
Ini adalah saat terburuk dalam hidup Chéri Dutchskova.
Sudah cukup buruk ia kehilangan ayahnya karena keegoisannya, rasa bersalahnya bahkan belum terobati sepenuhnya.
Sekarang Rafaél juga meninggalkannya demi melindungi dirinya. Sementara itu Mikail juga sedang tidak berada di sisinya seperti biasa.
Chéri betul-betul merasa begitu sendirian.
Dan yang paling buruk, dia kini terjebak dalam cengkeraman Vladimir Valensky!
Lebih buruk lagi, sebuah artikel memuat berita sensasional dengan menjadikan dirinya sebagai target intrik.
Judul besar yang tertera pada kolom berita di segmen hiburan hari itu berbunyi: PERSENGKETAAN SEPUTAR AKTRIS PENDATANG BARU.
Di bawahnya terdapat tulisan yang lebih kecil berbunyi: Joan d'Arc, drama Tsar Dramy dan MoscovArt Theatre.
Lalu sebuah foto dirinya bersama Rafaél terpampang dengan keterangan gambar: Rafaél Moscovich (kanan) dan Chéri Dutchskova (kiri) dalam pementasan "Si Cantik dan Si Buruk Rupa" yang diselenggarakan oleh MoscovArt Theatre.
Semua itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikan Chéri Dutchskova sebagai sasaran kemarahan seluruh anggota MoscovArt Theatre.
Siapa sekarang yang akan melindunginya?
"Apa-apaan ini?" teriakan nyalang itu membahana di ruang latihan MoscovArt Theatre. "Kenapa Chéri malah bermain di grup teater Vladimir?"
"Teater kita sedang sekarat," gumam suara lainnya.
"Katanya dia akan memerankan Joan pada waktu bersamaan," timpal yang lainnya lagi.
"Jadi kita akan bersaing dengan Tsar Dramy?" Terdengar suara memekik antara geram dan tak percaya.
"Padahal kalau Chéri tidak ada, kita tidak punya kesempatan untuk menang!"
"Chéri sungguh keterlaluan!" umpat beberapa orang.
Suara-suara mereka terdengar seperti dengung lebah yang sedang gelisah.
Sesha Montrosecova terduduk lemas di bangku Rafaél, menundukkan wajahnya dengan mulut terkatup. Raut wajahnya terlihat lebih tenang dibanding yang lain, tapi jelas beban batinnya yang paling berat.
Kyle berdiri di sampingnya membelakangi meja, bersilang tangan dengan wajah muram.
"Siapa sebenarnya yang telah menjual naskah Rafaél pada Vladimir?" Seorang anggota laki-laki mengempaskan surat kabar di tangannya ke meja Rafaél di depan Sesha. "Mikail?"
Sesha meliriknya sekilas, tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Itu tidak mungkin!" sergah anak laki-laki lainnya.
"Aku bahkan tak yakin dia tahu soal ini, dia sedang berada di luar negeri," yang lainnya lagi menimpali.
__ADS_1
"Mungkin Chéri menjual dirinya sekalian dengan naskah itu," sarkas gadis pemeran kucing.
"Hentikan!" Kyle seketika menghardiknya. "Chéri tidak mungkin melakukan hal itu. Apa kau tak malu mengatakan hal seperti itu?"
"Aku juga tidak mau mempercayainya," sergah gadis itu. "Tapi kenapa artikel ini bisa sampai keluar?" Gadis itu melemparkan surat kabar di tangannya ke wajah Kyle.
"Kau—" Kyle menggeram tak sabar. Ia memungut surat kabar itu, "Omong kosong!" teriaknya menggelegar, lalu balas melemparkan surat kabar itu ke wajah gadis pemeran kucing. "Namanya juga surat kabar. Rata-rata beritanya cuma omong kosong belaka!"
Gadis itu terperangah antara marah dan terkejut. "Kau membela Chéri karena kau menyukainya," geramnya sinis.
"Cukup!" Sesha menggebrak meja Rafaél untuk menenangkan mereka.
Seisi ruangan spontan membeku. Lalu terdengar suara langkah pelan seseorang mendekati pintu.
Seisi ruangan menoleh ke arah pintu. Sebagian terkesiap, sebagian lagi mendengus tak senang.
"Dia datang," bisik beberapa orang terdengar sinis.
Langkah itu terhenti di ambang pintu.
"Chéri," desis Kyle tercekat.
Chéri membeku menatap seisi ruangan satu per satu dengan wajah sedih dan putus asa, sementara seisi ruangan menatapnya dengan intensitas tatapan yang membakar.
"Aku yang memanggilnya ke sini," Sesha memberitahu. "Aku berharap dia bisa memberikan penjelasan kepada kita semua."
"Masuklah!" Sesha berkata pada Chéri.
Gadis itu menelan ludah dan tertunduk dengan ekspresi getir.
Kyle menghampiri Chéri, menyeberangi ruangan dengan langkah-langkah lebar. "Katakan, Chéri. Artikel ini bohong, kan?" tuntutnya seraya mengacungkan surat kabar itu di depan wajah Chéri.
Chéri tertunduk semakin dalam.
"Katakan!" Kyle mencengkeram sebelah bahu gadis itu dan mengguncangnya sedikit kasar. "Ini tidak benar kan?"
Chéri mengangkat wajahnya dan menatap anak laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca. "Kyle…" desisnya lirih. Lalu tiba-tiba gadis itu menjatuhkan dirinya hingga berlutut di lantai. "Maafkan aku!"
Kyle tergagap dan tertunduk dengan mata membulat. Seluruh warna terkuras di wajahnya.
Seisi ruangan menatap mereka dengan sikap mencela.
"Padahal aku sendiri yang mengusulkan pembentukan kembali MoscovArt Theatre," Chéri tertunduk di lantai dengan kedua tangan menumpu bahunya yang gemetaran.
Kyle beringsut selangkah ke belakang seraya mengetatkan rahang dan menelan ludah, menatap Chéri tanpa berkedip.
"Aku—" Chéri mendongak menatap wajah Kyle. "Aku akan pindah ke Tsar Dramy," desisnya parau.
__ADS_1
Seisi ruangan menggemeretakan gigi. Menatap Chéri dengan dingin.
Sesha tertunduk dengan ekspresi geram yang jelas dipendam.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf," bisik Chéri tak berdaya.
Sesha menghela napas berat dan melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian melangkah ke arah Chéri dengan langkah-langkah pelan. "Aku tahu cara kotor yang dipakai Vladimir saat dia merebut Demian," katanya, berusaha untuk tetap terdengar tenang. "Katakan, Chéri. Dengan cara apa dia menjebakmu?"
Chéri membuka mulutnya perlahan, bersiap untuk mengatakan segala sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia benar-benar tak tahan untuk menumpahkan segala kegetirannya sekarang. Tapi kemudian hanya tergagap.
Kau tak bisa mengatakannya! Ia memperingatkan dirinya. Itu sama saja dengan mengkhianati Rafaél!
"Di surat kabar ini," Sesha mengangkat lipatan surat kabar di tangannya. "Di segmen hiburan, ada artikel tentang dirimu. Tapi aku tak ingin mempercayainya."
Chéri tetap bergeming.
Kyle mengernyit menahan getir.
"Berikan kami setidaknya alasan yang tepat, Chéri." Sesha mendesak Chéri.
Chéri menggeleng cepat. "Aku tidak bisa," katanya.
Dan detik itu juga, gulungan surat kabar di tangan Sesha melayang ke arah Chéri dan menampar keras wajahnya.
"Sesha—" Kyle memekik tertahan.
Seisi ruangan terlihat puas.
"Anggap itu sebagai rasa marah seluruh anggota MoscovArt Theatre!" teriak Sesha, tak bisa berpura-pura tenang lagi. "Pergi kau dari sini dan jangan pernah coba-coba menginjakkan kaki di MoscovArt Theatre lagi!"
Chéri tertunduk tanpa perlawanan.
Kyle mengusap wajahnya dengan putus asa. Demi dirimu aku bergabung di teater ini, kenangnya getir.
Apa boleh buat, pikir Chéri tak berdaya. Mereka semua tidak boleh tahu rahasia Rafaél.
Chéri sesungguhnya hampir tak mampu menanggungnya.
Mereka semua takkan pernah menganggapku sebagai teman lagi. Mereka semua benar-benar salah paham.
Sekiranya ia dapat memilih, Chéri lebih mati daripada harus bekerja sama dengan Vladimir Valensky.
Baik itu Tsar Dramy atau apa pun namanya sebelum ini maupun sesudahnya, selama itu dipimpin oleh Vladimir Valensky, Chéri akan menempatkannya dalam daftar hal yang paling dibencinya.
Bahkan jika suatu hari ia harus mengalami gangguan penglihatan, ia mungkin akan menghindari mengenakan kacamata. Kacamata saja mungkin akan mengingatkan Chéri pada Vladimir Valensky.
Ia benci apa pun yang berkaitan dengan Vladimir Valensky!
__ADS_1
Namun di atas semuanya itu, dia rela melakukan apa saja demi Rafaél.