
"Dari mana saja kau?" Chéri memberondong Mikail dengan pertanyaan begitu pria itu muncul di balai kota. "Dan… di mana kau tadi malam?"
"Aku pulang ke apartemenku," jawab Mikail. "Aku pulang larut malam dari MoscovArt Theatre dan… aku ke apartemenmu. Tapi…"
Chéri tertunduk lemas dan mendesah tak berdaya. "Kau bertemu Valentin?"
"Tidak, dia tidak melihatku!" jawab Mikail. "Dia sudah tidur saat aku datang."
"Dan kau meninggalkan apartemen? Meninggalkanku sendirian bersama keparat itu?" Chéri memelototinya.
Mikail menarik gadis itu ke luar auditorium. "Di dalam sangat berisik," katanya. Lalu menuntunnya ke teras. "Sekarang kau ingin bagaimana?" tanya Mikail. "Pindah ke apartemenku?"
Chéri mendesah lagi. "Aku akan tetap tinggal di sana," katanya.
Mikail mengerutkan dahinya.
"Aku sudah tidak mungkin tinggal di sana sekarang," kata Mikail.
"Aku tahu," gumam Chéri. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu."
"Aku akan mencarikanmu tempat baru," kata Mikail.
"Tidak perlu," jawab Chéri. "Tidak apa-apa. Dia sudah berjanji tidak akan mengganggu dan menyentuhku."
"Benarkah?" Mikail menaikkan alisnya.
Chéri mengangguk.
"Dan kau mempercayainya?" Mikail bertanya lagi.
Chéri mengangguk lagi.
Mikail mengerang sembari mengusap kasar wajahnya.
"Aku sungguh tak tahu apa yang sebaiknya kulakukan," gumam Chéri. "Apalagi Rafaél sama sekali tak muncul."
Mikail menurunkan tangannya dan bersedekap.
"Meskipun dia tertidur, Rafaél tidak mau muncul. Padahal aku terus menunggu."
"Chéri," Mikail menyela. "Di luar yang telah kau ceritakan padaku… apakah ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Valentin?"
Chéri spontan membeku.
"Kalau ada… itu pasti akan sangat melukai Rafaél," Mikail menambahkan. "Apa kau mengerti?"
Chéri menelan ludah dan tergagap.
"Rafaél akan mengalah dan hilang!" Kata-kata Valentin melintas dalam benak Chéri.
Chéri membekap mulutnya.
"Chéri?" Mikail membungkuk dan menyentuh bahu gadis itu. "Apa yang terjadi?"
"Aku…" Chéri mengatupkan kedua matanya lekat-lekat. "Aku kehilangan kepercayaan diriku," desisnya. "Maksudku—"
Mikail kembali mengerang dan memijat-mijat pangkal hidungnya.
"Walaupun aku tahu aku tak boleh berdebar-debar, tapi… dia begitu mirip. Wajahnya… suaranya, semuanya!"
Mikail tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Sementara itu, Rafaél tidak muncul. Padahal aku ingin sekali memeluknya," ratap Chéri.
"Sudah selesai, kan?"
__ADS_1
Suara seseorang mengejutkan mereka.
Chéri dan Mikail serentak menoleh ke arah pintu.
Valentin berdiri menyandarkan sebelah bahunya pada bingkai pintu dan bersedekap, menatap mereka dengan raut vwajah datar.
Sudah berapa lama dia berdiri di situ? pikir Chéri syok.
Valentin menyeringai. "Aku ingin pemeran utama dikembalikan pada sutradara," katanya dengan ekspresi mencemooh. "Kalau tidak, bagaimana latihan bisa berjalan. Chéri sayang!" Valentin mengulurkan sebelah tangannya ke arah Chéri dengan isyarat undangan.
Chéri membeliak dan memutar-mutar bola matanya, lalu bergegas ke dalam melewati Valentin.
Valentin meliriknya sembari tersenyum nakal, sementara Mikail mendelik dan menggeleng-geleng.
Valentin melirik Mikail sekilas, lalu memutar tubuhnya.
"Tunggu!" Mikail menyergap bahu Valentin.
Pria itu menoleh kembali pada Mikail. "Jangan lupa, aku ini Rafaél Moscovich," katanya licik. "Mulai sekarang jangan salah panggil."
Mikail membuka mulutnya, bersiap menyemburkan kata-kata.
Tapi pria itu meninggalkannya sembari mengoceh, "Kesuksesan drama ini adalah demi diriku sendiri. Kalau kau cemas terus, nanti cepat tua, lho!"
Mikail membeku tak berdaya.
Kalau keadaannya seperti ini, akankah Rafaél muncul untuk terakhir kalinya?
.
.
.
Joan… gadis penggembala domba, pergi ke Orleans untuk menempatkan pangeran Charles di singgasana raja…
Untuk menyelamatkan Prancis.
Panggung terlihat sepuluh kali lipat lebih spektakuler dan jauh lebih megah dari pertunjukan-pertunjukan besar Tsar Dramy selama ini.
Jauh lebih glamor dari yang dapat dibayangkan semua orang.
Chéri muncul dengan gaun sederhana pelayan kerajaan di abad pertengahan, melangkah perlahan dari sisi panggung, lalu memutar di tengah-tengah panggung memunggungi bangku penonton, lalu berbalik secara tiba-tiba dan menyentakkan gaunnya menjadi jubah seorang perwira.
Sound effect menggaung mendramatisir adegan.
Para penonton terkesiap dan menahan napas. Terpukau oleh sosok baru setelah si gadis penggembala itu berbalik menghadap ke depan, berganti sosok ksatria yang gagah dan mempesona.
Lampu menyala secara serentak, memunculkan sekumpulan bangsawan di belakang Joan.
"Walaupun melihat dari sisi ini, tetap saja terlihat indah," komentar beberapa pemain yang menunggu di sisi panggung.
Leah juga berada di sana bersama mereka.
Gadis itu membeku dengan wajah cemberut.
"Kostum dan latar belakang panggung berubah dalam sekejap," komentar yang lainnya.
"Seperti muncul dari mimpi!" seru yang lainnya lagi.
"Dekorasi panggung dan kostum mewah semua, ya?" anak-anak perempuan berlanting gembira.
"Berkat sponsor dari Moscovich Corporation, biaya produksi membengkak sepuluh kali lipat."
"Terlalu mencolok," komentar Leah. "Joan yang pernah kulihat dulu… terasa lebih suci dan lebih mulia. Entahlah! Rasanya aneh!"
__ADS_1
Para pemain di belakangnya saling melirik.
"Tapi penonton kelihatannya menyukainya," tukas salah satu gadis di belakang Leah. "Apalagi… perlengkapan panggungnya luar biasa semua."
Leah mendelik sekilas dan kembali membeku.
Joan, gadis berhati mulia yang mendengar suara Tuhan…
Gadis yang memiliki kekuatan ajaib…
Bertarung tiada henti.
Mengantarkan Prancis ke gerbang kemenangan!
Chéri melejit dan memantul-mantul di tengah panggung, di antara para prajurit yang menggeliat-geliut dalam pertempuran, berlari dan melompat ke sana kemari sembari membawa bendera berlambang bunga lili putih.
Berjalan maju mengikuti suara Tuhan, mendesak para prajurit untuk terus bergerak!
Tapi…
Ketika ia menoleh ke belakang di tengah medan perang yang berdarah, ternyata tidak ada seorang pun yang mengikutinya.
Joan tinggal seorang diri!
Bergeming di tengah tumpukan mayat yang bergelimpangan.
Di samping itu… orang-orang pemerintahan juga telah menodai kemurnian perjuangan Joan.
Bahkan raja Charles yang telah ditolongnya!
Chéri berdiri limbung di tengah panggung, sementara para pemain lainnya bergeletakan di sekelilingnya sebagai tumpukan mayat.
Pedang-pedang dan perisai berserakan di sana sini bersama bercak-bercak darah.
Para penonton terenyuh menatap wajah Chéri.
Kedua bahu gadis itu menggantung lemas, sementara wajahnya coreng-moreng oleh darah, begitu juga dengan pedang yang digenggamnya.
Ujung jubahnya melecut di belakang tubuhnya.
Demian kemudian muncul dari belakang panggung, berjalan pelan mendekati Chéri.
"Joan," desisnya menyerupai desir angin.
Para penonton memicingkan matanya, mencoba mencari-cari sosok yang bersuara.
Demian masih tersembunyi dalam sisi gelap panggung.
"Masih ada aku," dialog Demian terdengar berwibawa. Pria itu berhenti satu langkah di belakang Chéri, dengan jarak satu langkah ke samping.
Spot light menyala seketika, memunculkan sosok Demian dalam balutan kostum mewah seorang bangsawan.
Pangeran Alanson!
Para penonton terkesiap takjub dan terpesona.
Penampilan Demian diluar dugaan semua orang, bahkan para pemain.
Chéri menoleh dan mengerjap.
Pria itu tersenyum seraya mengulurkan sebelah tangannya ke arah Chéri.
Demian terlihat begitu indah, pikirnya takjub.
Chéri belum pernah melihat hal yang seperti itu, sehingga dia tak bisa melepaskan pandangannya dari Demian. Menjadikan aktingnya terlihat wajar.
__ADS_1