Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 66


__ADS_3

"Joan, di tengah!" Vladimir menginstruksikan. "Ah," selanya tiba-tiba, lalu menoleh pada Chéri dan Leah. "Mulai sekarang, setiap kali aku mengatakan Joan, Chéri dan Leah harus latihan bersama-sama!"


Chéri dan Leah bertukar pandang, lalu saling mendekat satu sama lain.


"Vladimir berencana untuk menguji apakah aku layak menjadi Joan atau tidak," bisik Chéri pada Leah.


"Aku tak suka cara ini," Leah balas berbisik. "Tapi aku akan tetap berusaha sebaik mungkin, sebab itu sudah menjadi etiket terhadap lawan main."


Chéri menelan ludah dan bergeming.


"Bayangkan ini sebagai aula singgasana di istana Chinon!" instruksi Vladimir. "Obor-obor menyala, dan… ada banyak pendeta, para bangsawan dengan pakaian mewah. Joan dikabarkan akan datang ke istana untuk menyampaikan perkataan Tuhan kepada putra mahkota. Untuk menguji apakah Joan benar-benar gadis ajaib, pangeran Charles menyuruh seseorang untuk memakai bajunya dan berpura-pura menjadi dirinya sementara dia sendiri berbaur dalam kerumunan dan mengamati Joan dengan seksama. Tapi, Joan yang muncul di ruangan itu, langsung berjalan tanpa menoleh pada orang yang menggantikan putra mahkota. Dia mencari pangeran Charles yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Kunci dari adegan ini adalah menonjolkan keajaiban dan kemisteriusan Joan. Leah!"


Leah bersiap di posisinya.


"Action!" teriak Vladimir.


Leah melangkah ke tengah kerumunan dengan mata terpejam.


Seisi ruangan terkesiap dan menahan napas.


Chéri mengerjap di sisi ruangan dengan perasaan campur aduk antara takjub dan cemas.


Sambil menutup mata, Leah tanpa ragu berjalan ke arah Demian dan berhenti dua langkah di depan Demian sembari membungkuk dengan sikap hormat tentara.


Seisi ruangan bergemuruh oleh helaan napas dan bisikan takjub semua orang.


"Sempurna!" puji Vladimir sembari bertepuk tangan, diikuti semua orang dalam ruangan.


"Hebat!" Beberapa orang berseru gembira. "Leah benar-benar hebat!"


Chéri mengakuinya dalam hati. Akting gadis ini memang jauh lebih memukau dari Cyzarine.


"Sekarang kita lihat apakah pemeran utama bisa lebih unggul dari pemeran cadangan," tantang Vladimir.


Chéri melirik sekilas pada Leah. Gadis itu membalasnya dengan ekspresi datar.


Joan…


Hatinya pasti menciut.


Chéri berjalan ragu ke tengah kerumunan, mengedar pandang dengan gelisah ke seluruh ruangan, meneliti wajah-wajah setiap orang melalui ekor matanya.


Di tengah tatapan dingin semua orang…

__ADS_1


Berusaha mati-matian mencari sosok sang putra mahkota yang tidak pernah dikenalnya hanya dengan mengandalkan suara Tuhan…


Jadi…


Begitu dia menemukan putra mahkota, pasti dia…


Chéri menatap Demian dengan mata dan mulut membulat, lalu menerjang ke arah pria itu sembari berteriak, "Pangeran!" Lalu dia menjatuhkan dirinya di depan Demian dan memeluk lututnya.


"Sama sekali tidak terasa misterius," komentar Vladimir sembari mencebik.


Seisi ruangan mendesis tertawa.


Lalu tiba-tiba seisi ruangan berubah sunyi. Semua orang membeku di tempatnya masing-masing dengan tatapan tertuju ke arah pintu.


Pintu ruang latihan terkuak dan seseorang menyeruak masuk dengan ekspresi sinis.


"Rafaél?" Chéri memekik terkejut.


Pria itu berjalan melintasi ruangan dan menatap lurus ke arah Chéri.


Seisi ruangan kembali riuh.


"Kau—" Chéri tergagap ketika pria itu berhenti di depannya dan merunduk menatap wajahnya.


Chéri spontan mendengus dan membeliak sebal. Ternyata si kepribadian lain, katanya dalam hati. Merasa sedikit jengkel dan sangat kecewa. Meski sempat berdebar-debar dalam sesaat.


Leah menghampiri mereka seraya tersenyum lebar. "Rafaél," sapanya penuh hormat. "Saya Leah Denova. Adalah suatu kehormatan bagi saya karena bisa bermain dalam drama Anda. Saya akan berusaha sebaik mungkin!"


Valentin menyeringai dan meraup kedua tangan Leah. "Aku suka tipe sepertimu," katanya seraya mencium punggung tangan gadis itu dan tersenyum nakal.


Leah menelan ludah dan sedikit meringis mendapati reaksinya.


Chéri mengernyit risih dan mencubit lengan Valentin.


Seisi ruangan melengak menatap Valentin dengan ekspresi kikuk.


Vladimir mengembangkan senyum liciknya begitu menyadari apa artinya ini. Dia bukan Rafaél, ia menyimpulkan. Lalu menghampiri pria itu dengan sikap ramah yang dibuat-buat. "Lama tak jumpa," sapanya basa-basi.


Chéri menahan napas diam-diam.


"Maaf, aku tak tahu kau akan datang." Vladimir menyalami Valentin dengan segudang kebusukan terselubung di balik senyum palsunya. "Kalau tahu kau akan meninjau…"


Valentin membalasnya dengan basa-basi yang tak kalah busuk, menyambut uluran tangan Vladimir dan meremasnya dengan kuat dan… mematikan. "Aku datang hanya untuk mengisi waktu luang saja," katanya di antara senyum palsunya.

__ADS_1


Vladimir menyeringai setengah mengernyit, berusaha mati-matian menahan senyum sekaligus rasa sakitnya.


"Tidak perlu berbasa-basi denganku," tandas Valentin sembari mengetatkan tekanannya pada tangan Vladimir.


Vladimir menyentakkan tangannya dan melepaskan diri. Lalu mengeluarkan saputangan dari saku celananya dan menyeka keringat yang bergulir di pelipisnya. "Rupanya kau," dengus Vladimir seraya membungkuk sedikit dan berbisik, "Si kepribadian lain itu!"


Valentin tidak menanggapinya, ia menarik sebuah bangku dan menempatkannya di tengah-tengah ruangan. Lalu duduk dengan ekspresi arogan yang membuat semua orang dalam ruangan bergerak gelisah di tempatnya masing-masing.


Chéri melirik ke arah Demian untuk melihat reaksinya.


Pria itu berpura-pura tidak melihat Valentin dan menyibukkan dirinya berbincang-bincang dengan seseorang di sebelahnya.


Chéri mengalihkan pandangannya ke arah Valentin, sementara Vladimir sibuk membenahi perasaannya dan berusaha menenangkan diri sembari memijat-mijat punggung tangannya yang dibungkus saputangan, seolah-olah sedang membersihkan kotoran yang melekat.


"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Chéri sinis. "Padahal kau sama sekali tak punya minat pada teater."


"Kok begitu, sih?" goda Valentin. "Padahal tadi kelihatannya kau senang sekali."


Chéri menanggapinya dengan mencebik. Tentu saja aku senang, pikirnya. Kukira yang datang Rafaél tadi!


"Kalau di sini kan aku bisa bertemu denganmu tanpa diganggu Mikail dan antek-anteknya," tutur Valentin sembari menyeringai.


Demian melirik sekilas ke arah Rafaél tanpa disadari semua orang. Sedikit terkejut mendapati sikap Rafaél. Itu jelas di luar kebiasaannya, pikirnya.


"Kau yang menggangu," sergah Chéri tak sabar. "Mikail akan tetap menangkapmu cepat atau lambat."


"Memangnya kau rela kalau aku ditangkap?" Valentin mengulurkan tangannya diam-diam, sementara Chéri berbalik memunggunginya. Ia menangkap pergelangan tangan Chéri dan menarik gadis itu ke dalam pangkuannya.


Chéri memekik terkejut dan semua orang serentak menoleh pada mereka.


"Apa-apaan, sih? Lepaskan!" Chéri memberontak dan menggeliat-geliut dalam rengkuhan Valentin.


Demian menautkan alisnya.


Valentin melingkarkan sebelah lengannya di seputar bahu Chéri, sementara tangan lainnya melingkar di pinggang gadis itu. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Chéri dan berbisik. "Mikail sekarang ada di depan gedung bersama antek-anteknya. Tapi aku tak mungkin bisa tertangkap."


Chéri membeku dalam kebisuan yang penuh dilema.


Kenapa dia begitu percaya diri?


Telepon itu…


Benar-benar dari Rafaél, kan?

__ADS_1


Dia kelihatan sangat kuat dan tidak tergoyahkan, pikir Chéri gamang. Kelihatannya tidak ada celah bagi Rafaél untuk keluar.


__ADS_2