Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 49


__ADS_3

Chéri meletakkan karangan bunga di pusara ayahnya dengan mulut terkatup. Tapi hatinya mulai mengadu.


Ayah…


Maafkan aku!


Padahal aku telah menukar kematian Ayah dengan kesempatan pergi ke Moskow untuk sekolah balet. Tapi…


Aku malah menemukan dunia yang lebih menggairahkan dari balet yang dulu begitu aku cintai.


Chéri mengatupkan kedua matanya untuk meredam air matanya yang mulai merebak. Raut wajahnya terlihat datar namun getaran kelopak matanya menyiratkan kesedihan sekaligus kerinduan yang mendalam.


Bayang-bayang wajah Rafaél seketika berkelebat dan berseliweran dalam benaknya.


Awalnya aku terjun ke dunia itu dengan berat hati.


Wajah keras Rafaél yang arogan turut melintas, kemudian berganti sosok rapuhnya di akhir adegan drama Si Cantik dan Si Buruk Rupa.


"Cantik… aku ingin mengatakan kalimat membosankan yang selama seribu malam kuucapkan kepadamu… sekali lagi. Maukah kau menjadi istriku?"


Tapi kemudian aku terpesona…


Semakin aku menghayati peranku…


Rafaél semakin menawan hatiku!


Begitu kuat hingga aku tak dapat berkutik.


Ayah…


Aku ingin pergi bersamanya!


Bersama-sama menciptakan dunia drama dari semua karyanya.


Tapi dia lebih memilih pergi sendirian!


Ayah…


Apakah tidak ada jalan lain bagiku kecuali kembali ke dunia balet?


"Apa itu benar-benar Chéri?" Bibi kecil Chéri terperangah mengamati gadis itu dari gerbang pemakaman. "Seingatku dia hanya anak manja. Tapi kelihatannya hari ini dia begitu tabah. Raut wajahnya terlihat jauh lebih dewasa."


"Aku saja terkejut waktu bertemu dengannya di bandara tadi," timpal ibu Chéri. "Entah kenapa dia mendadak menjadi dewasa. Kudengar… banyak hal yang terjadi di Moskow!"


Kedua wanita itu memperhatikan Chéri beberapa saat, sebelum akhirnya bergabung dengan gadis itu di sekeliling makam. Adik Chéri yang paling kecil mengekor di belakang mereka, sementara adik yang lainnya tidak ikut masuk ke area pemakaman.


"Aku akan menunggu di mobil saja," katanya. "Memasuki area pemakaman bukan salah satu kegiatan favoritku!"


Chéri masih tertunduk memandangi pusara ayahnya dengan raut wajah muram ketika ibu dan bibinya sudah berkerumun di belakangnya.


"Chéri…" ibunya mendekat seraya menyentuh bahunya dengan lembut. "Apa yang telah terjadi di Moskow?"


Chéri mengangkat wajahnya dan menoleh pada ibunya. Tapi tidak mengatakan apa-apa.


Aku tidak bisa mengatakan kalau Rafaél berkepribadian ganda, katanya dalam hati. Bahkan pada Ibu!

__ADS_1


"Kau tidak mau cerita pada Ibu?" Ibunya bertanya lagi, seolah bisa menebak isi hatinya.


Chéri berusaha memaksakan senyum. "Maaf sudah membuat Ibu khawatir," katanya. "Boleh pinjam dada Ibu?" pintanya seraya menyandarkan kepala ke dada ibunya tanpa menunggu persetujuan.


Ibu dan bibinya bertukar pandang. Lalu ibunya mengusap-usap bahunya penuh kasih sayang.


"Kau terlihat seperti bayi," ejek adik perempuan Chéri.


Chéri mengelus kepala adiknya seraya tersenyum sedih.


"Dengar, Chéri!" Ibu Chéri memulai pembicaraan. "Keinginan terakhir ayahmu adalah supaya ketiga putrinya bisa melakukan apa saja yang mereka suka sepuas hatinya."


Chéri menarik kepalanya dari dada ibunya dan mengerjap menatap ibunya.


Ibunya tersenyum tipis. "Menjelang hari kematiannya, ayahmu sebetulnya berencana untuk melakukan banyak hal yang menurutnya tidak sempat ia lakukan untuk kalian bertiga. Tapi siapa sangka dia sudah terlambat. Umur tidak ada yang tahu. Menyesal juga tidak ada gunanya."


Chéri menelan ludah dan tertunduk.


"Kematian Ayah bukan salahmu, Chéri!" Ibunya menambahkan. "Jadi… kejarlah mimpimu! Kau bebas melakukan apa saja yang kau suka. Itu adalah keinginan ayahmu!"


"Ibumu tidak sedang berusaha menghiburmu, Chéri!" Bibi Chéri menengahi.


Chéri sekarang menoleh pada bibirnya.


"Apa yang dikatakan ibumu kedengarannya memang sedikit khas," bibinya menambahkan. "Dulu ayahmu pernah mengatakannya ini pada Bibi… saat sesuatu yang benar-benar ingin kau lakukan terwujud, kau tidak akan selamanya menjadi anak-anak! Karena hanya pada saat kau dewasa kau bisa memperoleh segala sesuatu yang tidak dapat kau raih ketika kau masih anak-anak."


Memang benar, aku memiliki keinginan, tapi…


Tak peduli seberapa besar keinginan itu…


"Ibu! Kakak!" Adik perempuan Chéri yang menunggu di mobil tadi menghampiri mereka dengan wajah masam. Seikat karangan bunga gardenia disodorkannya pada Chéri dengan berat hati. "Seseorang menitipkan ini!"


Chéri tersentak dan terbelalak.


Bagaimana tidak?


Bunga itu selalu mengingatkan Chéri pada dua pria yang dicintainya. Rafaél dan ayahnya!


"Ayah, bagiku balet bukan sekedar hobi. Aku ingin menekuni balet dengan serius. Jadi, izinkanlah aku masuk sekolah balet di Moskow."


"Untuk kali ini saja---kumohon datanglah ke pentas ujian akhirku. Kalau Ayah berubah pikiran setelah melihat aku menari, di akhir pertunjukan nanti beri aku karangan bunga gardenia…"


"Apa kau sedang menunggu karangan bunga ini?"


"Ayahmu memintaku memberikan ini padamu!"


Ibunya merenggut bunga itu dan memeriksanya. "Tidak ada namanya! Apa orang itu tidak menyebutkan namanya? Dia laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki," jawab adik Chéri. "Orangnya tinggi dan tampan. Sepertinya orang terkenal. Aku pernah melihatnya beberapa kali muncul di TV. Katanya dia datang dari Moskow. Habis itu, dia langsung pergi!"


Rafaél!


Chéri spontan berbalik dan bergegas keluar area pemakaman.


"Chéri—" ibunya berusaha menahannya.

__ADS_1


Tapi bibi Chéri kemudian mengisyaratkan supaya ibunya membiarkan Chéri.


Chéri berlari setelah melewati gerbang pemakaman tanpa menoleh lagi.


Mungkin itu kepribadian lain, pikir Chéri. Tapi mungkin saja dia juga Rafaél. Yang mana saja… tidak apa-apa!


Tapi setelah ia mencapai beberapa ratus meter dengan berlari, ia tidak kunjung menemukan tanda-tanda kehadiran pria itu.


Di mana dia? Chéri bertanya-tanya dalam hatinya. Lalu berhenti berlari. Seharusnya dia masih di sekitar sini!


Chéri meneliti sekeliling dan… membeku!


Balai Kota Olympus Palace menjulang di hadapannya.


Di sini…


Di tempat inilah, nasibku berubah!


Pada hari itu…


Di tempat ini, aku menarikan marionette.


"Marionette Rafaél!" Suara Vladimir Valensky tiba-tiba berkelebat dalam benaknya.


Di tempat ini… ayahku meninggal dunia.


"Tadi ayahmu jatuh di lobi. Paramedis sudah menanganinya dan sekarang ayahmu sudah dibawa ke rumah sakit Palms of Pasadena."


Di tempat ini…


Aku bertemu Rafaél untuk pertama kali!


Suara samar Rafaél seketika berdesis di telinganya bersama tiupan angin.


"Kau akan menjadi aktris di teaterku! Mengerti?"


Chéri mendongak memandangi bangunan megah di depannya sikap khidmat, seperti seseorang sedang menghormati hari bersejarah.


Aku ingin kembali ke Moskow, harap Chéri dalam hati.


Aku ingin melihat "Marionette" Rafaél… sekali saja!


Setidaknya…


Melihat sekali lagi "Marionette" palsu hasil curian Vladimir Valensky yang telah digubah!


"Kehilangan seseorang?"


Suara pria di belakangnya membuat Chéri tersentak dan spontan memutar tubuhnya.


Seorang pria tinggi tahu-tahu sudah berdiri setengah merunduk sembari menyeringai. "Boneka Rafaél!"


Chéri memekik tertahan seraya membekap mulutnya. Kemudian beringsut mundur menjauhi pria di depannya. "Kau—" Chéri tergagap. "Kenapa kau bisa ada di sini?"


Pria itu kembali menyeringai, kemudian menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Dramaku mendapat penghargaan dari festival teater musim semi. Upacara penyerahannya akan dilaksanakan di balai kota ini!"

__ADS_1


__ADS_2