
"Apa-apaan ini?" Cyzarine menggerutu. "Apa sampai peran Si Buruk Rupa juga dibuat versi depan dan belakang?"
Salah satu pria berkostum Si Buruk Rupa tiba-tiba terkekeh. "Sepertinya aku benar-benar mengejutkan mereka," katanya. Lalu membuka topengnya. "Terutama Chéri."
"Saul!" Chéri dan Cyzarine memekik bersamaan.
Saul tergelak. "Tentu saja aku," katanya. "Memang siapa lagi?"
"Aku memintanya untuk bersiap-siap meski sedang tidak tampil supaya dia bisa langsung menggantikanku kapan saja," Rafaél memberitahu.
Chéri mendesah pendek dan membungkuk dengan sebelah tangan bertumpu pada meja rias.
Cyzarine terkekeh dan menggeleng-geleng. "Ada-ada saja," katanya geli. Kemudian menggamit lengan Saul dan menuntunnya keluar ruangan.
"Seharusnya kau lihat wajah anak itu tadi," kata Saul setelah mereka berada di luar.
Rafaél mengawasi Chéri dari balik topengnya.
Chéri masih membungkuk di meja rias seraya memegangi perutnya.
Rafaél bergegas keluar ruangan seraya berteriak, "Di mana Mikail? Ada yang lihat Mikail?"
Chéri mengawasi punggung pria itu sampai menghilang.
Aku benar-benar ketakutan setengah mati tadi, katanya dalam hati. Kukira dia berubah seperti kemarin.
.
.
.
"Hei—apa ini?" Seorang pria berteriak di dekat pintu masuk. "Di sini tercantum double cast untuk peran Si Cantik, di program tertulis hari ini Cyzarine Pedrova dan Chéri Dutchskova akan tampil bersama sebagai Si Cantik dan Bayangan Si Cantik. Apa maksudnya?"
Beberapa pengunjung serentak menghambur ke arah pria itu dan berkerumun di depan bilah informasi.
"Kudengar skenarionya sudah direvisi secara besar-besaran," seseorang memberitahu mereka. "Tapi katanya skenario Rafaél Moscovich selalu lebih menarik dari sebelumnya."
Hiruk-pikuk di bangku penonton menyemarakkan suasana.
Pertunjukan dimulai!
"Cyzarine cekatan, ya?" Sekumpulan para pemain wanita masih bergosip di belakang panggung.
"Tentu saja! Dia kan, sudah terbiasa!"
Chéri mengawasi gadis-gadis itu dengan wajah tegang. Bisa tidak, ya? pikirnya.
"Perutmu sakit?"
Suara seseorang mengejutkan Chéri.
Mikail tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya.
Kenapa dia selalu muncul tiba-tiba? Chéri mengerang dalam hatinya.
"Mau minum obat?" Mikail bertanya lagi.
__ADS_1
"Tidak," sergah Chéri. "Aku tidak apa-apa!"
Mikail mengalihkan perhatiannya dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi juga tidak segera beranjak dari tempatnya.
Chéri meliriknya sekilas.
Pria itu menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana, tampak santai dan terfokus.
Apa dia punya banyak waktu luang hari ini? pikir Chéri.
Kenapa rasanya tidak seperti biasanya?
Biasanya dia paling sibuk!
Lima menit kemudian, Chéri meliriknya lagi.
Pria itu masih ada.
"Hei—" Chéri tak bisa menahan dirinya. "Kubilang aku tidak apa-apa," katanya pada Mikail. "Kenapa kau masih di sini?"
"Tidak boleh?" Mikail memelototinya.
Oh, whatever! Pikir Chéri tak berdaya. Lalu buru-buru memalingkan wajahnya.
Fokus saja pada Bayangan Si Cantik, perintahnya pada diri sendiri.
Sebentar lagi, saat lampu dimatikan, aku sudah harus siap di panggung s doskoy---dengan papan.
"Bayangan Si Cantik! Stand by di layar zanaves!" Pengawas panggung berteriak dari ruang kontrol.
"I'm coming!" Chéri sontak melejit ke belakang panggung.
"Sebentar lagi akan dimulai," kata pengawas panggung pada Mikail tanpa mengalihkan perhatiannya dari panggung. Wajahnya terlihat tak kalah tegang dari para pemain. "Adegan pertemuan Si Cantik yang baik dan Si Cantik yang jahat… bagaimana jadinya, ya?"
Mikail bergabung di sisinya tanpa mengatakan apapun. Perhatiannya langsung terfokus ke arah panggung.
Cyzarine Pedrova duduk bersimpuh di bawah lampu spot light, membekap wajahnya dengan dua tangan. "Aku sungguh-sungguh hanya menginginkan setangkai mawar," katanya lirih. "Tapi kakak-kakakku tidak ada yang percaya."
"Kau pembohong!" Chéri mengucapkan dialog pertamanya. Suaranya terdengar tipis sekaligus membahana seperti datang dari berbagai arah.
Cyzarine terperangah seraya menurunkan tangan dari wajahnya. "Siapa itu?" Ia menoleh ke sana kemari.
Hening!
Sound effect mendramatisir situasinya.
CLING!
"Di mana kau?" Cyzarine bertanya dengan suara gemetar.
Sound effect bergemuruh menirukan suara angin.
"Di sini…" Chéri menggerakkan sebelah tangannya seperti sedang menari sesuai instruksi Rafaél pada saat latihan.
Cyzarine berputar-putar, mencari ke sana kemari dengan sikap gusar.
"Lihat dirimu sendiri!" Suara Chéri kembali melenting.
__ADS_1
Para penonton terkesiap dan menahan napas.
"Entah kenapa aku merasa merinding," desis seseorang.
"Diriku sendiri?" Cyzarine mengulangi kata-kata Chéri dalam bentuk pertanyaan. Ia meliukkan tubuhnya ke belakang dan membeku.
Chéri mengikuti gerakan Cyzarine, meliukkan tubuhnya ke arah penonton dengan gerakan lebih pelan namun ringan, kemudian berhenti dalam posisi kedua tangan terentang di sisi tubuhnya dan berayun anggun seolah sedang mengambang di dalam air.
"Whoa—" Sesha terkesiap di belakang panggung. "Pose Chéri indah sekali," katanya spontan.
"Aku tak percaya ekspresi wajahnya bisa sedewasa itu!" pekik si pemeran kucing dengan raut wajah kagum.
"Cantik… kau seorang pembohong," desis Chéri tajam sekaligus ringan.
Cyzarine memutar tubuhnya sepenuhnya membelakangi penonton.
Chéri mengikuti gerakan Cyzarine ke arah sebaliknya, memutar tubuhnya, sepenuhnya menghadap penonton. Tapi masih dalam mode anggun dan ringan seperti sedang berenang.
Para penonton tidak ada yang berkedip.
"Hanya aku yang berada di dalam hatimu yang tahu…"
"Siapa kau?" Cyzarine berteriak parau.
"Aku adalah kepribadian lain yang berada di dalam dirimu. Jika kau adalah cahaya, maka aku adalah bayangan."
Cyzarine beringsut mundur menjauhinya.
Chéri melangkah mendekatinya dengan langkah slow motion. "Aku selalu mengikutimu ke mana-mana," katanya seraya menyeringai.
Mikail mengerjap dan menelan ludah. Dia benar-benar terlihat seperti ilusi, pikirnya.
Cyzarine jatuh terduduk dan tergagap-gagap.
Chéri menghela napas pendek dan membungkuk ke arah Cyzarine. "Aku keluar karena tak tahan," katanya setengah menggeram.
Anak ini…
Cyzarine terkesiap.
Para penonton membeku seluruhnya.
"Apa para penonton tidak merasa aneh dengan adanya dua orang pemeran Si Cantik?" Pengawas panggung menggumam tanpa mengalihkan perhatiannya dari pertunjukan.
"Tidak apa-apa," Mikail menanggapinya, juga tanpa mengalihkan perhatiannya dari pertunjukan. Terutama dari sosok Chéri. "Bayangan Si Cantik berada di balik layar, apalagi Chéri berhasil menggambarkan dimensi yang berbeda dengan keahlian pantomimnya. Antara Si Cantik dan Bayangan Si Cantik menyeimbangkan drama ini."
Chéri sebenarnya mengandalkan keahlian baletnya kali ini.
"Bayangan Si Cantik yang dimainkan Chéri, karakternya sangat kuat." Mikail menambahkan. "Dengan tingkah lakunya yang genit, dia mampu memukau para penonton dan berhasil membuat semua orang terkesima."
Pengawas panggung melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian memegangi dagunya dengan sebelah tangan. Sepasang alisnya bertautan mengawasi barisan penonton.
"Berkat Bayangan Si Cantik yang perankan Chéri, peran Si Cantik yang dimainkan Cyzarine terlihat nyata dan terkesan wajar. Sisi kontras antara kedua orang ini sangat menarik," tutur Mikail.
"Well---yeah!" Pengawas panggung mendesah pendek. "Tapi sepertinya Cyzarine Pedrova tidak puas!"
Mikail mengerutkan dahinya.
__ADS_1
Cyzarine berdiri terlalu rapat dengan layar zanaves.
"Kalau dia berdiri seperti itu, Chéri tidak akan kelihatan karena terhalang lampu spot light yang menyorotinya," kata pengawas panggung.