
"Kenapa teleponnya ditutup?"
Chéri membeku dengan mulut terkatup. Sebelah tangannya masih memegangi pesawat telepon, sementara ia berdiri membelakangi telepon itu.
Mikail bersedekap di seberang ruangan, menyandarkan sebelah bahunya pada bingkai pintu. Menatap Chéri dengan ekspresi datar. "Itu panggilan dari Rafaél, kan?"
"Sudah berapa lama kau berdiri di situ?" Chéri bertanya sedikit cemberut.
"Cukup lama untuk melihat adegan Joan mendengar suara Tuhan," jawab Mikail dengan intensitas tatapan yang menyudutkan.
"Kau menguping pembicaraanku," Chéri menyimpulkan.
"Ya," Mikail menjawab singkat.
"Jadi…" Chéri menaikkan rahangnya dan berdeham. "Orang seperti apa yang menyelinap ke kamarku diam-diam, menguping pembicaraanku di telepon—kau memata-mataiku. Belum lagi caramu menangkap Valentin… siapa kau sebenarnya?"
Mikail mendesah pendek, menurunkan kedua tangannya dari dada, kemudian menyelipkan keduanya ke dalam saku celana. Lalu berjalan perlahan ke arah Chéri.
Chéri menelan ludah dan tertunduk. Beringsut gelisah ketika jarak di antara mereka semakin menyempit.
"Kukira kau sudah tahu kebenaran tentang aku," kata Mikail.
"Ya," jawab Chéri parau. "Aku memang sudah mendengarnya dari Valentin. Tapi aku tak ingin mempercayainya."
"Bagaimana kalau yang mengatakan itu adalah Rafaél? Apa kau akan mempercayainya?"
Chéri tidak menjawab.
"Ya, aku memang pengawal bayangan Moscovich Corporation. Aku mengawasi Rafaél tanpa sepengetahuannya selama ini. Dan…" Mikail berhenti satu langkah di depan Chéri. "Sekarang juga."
Chéri kembali tertunduk, tak tahu bagaimana ia harus bereaksi.
Mikail menatapnya tanpa ekspresi, tanpa berkedip.
"Jadi, selama ini…" Chéri kembali menelan ludah. "Kau telah menipu Rafaél."
"Ya," Mikail tidak mengelak.
Chéri meringis dan menghela napas berat.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud jahat padamu, Chéri." Mikail berkata lugas. "Begitu juga Rafaél."
Chéri mengangkat wajahnya, menatap mata Mikail.
Mikail tetap memasang wajah datar. Ekspresi terlatih seorang pengawal profesional.
"Tapi kalau kau diperintah untuk mengintai dan menangkap Rafaél, kau akan melakukannya, kan?" Chéri nyaris tak mampu menahan dirinya untuk tidak menangis. Dia memukulkan kedua tinjunya di dada Mikail.
Pria itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Chéri, mengusap punggungnya dan menenangkannya.
Chéri meledak menangis dan menyusupkan wajahnya ke dada pria itu. "Kau jahat sekali," desisnya parau.
Mikail menyusupkan wajahnya di puncak kepala Chéri. Lalu mengusap bagian belakang kepala gadis itu dan melepaskan pelukannya. Ia membimbing Chéri ke depan perapian dan mendudukkan gadis itu di sofa.
Chéri menyeka hidung dan kedua matanya, menghela napas dalam dan menenangkan diri.
Mikail berlutut di depannya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Chéri. Raut wajahnya tetap datar, namun kilatan di matanya melembut dan meredup. "Dengar, Chéri!" katanya. "Aku belum pernah menceritakan masa laluku yang hina kepada siapa pun."
Chéri mengerutkan keningnya.
"Tapi aku telah bertekad untuk menceritakannya malam ini. Alasan kenapa Presdir Moscovich memakaiku dan kenapa aku menjadi pengawas Rafaél."
Chéri menyiapkan diri untuk menyimak cerita Mikail.
Chéri mengerjap dan terbelalak. Tapi tak berani menyela.
Mikail membuka jendela ganda di depannya, membiarkan angin menerpa wajahnya yang terasa panas. "Demi kakak perempuanku, aku telah membunuh guru tariku."
Chéri membekap mulutnya dengan kedua tangan dan menahan napas.
Mikail menoleh pada Chéri dan tersenyum getir. "Aku tahu kau pasti membenciku sekarang, kan?"
Chéri menggeleng dan menelan ludah dengan susah payah. "Tidak," katanya. "Aku tahu kau orang yang sangat sabar. Jadi, pasti ada alasan yang kuat sampai kau melakukannya."
"Pria itu memperkosa kakakku," jawab Mikail sembari berpaling kembali ke jendela.
"Ceritakan kenapa kau menjadi murid seorang guru tari?" Chéri beranjak dari sofa dan mendekat pada Mikail.
Mikail menoleh sekilas pada Chéri dan tersenyum tipis. "Aku juga seorang penari balet," katanya. "Sama sepertimu!"
__ADS_1
Chéri membelalakkan matanya, hampir berjingkrak. "Pantas saja kau begitu cantik," katanya polos.
Mikail tersenyum masam. "Wajah adalah senjata yang paling penting bagi orang-orang yang tampil di panggung," tuturnya sependapat. "Tapi aku dirangkul oleh seseorang yang berhati jahat. Dia memang baik di dalam segala hal, terutama dalam memanjakan dan memenuhi kebutuhanku. Tapi hal itu terlalu berlebihan. Dia membuatku jadi bergantung padanya. Dan… sayangnya hal itu merupakan permulaan. Dia mengharapkan pamrih."
Chéri mengerutkan dahi.
"Tadinya aku hanya mengikuti firasatku saja. Aku berusaha agar tidak terlalu sering berada dalam satu ruangan hanya berdua, dan aku mulai mengawasinya. Dia kelihatan sangat kesal setiap kali aku menghindarinya dan selalu mengingatkan betapa baiknya dia selama ini padaku."
"Pria itu…" Chéri bertanya ragu-ragu.
"Ya," jawab Mikail, "Pria itu memiliki penyimpangan."
Chéri membekap mulutnya lagi.
"Tapi karena dia gagal mendapatkan aku, dia melampiaskannya pada kakakku," lanjut Mikail. "Hari itu aku sedang tampil ketika kakakku datang. Dia membawa beberapa hadiah dan mencariku di ruang rias setelah pementasanku. Tapi seperti kubilang tadi, aku selalu menghindari tempat-tempat tertutup terutama kamar rias karena di tempat seperti itu guruku bisa melakukannya, kau tahu maksudku?"
Chéri mengangguk kikuk dengan wajah merona, sedikit merasa tersengat oleh pertanyaan Mikail. Bicara soal kamar rias, dia jadi ingat perbuatan Valentin.
"Di tempat itulah dia menjebak kakakku!" Mikail menambahkan.
Chéri tertunduk makin dalam.
"Aku tidak tahu kalau kakakku datang, dan ketika seseorang mengatakan kepadaku bahwa seorang gadis yang sangat mirip denganku sedang mencariku, aku tahu kalau dia kakakku. Aku mencarinya dan tidak menemukannya. Begitu aku menemukannya… aku sudah terlambat."
Chéri memekik tertahan.
"Aku belum pernah semarah itu seumur hidupku hingga aku gelap mata," gumam Mikail. "Jadi aku membunuhnya." Ia menambahkan.
Chéri mengerjap dan mengusap pangkal lengan pria itu untuk memberi dukungan.
"Karena aku cacat secara permanen, aku tak bisa tampil di panggung lagi. Sebetulnya aku hampir dipenjara, tapi karena tindakanku dianggap sebagai pembelaan diri, aku tak jadi diadili. Hanya diusir dari sanggar dan aku hidup terlantar."
Chéri tidak sanggup membayangkan bagaimana rasanya hidup terlantar dengan menyandang cacat karakter.
"Dalam keadaan putus asa, aku dirangkul Presdir Moscovich yang kebetulan sejak dulu merupakan sponsorku. Dia menjamin hidupku dengan syarat…"
"Kau menjadi mata-mata?" Chéri melanjutkan cerita Mikail.
"Ya," jawab Mikail tak berdaya. "Ketika aku dikirim ke tempat Rafaél satu tahun kemudian, aku menemukan panggung yang mempertunjukkan latihan sebuah karya drama. Saat itu, Rafaél berusia tujuh belas tahun---sebaya dengaku. Sosoknya disilaukan oleh bakat yang meluap-luap. Kemudaan dan keindahan parasnya membuatku terpukau. Apalagi saat aku mendengar bahwa Rafaél mengerjakan sendiri skenario dan penyutradaraannya. Tiba-tiba aku berpikir bahwa aku bisa menitipkan impianku yang hilang pada dirinya. Berbekal harapan itu, aku datang mendekatinya."
__ADS_1
Tatapan Chéri menghangat, membayangkan sosok Rafaél muda yang sangat memukau tak elak membuat hatinya berbunga-bunga. Kekagumannya pada pria itu semakin bertambah.
"Untuk sesaat… aku bertanya-tanya dalam hatiku, kenapa Rafaél membutuhkan pengawasan? Tapi aku tidak peduli. Bagiku, seseorang yang dapat bersinar di atas panggung adalah hartaku," Mikail menoleh pada Chéri. "Begitu juga dirimu."