
"Chéri, kemari!" Vladimir memanggil Chéri dari tengah ruangan sembari berkacak pinggang.
Chéri menyentakkan tangan Valentin dan melepaskan diri.
"Joan macam apa yang kau mainkan tadi?" gerutu Vladimir seperti guru yang memarahi muridnya. "Kau seperti fans gila yang menemukan idolanya. Kau kira Joan itu ABG? Ini bukan adegan mengejar idola. Cobalah sedikit lebih menghayati peranmu!"
"Interpretasi Chéri sudah benar, kok!" Valentin tiba-tiba menyela sembari menarik bangkit tubuhnya dari bangku. "Joan memang seorang perempuan gila," katanya tanpa ekspresi. "Roh dari skenario ini adalah jiwa seorang fans yang mengejar Tuhan. Karena dia berani maju sendiri dan tidur dengan Tuhan… maka fans yang lain cemburu hingga membunuh Joan."
Seisi ruangan melengak antara tak yakin dengan apa yang didengarnya dan tak percaya seorang Rafaél Moscovich berkata seperti itu.
"Baca naskahku dengan benar, Vladimir!" Valentin menandaskan sembari berbalik dan berjalan pelan meninggalkan ruang latihan. Lalu melambaikan sebelah tangannya sekilas tanpa menoleh lagi.
"Jadi, yang namanya Rafaél Moscovich itu orangnya seperti itu, ya?" Leah menggerutu di belakang Chéri.
Vladimir menggemeretakan giginya menahan geram.
Sementara itu…
Di depan gedung Tsar Dramy…
"Mikail!" Seorang bodyguard Moscovich berteriak terengah-engah, menghampiri Mikail dengan tergopoh-gopoh. "Sepertinya dia memutar ke pintu belakang," katanya.
"Baik," respon Mikail cepat. "Putar mobil ke belakang gedung, dan… cepatlah!"
Para bodyguard itu menyelinap dengan cepat ke dalam mobil, masing-masing dua orang dalam satu mobil.
Detik berikutnya, mobil mereka sudah menggelinding dan melesat ke belakang gedung.
Sementara itu, Mikail masih bertahan di parkiran depan gedung. Tetap waspada namun gesit. Ia berjalan setengah berlari di antara deretan mobil-mobil yang terparkir di tempat itu, menyisir seluruh tempat dengan gerakan ringan. Menyisir setiap sudut parkiran dengan teliti.
Setelah merasa yakin Valentin tidak berada di tempat itu, Mikail memutuskan untuk menyusul para bodyguard ke belakang gedung.
Ia kembali ke mobilnya dan membuka pintu, tapi seseorang kemudian mendorongnya dari belakang.
Mikail tersungkur ke dalam mobilnya, terjepit di antara jok dan kemudi. Ia mencoba menarik bangkit tubuhnya, tapi seseorang menginjak punggungnya dan menekan kuat.
Mikail mengernyit dan menyentakkan tubuhnya, tapi sia-sia.
Lalu orang yang menyerangnya---yang ia yakin adalah Valentin, memutar tubuhnya hingga terlentang dan mencekiknya.
Dan benar saja.
Wajah tampan milik Rafaél muncul di depan wajahnya, merunduk di atas kepalanya. "Hai, anjing setia," katanya mencemooh sembari menyeringai. "Aku sudah tahu rahasiamu."
Mikail mengernyit dan mengerang tanpa suara. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Tangan Rafaél menekan bagian inti dari tenggorokannya.
Ia mengangkat kedua tangannya dengan susah payah, mencoba mendorong dada Valentin dengan tenaga yang tersisa. Tapi sia-sia.
Valentin mulai membeberkan pengetahuannya tentang Mikail. "Anak laki-laki manja yang berparas cantik seperti boneka perempuan," tuturnya seraya mengembangkan senyum puas. "Pengawal bayangan Moscovich Corporation."
"Aku tak akan membiarkanmu berbuat sesuka hati," desis Mikail di antara sisa-sisa kekuatannya.
__ADS_1
"Rahasiamu sudah kukatakan pada Chéri," Valentin memberitahu. Lalu membungkuk makin dalam, mendekatkan mulutnya ke telinga Mikail. "Dan kurasa dia mempercayainya. Sebab dia mulai mencurigaimu," desisnya tajam.
Mikail terhenyak antara terguncang oleh perkataan Valentin dan tersedak oleh cekikan pria itu.
"Dia sudah mengetahui kebenaran tentang dirimu." Valentin menambahkan. "Kau tak ingin dia membencimu, kan?" sindirnya. Lalu mengetatkan cengkeramannya hingga kepala Mikail terkulai kehilangan kesadarannya.
Di dalam gedung…
Chéri baru saja keluar dari ruang konsumsi, membawa sekaleng minuman dingin, lalu berhenti di depan jendela kaca yang menghadap ke halaman depan. Chéri menatap ke arah mobil Mikail dengan alis bertautan, merasa heran mobil pria itu masih terparkir di sana.
Bagaimana dengan Valentin? Chéri bertanya-tanya di dalam hatinya.
Kelihatannya mereka tidak berhasil menangkapnya, pikirnya merasa lega. Tapi lalu memarahi dirinya. Dasar bodoh, rutuknya dalam hati. Pria itu berbahaya, Chéri!
Tapi hati kecilnya tak bisa mengingkari…
Tebakan Valentin memang benar, ia tak rela Valentin tertangkap.
Mungkin karena Rafaél masih berada di luar sana. Entah di mana.
Dan menjelang tengah malam…
Di Ibis Moscow Kievskaya…
Valentin tertidur lelap sementara tubuhnya mulai bergerak secara perlahan, mengerjap dan membuka mata, lalu menarik bangkit tubuhnya sembari tersenyum lembut. "Chéri," bisiknya. "Aku kembali."
Kepribadian Rafaél mengambil alih tubuhnya sementara Valentin tertidur.
Itulah yang dia lakukan setiap malam, setiap kali Valentin tidur. Itu sebabnya pria itu selalu menemukan tagihan telepon setiap pagi.
Valentin belum menyadarinya.
Rafaél mengangkat gagang telepon dan menekan nomor telepon apartemen Chéri.
Chéri langsung menjawabnya. Gadis itu sepertinya memang sedang menantikan telepon darinya.
Benar-benar kekasih yang patuh, pikir Rafaél seraya tersenyum lembut.
"Ini benar-benar Rafaél, kan?" Gadis itu memberondongnya dengan banyak pertanyaan yang tak penting namun menyenangkan.
Rafaél tersenyum simpul, "Menurutmu?" godanya.
Suara gadis itu terdengar seperti nyanyian gembira anak-anak di telinga pria itu. Benar-benar menyenangkan.
"Kenapa hanya menelepon?" rengek Chéri di line teleponnya. "Kalau kau sudah kembali seperti semula, kenapa tidak menemuiku?"
"Tidak," tukas Rafaél tetap lembut. "Aku belum seutuhnya pulih. Makanya Mikail—"
"Mikail?" Chéri menyela tak sabar.
Sementara itu, Mikail yang mendengar namanya disebutkan segera menyelinap keluar dari kamar Rafaél dan membuka pintu kamar Chéri dengan kunci cadangan yang diberikan Rafaél.
Pria itu bergerak perlahan dan tidak meninggalkan suara sama sekali sehingga Chéri tidak menyadari.
__ADS_1
"Dengar, Chéri." Rafaél berdeham di seberang telepon. "Mikail berusaha menangkap Valentin demi keselamatanmu. Aku juga tidak rela kalau Valentin memelukmu."
Chéri tertegun dalam letupan kebahagiaan. Dadanya bergemuruh, hatinya berbunga-bunga, darahnya berdesir deras seiring jantungnya yang berdebar-debar. Sesaat ia merasa dirinya terbang.
"Kau masih mendengarku?" Pertanyaan Rafaél menarik Chéri kembali pada kenyataan.
"Ah, ya!" jawabnya cepat-cepat, sedikit terlalu bersemangat.
Rafaél tersenyum geli. Benar-benar menggemaskan, katanya dalam hati.
"Lanjutkan," pinta Chéri antusias.
"Mikail tak hanya berpihak pada kita, bosnya adalah ayahku." Rafaél melanjutkan.
"Valentin juga bilang begitu," timpal Chéri.
Rafaél tersenyum simpul.
"Sekarang siapa yang lebih kuat?" tanya Chéri dalam tempo cepat. "Kau atau Valentin. Hari ini aku bertemu Valentin, dan…"
"Valentin lebih kuat," potong Rafaél.
Chéri langsung terdiam.
"Sekarang Valentin berada di sisi depan dan aku di belakangnya," tutur Rafaél. "Di dalam diri Valentin, aku tidak hilang kesadaran. Aku bisa melihat apa yang dia lakukan. Tapi dibandingkan dulu, sekarang aku dapat keuntungan. Selama kira-kira dua jam saat Valentin tidur dan tak sadarkan diri, aku bisa muncul ke permukaan dan menggunakan tubuh ini tanpa sepengetahuannya. Begitu pun sekarang, dua jam sudah lumayan bagiku. Posisi ini menguntungkanku. Aku juga melihat apa yang dilakukan Valentin hingga membuat Vladimir jadi kalang kabut. Dan… latihan Joan di MoscovArt Theatre juga bisa berjalan baik walaupun kau dan aku tidak ada."
"Benarkah?" Chéri semakin bersemangat. "Rafaél…"
"Ya?"
"Bolehkah aku kembali ke MoscovArt Theatre-mu?"
"Tentu," jawab Rafaél. Senyumnya melembut. "Joan-ku selamanya adalah dirimu."
Chéri membekap mulutnya dan kembali ke awang-awang.
"Untuk mewujudkan semua ini…" Rafaél melanjutkan. "Aku tak ingin tertangkap oleh Mikail."
Chéri terhempas kembali pada kenyataan.
"Aku tahu ini berbahaya," gumam Rafaél. "Terutama untukmu. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Vladimir dan Valentin…"
"Aku tidak apa-apa," potong Chéri cepat-cepat. "Aku percaya padamu. Aku akan menjadi Joan-mu!"
Senyuman hangat Rafaél merekah.
"Cepatlah kembali, ambil alih tubuhmu. Aku ingin bertemu dengan dirimu yang sesungguhnya."
Rafaél masih tersenyum, lebih lembut dari biasanya. "Aku juga," katanya lirih dan… jujur.
Tapi suara Chéri menghilang. Panggilan berakhir tiba-tiba.
Apa terjadi sesuatu?
__ADS_1