Lalu dia akan menyerah dan hilang."


Chéri beringsut mundur sembari membekap mulutnya. Sepasang bibir dan kelopak matanya bergetar. Matanya berkaca-kaca.


Jiwa Rafaél…


Akan menghilang?


Valentin meliriknya dan tersenyum dingin. Lalu berjalan perlahan mendekatinya. Lalu meraup kedua pundaknya yang gemetar.


Chéri membeku dalam rengkuhan pria itu. Pria itu membungkuk dan mencium pipinya.


Chéri masih bergeming.


"Kalau kau benar-benar tidak mau, aku akan berhenti," bisiknya lembut membujuk. Lalu menyusupkan mulutnya di bawah telinga gadis itu. "Pukul aku sekali lagi," godanya seraya menggesek-gesekkan bibirnya di leher gadis itu. "Lampiaskan semua kebencianmu sepuasnya."


Sesaat Chéri hampir terbuai.


Wajahnya… suaranya…


Semuanya sama, pikir Chéri. Tapi secepatnya ia mengingatkan dirinya bahwa pria itu bukan Rafaél. Chéri mendorong bahu pria itu. "Aku betul-betul kasihan padamu," katanya mencemooh.


Pria itu spontan melepaskan cengkeramannya, menatap Chéri dengan ekspresi tersinggung.


"Aku mencintai Rafaél," Chéri menegaskan. "Hanya itu yang pasti tidak akan berubah."


"Tidak," Chéri memberontak dan mendorongnya menjauh. "Kau salah!"


Valentin tidak menggubrisnya. Ia menyusupkan mulutnya lagi di leher Chéri. Sebelah tangannya mulai merayap ke dada Chéri dan menekannya.


"Lepaskan!" pekik Chéri. Nanti Rafaél melihatnya! pikirnya cemas. "Valentin!"


Pria itu menariknya ke tempat tidur dan mendorongnya hingga terlentang. Lalu menindihnya. Menancapkan mulutnya lagi, kali ini di puncak dada Chéri yang menyembul indah terbungkus sweatshirt tipis.


Chéri meronta-ronta sekuat tenaga. "Rafaél!" pekiknya.


Valentin membekap mulut Chéri dengan mulutnya.


Chéri melipat sebelah kakinya dan mendorong pinggang pria itu dengan lututnya.


Pria itu menekankan bagian bawah tubuhnya ke tubuh Chéri hingga Chéri bisa merasakan sesuatu yang keras mengganjal di bagian bawah tubuhnya.


Ini tak beres, pikir Chéri. "Lepaskan aku!" jeritnya.

__ADS_1


Pria itu merenggut puncak dadanya lagi dan memagutnya.


"Valentin---hentikan!" Chéri terengah-engah. Bagaimanapun bibir itu adalah bibir yang sama yang menciumnya tadi malam. Jantungnya berdebar-debar di antara hasrat dan kekhawatirannya.


Jangan tergoda! Chéri memperingatkan dirinya sendiri.


Tapi sentuhan Valentin membangkitkan hasrat dari dalam dirinya. Hasratnya bergemuruh. Membuat Chéri tak berdaya.


Alangkah baiknya jika dia adalah Rafaél, pikir Chéri sedih.


Rafaél tidak akan melakukannya! Sisi dirinya yang lain mencemooh.


"Hubungan kalian adalah hubungan ayah dan anak yang palsu!" Kata-kata Valentin terngiang dalam benaknya.


Chéri mengatupkan matanya dan menangis.


Valentin tiba-tiba berhenti dan menarik diri.


Lalu berdiri membeku menatap Chéri.


Gadis itu berguling tengkurap dan menyusupkan wajahnya. Bahunya berguncang dan mulai terisak.


Valentin menelan ludah dan beringsut mundur. "Kali ini aku melepasmu," katanya. "Sampai… kau yang datang sendiri ke dalam pelukanku."


Chéri mengangkat wajahnya dari bantal dan menoleh pada pria itu.


"Itulah yang akan kau lakukan setelah selesai pementasan Joan," tandas Valentin. Lalu pria itu memutar tubuhnya memunggungi Chéri dan bergegas keluar kamar.


Chéri menarik bangkit tubuhnya dan menatap punggung pria itu dengan perasaan gamang.


Dia terlihat begitu percaya diri, pikir Chéri.


Diusapnya kedua mata dan pipinya dengan telapak tangan, lalu merayap perlahan ke tepi tempat tidur dan menurunkan kedua kakinya.


Tapi tidak segera beranjak.


Chéri kembali tercenung.


Tidak bisakah Rafaél lebih baik dari itu?


Rafaél memiliki lebih banyak hal untuk dibanggakan. Dia memiliki lebih banyak alasan untuk bisa lebih percaya diri lagi.


Chéri menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya. Lalu mengembuskan perlahan. Ia menoleh ke arah jendela dan mengedar pandang ke seluruh ruangan.

__ADS_1


Kamar itu belum selesai dirapikan. Haruskah aku menyelesaikannya sekarang? Chéri menimang-nimang.


Sepertinya Valentin tidak akan kembali ke sini untuk sementara. Dia pasti membutuhkan waktu cukup lama untuk menenangkan diri dan menenangkan… itu.


__ADS_2