Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 81


__ADS_3

"Minggir! Minggir!" Beberapa staf berteriak di belakang panggung. "Tolong semuanya minggir! Perlengkapan panggung akan dipindahkan."


"Hebat ya," komentar seorang pemain laki-laki yang tadi berkerumun di belakang panggung sembari mengedar pandang. "Perlengkapan panggung kali ini banyak sekali. Begitu banyaknya, sampai-sampai berjalan di belakang panggung saja seolah-olah kita bisa merusak sesuatu."


Baru selesai anak laki-laki itu berkata demikian, seorang staf sudah berteriak, "Ah, itu jangan diinjak!"


Gerombolan itu tersentak dan menoleh ke sana kemari.


Anak laki-laki dari bagian properti tadi menerjang ke tengah-tengah mereka dan membungkuk menarik sesuatu dari lantai. "Ini perlengkapan penting untuk adegan hukuman bakar," teriaknya memperingatkan.


Para pemain itu beringsut menjauh dari tumpukan peralatan itu dan bergabung dengan Leah di sisi panggung.


"Sewaktu gladi resik, aku lihat mereka memakai api sungguhan," cerita salah satu anak laki-laki yang pindah ke sisi panggung.


Mikail yang sedang sibuk di pintu masuk ruang monitor langsung menoleh pada anak laki-laki itu.


"Api sungguhan?" Anak lainnya memekik terkejut.


"Iya, api sungguhan!" Anak laki-laki itu meyakinkan teman-temannya.


"Lihat itu!" seru anak yang lainnya. "Jumlah lampunya juga tidak seperti biasanya."


Mikail mengikuti arah pandang mereka.


"Begitu juga jumlah pemainnya, dekor panggungnya, dan penyutradaraannya… ah, reaksi penonton pun luar biasa!"


"Semakin kita tenggelam di dalamnya, semakin terasa energi yang berlebihan."


"Joan…" suara Demian yang tenang terdengar menggelegar ke seluruh ruangan. Terdengar wajar dan jelas terlatih.


Chéri tertunduk dalam ekspresi muram.


Demian melangkah maju, merapatkan jarak di antara mereka, kemudian memeluk Chéri dari belakang. "Aku diperintahkan raja untuk pergi ke Normandy. Ikutlah denganku!"


Chéri memalingkan wajahnya ke samping, berlawanan dengan arah pandang Demian.


"Aku tak tega meninggalkanmu seorang diri di sini," lanjut Demian.


"Pangeran Alanson," Chéri memulai dialognya.


"Kau telah menempatkan pangeran Charles di singgasana raja," sela Demian memotong perkataan Chéri. "Dan kau juga telah menunjukkan pada semua orang bahwa kau mampu mewujudkan kehendak Tuhan. Kau telah menunaikan tugasmu dengan baik. Sekarang… biarkan aku membahagiakanmu."


"Kebahagiaanku adalah mengabdikan diri pada Tuhan," tukas Chéri.


"Kau akan menderita kalau kau terus begini, Joan!" sergah Demian. Kau baru berumur tujuh belas tahun. Jalan hidupmu masih begitu panjang. Untuk apa menyia-nyiakan masa mudamu di medan pertempuran. Aku akan mengajarkan padamu bagaimana wanita seharusnya hidup, akan kuperlihatkan kebahagiaan seorang wanita."


Chéri mengernyit. Silau sekali, pikirnya. Lampunya terasa panas dari tadi. Keringat membanjir di punggungnya. "Kalau aku mencampakkan Tuhan, tak akan ada lagi yang tersisa dalam diriku."


Demian melepaskan pelukannya, kemudian memutar tubuh Chéri hingga menghadap ke arahnya. "Tapi kau seorang wanita, Joan!" Demian mengguncang bahu gadis itu.


Chéri tiba-tiba terhuyung. Pandangan matanya mendadak berkunang-kunang.


"Joan!" Demian mengguncang bahunya lagi, mengisyaratkan Chéri untuk mengucapkan dialog.

__ADS_1


Gadis itu mengerjap dan penglihatannya mulai pulih.


Valentin mengintip dari sisi panggung, merasa ada yang aneh dengan akting Chéri.


Gadis itu menatapnya, dan secara tiba-tiba wajah Valentin memenuhi benak Chéri.


Setiap dialog yang diucapkan Demian terasa seperti…


"Chéri… mimpimu untuk menyelematkan Rafaél adalah suatu kebohongan. Omong kosong! Tinggalkan saja dia! Tinggalkan Rafaél! Lewat drama ini, akan kubuktikan bahwa aku lebih unggul. Akan kubuktikan kalau sebagai wanita, kau akan tertarik padaku!"


"Tidak!" Chéri mendorong dada Demian.


Demian terkesiap.


Chéri beringsut ke belakang dan terhuyung. Lalu tiba-tiba ambruk.


Demian menerjang ke arah gadis itu dan menangkap tubuhnya.


Itu di luar skenario!


"Joan!" Demian seketika merasa panik, dan mengakhiri adegan itu dengan membopong Chéri keluar panggung.


Valentin dan Mikail menghambur ke arah Demian, lalu mulai berebut.


Demian hampir tak percaya kedua pria itu memperebutkan seorang gadis. Apa sesuatu telah terjadi selama aku pergi? pikirnya.


Lalu Valentin memenangkan persaingan itu. Pria itu melesat ke kamar rias dengan membopong tubuh Chéri. Mikail mengikutinya dengan tergopoh-gopoh.


Semua orang yang mereka lewati terperangah menatap keduanya.


Demian mengawasi keduanya dengan terkejut.


"Chéri! Bangunlah!" Valentin berteriak gusar. Ia membaringkan gadis itu di meja rias dan menepuk-nepuk pipinya dengan lembut. "Kumohon, bangunlah!" pekiknya setengah meratap.


Mikail membeku di ambang pintu, lalu mengerjap dan memalingkan wajahnya dengan sikap risih.


Valentin membenamkan mulutnya di mulut Chéri, lalu meringis frustrasi sembari mengusap kasar wajahnya dan memohon-mohon. "Bangunlah!"


Mikail akhirnya berinisiatif untuk mengambil sebotol air, sementara Valentin berinisiatif untuk mengganti kostum Chéri untuk adegan berikutnya.


Kalau menuggu sampai Chéri siuman, Valentin khawatir tidak keburu.


Saat Mikail kembali, Valentin sudah selesai mengganti kostum Chéri.


Valentin menyusupkan wajahnya di leher gadis itu, "Chéri! Sayang…" desisnya sedih. "Maafkan aku," sesalnya entah untuk kesalahannya yang mana.


Terlalu banyak kesalahan yang telah dia lakukan pada gadis itu, dan ia baru menyadarinya sekarang.


Tindakannya pada malam pertama dia kembali ke apartemen, mungkin telah membuat gadis itu ketakutan dan tidak pernah tidur nyenyak sepanjang malam.


Valentin betul-betul merasa bersalah.


Valentin tidak pernah tahu, Chéri tak pernah bisa tidur nyenyak sepanjang malam sebetulnya karena menunggu Rafaél muncul. Tapi pria itu tak pernah muncul sejak Valentin tinggal bersama Chéri.

__ADS_1


Chéri tiba-tiba mengerang dan mulai bergerak. Tapi tidak segera membuka mata.


Valentin tersentak gembira. "Chéri," desisnya lirih.


Kelopak mata gadis itu bergetar dan membuka perlahan.


Senyum Valentin menghangat.


Gadis itu menatapnya dan menyentuh pipi Valentin dengan sebelah tangan.


Valentin mengusap punggung tangan gadis itu dan menciumnya.


Tapi tiba-tiba gadis itu menarik tangannya dan beringsut. Lalu menarik bangkit tubuhnya.


Valentin tergagap dan menelan ludah.


Gadis itu menyadari dirinya bukan Rafaél.


"Tenanglah," bujuk Valentin. "Kau kekurangan darah dan… kau pingsan tadi," jelasnya hati-hati.


Chéri menatapnya sedikit sinis, lalu mengedar pandang ke seluruh ruangan.


"Kita sedang di kamar rias," Valentin memberitahu."Kostummu sudah diganti untuk adegan berikutnya. Jadi… beristirahatlah!"


Chéri meringis membayangkan Valentin mengganti kostumnya. Tapi kemudian merasa sedikit tenang menyadari Mikail berada di sana bersamanya.


Pria itu tersenyum prihatin ketika Chéri menoleh padanya. Lalu berjalan perlahan mendekati meja rias dan menyodorkan botol air mineral ke arah gadis itu.


Chéri menerimanya sembari tersenyum lemah.


Valentin membantunya membuka tutup botol itu.


Chéri dan Mikail bertukar pandang sekilas. Lalu Chéri kembali menatap Valentin.


Wajah pria itu terlihat begitu rapuh.


Begitu manis, pikir Chéri hampir tak yakin bahwa pria itu adalah Valentin.


Aku tadi sempat terlena, kenangnya getir. Padahal aku tahu itu wajah Valentin.


"Kau masih punya waktu sepuluh menit sampai giliranmu tiba," Valentin memberitahu, mengusap pipi gadis itu dengan buku jarinya.


Chéri membeku dalam kebimbangan yang menyakitkan. Jantungnya berdebar-debar akibat sentuhan lembut pria itu.


Mikail memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan menghela napas berat.


Valentin meliriknya sembari menyeringai. "Kau tak perlu mencemaskan Chéri," katanya sinis. "Kan, sudah ada aku di sini! Keluar sana!"


Mikail tidak menggubrisnya. Dia tetap bergeming dengan ekspresi datar seorang pengawal. "Aku tak akan keluar," katanya. "Aku di sini untuk menceritakan yang sebenarnya."


Chéri dan Valentin serentak terkesiap.


Yang sebenarnya?

__ADS_1


"Riwayatmu sudah tamat, Val!"


__ADS_2