
Chéri terhenyak dan membekap mulutnya. Air mata merebak di pelupuk matanya tanpa bisa dikendalikan.
Apa ini nyata? pikirnya.
Itu memang mereka!
Tubuhnya ada di sini…
Tapi jiwanya tidak ada!
Chéri memeluk tubuh Rafaél sembari menangis. Apa dia akan…
"Jangan mati!" ratapan sedih Rafaél kecil menarik perhatian Chéri. Pria itu memeluk tubuh saudaranya seraya menangis. "Aku akan memberikan hidupku! Hiduplah di dalam diriku. Valentin! Kumohon jangan mati!"
Cermin itu mulai bergemeretak.
Api telah menenggelamkan kedua anak laki-laki itu.
"Tidak!" Chéri memekik seraya mengulurkan tangannya ke arah cermin.
Cermin itu berkeredap, kemudian memunculkan dua sosok pria dewasa berambut sepinggang.
Itu mereka!
Chéri menelan ludah.
"Jadi… dengan begitu, kau menampung kepribadianku?" Valentin menggumam dengan raut wajah getir. Lalu tersenyum sinis. "Usahamu benar-benar berhasil."
"Kali ini juga tidak akan gagal!" Rafaél menimpali.
Valentin terperangah dengan alis bertautan.
"Tubuh yang pernah kuberikan malam itu… sekarang akan kuberikan lagi padamu!"
"Rafaél!" Chéri berteriak nyalang.
Kedua sosok dalam cermin itu tidak ada yang bereaksi.
Mereka tidak mendengarku! Chéri menyadari.
Rafaél berjalan mendekat ke arah Valentin.
Valentin terperangah dan beringsut menjauhinya. "Apa yang ingin kau lakukan?"
Rafaél tidak menggubrisnya. Ia menerjang ke arah Valentin dan merangkulnya.
"Lepaskan!" Valentin berteriak marah dan menyentakkan tubuhnya dari rengkuhan Rafaél. "Aku tak peduli dengan sembilan tahun lalu! Aku tetap membencimu!"
"Bagus, Val!" kata Rafaél. "Bencilah aku. Energimu itu akan melenyapkan diriku. Bencilah aku! Bencilah aku!" Rafaél menepuk-nepuk kedua bahu Valentin. "Kebencianmu akan menguatkan dirimu!"
Valentin spontan tergagap.
Chéri menahan napas.
"Tekan aku, Val! Tekan keinginanku untuk hidup. Lenyapkanlah aku untuk selamanya!"
Valentin mengedikkan bahunya lagi, mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Rafaél.
Rafaél tidak melepasnya. Kedua tangannya masih memegangi kedua bahu Valentin. "Aku tidak akan menyesal, Val. Aku percaya kau bisa melebihi Rafaél Moscovich. Dalam teater, dalam mencintai Chéri…" Rafaél tiba-tiba melirik ke arah Chéri.
Chéri terkesiap. Dia melihatku!
"Chéri bisa membalas cintamu," lanjut Rafaél seraya menepuk-nepuk bahu Valentin sekali lagi.
Valentin tetap bergeming.
__ADS_1
"Cepat, berdoa! Agar kau bisa tetap hidup!" Rafaél menaikkan suaranya. "Tubuh ini hanya ada satu, Val! Salah satu dari kita harus mati! Itu sudah takdir. Bencilah aku! Dengan begitu aku akan mati!"
Mati katanya? Chéri mulai tak tahan lagi. Aku takkan membiarkan hal itu terjadi!
"Kau benar-benar keterlaluan!" Valentin akhirnya memberontak. "Meski aku pencuri, meski aku suka merampas hak orang lain, aku paling benci kalau diberi. Aku tidak ingin menerima pemberian dari siapa pun, terutama kau!"
Kini giliran Rafaél yang kehilangan kata-kata.
"Kalau begini caranya, aku juga akan mati!" geram Valentin. "Mungkin itu jauh lebih baik!"
Apa-apaan mereka? Chéri mulai naik pitam.
"Kalau orang yang bernama Rafaél Moscovich lenyap dari muka bumi, kita takkan lagi bertikai dan saling menyakiti."
Keterlaluan sekali, pikir Chéri. Mereka berniat untuk menghilang bersama?
Aku ditinggal seorang diri!
Chéri menurunkan kepala Rafaél dari pangkuannya, kemudian beranjak dari lantai, mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan tongkat, lalu bergegas ke arah cermin dan menghancurkan cermin itu dengan kemarahan yang meluap-luap.
"Tega sekali kalian berbuat seenak kalian! Kembali, Keparat!"
Kalau mereka sudah saling mengerti…
Kalau mereka sudah saling memaafkan…
Kenapa tidak memilih untuk bertahan hidup?
Chéri mengamuk membabi-buta, dengan potongan kayu bekas tiang hukuman yang sudah terbakar, Chéri memutuskan untuk memporak-porandakan sisa cermin itu dengan sekuat tenaga.
PRAAAANG!
PRAAAANG!
Cahaya menyilaukan keluar dari tubuh keduanya. Menyala seperti api di tengah panggung. Wajah kedua pria itu terperangah. Kemudian lenyap.
"Suara apa itu?" Orang-orang di luar gedung berteriak panik. "Seperti ada ledakan!"
"Chéri!"
Teriakan-teriakan gusar, disusul suara-suara derap kaki, terdengar seperti datang dari berbagai arah.
Chéri tersungkur limbung dan terbatuk-batuk. Lalu ambruk dan tak sadarkan diri.
"Tuan! Tolong menyingkir dari sini!" Petugas pemadam kebakaran mencegah Kyle dan Mikail mengikuti mereka. "Serahkan saja semua pada kami!"
"Tapi—"
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin!"
Kyle dan Mikail menyerah dan berbalik.
Sesha dan Leah menghambur ke arah mereka begitu keduanya muncul di pintu darurat.
"Apa Chéri sudah ditemukan?" Sesha bertanya tak sabar.
Mikail menggeleng lemah dengan ekspresi tak berdaya.
"Apa? Chéri belum ditemukan?"
Sesha membekap mulutnya meredam tangis. Mikail melingkarkan tangannya di bahu gadis itu dan menepuk-nepuk lembut punggungnya.
Sesha menyusupkan wajahnya dan meledak menangis.
Kyle terduduk lemas di lapangan rumput dan duduk bergelung memeluk lututnya. Leah menghampirinya, menyentuh bahunya dan duduk di sisi saudaranya. Lalu memeluknya.
__ADS_1
Anak-anak perempuan mulai terenyuh dengan mata berkaca-kaca. Menatap Sesha dengan prihatin.
"Sudah hampir satu jam," isak gadis pemeran kucing dalam drama Si Cantik dan Si Buruk Rupa. "Apa masih ada harapan?"
Gadis-gadis lainnya menggumam gelisah nyaris bersamaan.
Sesha menangis semakin gencar.
"Shhh… shhh…" Mikail berusaha menenangkan gadis itu.
Vladimir membeku di kap mobilnya, mendongakkan kepala menatap bangunan yang terbakar itu dengan ekspresi yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada keangkuhan, tidak ada ambisi…
Mikail meliriknya sekilas melalui sudut matanya.
Semua pemain dan para staf dari kedua grup teater berbaur di halaman belakang gedung, sementara para penonton sudah sepenuhnya meninggalkan gedung.
Semuanya terlihat lelah dan putus asa.
Terutama ketika, para petugas pemadam kebakaran muncul tanpa Chéri maupun Rafaél.
Semua orang memekik tertahan dan menahan napas.
Mikail mengetatkan rahangnya.
Sesha mulai meraung-raung dalam dekapannya.
Beberapa gadis mulai terisak.
Demian dan Ibrahim tertunduk dengan wajah sendu.
Leah melemas, menyusupkan wajahnya di bahu saudaranya.
Kyle mengerang frustrasi.
Kobaran berangsur-angsur padam, asap tebal membumbung tinggi.
Keheningan yang mencekam menyergap seluruh tempat.
Semua masih membeku dalam ketidakyakinan mengenai apa yang terjadi.
Antrean mobil polisi dan juga ambulans memasuki pekarangan gedung.
Suasana kembali berubah gaduh.
Beberapa orang masih menatap pintu darurat dengan raut wajah sedih.
Mikail masih belum tahu apa yang harus dilakukan. Masih menunggu.
Lalu tiba-tiba seseorang memekik terkejut sembari menunjuk ke arah pintu. "Mereka selamat!"
Semua mata serentak berpaling.
Sesha mengangkat wajahnya, Mikail tergagap. Leah dan Kyle melompat berdiri dan menghambur ke dekat pintu darurat.
Demian dan Ibrahim bergabung bersama mereka.
Rafaél muncul dengan langkah limbung dan terseok-seok, menggendong tubuh Chéri yang dibungkus dengan long coat-nya.
Mikail tersenyum sedih.
Rafaél menghampirinya dan menyerahkan tubuh Chéri, lalu ambruk tak sadarkan diri.
Demian dan Ibrahim serentak menghambur ke arah Rafaél, kemudian membopongnya bersama Kyle.
Mikail mengikuti mereka dengan membopong tubuh Chéri sendirian.
__ADS_1
Sesha dan Leah mengekor di belakangnya sembari menyeka pipi mereka.
Sejumlah paramedis menghampiri mereka dan menyiapkan tandu.