
"Akhirnya aku mulai mengerti perasaan ini!" Cyzarine meratap mengucapkan dialognya. "Mungkin ini sudah terlambat, tapi… aku sudah mengerti…"
Sesha tercenung mengamati gadis itu dengan sorot mata hampa.
"Bayanganku…" Cyzarine memutar-mutar tubuhnya dan menoleh ke sana kemari dengan sikap gelisah. "Di mana kau, Bayanganku? Padahal biasanya kau selalu menampakkan diri!"
Mikail memutar tubuhnya dan menekankan sebelah tangannya di bahu Sesha, lalu buru-buru pergi.
Sesha meliriknya sekilas kemudian kembali mengamati pertunjukan.
"Bayanganku! Keluarlah, Bayanganku! Beritahu aku di mana Si Buruk Rupa! Kalau aku tidak segera menemukan dia, dia mungkin akan mati. Jika dia mati, aku akan ikut mati! Aku mencintai Si Buruk Rupa!"
.
.
.
Ada persyaratan tertentu untuk menarik keluar "Bayangan Si Cantik", pikir Chéri.
Yang pertama…
Pihak yang terkurung harus memiliki keinginan kuat untuk keluar.
Kedua…
Pihak yang berada di luar harus berdiri menghadap cermin dan melihat pihak yang terkurung.
Dan yang terakhir…
.
.
.
"Pengawas panggung! Tolong ubah pencahayaannya! Matikan lampu yang menyoroti Cyzarine! Buat kesan seolah-olah Bayangan Si Cantik ada di situ. Kalau begini terus, Cyzarine tidak mungkin memainkan kedua peran itu seorang diri!" Teriakan Mikail di depan ruang kontrol mengalihkan perhatian Sesha.
Gadis itu menoleh ke seberang koridor, mengawasi pria itu seraya tersenyum tipis. Aku tahu dia takkan tinggal diam, katanya dalam hati.
"Sekarang sudah tidak mungkin lagi!" Pengawas panggung berteriak marah. "Dari awal babak ini sudah berantakan!"
Sesha menggembungkan kedua pipinya seraya memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak, kemudian bergegas ke ruang kontrol dan bergabung di belakang Mikail.
Pengawas panggung masih berteriak pada pria itu. "Penonton tidak akan suka kalau hanya di bagian akhir saja kedua peran ini dimainkan satu orang!"
"Hanya di bagian akhir?" Mikail mendebatnya. "Apa kau sudah lupa kalau dari awal Cyzarine sudah menjadikan drama ini sebagai dramanya sendiri?"
"Benar," sanggah si pengawas panggung. "Dan Chéri memperparah keadaannya dengan keluar begitu saja seenak perutnya!"
Mikail terdiam.
"Dan kalian bahkan tidak berusaha menegurnya!" Pengawas panggung menambahkan. "Tapi paling tidak memberontak masih lebih baik daripada meninggalkan pementasan!"
Mikail menerjang ke dalam ruangan dan merenggut headset dari si pengawas panggung. "Bagian pencahayaan! Ada perubahan di bagian ini! Matikan lampu yang menyoroti Cyzarine! Gelapkan muka Cyzarine!"
Pengawas panggung mengetatkan rahangnya dan mendengus. Lalu berbalik dan bergegas keluar ruangan dengan langkah-langkah lebar.
__ADS_1
"Pengawas panggung!" Sesha memekik berusaha menahannya.
Pria itu menyentakkan tubuhnya dan berlalu dari tempat itu.
"Mikail! Dia pergi!' Sesha memberitahu Mikail.
"Sudah! Lakukan saja!" Mikail berteriak menghardik bagian pencahayaan melalui wireless.
Ya, Tuhan! Bagaimana ini? Sesha membatin khawatir seraya menoleh ke sana kemari untuk mencari pertolongan.
"Tetap ikuti gerakan Si Cantik, tapi sesuaikan semua pencahayaan secara perlahan-lahan! Selanjutnya, tergantung pada kemampuan akting Cyzarine!"
Sesha mengerang frustrasi dan menyerah. Lalu kembali ke belakang panggung untuk mengawasi sisa pertunjukan.
Dapatkah Cyzarine membuat para penonton merasakan keberadaan Bayangan Si Cantik di atas panggung?
"Cantik!" Cyzarine mengucapkan dialog yang seharusnya menjadi bagian Chéri. "Akhirnya aku terlepas dari kutukan ini! Betapa bahagianya aku. Semua persyaratan sudah terpenuhi! Ini adalah saat yang paling aku tunggu-tunggu!"
"Lho! Itu suara Bayangan Si Cantik?" Para penonton mulai berisik. "Kok, rasanya tidak berbeda?"
"Masak, sih? Kedengarannya sama saja, ya?"
"Bayanganku! Kau di mana? Aku tak bisa melihatmu!" Cyzarine bergerak-gerak gelisah, menoleh ke sana kemari dan berputar ke bangku penonton seraya meletakkan ujung jemari di bibirnya.
"Cantik… Aku terkena kutukan sehingga aku tidak terlihat!" Cyzarine memutar tubuhnya membelakangi penonton dengan sikap dramatis untuk menutupi gerakan mulutnya. "Tapi sekarang… untuk pertama kalinya aku akhirnya bisa keluar dari dalam cermin untuk bersatu dengan dirimu!'
Mikail menghela napas berat dan tersenyum lega. "Semuanya berjalan sesuai naskah," katanya melalui wireless.
Sesha meliriknya seraya tersenyum tipis. Lalu kembali mengintip pertunjukan.
"Selama ini, kau tidak percaya pada cinta. Kau menutup hatimu dengan kesendirian. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya kau mengakui keberadaannya, membuka hati dan menerimanya. Cintamu telah menyelamatkanku dari kutukan!"
"Sekarang kau berdiri di depan cermin sehingga aku dapat keluar dan menjadi satu denganmu! Sekarang aku akan keluar!"
"Sekarang!" Mikail menginstruksikan.
Sejurus kemudian, lampu spot light berpendar secara serentak dan menyala bersamaan dari berbagai sudut ke titik yang sama.
Cyzarine tersentak ke belakang dan mengawasi cahaya terang itu dengan terperangah. "Bayanganku…"
"Dia benar-benar keluar!" Beberapa penonton memekik takjub.
Sekarang lampu spot light itu secara bersama-sama merayap pelan menghampiri Cyzarine.
"Lihat itu!" Salah satu penonton memberitahu teman sebangkunya. "Bayangan Si Cantik berubah menjadi cahaya!"
"Bayanganku!" Cyzarine berseru gembira sekaligus haru. Kemudian menghambur ke dalam cahaya dan memeluk kekosongan. "Apa—" Cyzarine tergagap. "Apa yang terjadi?"
Para penonton menahan napas dan terenyuh.
"Bayanganku! Jangan tinggalkan aku! Aku berjanji mulai sekarang aku akan selalu mendengarkanmu. Aku sudah mengerti kau yang selalu bicara ketus sebenarnya sangat pemalu. Tidak perlu malu! Biarkan aku memelukmu!" Cyzarine berusaha memeluk cahaya itu sekali lagi dan kembali hanya menangkap kekosongan.
"Cantik… tugasku sudah selesai. Tidak lama lagi, aku akan menghilang. Tapi kau tak perlu bersedih. Karena kini, aku akan tinggal tetap di dalam dirimu. Selamat tinggal, Cantik!"
"Tidak! Bayanganku! Jangan pergi!"
"Cantik! Aku akan selalu bersamamu. Nah, sekarang pergilah! Selamatkan Si Buruk Rupa!"
__ADS_1
.
.
.
Aku mengerti! Chéri menyadari.
Inilah petunjuk yang tersembunyi dalam naskah Rafaél, batinnya.
Si Cantik…
Yang selama ini tidak percaya cinta dan menutup hati dengan kesendiriannya…
Kini…
Untuk pertama kalinya dia menghadap cermin dengan hati terbuka…
Mulai percaya pada cinta!
Kesendiriannya terlalu melindungi hingga menutup mata hatinya. Dia tidak terbiasa dengan cinta dan kebaikan hati yang diberikan oleh orang lain.
Karena dia tidak dicintai…
Maka dia tidak memahami cara mencintai.
Itu sebabnya dia menjadi bengis seperti anak buangan.
Akhirnya aku dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan Rafaél.
Chéri menaikkan kedua tangannya ke wajah Rafaél dan menyentuhnya.
Pria itu mengetatkan rahangnya. "Apa yang kau lakukan?" Ia bertanya setengah menggeram. "Sudah kukatakan jangan menyentuhku. Jangan menyentuhku! Aku paling benci disentuh! Harus berapa kali kukatakan sampai kau mengerti?"
"Jadi kau tidak terbiasa disentuh orang lain?" Chéri bertanya dengan lembut.
Pria itu memelototinya. "Lepaskan!" Hardiknya seraya menyentakkan wajahnya. Tapi tidak beranjak dari tempatnya. Masih memegangi kedua tangan Chéri di sisi tubuhnya dan menindihnya.
Jika dia memang benar-benar tak suka disentuh, dia pasti sudah memukulku dari tadi, pikir Chéri. Tapi dia bahkan tidak berusaha melepaskan diri!
Sebetulnya…
Dia sedang menunggu untuk disentuh…
Dibelai…
Dipeluk seperti seorang anak kecil.
Menunggu seseorang mengobati kesendiriannya!
Tapi tidak seorang pun pernah datang dan menyentuhnya.
Kini yang ada di depannya hanya aku.
Apa yang sebaiknya kulakukan?
Apa yang dapat membuka hatinya?
__ADS_1
Lalu tiba-tiba Chéri memeluknya.
"Hei—" pria itu memekik terkejut.