Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 44


__ADS_3

"Rasanya sulit dipercaya kalau Rafaél memiliki kepribadian ganda," gumam Cyzarine setengah tercenung.


"Tidak perlu dipikirkan," sergah Mikail. "Tugasmu adalah beradaptasi dengan panggung tanpa Chéri dan Rafaél. Tentu tidak akan ada bedanya dengan apa yang kau lakukan selama pementasan ini, kan?"


Cyzarine menelan ludah dan tertunduk.


.


.


.


Aku harus mengembalikan Rafaél secepatnya, pikir Chéri. Ayo, Chéri! Putar otakmu! Ia memerintahkan dirinya sendiri.


Rafaél telah menggambarkan "kepribadian lain" melalui "Bayangan Si Cantik", kalau aku bisa mengurai isi naskahnya aku pasti bisa menemukan kelemahan "kepribadian lain" yang hanya diketahui oleh Rafaél.


"Hmmm…" Chéri bergumam pelan.


"Bayangan Si Cantik" muncul dari dalam cermin, kemudian menghilang!


Cermin…?


Cermin…


Waktu itu wajah Rafaél juga terlihat dalam cermin…


Chéri tertegun memandangi cermin besar yang tertempel pada dinding dalam kamar Rafaél.


"Hei, ayolah! Apa lagi yang kau tunggu?" Rafaél meneriakinya dari tempat tidur. "Kita kan, hanya tinggal berdua saja." 


Chéri menoleh pada pria itu dengan raut wajah murung.


"Well---yeah, memang kamar ini sama sekali tidak romantis," cerocos Rafaél sembari terlentang melipat kedua lengannya di belakang kepala. "Perempuan memang senang dengan hal-hal seperti itu, tapi aku tidak. Selama aku bisa memilikimu, bagiku begini saja sudah cukup!"


Chéri tetap bergeming. Pada adegan terakhir, "Bayangan Si Cantik" keluar dari dalam cermin, tapi…


Persyaratannya harus ada cermin!


Pria itu menarik duduk tubuhnya dan menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur, lalu duduk membungkuk dengan kedua siku tangan bertumpu pada lututnya. "Rafaél benar-benar akan menderita kali ini," gumamnya sembari menyeringai. Kemudian beranjak dan menyergap pergelangan tangan Chéri dan menariknya mendekat.


Harus ada cermin, pikir Chéri. Lalu tiba-tiba memekik dan balik menyergap tangan Rafaél, "Darah?!"


Rafaél menyentakkan tangannya dari genggaman gadis itu dengan rahang mengetat.


Chéri mengetatkan cengkeramannya dan meneliti buku jari pria itu. "Kenapa bisa sampai bengkak dan berdarah begini?" 


"Itu luka yang kudapat waktu aku memukul Mikail!"


Chéri menghela pria itu ke arah wastafel. "Sampai berdarah begini, paling tidak harus dicuci!"


Rafaél menyentakkan tangannya sekali lagi, lebih keras dari sebelumnya dan terlepas. "Jangan pernah menyentuhku," geramnya. "Meski aku menyentuhmu, kau tidak boleh menyentuhku!"


Dia berbicara seperti anak kecil yang sedang merajuk, pikir Chéri. Kemudian mendekati pria itu dan mengulurkan kedua tangannya.


Pria itu beringsut menjauhinya. "Tidak perlu pura-pura baik padaku," hardiknya.


Chéri tidak menggubrisnya. Disergapnya tangan pria itu sekali lagi kemudian menariknya.

__ADS_1


"Lepaskan!" Pria itu menepiskan tangannya lagi. "Atau aku akan menamparmu!"


Chéri tidak melepaskannya dan bersikeras mencuci lukanya. "Aku tidak peduli," katanya. "Aku sudah terbiasa dengan tamparan tangan ini." Ia menyalakan kran dan mengguyur tangan Rafaél dengan air. "Ini tangan Rafaél," cerocos sembari membersihkan luka pada tangan pria itu. "Aku lebih mengenal tangan ini daripada dirimu."


Pria itu memberontak dan menarik tangannya. "Ini tanganku," sergahnya tak senang hati.


Chéri menutup kran air dan menatapnya.


Pria itu menyergapnya lagi dan mendorongnya ke tempat tidur kemudian menindihnya. "Tangan ini, juga tubuh yang menyentuhmu ini, semuanya adalah milikku. Begitu juga dengan dirimu. Kau adalah milikku!" Pria itu menekankan bagian bawah tubuhnya ke bagian bawah tubuh Chéri.


"Rafaél—" Chéri memekik seraya mendorong dadanya ketika pria itu menyusupkan wajahnya di bawah leher Chéri.


"Jangan coba-coba memandangku sebagai Rafaél! Aku adalah aku! Namaku bukan Rafaél!"


Ini dia, pikir Chéri. Inilah kelemahannya. Aku mengerti perasaan ini. Perasaan yang membakarku ketika aku dikurung di belakang layar sebagai bayangan yang tidak dianggap.


Jangan abaikan aku!


Tolong lihat aku!


Kepribadian ini menanggung keterasingan yang dialami Bayangan Si Cantik secara terus-menerus dalam waktu yang lama.


Terkurung dalam diri Rafaél. 


Tersisih dan terintimidasi!


Sementara itu, Rafaél sendiri bahkan berpaling dan menjauhinya. Menolak dan mengingkarinya.


Dia pasti sangat kesepian, pikir Chéri prihatin.


Chéri berhenti mendorong, tapi tidak segera menurunkan tangannya dari dada pria itu. "Apa kau punya nama?" Chéri bertanya lirih. "Siapa namamu?"


Pria itu mengerjap dengan mulut terkatup. Menatap lekat ke dalam mata Chéri.


Chéri bisa merasakan dada pria itu mulai meletup-letup.


Sentuhan tangan Chéri yang melembut di dadanya membuat darah pria itu serasa terbakar. Menghangatkan sekujur tubuhnya dalam sekejap.


Orang ini…


Mungkin belum pernah merasakan kasih sayang, pikir Chéri. 


"Kau tidak sendirian," bujuk Chéri.


"Aku paling benci dikasihani!" Pria itu kembali agresif dan nyaris mengoyak gaun Chéri.


"Rafaél sudah mengakui keberadaanmu. Itu sebabnya dia menulis ulang naskah Si Cantik dan Si Buruk Rupa!" Chéri berusaha meyakinkan pria itu.


Tapi pria itu semakin beringas.


"Lepaskan!" Chéri memalingkan wajahnya dan mendorong pria itu lagi. "Kau melakukan ini hanya untuk menyakiti Rafaél! Menyukai aku saja tidak!"


Cengkeraman pria itu tiba-tiba melembut, sebelah tangannya menjalar naik ke wajah Chéri. 


Chéri menelan ludah dan mengerjap. Ia melihat mulut pria itu menuju mulutnya, dan ia tahu persis apa yang akan dilakukannya. Ia bisa saja menghentikan, tapi ia tidak melakukannya.


Wajah itu…

__ADS_1


Sekelebat bayangan peristiwa di depan lift melintas dalam benaknya.


Bagaimanapun itu adalah wajah Rafaél!


Sulit bagi Chéri untuk tidak terpesona dan berdebar-debar.


"Aku menginginkanmu," pria itu berbisik parau.


Tidak! Dia bukan Rafaél! Chéri mengingatkan dirinya. Kemudian mulai memberontak. "Aku membencimu!" Hardiknya pada pria itu.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Rafaél," pria itu bersikeras, kemudian membenamkan mulutnya di mulut Chéri.


Chéri tetap memberontak dan menyentakkan wajahnya ke samping.


Pria itu memagut lehernya.


Rafaél!


Tolong!


Kembalilah!


Chéri meratap dalam hatinya.


Dia pasti dalam keadaan sadar!


Jika benar dia mencintaiku…


Dia pasti akan menyelamatkanku!


Chéri mengintip ke arah cermin.


Dua puluh dua, pikir Chéri. Babak dua puluh dua…


Itu adalah saat di mana "Bayangan Si Cantik" yang terkurung dalam cermin akan keluar!


.


.


.


"Apa Cyzarine akan baik-baik saja tanpa Chéri?" Sesha bertanya cemas pada Mikail seraya mengintip pertunjukan dari belakang panggung. "Ini adegan penting pertemuan Si Cantik dengan Bayangan Si Cantik. Dia harus memainkan dua tokoh seorang diri."


"Pasti sulit," gumam Mikail tanpa mengalihkan perhatiannya dari pertunjukan. "Tapi bukankah itu yang dia lakukan selama pertunjukan?"


Sesha mendesah pendek. "Ya, dia memang sedikit keterlaluan. Tapi—"


"Ini adalah kesempatan untuk dia membuktikan diri," sergah Mikail memotong perkataan Sesha. "Walau dia aktris yang bagus, sejujurnya aku tak yakin dia bisa mengatasi ini lebih baik dari Chéri." Ia melirik pada Sesha dan tersenyum tipis. "Ini baru yang namanya akting mereka diadu!" Ia menambahkan.


Mikail benar, batin Sesha. Cyzarine memang aktris terbaik di MoscovArt Theatre, tapi itu karena dia jauh lebih berpengalaman dibandingkan Chéri. Tapi Chéri sebaliknya. Ini adalah pengalaman pertamanya di dunia teater, dan semua orang meremehkan kemampuannya.


Dalam situasi paling buruk yang belum pernah terjadi dalam sebuah pertunjukan, Chéri yang masih amatir justru mampu mengatasi situasi—menyelamatkan keadaan. Bahkan menggantikan Cyzarine dalam situasi genting. Tapi Cyzarine malah mendepaknya setelah keadaan membaik.


Sekarang Cyzarine berada di posisi Chéri!


Mampukah ia mengatasi ini?

__ADS_1


__ADS_2