Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 82


__ADS_3

"Sebenarnya…" Mikail mengeluarkan sebuah amplop dari saku jasnya. "Yang tewas dalam kebakaran sembilan tahun yang lalu itu… bukan Rafaél. Tapi kau, Valentin!"


Chéri terhenyak seraya membekap mulutnya. Antara terkejut dan gembira. Sudah kuduga Rafaél belum meninggal, pikirnya.


"Kau sudah mati, Val!" Mikail menambahkan.


Valentin mendengus dan menyeringai. "Kau pikir kau bisa menggertakku dengan omong kosong seperti itu?" katanya mencemooh. "Tubuh ini milikku. Akulah yang memiliki tanda lahir!"


"Tanda lahir itu palsu!" sergah Mikail. Ia mengacungkan amplop yang tadi dikeluarkannya dari sakunya. "Aku punya buktinya di sini!"


Valentin langsung terdiam.


Chéri mengamati keduanya secara bergantian.


"Ini surat keterangan dokter mengenai anak yang selamat dari kebakaran itu," jelas Mikail sembari menaruh amplop itu di meja rias di dekat Chéri.


Valentin merenggutnya, membukanya dan membacanya.


"Tanda yang terdapat di pinggangnya bukan bawaan sejak lahir," tutur Mikail. "Telah diketahui bahwa tanda tersebut merupakan tanda yang disebabkan oleh operasi yang dijalaninya belum lama ini. Anak ini bukan Valentin yang memiliki tanda lahir di bagian pinggangnya. Telah disimpulkan bahwa dia adalah kakak kembarnya, Rafaél Moscovich."


Valentin mengalihkan perhatian dari surat itu dan melirik pada Mikail. "Taktik murahan," dengusnya.


"Itu adalah yang sebenarnya," tukas Mikail. "Informasi ini memang tidak dipublikasikan. Keluarga Moscovich memang sengaja merahasiakannya. Tapi kau akan tahu kalau kau menanyakannya langsung pada orang yang bersangkutan."


Chéri merenggut surat itu dari Valentin dan membacanya. Wajahnya langsung semringah. "Jadi Rafaél benar-benar nyata?" serunya gembira.


Valentin meliriknya dengan ekspresi terluka.


"Dari awal aku memang sudah yakin kalau yang tewas dalam kebakaran itu bukan Rafaél," Chéri balas meliriknya sembari menyeringai. Lalu berpaling pada Mikail. "Kenapa selama ini kau diam saja?" gerutunya pada pria itu. "Padahal kau juga sudah tahu dari awal, kan? Kalau kau mengatakan ini sejak awal, penderitaan Rafaél minimal bisa berkurang."


"Masih ada satu lagi surat keterangan dokter…" Mikail kemudian menarik keluar amplop lainnya. "Milik anak yang tewas."


Chéri menyambarnya dan membukanya.


"Dengan kata lain… sertifikat kematian Valentin!" Mikail menambahkan.


Chéri memekik dan membekap mulutnya. "Ini bohong, kan?"


"Itulah yang membuatku terpaksa tutup mulut selama ini," gumam Mikail.


Valentin merenggut surat itu dari tangan Chéri dan membacanya. Lalu tertawa terbahak-bahak.


Chéri dan Mikail membeku dengan ekspresi tak berdaya.


Surat keterangan dokter itu menyatakan bahwa penyebab kematian Valentin bukanlah kecelakaan, tapi tewas karena dibunuh. Dan karena di ruangan tertutup itu hanya ada mereka berdua, maka diperkirakan pembunuhnya adalah Rafaél.


"Terima kasih, Mikail!" Valentin berseloroh di antara gelak tawanya. Lalu berhenti tertawa dan menatap tajam ke arah Chéri. "Dengan begini, alasanku membenci Rafaél menjadi semakin jelas. Dengan ini, Rafaél tidak mungkin bisa mengalahkanku. Kau salah perhitungan, tuan Volkov!"


Mikail tetap bergeming.

__ADS_1


"Setelah mengetahui kebenarannya, aku justru merasa semakin kuat!" Valentin menambahkan. "Ah—sudah waktunya," katanya pada Chéri. Lalu merenggut pergelangan tangan gadis itu dan menariknya keluar ruangan. "Ayo!"


"Tunggu!" Chéri menahan Valentin. "Apa tidak ada cara supaya kalian bisa hidup bersama?"


Valentin menoleh pada Chéri. Sebelah alisnya terangkat tinggi, merasa sedikit jengkel.


"Kumohon!" pinta Chéri.


"Sudah berjalan sejauh ini," Valentin menjawab dingin. "Itu mustahil!"


Chéri mendesah tak berdaya.


Valentin berbalik menghadap ke arah Chéri. "Sekarang kau sudah tahu Rafaél seorang pembunuh," katanya dengan ekspresi mencela. "Kau masih mencintainya?"


Chéri spontan terdiam.


"Apa kau benar-benar bisa mencintainya?"


Chéri terhuyung dengan wajah kembali pucat.


"Chéri! Sekarang giliranmu!" Pengawas panggung berteriak dari ruang monitor. "Ayo! Berjuanglah! Tinggal satu adegan lagi!" pria itu menyemangati Chéri.


Pengawas panggung itu adalah…


Kyle Denovich!


Chéri berjalan ke arah panggung dengan tatapan kosong, kepalanya dipenuhi perkataan-perkataan Valentin.


Sekali lagi, situasi seolah mendukung setiap perannya. Aktingnya selalu terlihat wajar.


Atau demikiankah sejatinya berakting?


Benar!


Akting itu bukan aksi pura-pura…


Tapi pertarungan nyata melawan diri sendiri.


Sebab panggung…


Adalah semesta yang telah disihir!


Kemampuan akting Chéri bukan semata keberuntungan. Tapi memang begitulah cara Chéri menghayati perannya.


Sebagian orang menangkap karakter dan emosi tokoh dalam cerita dengan pendekatan terhadap sosok bersangkutan. Tapi itu hanya berlaku jika tokoh dalam cerita berasal dari dunia yang sama.


Bagaimana jika tokoh dalam cerita berasal dari dunia yang berbeda?


Seperti Joan yang berasal dari abad pertengahan…

__ADS_1


Atau tokoh lain yang muncul dari khayalan.


Siapa yang dapat melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh khayalan?


Menangkap emosi tokoh tidak dengan cara memaksakan diri menjadi tokoh bersangkutan, cara terbaik untuk menangkapnya adalah dengan menarik tokoh itu ke dalam diri kita.


Dan… di sinilah Chéri sekarang!


Terombang-ambing di antara keyakinan dan kenyataan.


Sama seperti…


Joan d'Arc!


"Kita terlambat tiga puluh detik," Kyle memberitahu para staf melalui mikrofon. "Joan akan tampil di depan tirai panggung. Saat itu, dekorasi panggung untuk hukuman bakar disiapkan."


Dan seketika, para staf mulai sibuk.


"Apa petugas 'burner' di bawah sudah siap?" Pemimpin staf berteriak dari sisi panggung.


"Ya, semuanya sudah dinyalakan!"


"Besarkan lagi apinya!" Instruksi pemimpin staf itu.


Valentin berdiri di atas tiang hukuman bakar, "Apa aku kelihatan seperti terbakar di udara?" ia bertanya meminta pendapat para staf di bawahnya.


"Whoaaaaa… luar biasa!" seseorang berkomentar. "Bagaimana sih, caranya?"


"Ini adalah trik yang menggunakan pencahayaan dan half mirror," tutur Valentin sembari merayap turun dan bergabung dengan para staf. "Pertama-tama, api sungguhan dinyalakan di bawah panggung. Lalu kobaran api itu terefleksi di half mirror yang menutupi seluruh bagian bawah panggung, sehingga, dari kursi penonton kelihatan seperti terbakar di udara."


Para staf menyimak penjelasannya sembari berdecak kagum. Terutama staf yang berasal dari grup Tsar Dramy.


"Dalam prakteknya, kalau aktor yang berhadapan dengan half mirror disorot lampu spot light yang kuat, terefleksi kobaran api, dan aktor akan menjadi satu, sehingga kelihatan seperti benar-benar dibakar bersama. Prinsipnya sama dengan zanaves."


"Apa aktornya tidak akan kepanasan?" Staf dari grup Vladimir penasaran.


"Udara panas dari kobaran api dialihkan ke tempat lain untuk menjaga keselamatan pemain dan para penonton," jelas Valentin.


Staf itu bertepuk tangan dengan ekspresi kagum.


"Cek lagi tangganya," perintah Valentin pada para staf.


Mikail muncul dan bergabung dengan mereka.


Valentin meliriknya dengan ekspresi dingin. "Chéri sedang tampil," bisiknya pada Mikail. "Sekarang dia sedang berada di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh orang lain."


Mikail mengerjap dan tidak menoleh.


"Setelah ini, Chéri sendiri yang akan memutuskan memilih aku atau Rafaél." Valentin menambahkan.

__ADS_1


Mikail tetap bergeming. Tapi hatinya serasa tersengat. Rafaél tidak pernah muncul, pikirnya getir. Pilihan Chéri sepertinya sudah bisa dipastikan!


__ADS_2