Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 20


__ADS_3

"Ayo, Chéri! Sekarang giliranmu!" Cyzarine menghampiri Chéri yang berdiri membelakanginya menatap keluar dekat jendela di sisi ruangan. "Lakukan sekali lagi dengan adegan yang sama," tangannya seraya bersedekap.


Chéri masih bergeming.


"Rafaél tidak sekali pun menegurku. Itu artinya dia sudah puas!" Cyzarine memprovokasi. "Yah! Kalau dipikir-pikir, wajar saja. Peran ini memang tepat untukku. Orang lain takkan bisa memerankannya sepertiku!"


Chéri akhirnya berbalik dari jendela, kemudian berjalan perlahan melewati Cyzarine.


Cyzarine mengerjap dan tercengang. Ekspresi itu… Cyzarine menoleh pada Chéri. Menatapnya dengan mata terpicing. Ekspresi fokus yang tidak peduli pada sekitar, katanya dalam hati. Dia tidak mendengarku!


Chéri melangkah ke tengah ruangan.


"Chéri!" Rafaél memanggilnya.


Chéri menghampirinya dan mendongak menatap wajah Rafaél.


Rafaél menautkan kedua alisnya. Ekspresinya…


"Rafaél…" Chéri memanggilnya.


"Ya?" Rafaél mengerjap dan tertegun.


"Si Cantik bukan putri bangsawan, kan?" Chéri bertanya dengan wajah datar.


Rafaél tergagap sesaat sebelum menjawab, "Ah, dia… anak saudagar kaya."


Anak saudagar?


Chéri mengangguk tipis dan tersenyum samar, kemudian berbalik memunggungi Rafaél dan berjalan ke tengah ruangan.


Demian memperhatikan gadis itu dengan tatapan yang sama dengan Cyzarine.


"Ayo, mulai!" Rafaél menginstruksikan. "Ulangi sekali lagi dari babak-1!"


Apa pun yang akan terjadi, terjadilah! tekad Chéri.


.


.


.


"Bagaimana denganmu, Cantik?" Sang saudagar bertanya pada Si Cantik.


Hening!


Seisi ruangan mengerutkan dahinya.


Cyzarine menyeringai. Apa lagi yang dia tunggu?


Mikail mengawasi dari dekat pintu masuk.


"Cantik?" Sang saudagar berimprovisasi. "Katakanlah apa yang kau inginkan?"


Chéri masih bungkam. Hanya menggerakkan tangan, menaikkan sebelah tangannya ke atas tangan yang lainnya. Seperti seseorang yang sedang menuangkan secangkir teh dengan hati-hati. Kemudian menyodorkannya.


Mikail tersenyum tipis.

__ADS_1


Rafaél mengerjap.


Sang saudagar terkesiap—tindakan Chéri di luar dugaan. "Cantik… Tehnya nanti saja!" Sang saudagar tersenyum gelisah. "Katakanlah apa yang kau inginkan?!"


Chéri tertunduk. "Kalau aku… bunga mawar saja." Chéri mengangkat wajahnya. "Satu tangkai juga sudah cukup. Aku ingin menanamnya di pekarangan rumah kita."


Sang saudagar terenyuh—akting Chéri berbeda dengan Cyzarine. "Aduh, Cantik! Yang lebih mewah juga tidak apa-apa!"


Chéri berpaling menghindari tatapan saudagar dan menyembunyikan senyumnya.


Seisi ruangan melengak.


"Wah! Apa itu tidak apa-apa?" Beberapa orang mulai berbisik-bisik. "Kenapa dibiarkan saja? Seharusnya tidak begitu, kan?"


Cyzarine mencebik. "Akting macam apa coba? Dasar payah!"


"Rafaél!" Demian berbisik seraya menyikut lengan Rafaél. "Anak itu… interpretasi karakternya benar-benar keliru!"


Karakter Si Cantik menurut interpretasi Chéri, jika dijabarkan kurang lebih seperti ini: Si Cantik tidak percaya ayahnya akan pulang membawa uang banyak—ia tak berharap banyak, jadi lebih penting baginya untuk menuangkan teh untuk ayahnya.


Apanya yang salah? pikir Rafaél.


"Memang dialognya sama," kata Demian. "Tapi para pemain lainnya jadi bingung!"


Rafaél mendesah pendek dan terpaksa menghentikan Chéri. "Chéri!" panggilnya. "Ke sini sebentar!" Perintahnya.


Chéri tidak bergerak.


"Ini tentang interpretasimu…"


Tidak, pikir Chéri. Aku akan tetap seperti ini.


Chéri tetap diam. Ini adalah pertama kalinya aku menentang Rafaél, pikir Chéri. Tapi aku tak peduli!


"Cepat ke sini, Chéri!" Rafaél mengulangi perintahnya.


"Tidak," sergah Chéri. "Aku akan tetap berakting seperti tadi!"


Seketika ruang latihan berubah gaduh.


Rafaél mengetatkan rahangnya dan memelototi Chéri.


"Anak itu buat ulah lagi!" beberapa orang mulai bergunjing.


Begitulah pada akhirnya situasi itu menggemparkan semua orang hingga tersebar sampai ke ruangan lain.


"Apa? Chéri buat ulah lagi?" Tim kreatif ikut penasaran. Kemudian menghambur serentak ke ruang latihan.


"Mana, coba! Aku mau lihat!"


Kyle menyeruak cepat mendahului yang lain. "Minggir! Minggir!"


"Hei! Kalian—" para pemain yang berkerumun di dekat pintu memekik terkejut. "Apa-apaan ini?"


"Aku datang, Chéri!" Kyle berseru penuh semangat dan menguak kerumunan.


"Jangan dorong-dorong, ah!" Beberapa orang memprotesnya.

__ADS_1


"Hei! Kerja kalian sudah selesai belum?" Seseorang meneriaki Kyle.


Kyle tidak menggubrisnya. "Kalian pasti menikmati Si Cantik-nya Chéri, kan?" Cerocosnya antusias. Lalu terkesiap. Apa yang sedang dia lakukan? Ia bertanya-tanya menyaksikan gerak-gerik Chéri.


Gadis itu menggerak-gerakkan kedua tangannya di udara kosong. Seperti coba meraba-raba sesuatu yang tidak terlihat. "Ada orang?" Ia berteriak. Lalu tiba-tiba jatuh tersungkur dan terlempar ke depan.


"Aha! Pintu besar yang mendadak terbuka!" Kyle menafsirkan.


"Ah, pantas saja!" Seseorang menimpali di sampingnya.


Beberapa orang mulai penasaran dan mendekat pada Kyle.


"Di skenario tidak ada adegan seperti itu," protes beberapa orang.


"Di petunjuk panggung yang seperti itu ada, kok!" Kyle balas memprotes. Kemudian menarik lembaran skenario yang terselip di saku belakang celananya. "Lihat ini," katanya. "Di sini ditulis, Si Cantik memasuki puri sihir yang ajaib bagaikan di alam mimpi."


Beberapa orang di dekatnya mengangguk-angguk mengerti.


"Jadi karena alasan itu Chéri bermain sesukanya?" beberapa gadis mendengus di sisi lain Kyle.


"Lihat!" Seorang gadis mengguncang bahu anak laki-laki di sampingnya. "Rafaél dari tadi mengamati dengan muka cemberut."


Mikail tersenyum tipis di belakang gadis itu.


"Aneh sekali," seseorang bergumam di dekat Mikail. "Rafaél sabar sekali?"


"Itu karena Chéri melakukannya dengan cukup baik," komentar Mikail.


Anak itu terhenyak dan menoleh pada Mikail dengan mata dan mulut membulat. Tak mengira pembicaraannya didengar Mikail. Sejak kapan dia berdiri di situ? pikirnya panik.


"Karena kita tidak bisa bongkar-pasang setting panggung seperti di teater besar, maka… pemain yang bisa berakting seolah-olah setting panggung itu ada, tentu akan menjadi yang terbaik, kan?" Mikail menambahkan.


Anak itu terdiam.


Chéri sekarang berputar-putar, mengedar pandang ke seluruh ruangan. Lalu meraba-raba seperti tadi.


"Apa lagi, sekarang?" Seseorang mengerang.


"Mungkin ada tembok," terka seseorang.


Chéri terbelalak dan terhenyak, lalu tiba-tiba mendesah dan mengusap-usap dadanya. Setelah itu dia tersenyum dan mempermainkan rambut di depan sesuatu yang tadi dirabanya.


"Aha! Cermin!" Kyle berteriak.


Beberapa orang di kiri-kanannya berdecak kagum.


"Dia mengira bayangannya di dalam cermin tadi adalah orang lain!" Kyle menjelaskan.


Mikail tersenyum. "Itu karena dia ahli pantomim," katanya pada Kyle.


"Pintar sekali," beberapa orang mulai menggumam.


Cyzarine yang diam-diam menyimak mereka sejak tadi mulai tak tahan. Kemudian menyeruak ke tengah-tengah dan menegur Kyle. "Apa yang kalian lakukan di sini? Cepat urus setting panggung. Jadwal pentas tidak lama lagi. Jangan malas-malasan!"


Mikail terkekeh tipis. "Mereka semua hanya penasaran pada awalnya. Tapi setelah mereka menyaksikan sendiri, meski tidak mengerti apa yang terjadi, mereka tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Chéri."


Cyzarine mengetatkan rahangnya dan menoleh pada Mikail. "Omong kosong," semburnya tak senang. "Dia hanya aneh. Itu saja! Apa kau tak sadar kalau dia telah merusak karakter Si Cantik dengan akal yang tiba-tiba melintas di kepalanya."

__ADS_1


"Merusak?" Mikail menoleh pada Cyzarine dan balas menatapnya. "Bagaimana kalau akal yang tiba-tiba muncul itu justru tepat mengenai sasaran?"


"Kau tahu apa soal akting?" Cyzarine mendengus. "Kau kan, belum pernah main drama!"


__ADS_2